SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Sudah Menyerah


__ADS_3

Rasa kesal, marah, kecewa, sakit hati bercampur menjadi satu di hati Bagas atas sikap dan keputusan yang sudah dibuat oleh Adibrata. Sungguh dia tidak menyangka, Papanya bertindak kejam kepada dirinya. Bahkan membawa ijazah sarjana S2 yang sudah dia peroleh selama kuliah di luar negeri pun dilarang Papanya, karena Adibrata menganggap jika uang untuk membiayai Bagas kuliah adalah hasil jerih payahnya. Bagas tidak menduga jika Papanya akan bersikap perhitungan seperti itu terhadap anaknya sendiri.


Bagas tidak tahu apa yang harus dia bawa dari rumah itu. Adibrata melarang dirinya membawa apa yang dia miliki dan dia dapatkan. Walaupun selama dua tahun dia bekerja menjabat sebagai CEO di perusahaan Papanya. Pasti Papanya akan menganggap jika dia tidak layak memakai uang itu, termasuk dua buah mobil mewah yang dia beli dari gaji yang dia terima selama menjabat sebagai CEO.


Bagas seperti tidak punya apa-apa tanpa sokongan dari Papanya. Dia tidak punya penghasilan lain di luar salary yang dia terima selama bekerja di perusahaan Adibrata yang dia kelola. Meskipun selama dua tahun dia menghandle perusahaan itu, keuntungan yang diterima mengalami kenaikan yang signifikan, pasti Adibrata akan mengklaim jika itu termasuk kekayaan Adibrata Mahendra.


Bagas menghempas nafas kasar seraya menjatuhkan tubuhnya kasar di atas tempat tidur. Seandainya dia punya penghasilan lain yang dia dapat di luar usaha Papanya, mungkin dia tidak akan pusing seperti saat ini.


Tiba-tiba Bagas teringat akan tabungan miliknya yang pernah ingin dia berikan kepada Indhira beberapa tahun lalu. Dia tidak pernah menggunakan uang itu, baik melalui ATM atau via internet banking. Selama di Amerika dia menggunakan uang yang diberikan Papanya yang ditransfer ke rekeningnya yang lain yang sampai saat ini masih dia pakai.


Bagas kemudian bangkit untuk mencari di mana dia menyimpan ATM dan buku tabungannya. Sekitar lima belas menit dia mencari di beberapa laci yang ada di bufet dan laci lemari pakaiannya, akhirnya dia menemukan kartu ATM dan buku tabungannya. Namun kartu ATM nya sudah lama expired. Dia harus ke bank untuk mengganti kartu ATM nya dan menanyakan apakah tabungannya itu masih aktif atau berstatus dormant karena tidak ada aktivitas transaksi cukup lama.


Bagas ingat nilai tabungannya saat itu sekitar seratus jutaan. Setidaknya uang itu dapat dia gunakan untuk biaya hidup sementara sampai dia bisa mendapatkan pekerjaan baru setelah didepak Papanya dari perusahaan.


Setelah mendapatkan kartu ATM dan buku tabungan, Bagas mengganti pakaian dengan kaos, hoodie dan jeans lalu mengunakan sneakers. Dia pun bergegas ke luar kamar, tidak membawa pakaian selain yang membalut tubuhnya.


Bagas menuruni anak tangga. Dia mendapati Papanya yang masih duduk di sofa dengan menatap tajam ke arahnya.


" Kalau kamu berani keluar dari rumah ini, kamu tidak akan bisa kembali ke rumah ini lagi, Bagas!" ancam Adibrata langsung bangkit dari duduknya.


" Aku tidak akan menyesal harus pergi dari rumah ini jika Papa masih tetap pada pendirian Papa itu!" tegas Bagas tak gentar dengan ancaman Adibrata.


" Kamu lebih mementingkan wanita itu daripada keluarga kamu sendiri!?" Adibrata murka karena Bagas rela menjauh dari keluarganya demi Indhira.


