
Seperti biasa, Bagas akan mengantar Indhira terlebih dahulu ke rumah Raffasya untuk bersama dengan Azkia berangkat ke Alexa Boutique. Bagas mulai menikmati aktivitas barunya, yaitu mengantar dan menjemput sang istri pergi dan pulang dari tempat kerja. Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang berprofesi sebagai General Manager yang masih sempat mengantar istri pergi bekerja. Mungkin jika istrinya itu sudah hamil, baru dia akan melarang Indhira untuk bekerja dan lebih fokus dengan statusnya sebagai istri dan calon ibu.
" Aku berangkat dulu, ya, Yank." Setelah sampai di depan rumah Raffasya, Bagas pun berpamitan kepada Indhira karena dia harus segera berangkat ke tempatnya bekerja.
" Iya, hati-hati, ya, Mas." Indhira mencium punggung tangan suaminya, yang dibalas oleh Bagas dengan kecupan di kening Indhira.
" Ya ampun, Mas." Seketika Indhira menoleh ke arah Pak Dudung yang sedang membuka pintu gerbang saat melihat kedatangan Indhira.
" Saya tidak lihat apa-apa, kok, Mbak." Pak Dudung sengaja memalingkan wajahnya,seolah dia tidak melihat apa yang baru saja terjadi di hadapannya tadi. Namun tak dapat dipungkiri jika bibir pria itu sedang mengulum senyuman.
" Tuh, tidak ada yang lihat, Yank!" Bagas menyeringai, membuat Indhira mencebikkan bibirnya.
" Biarpun tidak ada yang lihat, tidak pantas melakukan hal itu di tempat terbuka seperti ini, Mas! Ini Jakarta, Indonesia! Bukan di Amerika!" protes Indhira yang menegur sikap cuek Bagas menciumnya tanpa pandang tempat. Mungkin bagi Bagas yang cukup lama di Amerika hal tersebut adalah hal yang wajar, tapi tidak dengan dirinya. Dia merasa adat ketimuran sebagai identitas jiwa masyarakat Indonesia yang identik dengan perilaku yang santun dan menjunjung tinggi adat istiadat harus dipegang teguh sampai kapan pun juga.
" Iya, iya, maaf, istriku ..." Bagas mengusap puncak kepala Indhira. " Ya, sudah. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum ..." Bagas menyalakan kembali mesin motor yang tadi sempat dia matikan.
" Waalaikumsalam ..." sahut Indhira lalu memperhatikan Bagas yang mengendarai motor miliknya hingga menghilang di tikungan.
" Maaf, ya, Pak." Indhira tersipu malu lalu berjalan masuk ke dalam rumah Raffasya untuk menuju kamar Azkia dan menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa ke butik.
Sementara Bagas dalam perjalanan menuju hotel milik Gavin menggunakan motor istrinya. Memang tak pernah terbayangkan dia akan bekerja menjadi pimpinan tertinggi dalam sebuah tempat usaha, tapi berangkat kerja menggunakan motor. Jika sampai menggunakan motor pun saat dia sekolah, dia menggunakan motor yang harganya berkali-kali lipat dari harga motor matic milik Indhira yang saat ini dia kendarai.
Tin tin
Suara mobil di belakang Bagas yang membunyikan klakson cukup kencang seolah memberi kode jika motornya harus segera menepi karena mobil itu ingin melewati jalan tersebut tanpa hambatan. Bagas bahkan tersentak saat mobil itu melewatinya cukup kencang hingga membuat dirinya yang masih terkaget karena suara klakson tadi menjadi limbung mengendarai motornya.
" Si al! Belagu amat jadi orang!" umpat Bagas yang terpancing dengan aksi ugal-ugalan orang yang mengendarai mobil tadi langsung mengejar mobil itu.
Mobil yang melewatinya tadi termasuk salah satu mobil mewah. Dia yakin jika pengendara mobil itu pastilah orang berada, seperti dirinya. Tapi, dia tidak pernah berperilaku songong seperti mengendarai itu tadi, hal itu membuat Bagas merasa geram.
Tok tok tok
Ketika Bagas berhasil mensejajarkan motornya dengan mobil yang melewatinya tadi, tanpa rasa takut, Bagas mengetuk kaca jendela mobil tersebut, dan memberi kode bagi pengendara mobil untuk menepi. Bagas kemudian mempercepat laju motornya dan berhenti melintang menghalangi mobil tadi.
