
Mobil Bagas memasuki garasi rumah Adibrata. Tepat jam delapan malam dia sampai di rumah orang tuanya. Bagas segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
" Ke mana saja kau seharian ini, Bagas?!"
Saat masuk ke dalam ruangan tamu, suara bernada dingin Adibrata langsung terdengar menyambut kedatangan Bagas. Bagas menoleh ke arah suara Papanya, terlihat Adibrata sedang duduk di sofa tamu, sepertinya pria paruh baya itu sengaja menunggu kedatangan putranya.
" Ada keperluan mendesak tadi, Pa." jawab Bagas kemudian.
" Papa sudah katakan padamu, jangan meninggalkan kantor untuk hal yang tidak penting!" Adibrata merasa geram karena sepertinya Bagas tidak menggubris peringatannya kemarin yang mengatakan jika dia tidak suka Bagas meninggalkan pekerjaan hanya untuk hal yang tidak jelas.
Bagas mendengus kasar. Papanya masih saja memperlakukan dirinya seperti anak belasan tahun yang harus menuruti perintah-perintah Papanya itu.
" Goodnight, Pa." Tak ingin berdebat dengan Adibrata, Bagas memilih melangkah meninggalkan Papanya dan menaiki anak tangga.
" Bagas! Papa belum selesai bicara denganmu!" Adibrata semakin geram karena Bagas tak meresponnya, justru pergi meninggalkannya begitu saja.
" Percuma kita bicara, kalau hanya aku saja yang harus mendengar Papa, sementara Papa tidak mau mendengarkan apa yang diinginkan oleh anak-anak Papa!" Bagas menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Dia sengaja meninggikan suaranya agar Adibrata mendengar kalimat-kalimat yang dia ucapkan dengan tegas.
" Apa maksud kamu, Bagas?" Tentu Adibrata tidak ingin disalahkan begitu saja oleh anaknya. Dia merasa apa yang dia lakukan adalah benar tanpa harus ada sanggahan.
" Bagas, kamu baru pulang? Dari mana saja kamu, Bagas? Sejak semalam Papa cari-cari kamu." Dari ujung anak tangga bagian atas, nampak Angel menuruni anak tangga.
Bagas menatap wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda dan cantik. Menurutnya Mamanya itu tak beda dengan Papanya, walaupun Angel tidak banyak mengatur ini itu pada Bagas. Namun Mamanya itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Terlalu mementingkan bersenang-senang dengan teman-teman sosialitanya daripada repot mengurus anak-anaknya.
Bagas kembali berjalan melewati Angel tanpa menyapa Mamanya, dia bergegas menuju kamarnya.
" Bagas, Mama tanya sama kamu! Kenapa kamu malah mengacuhkan Mama!?" Angel mendengus kasar karena Bagas seolah tidak menganggap keberadaannya.
Bagas masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintu kamarnya. Dia tidak ingin Mamanya itu sampai masuk mengejarnya ke kamar dan melontarkan banyak pertanyaan.
Bagas melepas blazer dan kemejanya. Setelah meloloskan semua pakaiannya, dia pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, Bagas mengambil telepon untuk menghubungi Indhira. Belum ada satu jam dia berpisah dari Indhira, rasa rindu sudah kembali menyeruak ke dalam hati pria itu.
" Teleponnya sibuk, dia bicara dengan siapa?" Saat terdengar nada sibuk dari ponsel Indhira, Bagas menjadi bertanya-tanya.
Dua kali, tiga kali sampai empat kali dia coba hubungi nomer Indhira, panggilannya masih tertahan karena sepertinya Indhira masih belum selesai mengobrol dengan seseorang di telepon.
Lima belas menit kemudian, panggilan teleponnya terhubung dengan kekasih hatinya itu.
" Assalamualaikum, ada apa Bagas?" Suara lembut Indhira langsung terdengar di telinga Bagas saat penggilan teleponnya terangkat oleh Indhira.