" Bukankah Papa yang menginginkan aku seperti ini!?" Bagas menepis anggapan yang dikatakan oleh Papanya. Bagas sampai harus meninggalkan rumah, karena sikap Papanya itu tidak melunak dan tidak memberi pilihan lain yang menguntungkannya.


" Papa tidak akan mengusir kamu jika kamu mau meninggalkan wanita itu! Papa akan memberikan perusahaan atas namamu seutuhnya Bagas. Papa akan memberikan kepemilikan saham perusahaan itu atas namamu. " Adibrata bahkan mengimingkan tawaran memberikan perusahaan yang dikelola oleh Bagas menjadi seutuhnya milik Bagas, sebagai syarat asalkan Bagas mau meninggalkan Indhira.


Bagas terdiam beberapa saat, masih menatap Papanya. Mendapatkan perusahaan besar yang dua tahun dia pimpin, tentu saja sangat menggiurkan baginya. Kehidupan yang mapan pun terpampang nyata di hadapannya jika dia menerima tawaran Papanya itu. Namun, bukan itu yang dia inginkan saat ini. Dia hanya menginginkan Indhira bersamanya. Bagas percaya, uang, harta dan jabatan bisa dia cari dengan usaha dan kerja keras. Tapi wanita seperti Indhira, tidak akan mungkin bisa dia dapatkan lagi untuk yang kesekian kalinya.


" Maaf, Pa. Aku tetap pada pendirianku! Aku tetap akan menikah dengan Indhira, walaupun Papa menentangnya!" Keputusan Bagas sudah bulat, tak dapat dipengaruhi oleh harta dan kemewahan yang disodorkan Adibrata kepadanya.


" Kamu ini anak tidak tahu diri, Bagas! Papa menyesal menyekolahkan kamu sampai mendapat pendidikan tinggi kalau hasilnya kamu justru melawan Papa!" hardik Adibrata dengan suara menggelegar.


" Pa, ada apa ini?" Angel yang mendengar suara perdebatan antara suami dan anaknya segera menuruni anak tangga.


" Lihat, Ma! Anakmu ini, dia lebih membela wanita miskin itu daripada kita. keluarganya sendiri! Dia ingin keluar dari rumah ini demi menikahi wanita ja lang itu!" Adibrata tidak tahan untuk tidak menghina Indhira.


" Cukup, Pa! Jangan sekali lagi Papa menghina Indhira! Dia tidak bersalah! Papa harusnya malu mengatakan hal seperti itu, apalagi di depan orang lain seperti Tante Lusi dan Om Fariz! Aku malu dengan sikap Papa seperti itu!" Bagas dengan lantang menentang ucapan penghinaan Adibrata terhadap Indhira, sungguh dia merasa malu dengan sikap orang tuanya itu. Sikap Adibrata sama sekali tidak mencerminkan sikap orang tua yang mestinya bersikap bijaksana.


" Kamu pikir Papa tidak malu kalau kamu menikah dengan wanita itu!?" Adibrata membalas perkataan Bagas dengan mengatakan jika dia justru lebih merasa malu jika bermenantukan Indhira.


" Sudahlah, Pa! Percuma bicara panjang lebar dengan Papa!" Bagas menghampiri Mamanya untuk berpamitan.


" Aku pergi, Ma. Jaga diri Mama baik-baik, dan tolong perhatikan Kartika." Bagas memeluk Mamanya. Walau dia tidak menyukai aktivitas Mamanya yang terlalu sibuk dengan kesenangannya sendiri, tapi Bagas tetap menyanyangi Mamanya itu.


" Bagas, kamu mau pergi ke mana? Kamu jangan pergi!" Angel memeluk erat tubuh putranya itu. Dia tidak rela Bagas pergi dari rumahnya itu. Walaupun pernah ditinggal lama ketika Bagas kuliah di luar negeri, namun kepergian Bagas kali ini berbeda.


" Ma, itu sudah menjadi keputusan Papa, dan aku tidak punya pilihan lain selain mengambil jalan pergi dari rumah." Bagas merasa semua ini karena sikap keras kepada Papanya.


