
Bagas begitu terkejut saat mendengar Azkia menyebutnya sebagai mantan kekasih Indhira. Dari mana Azkia tahu jika dirinya adalah mantan kekasih Indhira? Bukankah itu adalah hal privacy? Apakah Indhira yang bercerita? Bukankah itu sudah bertahun-tahun lalu? Apa yang membuat Indhira memceritakan tentang dirinya, sehingga Azkia sampai mengingat namanya? Apapun yang sebenarnya terjadi, Bagas senang karena Indhira menganggap dia adalah mantan kekasihnya. Sehingga akhirnya dia pun dengan percaya diri menjawab.
" Benar, Bu. Saya memang pernah menjalin hubungan dengan Indhira saat SMA dulu." Dengan rasa percaya diri, Bagas jujur mengakui siapa dirinya, dan apa hubungannya dengan Indhira, wanita yang selama bertahun-tahun membuat hidupnya tidak tenang karena tidak mengetahui kabar soal Indhira.
Namun, hal tak terduga justru terjadi saat Raffasya justru menghardiknya dengan kata-kata kasar dan terlihat penuh amarah.
" Jadi kamu pria breng sek yang sudah menodai Indhira sampai video itu tersebar!?"
Bagas terperanjat saat Raffasya menyinggung soal video. Sudah pasti dia tahu apa video apa yang dimaksud oleh Raffasya. Tapi bagaimana Raffasya bisa tahu soal video itu? Apa Indhira juga yang menceritakan soal video a susila yang mereka lakukan dulu?
Belum sempat Bagas mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya, tiba-tiba wajahnya merasakan sebuah hanta man keras.
Beberapa detik sebelum tinju melayang di pipi Bagas ...
Saat melihat suaminya berdiri dan menyerahkan Zehan kepadanya, Seketika itu juga Azkia tahu apa yang dilakukan oleh Raffasya.
" Mbak, Mbak Uni!" Azkia segera memanggil Uni, apalagi dia melihat Raffasya berjalan menghampiri Bagas dan menarik blazer yang dipakai oleh Bagas hingga tubuh pria itu terangkat dan sebuah tinju melayang di wajah tampan pria itu, membuat Bagas kembali terjatuh di sofa.
Untung saja Azkia langsung menutupi mata Zehan dari tindakan keke rasan yang dilakukan oleh Raffasya.
" Mbak, tolong bawa masuk anak-anak ke kamar!" Azkia menyuruh Uni membawa ketiga anaknya untuk masuk ke kamar karena dia tidak ingin mereka mengetahui hal buruk yang sedang dilakukan oleh Papa anak-anaknya.
Uni melihat Raffasya berdiri di hadapan Bagas yang terduduk dengan memegang rahangnya. Dia pun langsung paham apa yang sedang terjadi, sehingga dengan cepat dia mengambil Zehan dari tangan Azkia dan segera menyelamatkan anak-anak.
" Itu belum seberapa dengan apa yang Indhira rasakan selama ini, breng sek!!" Raffasya kembali menarik blazer yang dipakai oleh Bagas dan siap menghadiahi lagi sebuah tinju di wajah Bagas. Namun, Azkia melarangnya.
" Pa, sudah! Jangan buat muka dia bon yok dulu!" Azkia menyuruh Raffasya melepaskan Bagas hingga kini Raffasya berada di belakangnya.
Bagas sendiri bukannya tidak berani melawan. Dirinya juga punya kemampuan ilmu beladiri. Tapi, dia menyadari jika posisinya saat ini adalah pihak yang bersalah, sehingga dia tidak mungkin melakukan perlawanan.
Bagas bernafas lega saat Azkia melarang Raffasya memberinya 'hadiah' untuk yang kedua kalinya. Memang benar, wanita memang lebih perasa dan berhati lembut, sehingga tidak menyukai adanya keke rasan, pikir Bagas. Tapi, anggapan itu seketika sirna saat dia merasakan pu kulan yang tak kalah kencang dari pu kulan pertama menghan tam wajah tampannya dan itu berasal dari tangan Azkia.
Buugghh
" Kau tahu!? Kau itu pria pengecut yang ada di muka bumi ini! Kau bisa enak-enakan pakai baju mahal, hidup senang-senang, tanpa memikirkan penderitaan yang terjadi pada Indhira!" bentak Azkia yang tak kalah kesal dari Raffasya. Seketika sikap bar-bar Azkia langsung muncul saat mengetahui jika tamu yang datang di rumahnya adalah dalang utama penyebab masa depan Indhira hancur.