" Aku kangen, Ra." Bagas mengatakan apa yang dia rasakan hingga menghubungi Indhira kembali.
" Kamu tidak membalas ucapan salamku, Bagas!?"
" Oh iya, Waalaikumsalam ..." sahut Bagas terkekeh.
" Biasakan mengucapkan dan membalas salam saat menelepon seseorang terutama yang kamu kenal dekat." Indhira menasehati Bagas yang tak merespon ucapan salamnya tadi.
" Iya, maaf, Ra." balas Bagas.
" Ada apa kamu telepon, Bagas?" tanya Indhira kembali.
" Aku kangen, Ra." ucap Bagas kembali. Dia tidak tahu apakah Indhira memang tidak mendengar ucapannya tadi atau Indhira sengaja ingin mendengar dia mengatakan kalimat itu kembali.
" Bukannya hampir seharian ini kita bersama? Belum ada satu jam kamu pulang dari sini." Indhira merasa Bagas terlalu berlebihan mengatakan kangen dengan dirinya.
" Ya ampun, Ra. Kita berapa jam bersama hari ini? Tidak sampai dua belas jam, Ra. Kamu hitung, deh. Berapa lama kita tidak bertemu? Dua puluh empat jam dikali tiga ratus enam puluh lima hari, dikali delapan tahun. Berarti lebih dari tujuh puluh ribu jam kita tidak bertemu. Belum kalau ketemu tahun kabisat, makin banyak jumlah jam kita bertemu, kan?" Niat sekali Bagas sampai menghitung berapa jam yang mereka lalui tanpa kebersamaan mereka.
__ADS_1
Suara tawa kecil terdengar di telinga Bagas. Sepertinya wanita itu terhibur dengan ucapannya konyolnya tadi Sejak bertemu kembali, baru kali ini Bagas mendengar tawa Indhira. Sayang sekali wanita itu tidak ada dihadapannya sehingga dia tidak dapat melihat cantiknya Indhira jika sedang tertawa. Namun tiba-tiba dia teringat jika dia bisa melihat wajah Indhira dengan video call. Akhirnya dia merubah panggilannya itu menjadi panggilan video, karena dia tidak ingin melewatkan moment ini.
" Kenapa kamu ganti video call, Bagas?" Wajah cantik Indhira langsung terlihat saat wanita itu menjawab panggilan videonya.
" Karena aku ingin melihat wajah cantikmu," ucapan Bagas seketika membuat rona merah di pipi Indhira seketika membias.
" Wajah kamu tidak berubah, Ra. Masih tetap imut seperti dulu. Jika orang yang tidak tahu, pasti akan menganggap kamu ini masih duduk di bangku SMA." Bagas terkekeh meledek Indhira.
" Aku tahu kenapa Tuhan kasih wajah kamu awet muda seperti ini. Agar aku mudah mengenalimu saat kita bertemu kembali seperti sekarang ini," lanjut Bagas terus saja memuji wajah Indhira yang tidak banyak perubahan selain terlihat lebih cantik.
" Kalau aku bagaimana, Ra? Apa wajahku jauh berubah?" tanya Bagas ingin tahu pendapat Indhira soal fisiknya.
" Badan kamu terlihat lebih tinggi dan besar. Wajah kamu juga terlihat lebih dewasa dengan cambang dan kumis tipis kayak gitu. Seperti Bapak-bapak." Indhira menahan tawa mengatakan jika Bahas mirip Bapak-bapak.
" Awas kamu, ya! Mengatakan. aku seperti Bapak-bapak!" Mata Bagas melotot mendengar cibiran dari Indhira.
" Tapi kamu terlihat lebih tampan, Bagas." Indhira mengakhiri cibiran dengan pujian, membuat pria itu mengembangkan senyumannya.
" Oh ya, kamu bicara dengan siapa tadi? Aku telepon nadanya sibuk terus." tanya Bagas penasaran dengan orang yang menelepon Indhira.