" Pa, apa Papa tega membiarkan Bagas pergi dari rumah?" Sambil menangis Angel meminta suaminya agar melarang putra mereka yang akan meninggalkan rumah.


" Biarkan saja dia pergi, Ma! Papa ingin tahu, akan jadi apa dia tanpa kita!?" Dengan sikap arogannya, Adibrata menegaskan jika dia tidak akan menarik apa yang sudah dia ucapkan. Dia pun seolah menganggap jika Bagas tidak akan jadi apa-apa tanpa bantuannya.

__ADS_1


" Pa! Kenapa Papa tega sama Bagas?" Angel semakin menangis kencang karena suaminya itu tidak mau berubah pikiran.


" Bagas, tolong kamu pikirkan baik-baik, Nak. Jangan emosi, kalau kamu pergi dari sini, kamu akan tinggal di mana, Bagas?" Angel terus memeluk erat tubuh putranya.


" Mama tidak usah khawatir. Aku tidak akan mati meskipun aku tidak tinggal di rumah ini lagi. Walaupun aku tidak membawa apa-apa dari sini, termasuk mobil dan uang tabunganku, hasil dari aku bekerja di perusahaan Papa selama ini. Aku yakin, aku masih bisa bertahan hidup!" Bagas mencoba meyakinkan Mamanya jika dia akan sanggup bertahan tanpa bantuan dari seorang Adibrata.


" Aku pergi sekarang, Ma." Bagas melepaskan pelukan Angel di tubuhnya, Dia pun lalu menyerahkan kunci mobil dan juga kartu ATM miliknya yang selama ini menyimpan uang dari gaji yang dia terima sebagai CEO di perusahaan Papanya itu di atas meja. Setelah itu dia berjalan ke arah pintu tanpa menoleh ke arah Papanya.


" Papa tidak ijinkan kamu mengijakkan kaki di rumah ini lagi jika kau benar-benar menikahi wanita itu, Bagas!" geram Adibrata dengan nada menyentak hingga membuat langkah Bagas tertahan.


Bagas menoleh ke arah Papanya itu. Rasa kecewa semakin menggelayuti hatinya mendengar ancaman Papanya itu. Namun dia tidak goyah, dia melanjutkan langkahnya kembali untuk pergi meninggalkan rumah orang tuanya itu.


" Kak Bagas ...!!" teriak Kartika berlari menuruni anak tangga lalu menghampiri Bagas dan memeluk tubuh Bagas.


" Kakak jangan pergi! Hiks ..." Kartika yang sejak tadi mendegar pertengkaran Bagas dengan Papanya dari balik pintu kamarnya, akhirnya tidak tahan untuk tidak berlari keluar kamar untuk menahan Bagas agar tidak pergi.


" Kakak harus pergi, Kartika." Bagas membelai kepala adiknya itu. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan adiknya, namun apa mau dikata, sikap sang Papa yang tidak bijaksana membuatnya harus bertindak. Bagas berpikir, jika dia tidak tegas bersikap seperti saat ini, selamanya Adibrata akan mengatur hidup anak-anaknya.


" Kartika mau ikut Kak Bagas pergi saja, Kak!" Kartika bahkan berkeinginan mengikuti kakaknya pergi jika sampai Bagas pergi dari rumah itu.


" Kartika! Kamu jangan mengikuti kakakmu itu! Kakakmu sudah menentang Papa, kamu jangan jadi anak durhaka sepreti kakakmu!" Adibrata membentak Kartika yang berkata ingin mengikuti Bagas pergi.


" Pa! Kenapa Papa kejam sama Kak Bagas!? Kak Bagas itu anak Papa, kenapa tega mengusir Kak Bagas!?" Kartika menyalahkan Papanya karena menganggap bertindak tidak adil dan hanya mementingkan keegoisan sendiri saja.


" Kartika!! Jangan bersikap kurang ajar dengan Papa!" Dengan mata melotot ke arah Kartika, Adibrata menghardik putrinya. " Masuk kamu ke kamar!" perintah Adibrata.


" Aku tidak mau, Pa! Aku tidak tahan dengan sikap Papa seperti ini! Aku ingin ikut Kak Bagas saja!" Kartika melawan ucapan Papanya.


