
Elma berlari kecil saat turun dari mobil memasuki cafe. Pandangan matanya mengedar mencari sosok pria yang menemuinya siang tadi hingga dia mendapati seseorang melambaikan tangan ke arahnya. Orang itu benar sama dengan orang yang menemuinya tadi siang ketika dia keluar dari rumah makan.
Elma kemudian berjalan mendekat ke arah Malik, yang seketika itu langsung berdiri saat Elma sampai di meja yang dia pilih untuk berbincang.
" Silahkan, Nona." Malik mempersilahkan Elma duduk.
" Sebenarnya, apa tujuan kamu meminta saya menemuimu?" tanya Elma tak ingin banyak berbasa-basi menanyakan tujuan Malik memintanya bertemu di cafe.
" Begini, Nona. Tujuan saya sebenarnya adalah ingin mengajak Anda untuk bekerja sama dengan kami ...."
" Kami? Siapa kalian ini? Apa tujuan kalian yang sebenarnya?" Elma memotong ucapan Malik, saat Malik menyebut kata kami. Dia juga merasa jika ada seseorang yang ingin memanfaatkan untuk tujuan yang tidak dia ketahui.
" Nona tidak perlu tahu siapa kami. Tapi yakinlah, jika apa yang ingin kami minta untuk Anda lakukan akan menguntungkan bagi Anda juga, Nona." Malik mencoba meyakinkan jika Elma tidak akan rugi dengan tawaran yang akan dia berikan pada wanita itu.
" Apa yang kalian inginkan dariku?" Elma menaikkan dagunya. Seolah dia bukanlah orang yang mudah untuk diintimidasi.
" Kami hanya ingin agar Nona mendekati Tuan Bagas, dan membuat rumah tangga Tuan Bagas bersama istrinya bermasalah." Malik menyebutkan apa yang dia inginkan dari Elma.
Elma seketika membulatkan bola matanya mendengar permintaan Malik. Bukan karena tujuan mendekati Bagas, tapi kalimat yang mengatakan membuat rumah tangga Bagas dan istrinya bermasalah. Itu sangat aneh menurutnya. Memangnya Bagas sudah menikah? Kapan Bagas menikah? Bukankah Bagas dan tunangannya itu baru memasuki tahap bertunangan saja? Kalau jika memang benar mereka sudah menikah, kenapa tidak terdengar kabar pernikahan Bagas? Lalu, siapa juga orang yang tidak menyukai pernikahan Bagas sehingga memintanya untuk mengganggu rumah tangga mereka? Pertanyaan-pertanyaan membingungkan itu terus berputar di kepala Elma.
" Bagas sudah menikah? Bukannya kemarin itu dia baru saja bertunangan, ya!?" Akhirnya Elma menanyakan hal yang membuatnya kebingungan.
" Tidak, Nona. Tuan Bagas tidak menikah dengan Nona Evelyn. Tapi beliau menikah dengan mantan kekasihnya dulu." Malik menjelaskan jika wanita yang dinikahi oleh Bagas bukanlah wanita yang diketahui publik sebagai tunangan Bagas.
" Mantan kekasih? Siapa?" Elma dibuat penasaran oleh perkataan Malik. Jika mantan kekasih Bagas itu sanggup membuat Bagas berpaling dari tunangannya, berarti mantan kekasih Bagas itu wanita yang sangat luar biasa. Tapi, siapa wanita yang dimaksud itu? Elma semakin penasaran mengetahui siapa wanita yang akhirnya menjadi istri Bagas.
" Dia adalah wanita yang membuat Tuan Bagas meninggalkan Anda ketika itu, Nona." Malik mengungkapkan siapa wanita yang dinikahi oleh Bagas.
Jawaban dari Malik membuat kelopak mata Elma terangkat. Tentu saja dia tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Malik. Mana mungkin dia akan lupa pada sosok Indhira, karena wanita itulah yang telah membuat Bagas meninggalkannya. Wanita yang dia tahu akhirnya terkena masalah video a susila dengan Bagas. Tapi, bagaimana bisa Bagas kembali pada wanita? Elma benar-benar tak habis pikir kenapa Bagas justru menikahi Indhira dan meninggalkan tunangannya yang kaya raya.