" Tadi Rissa yang telepon. Tante Lidya sepertinya langsung mengabari Rissa soal kedatangan kamu. Dan Rissa langsung menanyakan hal tersebut ke aku." Indhira menjelaskan siapa yang meneleponnya tadi.
" Dia pasti marah denganku, kan? Pasti dia juga tidak setuju dengan keinginanku untuk bersamamu. Benar begitu?" Bagas dapat menduga jika Rissa pun akan melarang Indhira dekat dengan dirinya. Sejak SMA, Rissa sudah seperti pelindung bagi Indhira, tentu tidak akan mudah mendapatkan restu dari Rissa apalagi setelah kasus video viral tersebut.
" Aku sudah menjelaskan kepada Rissa." Indhira memang memberi pengertian kepada Rissa. Walaupun Rissa tetap tidak setuju dengan pilihan Indhira, namun Rissa juga tidak dapat berbuat banyak, karena itu menyangkut pribadi Indhira.
" Syukurlah kalau begitu. Aku harap kamu tetap dengan pendirian kita untuk tetap bersama, apapun rintangan yang akan kita hadapi, Ra!" Bagas berharap Indhira tidak berubah pikiran dan akan tetap bersama dengannya.
***
Setelah berbincang cukup lama dengan Indhira, Bagas mencoba menghubungi Evelyn. Saat ini waktu di jakarta menunjukkan pu kul 21:30. Diperkirakan saat ini di New York kisaran pu kul 10:30 AM. Bagas ingin memberitahukan Evelyn soal rencana kunjungannya ke Amerika.
" Halo, Evelyn. Lusa aku akan ke New York untuk bertemu dengan Papamu." Bagas menyebutkan rencananya ingin bertemu dengan Nathael kepada Evelyn.
" Kau ingin bicara dengan Daddy ku? Ada apa?" tanya Evelyn curiga.
" Aku sudah menemui Indhira dan dia sudah dapat memaafkanku, Evelyn." Bagas menjelaskan kepada Evelyn soal pertemuannya dengan Indhira.
Suara de sahan nafas Evelyn terdengar di telinga Bagas.
" Apa itu artinya pertunangan kita akan berakhir?" lirih Evely Terdengar nada sedih dari ucapan Evelyn.
" Aku minta maaf, Evelyn. Aku tahu aku salah. Aku telah memberi harapan kepadamu karena aku menerima pertunangan kita dulu. Tapi kamu tahu bagaimana hatiku yang sebenarnya. Kamu tahu rasa cintaku ini hanya untuk siapa? Sebelum pertunangan aku juga sudah mengatakan jika kamu jangan berharap lebih kepadaku. Dan kamu bilang ...."
" Iya, aku tahu. Aku bilang tidak masalah kamu belum bisa mencintaiku. Aku yakin dengan kebersamaan kita, mungkin rasa cinta itu akan tumbuh di hatimu. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka jika akhirnya kamu betemu kembali dengan dia, Bagas." Seketika Evelyn terisak.
Rasa bersalah seketika menggelayuti hati Bagas mendengar tangisan Evelyn. Dia tahu tanpa disengaja dengan menerima perjodohan dengan Evelyn walau dengan terpaksa, Bagas tetap bersalah karena seakan memberi harapan palsu kepada wanita itu.
" Aku tahu aku salah, Evelyn. Aku minta maaf. Tapi aku benar-benar tidak bisa melanjutkan pertunangan kita ini. Indhira lebih membutuhkanku. Aku sudah menanamkan penderitaan yang teramat pahit untuknya dan aku berkewajiban bertanggung jawab atas perbuatanku dulu kepadanya." Bagas berharap Evelyn mau mengerti alasan yang dia sampaikan, kanapa dia lebih berat kepada Indhira.
" Seandainya dulu aku punya keberanian dan Papa tidak mengekangku, mungkin sudah sejak lama aku bertanggung jawab pada Indhira." Bagas terus memberi pengertian kepada Evelyn.
" Lalu untuk apa kamu bertemu dengan Daddy ku?" tanya Evelyn masih dengan Isak tangisnya.