" Apa kamu mau menjadi gembel kalau ikut dengan kakakmu itu!?" Adibrata semakin murka karena Kartika, anak perempuannya pun terlihat menentangnya.


" Diam kamu, Kartika!" bentak Adibrata bahkan kini dia menghampiri Kartika dan menarik tangan Kartika dengan kasar untuk membawa anaknya itu kembali ke kamarnya.


" Pa ...!" Angel mencoba menolong Kartika.


" Papa jangan kasar terhadap Kartika, Pa!" Bagas mencoba menghalangi Adibrata yang bersikap kasar kepada Kartika.


" Kau tidak usah ikut campur urusan adikmu! Sekali saja kau keluar dari rumah ini, kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan kami!" tegas Adibrata dengan sangat emosi.


" Apa yang Papa banggakan? Papa senang melihat anak-anak Papa tertekan? Apa Papa bahagia melihat aku dan Kartika seperti ini!? Papa tidak pantas menjadi seorang Papa!"


Plaakk


Sebuah tam paran mendarat keras ke pipi Bagas dari tangan kokoh Adibrata. Dia merasa terhina dengan ucapan Bagas yang mengatakan dirinya tidak pantas menjadi orang tua.


" Pa!"


" Kak Bagas?!"


Angel dan Kartika terperanjat dengan tam paran Adibrata di pipi Bagas.


" Pergi kamu dari sini!" Adibrata menujuk ke arah pintu, menyuruh Bagas meninggalkan rumahnya.


" Kartika benar, sikap Papa selama ini terhadap kami itu salah. Aku harap Papa segera menyadarinya, sebelum semua anak-anak Papa pergi dan menjauh dari hidup Papa." Setelah mengucapkan kalimat itu, Bagas bergegas meninggalkan rumah orang tuanya dengan hati yang remuk redam.

__ADS_1


" Bagas ...!"


" Kak Bagas!"


Angel dan Kartika mengejar Bagas namun suara bernada membentak dari Adibrata menahan langkah mereka dan membuat mereka berdua ketakutan.


" Bawa masuk Kartika ke kamarnya, Angel! Jangan jadi pembangkang seperti anakmu itu!" Adibrata menatap tajam ke arah Angel dan Kartika bergantian sebelum akhirnya meninggalkan anak dan istrinya itu menuju kamarnya.


***


Bagas mengambil dompet di saku celananya. Dia menghitung uang tunai yang dia miliki, tidak lebih dari satu juta lima ratus ribu rupiah. Mulai saat ini dia harus bisa menghemat pengeluaran, saat ini dia tidak punya penghasilan karena belum mempunyai pekerjaan baru.


Bagas tidak tahu hari ini harus menginap di mana? Karena dia memang tidak mempunyai rumah atau apartemen. Sementara rumah yang rencananya akan dia beli untuk tempat tinggalnya setelah menikah, belum sempat dia bayar. Mungkin untuk malam ini, dia akan menunggu hingga pagi di cafe yang buka dua puluh empat jam.


Bagas menyetop ojek online dan memesan orderan secara offline untuk mengantarnya ke cafe yang dia tuju. Dia ingin segera menghubungi Indhira. Dia yakin Indhira sangat syok dan pasti akan butuh penjelasan darinya soal pertunangannya dengan Evelyn.


Kurang dari satu jam, Bagas sudah sampai di cafe yang dia tuju. Dia memesan kopi untuk membuatnya tetap terjaga dan roti bakar untuk mengisi perutnya selama menunggu pagi menjelang.


Bagas mencoba menghubungi nomer telepon Indhira, namun panggilannya itu ditolak oleh Indhira. Dia melakukan panggilan untuk yang kedua kalinya. Hasilnya pun sama, Indhira menolak panggilannya kembali.


" Angkatlah, Ra. Dengarkan penjelasan aku dulu! Tolong jangan tinggalkan aku seperti ini." Bagas merasa khawatir jika Indhira akan membatalkan pernikahan dengan dirinya. Dia tidak bisa membayangkan jika itu sampai menjadi kenyataan.