" Apa maksudnya Indhira?" Elma berharap jika jawaban dari Malik tidak seperti yang dia
sebutkan tadi. Rasanya dia tidak terima jika sampai Bagas kembali pada wanita itu.
" Benar, Nona. Saat ini Tuan Bagas sudah menikah dengan Indhira. Karena itu kami minta bantuan Nona untuk mengganggu rumah tangga Tuan Bagas dengan istrinya itu. Kalau bisa sampai mereka berpisah." Malik menyebutkan kembali apa yang harus diperbuat oleh Elma sesuai dengan rencananya.
" Jika Nona berhasil melakukan itu, kami akan memberikan uang sejumlah seratus juta rupiah untuk Nona, asalkan Anda dapat membuat Tuan Bagas berpisah dengan wanita itu." Tawaran yang disebutkan oleh Malik benar-benar menggiurkan.
Elma seketika tercengang mendengar jumlah uang yang akan dia terima untuk tugasnya itu. Sejujurnya, tanpa dibayar pun dia bersedia untuk mendekati Bagas kembali. Saat ini dia merasa seperti mendapatkan double bonus, karena selain bisa mendapatkan Bagas kembali dia juga bisa mendapat uang dalam jumlah besar.
" Bagaimana, Nona? Apakah Anda berminat?" Malik mencoba meminta ketegasan dari Elma soal tawaran itu.
" Iya, tentu saja saya berminat." Dengan penuh semangat Elma mengatakan jika dirinya bersedia melakukan apa yang diminta oleh Malik.
" Baiklah, berapa nomer rekening bank Nona Elma? Nanti akan saya kirim separuh dari komisi yang Anda terima untuk pekerjaan Anda ini, Nona." Malik bahkan meminta Elma menyebutkan nomer rekening Bank nya, karena Hamid akan mentransfer sebagian uang yang akan diberikan kepadak Elma dalam menjalankan misi tersebut.
Sudah pasti wajah berbinar Elma langsung terlihat. Tanpa merasa curiga, dia langsung menyebutkan nomer rekening bank milik pribadi kepada Malik. Dan tak lebih dari lima menit, uang sebesar lima puluh juta langsung berpindah ke rekening pribadi Elma.
" Sudah masuk ke rekening Anda, Nona." Malik menunjukkan layar ponselnya berisi resi transfer bank swasta terbesar di Indonesia senilai lima puluh juta rupiah ke rekening bank atas nama Elma Joseline.
" Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak." Elma sampai menyalami tangan Malik karena terlalu bahagia.
" Tapi Anda harus ingat, Nona. Jangan sekali-sekali Nona mengkhianati kami! Karena Anda akan merasakan akibatnya jika Anda berani melakukan hal itu." Peringatan bernada ancaman langsung dialamatkan Malik kepada Elma jika Elma sampai berkhianat di belakangnya.
" Tentu saja saya tidak akan berkhianat! Tenang saja!" Elma menegaskan jika dia pasti akan menjalankan apa yang diminta oleh Malik dan tidak akan berkhianat.
***
Bagas baru saja ingin meninggalkan ruang kerjanya saat panggilan teleponnya berbunyi. Bagas melihat nomer teleponnya itu memperlihatkan nama Odie yang tadi pagi sempat dia save saat bertemu dengan teman lamanya itu. Bagas pun kembali duduk dan segera mengangkat panggilan masuk dari Odie.
" Halo," sapa Bagas lebih dahulu.
" Halo, Gas. Ini aku, Odie" Khawatir Bagas belum sempat menyiman nomernya, Odie langsung menyebutkan siapa dirinya.
" Iya, sudah aku save nomermu, Di." jawab Bagas.
" Gas, kita bisa ketemu kapan, nih? Kita mengobrol-ngobrol. Sudah lama juga kita tidak berjumpa, kan?" Odie ingin menjadwal acara bertemu dengan Bagas.