" Aku ingin menjelaskan kepada Papamu. Bagiamanapun juga aku harus meminta maaf kepada Om Nathael. Apa pun reaksi Om Nathael soal rencanaku itu, aku siap menerimanya." tekad Bagas seakan siap tempur. Dia harus secepatnya menyelesaikan semua masalah yang akan menjadi penghalang hubungannya dengan Indhira.
Sedangkan di dalam kamarnya, Adibrata mencoba menghubungi Dahlan dan juga Taufan. Karena sejak siang, anak buahnya itu tidak juga memberi kabar soal wanita yang bersama Bagas hari ini datang ke kantornya.
" Selamat malam, Tuan." sapa Dahlan saat panggilan telepon dari Adibrata terangkat oleh Dahlan.
__ADS_1
" Apa kau belum mendapatkan informasi soal wanita yang bersama dengan Bagas, Dahlan?" tanya Adibrata.
" Maaf, Tuan Saya baru saja mendapatkan kabar sekitar satu jam lalu. Tapi, saya tidak berani menghubungi Tuan, takut mengganggu istirahat Tuan." Dahlan beralasan.
" Cepat, katakan apa yang kamu ketahui tentang wanita itu!" Adibrata nampak tidak sabar ingin mengetahui siapa wanita yang bersama dengan putranya hari ini, sampai membuat Bagas meninggalkan kantor dan pekerjaannya.
" Wanita itu ternyata teman sekolah Mas Bagas saat SMA dulu, Tuan."
" Teman sekolah?" Adibrata mengerutkan keningnya. Siapa teman sekolah Bagas yang dimaksud oleh Dahlan. Apakah wanita itu? Itu yang langsung terlintas di benak Adibrata saat ini.
" Benar, Tuan. Dia salah satu teman Mas Bagas waktu SMA. Rencananya teman-teman sekelas Mas Bagas waktu SMA ingin mengadakan reuni kecil-kecilan. Dia datang menemui Mas Bagas agar ikut partisipasi mendanai acara yang akan mereka buat, Tuan." Tentu saja Dahlan berbohong soal rencana reuni teman sekolah Bagas. Karena ancaman Bagas dia sampai rela membohongi Adibrata.
Bukan karena takut kepada Bagas, Dahlan rela berbohong kepada Adibrata. Justru yang paling menakutkan adalah hukuman dari Adibrata jika dia sampai ketahuan berbohong. Bisa jadi dia akan kehilangan pekerjaannya. Dahlan melakukan hal tesebut, karena dia kasihan melihat Bagas yang selama ini hidup dalam tekanan sosok Adibrata. Menurutnya, Bagas adalah anak laki-laki dan bukan anak kecil lagi. Bagas berhak mengatur hidupannya sendiri tanpa tekanan dari mana pun termasuk Adibrata.
" Reuni? Hanya masalah reuni Bagas sampai meninggalkan pekerjaannya?" Adibrata tak percaya dengan alasan yang disampaikan oleh Dahlan soal reuni.
" Maaf, Tuan. Saat itu Tuan menutup akses Mas Bagas berinteraksi dengan teman-teman SMA nya. Mungkin karena itu Mas Bagas begitu antusias ingin bertemu dengan teman-teman SMA Mas Bagas." Dahlan memberikan alasannya yang menurutnya masuk akal.
" Baiklah, kau awasi terus gerak-gerak Bagas! Saya tidak ingin Bagas berhubungan kembali dengan teman-temannya, terlebih dengan wanita yang pernah terlibat skandal dengan Bagas!" Adibrata memberi perintah kepada Dahlan untuk tetap mengawasi anaknya itu.
***
Jam makan siang ini Bagas sengaja datang untuk bertemu dengan Raffasya. Di antara orang-orang di sekitar Indhira, dia rasa hanya Raffasya yang bisa diajak berdiskusi dan bertukar pikiran. Dan untungnya Raffasya pun menyambut baik kedatangan Bagas ke tempat kerjanya.