Bagas mematikan mesin motor dan membuka kaca helmnya, lalu berjalan mendekati mobil yang masih belum memperlihatkan siapa pengendara mobil itu.
Tok tok tok
Dengan ketukan yang lebih keras, Bagas kembali mengetuk kaca jendela pintu mobil di hadapannya, berharap orang yang ada di dalam mobil itu keluar. Dan saat kaca pintu mobil terbuka, dengan cepat Bagas menegur pengendara mobil tersebut.
" Apa Anda tahu, apa yang Anda lakukan tadi sangat berbahaya bagi pengendara lain!?" Dengan nada kesal Bagas menegur seorang pria berkaca mata hitam yang berada di belakang kemudi mobil itu.
" Jangan karena merasa punya mobil mewah terus action bawa mobil ugal-ugalan!" Kembali Bagas menegur orang itu. Karena melihat pengendara itu seusianya, Bagas berani menegur dengan sedikit ketus dengan sindiran.
" Eh, kau ini Bagas, kan?" Pria pengendara mobil itu rupanya mengenali Bagas. Dia pun langsung membuka kaca matanya lalu turun dari mobil yang dia kendarai tadi.
" Kau masih ingat aku, tidak? Aku Odie, Gas. Teman SMA kamu dulu. Kita dulu ngeband bareng malah." Pria yang mengaku bernama Odie itu mencoba membuka ingatkan Bagas agar mengenali dirinya.
Bagas terkesiap saat mengetahui. orang yang dia tegur adalah teman SMA nya juga mantan anggota band nya dulu.
" Astaga, kau Odie?" Bagas masih tak percaya orang di hadapannya denda penampilan perlente adalah Odie, sahabat lamanya dulu.
__ADS_1
" Iya, Gas. Kau apa kabar?" Odie mengulurkan kepalan tangannya melakukan fist bump dengan Bagas lalu berangkulan dengan teman lamanya itu.
" Alhamdulillah, baik, Di. Kau mau ke mana, Di?" tanya Bagas melihat Odie tadi mengendarai mobil dengan kencang.
" Aku mau ke kantor, Gas. Sudah telat, makanya tadi buru-buru. Sorry banget." Odie langsung melirik arloji di pergelangan tangannya.
" Tapi cara mengendaraimu tadi berbahaya, Di. Bukan untuk kamu sendiri saja yang bisa celaka, tapi pengendara lain juga." Meskipun Odie adalah sahabatnya, Bagas tetap tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh sahabatnya tadi.
" Iya, sorry, Gas. Kau sendiri mau ke mana?" Odie melirik ke arah motor yang tadi dikendarai oleh Bagas. Bukan hal yang asing baginya melihat Bagas mengendarai motor. Tapi, bukan motor matic yang seperti dipakai Bagas saat ini yang dia lihat dari Bagas selama dia mengenal pria itu. Motor yang biasa Bagas pakai adalah motor sport yang harganya ratusan juta.
" Aku juga mau ke tempat kerja, Di." sahut Bagas menjelaskan tujuannya saat ini.
" Kok, kamu pakai motor begitu, Gas?" Tentu saja melihat Bagas hanya mengunakan motor matic yang dipakai oleh kebanyakan orangbmembuat Odie bertanya-tanya heran. Siapa tak kenal Bagaspati Mahesa? Dia adalah salah satu pewaris usaha Papanya. Bagaimana mungkin Bagas akan bekerja mengendari motor yang harganya di bawah dua puluh juta.
" Ceritanya panjang, Di. Oh ya, kau bilang kau sudah kesiangan, sebaiknya kau segera pergi, kita mengobrol lain kali saja." Bagas tentu tidak ingin menghalangi Odie yang ingin berangkat bekerja.
" Oke, berapa nomer HP mu sekarang, Gas? Aku hubungi kau nanti." Odie mengeluarkan ponselnya untuk menyimpan nomer telepon Bagas
Bagas pun lalu menyebutkan nomer HP nya yang langsung disimpan oleh Odie.
" Oke, Gas. Aku duluan, ya!? Nanti aku hubungi kau lagi. Banyak yang mesti aku dengar darimu, Gas!" Setelah berpamitan, Odie kembali ke dalam mobilnya dan meninggalkan Bagas.