__ADS_1
" Apa kau tahu!? Karena ulah pria me sum seperti kamu, Indhira harus menerima cemoohan dari teman-temanmu sampai mengatakan dia seorang pela cur!" Kata-kata yang diucapkan oleh Azkia masih dengan nada tinggi karena dibalut emosi.
Bagas terperanjat saat mendengar perkataan Azkia jika ada teman-temannya yang menyebut Indhira seorang wanita pela cur. Seketika itu juga Bagas merasa geram hingga rahangnya mengeras. Dia tidak marah pada Azkia atau Raffasya yang mengha jarnya. Dia justru murka pada orang-orang yang sudah menghina Indhira.
" Sekarang, untuk apa lagi kau mencari Indhira, hahh!?" Dengan berkacak pinggang, Azkia seolah siap menantang Bagas untuk melawan.
" Siapa yang berani berkata seperti pada Indhira? Tolong katakan pada saya, siapa orang yang berani menghina Indhira seperti itu, Bu?" Bagas terlihat geram mengetahui ada orang yang menghina Indhira.
" Kau jangan pura-pura perduli pada Indhira! Kau yang sudah menghancurkan hidup Indhira!" Tak kalah garangnya, Azkia menganggap jika Bagas hanya berputar-pura perduli kepada Indhira.
" Maaf, Pak, Bu. Saya datang kemari tidak untuk bermaksud buruk. Saya tahu saya bersalah besar atas apa yang terjadi pada Indhira. Karena itulah saya mencari dia sampai ke rumah ini, Pak, Bu." Dengan tangan memegangi rahangnya yang masih sakit, Bagas berusaha menjelaskan kepada Raffasya dan Azkia agar pasangan suami itu tidak salah paham atas maksudnya.
" Jika Bapak dan Ibu berpikir saya lari dari tanggung jawab atas apa yang terjadi pada Indhira, itu tidak benar, Pak, Bu! Saya berusaha mencari Indhira tapi selalu gagal. Bahkan ketika dua tahun lalu saya kembali ke Jakarta, saya menemui sahabat SMA Indhira bernama Rissa, saya juga tidak mendapatkan jawaban di mana Indhira berada." Bagas mengatakan jika selama ini dia berusaha mencari keberadaan Indhira dan tidak hanya diam.
Azkia dan Raffasya sontak saling berpandangan saat Bagas menyebut nama Rissa.
" Kamu jangan berpura-pura berusaha mencari Indhira! Kalau kamu memang benar mencari Indhira harusnya kamu tahu Indhira ada di mana saat ini!" Azkia masih meragukan jika Bagas beritikad baik dan benar-benar merasa menyesal. Karena setahu Azkia, Indhira tidak pernah jauh dari keluarga mertua Adam. Bagaimana mungkin Bagas tidak dapat menemukan Indhira? Pikirnya.
" Saya sungguh tidak tahu, Bu! Saat dua tahun lalu saya kembali dari Amerika, saya mencoba ke rumah lama Indhira. Namun,di sana saya tidak mendapatkan petunjuk. Lalu saya ke rumah sahabat dekat Indhira. Orang tua temannya itu mengatakan tidak pernah mendengar kabar tentang Indhira sejak Indhira putus dari sekolah. Saya benar-benar bingung harus mencari Indhira ke mana lagi!?" Bagas menceritakan usahanya dalam mencari keberadaan Indhira, termasuk kebingungannya selama ini.
" Sampai akhirnya saya melewati pemakaman orang tua Indhira beberapa waktu lalu. Dari sana saya mendapat informasi jika ternyata Indhira masih berada di Jakarta dan selalu mengunjungi makam orang tuanya itu. Menurut penjaga makam di sana, Indhira hanya berkunjung satu bulan sekali di hari tertentu." Bagas melanjutkan ceritannya.
" Dari sana lah saya mulai mencari Indhira kembali, dan kemarin saya melihat Indhira berjalan ke luar dari sebuah rumah makan Sunda bersama Bu Kia, sampai akhirnya saya bisa ada di sini," pungkas Bagas, mengakhiri ceritanya.
" Memangnya untuk apa kamu bertemu Indhira? Indhira juga sudah tidak ingin bertemu dengan kamu lagi!" Azkia sengaja menghalangi niat Bagas yang ingin bertemu dengan Indhira dengan mengatakan Indhira tidak ingin bertemu Bagas lagi.
" Saya mohon Ibu memberitahu di mana saya bisa bertemu dengan Indhira, Bu?" Bagas memohon kepada Azkia agar memberitahu di mana keberadaan Indhira sekarang ini.
" Saya ingin bertemu dengan dia, ingin meminta maaf kepadanya. Jika saya akan mati, saya baru bisa mati dengan tenang jika saya sudah bertemu dengan Indhira," lanjut Bagas sampai menyinggung soal kematian.