" Hmmm, bagaimana kalau weekend saja, Di? Kau dinas tidak kalau weekend?" tanya Bagas menentukan jadwal untuk bertemu dengan Odie, akhir pekan ini.
" Weekend aku tidak dinas. Oke, kita weekend saja ketemu. Di mana?" tanya Odie menyanggupi.
__ADS_1
" La Grande Caffe gimana? Kita mengobrol di sana saja." Bagas bahkan sudah memilih tempat untuk bertemu nanti.
" La Grande? Oke, nanti kau share saja tempatnya." Odie pun menyetujui tempat yang dipilih oleh Bagas untuk bertemu.
" Oh ya, Gas. Kau sekarang kerja di mana? Kok, pakai motor?" Odie sepertinya masih penasaran dengan motor yang digunakan oleh Bagas saat berjumpa dengan Bagas kemarin.
" Apakah suatu hal yang aneh melihat aku mengendarai motor, Di?" sahut Bagas terkekeh melihat sahabatnya masih mempermasalahkan soal kendaraannya.
" Tidak, sih. Tapi biasanya motor yang kamu pakai dulu bukan kaleng-kaleng, Gas." jawab Odie.
" Yaaa, waktu sudah berubah. Roda kehidupan pun berputar," balas Bagas.
" Lalu kau bekerja di mana?"
" Aku dinas di hotel, Di. Salah satu hotel Richard Fams," sahut Bagas menentukan tempat dia bertugas saat ini.
" Di hotel? Kenapa tidak perusahaan Papamu sendiri? Atau hotel itu sudah menjadi milik keluargamu, Gas?" Sepertinya rasa penasaran Odie tidak hanya seputar kendaraan yang dibawa oleh Bagas akan tetapi juga pada tempat kerja Bagas saat ini, karena dia tahu usaha keluarga Adibrata bukan di bidang perhotelan.
" Tidak, itu memang bukan hotel milik keluargaku. Aku memang bekerja di luar usaha Papaku, Di. Nanti aku ceritakan kalau kita bertemu." Bagas menjelaskan.
" Oh oke. Lalu, apa kamu sudah menikah belum?" tanya Odie kembali.
" Aku baru menikah sekitar satu Minggu lalu. Di. Masih pengantin baru " Bagas terkekeh saat menyebut dirinya masih pengantin baru pada Odie.
" Kamu menikah tidak kasih kabar aku, Gas. Siapa wanita yang beruntung mendapatkan sang Casanova?" Odie menyindir disertai dengan tawa.
" Nanti kau akan tahu jika kita bertemu, Di." Bagas pun terkekeh menjawab Odie.
" Kau ini pakai rahasia bikin aku penasaran saja, Gas." balas Odie menanggapi jawaban Bagas yang membuatnya semakin penasaran.
***
Indhira mengeratkan pelukan di pinggang Bagas dengan menyandarkan tubuh dan kepalanya di punggung sang suami. Rasanya benar-benar terasa nyaman berada dalam pelukan suami tercintanya itu.
Sepulang kerja, mereka sengaja menikmati suasana malam kota Jakarta dengan berboncengan motor. Mereka layaknya sepasang remaja yang sedang jatuh cinta, merasakan indahnya dunia seakan milik berdua.
" Ingat masa. pacaran dulu, ya, Yank?" ucap Bagas seraya menoleh ke belakang di mana Indhira duduk di belakangnya.
" Tidak menyangka jika akhirnya sekarang kita sudah menjadi suami istri," ujar Bagas lagi.
" Iya, Mas." jawab Indhira kembali.
" Kita mau makan apa, Yank?" tanya Bagas kemudian.
" Terserah Mas saja." Indhira menyerahkan pilihan kepada Bagas. " Tapi yang di tepi jalan saja, jangan masuk restoran." Namun Indhira mengajukan permintaan tidak ingin makan di restoran.
" Nasi goreng mau?" tanya Bagas kembali.
" Boleh."
" Nasi goreng di depan itu saja, ya!?" Bagas menunjuk pedagang nasi goreng di depannya.