" Jangan ngebut, Di!" Bagas masih sempat berteriak, memperingatkan Odie. Bagas tidak menduga jika belakangan ini dia banyak bertemu dengan orang-orang yang dia kenal di masa lalunya. Bagas pun akhirnya memutuskan kembali ke motornya untuk melanjutkan perjalanannya tadi.
***
" Ternyata Bos baru kita datang ke sini benar pakai motor, lho!"
" Masa, sih? Gengsi, dong! Masa bos, seorang General Manager naik motor?" tanya pegawai lainnya.
" Kalau tidak percaya, tanya saja sama security yang jaga. Bos baru kita itu berangkat kerja pakai motor, mending kalau motor sport, motornya sama saja kayak motor matic kita-kita," lanjut cerita orang pertama tadi.
" Artinya bos kita itu merakyat, dong! Mudah-mudahan saja membawa dampak positif buat karyawan hotel," harap karyawan ketiga berkomentar.
" Bagas kerja naik motor? Kenapa dia naik motor? Dia 'kan anak orang kaya, kenapa dia ke tempat kerja harus naik motor? Motor matic pula ... aneh banget! Aku saja kerja bawa mobil sendiri, kok dia pakai motor? Apa dia sedang menyamar? Bagas itu 'kan anaknya bos, Papanya punya perusahaan besar, kenapa dia kerja di hotel ini?.Kenapa aku tidak kepikiran ke arah sana?" Otak Elma langsung berpikir mencari jawaban dari keanehan yang dia rasakan dengan kemunculan Bagas di hotel itu dan kendaraan yang dipergunakan oleh Bagas. berangkat bekerja.
Setelah selasai menyantap makanan dan mendengarkan gosip seputar Bagas, Elma memilih ingin kembali ke hotel. Dia pun berjalan ke arah hotel tempatnya bekerja. Namun, dia merasakan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
" Nona Elma, tunggu!"
Saat Elma berniat untuk berlari karena dia merasa curiga terhadap orang yang mengikutinya, tiba-tiba orang itu berseru memanggil namanya. Hal tersebut membuat Elma terkesiap, karena orang itu ternyata mengenal namanya.
" Kau ini siapa?" tanya Elma menatap penuh selidik orang yang mendekatinya itu. Dia sama sekali tidak tahu apa orang itu bermaksud jahat atau tidak terhadapnya.
" Anda tenang saja, Nona. Jangan takut! Saya tidak akan menyakitimu. Saya hanya ingin bicara dengan Anda. Nanti pulang kerja, apa saya bisa menemui Anda untuk berbicara tentang sesuatu, Nona?" Malik, orang yang diperintah oleh Hamid untuk berbicara dengan Elma meminta persetujuan dari wanita itu agar mau membuat janji dengannya sepulang kerja nanti.
" Apa sebenarnya maksud kamu!?" Elma tentu tidak ingin percaya begitu saja pada orang yang baru dikenalnya. Apalagi orang itu meminta bertemu dengannya sepulang kerja. Bagaimana jika orang itu berniat menyakiti atau menculiknya? Itu yang berkecamuk di benak Elma, dan hal itu membuat Elma tidak tenang, meskipun orang itu sudah mengatakan tidak bermaksud menyakiti Elma.
" Saya hanya ingin membahas soal mantan kekasih Anda, yang kini menjadi bos di hotel itu." Malik menoleh ke arah hotel milik Gavin.
Elma membulatkan bola matanya saat pria tadi mengatakan jika hal yang ingin dibicarakan dengannya adalah soal mantan kekasih yang sekarang menjadi bosnya, tentu saja yang dimaksud orang itu adalah Bagas.
__ADS_1
" Bagas maksud kamu?" tanyanya memastikan.
" Benar, Nona. Ini soal Tuan Bagas," sahut Malik.
Kening Elma berkerut saat mendengar Malik menyebut Bagas dengan panggilan Tuan. Dia semakin penasaran siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.
" Baiklah, di mana kita bertemu?" tanya Elma akhirnya menyetujui permintaan Malik.
" Bagaimana jika di cafe di dekat pertigaan itu, Nona?" Malik menunjuk arah cafe yang berjarak sekitar lima puluh meter dari arah hotel Gavin.