" Kenapa kau tidak bersikeras mencari Indhira dari awal? Kau bersalah terhadap Indhira, kenapa kau tidak bisa menjelaskan kepada orang tuamu kalau semua itu adalah kesalahanmu!?" Kali ini Raffasya kembali ikut berbiaca. Raffasya sangat kecewa karena Bagas tidak mempunyai keberanian mempertahankan prinsip untuk memperjuangkan Indhira dan justru lemah mengikuti apa yang dinginkan oleh tuanya. Padahal sikap orang tuanya itu salah. Sikap Bagas memang berbeda dengan Raffasya yang sejak kecil sudah memberontak dan pembangkang.
Bagas menarik nafas dalam-dalam, dia memang menyadari jika dia terlalu lemah tak mempunyai keberanian itu dari awal, menentang orang tuanya yang salah dalam mengambil tindakan.
" Saya memang salah karena tidak punya keberanian melawan Papa saya kala itu. Karena saya masih muda dan takut tidak akan bisa hidup tanpa ditopang oleh Papa saya. Dan saya benar-benar menyesalkan hal itu." Bagas tertunduk.
__ADS_1
" Itu artinya kau takut menderita! Kau tidak punya keberanian untuk hidup susah demi mempertahankan Indhira!" sindir Raffasya kemudian. " Kau ini bukan seperti seorang lelaki! Sama sekali tidak menunjukkan seorang pria sejati! Terlalu lemah dalam bertindak tapi berani mempermainkan anak gadis orang sampai merenggut kesuciannya!" Raffasya geram dengan sikap lemah Bagas.
" Saya tahu, Pak. Karena itu saya ingin menebusnya sekarang ini! Saya ingin memperbaiki kesalahan saya. Bahkan saya rela melepaskan apa yang saya punya sekarang ini untuk mendapatkan Indhira kembali!" tegas Bagas bersumpah jika dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu.
" Apa maksud ucapanmu itu?" Azkia kembali bertanya dengan galak, setelah membiarkan suaminya tadi berbicara. Bagi Azkia dan Raffasya, Bagas seperti terdakwa yang pantas mendapatkan hukuman paling berat.
" Saya bersedia meninggalkan apa yang saya miliki sekarang ini, demi untuk mendapatkan Indhira kembali!" tekad Bagas memperjelas kalimatnya.
Kata-kata Bagas membuat Raffasya dan Raffasya saling berpandangan. Dia tidak mengira jika Bagas bersedia meninggalkan apa yang dimiliki pria itu sekarang ini.
" Sebaiknya kamu urungkan niat kamu itu! Indhira saat ini sudah bahagia, sebentar lagi dia akan menikah dengan pria yang tulus mencintai dan menerima masa lalunya!" Namun tak lama Azkia mengucapkan kalimat yang membuat Bagas dan juga Raffasya tersentak.
Bagas terperanjat mendengar ucapan Azkia yang menyebutkan jika Indhira akan menikah. Hatinya terasa sakit mendengar kabar itu.
Indhira akan menikah? Dengan siapa Indhira akan menikah? Padahal dia baru saja menemukan keberadaan Indhira. Kenapa secepat itu Indhira memutuskan untuk menikah? Segala pertanyaan berkecamuk di benaknya membuat hatinya kecewa.
" Indhira ingin menikah dengan siapa, Bu?" Dengan perasaan yang bergejolak karena dia merasa kalah, Bagas menanyakan siapa pria beruntung yang akan mendapatkan Indhira.
" Saya rasa kamu tidak usah tahu siapa calon suami Indhira itu! Sekarang, sebaiknya kamu pulang saja! Ini sudah malam dan kami ingin beristirahat!" Azkia berjalan ke arah pintu rumahnya, mempersilahkan Bagas untuk keluar dari rumahnya.
" Saya ingin bertemu Indhira, Bu. Ijinkan saya mengetahui di mana Indhira berada sekarang ini!" Bagas bersikeras ingin bertemu dengan Indhira.
" Untuk apa? Untuk menggagalkan rencana pernikahan Indhira!?" ketus Azkia dengan tangan melipat di dada dan memalingkan wajah.
" Saya hanya ingin meminta maaf dan bertemu untuk terakhir kalinya jika Indhira memang sudah menemukan pilihan hidupnya dan memutuskan untuk menikah.." Bagas menepis anggapan Azkia yang akan menggagalkan rencana pernikahan Indhira. Walaupun dirinya saat ini merasakan patah hati mendengar kabar rencana pernikahan Indhira
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading ❤️
__ADS_1