" Ada apa kamu berkunjung kemari, Bagas?" tanya Raffasya saat mempersilahkan Bagas masuk ke dalam ruangannya.
" Maaf, kalau saya menggangu jam kerja Pak Raffasya. Saya datang kemari karena saya ingin menyampaikan satu hal yang belum diketahui oleh Indhira, Pak." Bagas berniat menceritakan soal rencananya pergi ke Amerika.
" Hal apa?" tanya Raffasya penuh selidik.
" Maaf, kalau saya tidak sempat bercerita jujur tentang masalah ini. Sebenarnya, saya sudah dijodohkan dengan anak teman Papa saya dan kami sempat menggelar pertunangan."
Bagas melihat air muka Raffasya seketika berubah saat mendengar dirinya sudah bertunangan.
" Saya tahu, apa yang saya lakukan ini salah, walaupun saya lakukan dengan terpaksa. Selama delapan tahun saya menanti keajaiban untuk bisa bertemu dengan Indhira, nyatanya saya selalu gagal. Sementara Papa saya dan teman Papa saya sudah membuat kesepakatan untuk menjodohkan saya sejak saya masih kuliah, hingga akhirnya saya menerima pertunangan itu." Bagas mulai menceritakan apa yang terjadi dengannya hingga pertunangan itu terjadi.
" Apa maksud kamu dengan semua itu, Bagas!? Kamu sudah bertunangan dengan wanita lain dan kamu bilang akan menikahi Indhira?" Raffasya terlihat geram dengan pengakuan Bagas tadi.
" Saya sudah berbicara dengan tunangan saya soal niat saya mengakhiri pertunangan saya ini, Pak. Dia tahu masalah saya dengan Indhira. Dan saya sudah menyampaikan kepada dia tentang keinginan saya untuk bersama dengan Indhira. Dia bersedia berpisah asalkan saya mendapat kepastian tentang hubungan saya dengan Indhira. Karena itulah saya tidak memberitahu Indhira, sebab saya yakin Indhira akan menolak saya jika saya bicara yang sebenarnya, Pak." Bagas menyampaikan alasannya tidak mengatakan soal pertunangannya dengan Evelyn kepada Indhira.
" Apa kamu tidak sadar, Bagas!? Kamu sudah menyakiti hati tunangamu itu! Kenapa kamu menerima pertunangan itu jika kamu tidak mencintai dia?" Raffasya menyanyangkan sikap Bagas yang tidak tegas menolak keinginan orang tuanya.
" Saya tahu itu memang salah saya. Tapi jika saya tetap melanjutkan pertunangan saya, tidak ada yang bahagia di antara kami bertiga, Pak. Karena saya tidak dapat memberikan kebahagiaan kepada tunangan saya itu seandainya saya menikah dengan dia. Dia hanya akan mendapatkan kebahagiaan semua, sementara dia pun layak mendapatkan kebahagiaan yang sesunguhnya dengan pria yang benar-benar mencintai dia." Bagas yakin akan ada pria yang lebih baik darinya untuk wanita sebaik Evelyn.
" Lalu apa tujuanmu kemari?" tanya Raffasya kembali.
" Besok saya akan ke New York untuk bertemu dengan orang tua tunangan saya itu. Bagaimanapun juga, saya tetap harus meminta maaf kepada mereka, karena saya harus mengakhiri pertunangan saya dengan putrinya." Kepada Raffasya, Bagas menceritakan tujuannya pergi ke Amerika esok hari.
" Saya menceritakan hal ini kepada Pak Raffasya, setidaknya saya merasa sedikit lega. Karena hanya Pak Raffasya yang bisa saya ajak bertukar pikiran secara jernih dan dengan kepala dingin." Bagas mengatakan kenapa dia lebih merasa nyaman berbicara kepada Raffasya, karena dia menilai Raffasya cukup bijaksana dalam berpikir dan bertindak dibanding dengan orang-orang lainnya di sekitar Indhira dan juga dirinya.
*
*
*
Barsambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1