" Baiklah, kita bertemu di sana." Elma menyetujui tempat mereka bertemu. Karena tempatnya yang tidak jauh dari lingkungan tempat kerjanya membuat dia merasa lebih aman.
***
Bagas mengamati laporan yang diserahkan Elma kepadanya. Sebagai orang baru di hotel itu, apalagi posisinya sebagai General Manager, dia bertugas merencanakan, mengorganisir dan mengatur seluruh operasional manajemen hotel sehari-hari sehingga bisa menghasilkan kinerja yang efisien dan menguntungkan bagi pihak hotel yang dia kelola.
Dia bertanggung jawab dibalik seluruh operasional dan mengontrol seluruh kualitas terkait pelayanan, keuangan, rumah tangga, dekorasi, interior, makanan serta pembuat norma-norma yang harus di ikuti oleh semua staff dalam memberikan pelayanan terhadap tamu hotel tersebut.
Sementara Elma yang menyerahkan laporan yang diminta Bagas tadi masih berdiri di depan Bagas. Dia terlihat asyik menatap wajah tampan kekasihnya dulu.
" Lama tidak bertemu ternyata dia semakin tampan. Perawakannya semakin tinggi dan gagah. Beruntung sekali wanita itu yang mendapatkan cintamu, Bagas." gumam Elma dalam hati. Dia sangat cemburu pada sosok Evelyn yang dia duga masih bertunangan dengan Bagas.
" Hmmm, orang tadi ... sebenarnya siapa orang itu? Dan untuk apa dia menemuiku? Orang itu bilang ingin bicara denganku soal Bagas. Ada apa sebenarnya denganmu, Bagas?" Elma terus membatin mengingat orang yang selepas makan siang tadi menghampirinya.
" Apakah ada yang disembunyikan dari Bagas? Apa ini juga ada hubungannya dengan jabatan Bagas di hotel ini, juga dengan kendaraan yang Bagas bawa untuk bekerja?" Banyak pertanyaan muncul di benak Elma
" Kenapa kau masih di sini, Elma?" tanya Bagas karena Elma masih saja berdiri di hadapannya.
Pertanyaan Bagas membuat Elma terkesiap. Namun dia bisa mengontrol diri dan tidak gugup dengan pertanyaan Bagas yang sebenarnya membuat dirinya terkejut.
" Saya menunggu jika ada yang ingin Pak Bagas tanyakan kepada saya, Pak.," jawab Elma dengan tenang.
" Kau kembali saja ke mejamu! Jika ada yang ingin saya tanyakan, nanti saya akan panggil kamu!" Bagas pun kini mulai membiasakan diri menggunakan bahasa yang formal kepada Elma, agar Elma menyadari posisinya dan menjaga jarak dengannya.
" Baik, Pak. Permisi." Dengan langkah ragu Elma berjalan meninggalkan ruangan kerja Bagas.
Bagas memperhatikan Elma yang sudah menghilang di balik pintu. Dia merasakan posisi Elma sebagai Executive Assistant di hotel itu sangat berbahaya baginya. Seandainya boleh, dia ingin Elma dimutasi ke tempat yang berbeda dengan pekerjaannya sekarang ini. Setidaknya dia tidak ingin terus dekat dengan wanita itu. Walaupun sejauh ini tindakan Elma yang kurang disukainya hanya ketika mengambil keputusan tanpa seijinnya, namun dia merasa Elma tidaklah aman jika terus berada di dekatnya.
" Aku merasa keberadaan Elma di sini sangat menggangguku. Dari cara bicara Elma, aku merasa jika dia sangat membenci Indhira. Seandainya dia tahu saat ini aku dan Indhira menikah, dia pasti akan berulah. Aku tidak ingin sampai Elma mengusik Indhira. Aku harus segera bertindak. Aku tidak ingin Indhira sampai cemburu dengan keberadaan Elma di dekatku saat ini, jadi sebaiknya Elma harus secepatnya dipindahkan dari sini secepatnya,_ gumam Bagas yang harus tanggap menghadang rintangan yang akan mengganggu ketentraman rumah tangganya bersama Indhira.
" Jika aku mengambil keputusan memutasi Elma, apa Pak Gavin akan marah?" Bagas mengusap rahangnya seraya berpikir, bagaimana cara dirinya menyingkirkan Elma dari dekatnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1