Bagas ingin ke rumah Lusiana kembali. Namun, dia harus menjaga etika. Tidak mungkin dia bertamu ke rumah orang tengah malam. Terlebih tadi kehadiran Papanya di rumah Lusiana sempat membuat huru-hara. Perumahan yang ditempati oleh Lusiana pun termasuk pemukiman elit yang dijaga ketat oleh security, bukan hanya di gerbang depan tapi juga di rumah Lusiana sendiri.


Bagas harus bisa bersabar menunggu esok hari untuk dia menemui Indhira dan memberi penjelasan kepada kekasihnya itu jika semua yang terjadi tidak seburuk yang dipikirkan Indhira.


Sementara di ruang kerja Adibrata. Pria itu segera menghubungi Hamid, untuk memberi perintah selanjutnya. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam. Dia tidak akan Bagas merasa menang karena telah berani menentang perintahnya.


* Selamat malam, Tuan. Bagiamana, Tuan? Apa yang harus saya kerjakan?" Seakan tahu jika Adibrata menghubunginya pasti akan memberikan tugas, Hamid langsung bertanya tugas yang harus dia kerjakan berikutnya.


" Bagas sudah keluar dari rumah, Mid. Kau harus pantau dia. Jangan biarkan dia mendapatkan pekerjaan di kantor mana pun juga! Dia tidak membawa ijazah magisternya, akan sulit baginya melamar pekerjaan di perusahaan besar. Jika ada perusahaan kecil yang berani mempekerjakan dia, kau beri tawaran agar mereka mau memecatnya. Beri penawaran yang menggiurkan agar mereka menolak Bagas! Saya ingin tahu, bisa apa dia tanpa orang tuanya!?" Adibrata sudah menganggap Bagas seperti musuhnya yang harus dia hancurkan.


" B-baik, Tuan." Bahkan Hamid saja merasa ngeri melihat sikap arogan Bagas terhadap darah dagingnya sendiri.


" Dan kau juga harus cari tahu, siapa pemilik rumah yang dikunjungi oleh Bagas dan wanita itu!? Dia sudah bersikap kurang ajar kepadaku. Aku ingin dia mendapat balasan karena sudah berani menghinaku, Mid!" Adibrata juga tidak lupa memberi perintah kepada Hamid untuk menyelidiki Lusiana.


" Baik, Tuan. Saya akan beri kabar secepatnya soal pemilik rumah itu," sahut Hamid.


" Kau juga harus menggagalkan rencana pernikahan Bagas dengan wanita miskin itu! Aku tidak sudi keturunanku menikahi wanita itu meskipun Bagas sudah keluar dari rumah!" Walaupun dia sudah mengusir Bagas karena Bagas bersikukuh akan menikahi Indhira, tentu saja Adibrata tidak ingin pernikahan itu sampai benar-benar terjadi.


***


Di kamar tamu rumah Lusiana, Indhira masih menangis. Dia merasakan jika impiannya yang sebentar lagi akan terwujud mengayuh bahtera rumah tangga bersama Bagas sepertinya akan sirna. Kepercayaannya terhadap Bagas kini seakan tergerus karena sikap Bagas yang tidak jujur kepadanya.


Indhira bahkan mengacuhkan panggilan telepon masuk dari Bagas ke ponselnya. Dia merasa semua sudah sia-sia. Dia tidak ingin terluka untuk yang kesekian kalinya oleh Bagas. Mungkin saatnya dia mundur dan tidak bermimpi terlalu tinggi. Dia harus sadar jika dia tidaklah sebanding dengan Bagas. Sebesar apa pun cinta mereka, tidak akan bisa mengalahkan perbedaan status sosial mereka berdua.


" Kita tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita, Bagas. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku tidak ingin dituduh merusak pertunanganmu dengan wanita itu. Aku juga tidak ingin terus dihina oleh Papamu." Indhira mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya. Sepertinya Indhira benar-benar sudah menyerah.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy reading❤️


__ADS_2