" Ya sudah." Indhira menyetujui apa yang ditawarkan oleh Bagas, hingga kini motor yang dikendarai oleh Bagas berhenti di tepi jalan di samping penjual nasi goreng itu.
" Pak, nasi goreng seafood dua, sedang semua." Bagas menyebut pesanannya kepada penjual nasi goreng itu.
" Baik, Mas. Ditunggu sebentar, ya!" Penjual nasi goreng itu menyahuti ucapan Bagas.
" Sini, Yank!" Bagas menggandeng tangan Indhira, mencari tempat yang kosong untuk mereka duduk.
" Kamu tahu, Yank!? Tadi pagi waktu aku berangkat kerja, aku ketemu sama Odie. Kamu masuk ingat Odie? Yang dulu pernah ngeband denganku." Sambil menunggu pesanan makanan, Bagas bercerita tentang Odie yang dia temui pagi tadi.
" Mas bertemu dia di mana?" tanya Indhira.
" Di jalan waktu mau ke hotel. Tapi aku belum banyak mengobrol, karena dia buru-buru berangkat," sahut Bagas kemudian.
" Selama kembali ke Indonesia, Mas banyak ketemu sama teman-teman lama, Mas?" tanya Indhira kemudian,
" Tidak banyak," sahut Bagas.
" Kalau bertemu mantan Mas selain aku, pernah tidak?" Tiba-tiba saja Indhira menyinggung soal mantan kekasih Bagas, sontak hal itu membuat Bagas menolehkan pandangan ke arah istrinya itu.
__ADS_1
Bagas mengusap pucuk kepala Indhira. Entah itu pertanyaan menjebak atau suatu kebetulan tiba-tiba istrinya itu membicarakan soal mantan kekasih dirinya, yang kebetulan saat ini justru satu lingkungan pekerjaan dengannya.
" Memang mantan aku siapa, sih? Aku hanya punya satu mantan kekasih yang aku ingat, cuma kamu saja, kok!" Bagas berucap seolah dia tidak memperdulikan wanita lain selain Indhira.
" Permisi ... Dan bila kita nanti ... kita akan bertemu lagi ..." Seorang pengamen datang dan mulai memetik dawai gitar tak beraturan dengan nada fals membuat beberapa orang yang sedang menikmati makanan kedai nasi kuning itu menggerutu.
" Suara pas-pasan saja ngamen!"
" Iya, bikin sakit telinga dengar suaranya! Mending dia suruh diam saja, kasih dua ribu, terus suruh pergi, daripada mengganggu!"
" Iya, benar, tuh! Bikin selera makan hilang dengar suaranya."
Komentar beberapa orang yang makan di kedai nasi goreng itu, merasa terganggu dengan kehadiran si pengamen.
" Sebentar, Yank!" Bagas lalu bangkit ketika mendengar komentar negatif orang-orang yang ada di sana. Walaupun dia juga merasa jika suara pengamen itu begitu memekakkan telinga, namun dia tetap menghargai usaha si pengamen.
" Mau ke mana, Mas?" Indhira tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Namun dia lihat jika sang suami justru menghampiri pengamen tadi.
" Boleh pinjam gitarnya Mas?" Bagas meminta gitar yang dipegang oleh pengamen itu.
" Mau apa memangnya, Mas?" tanya si pengamen bingung.
" Mau mengajari Mas cara mengamen yang benar," sahut Bagas berseloroh. Namun akhirnya pengamen itu memberikan gitar miliknya pada Bagas.
" Permisi, Bapak, Ibu, Mas, Mbak. Boleh saya ikut mengamen di sini?" Bagas meminta ijin meskipun tangannya sudah mulai memainkan intro lagu Cinta Luar Biasa.
" Terima lagu ini dari orang biasa ..." Bagas mulai menyanyikan penggalan lagu milik Andmesh itu. " Bagiamana? Lanjut?" Bagas meminta persetujuan para pengunjung kedai nasi goreng itu, apakah setuju dia menyanyi atau tidak.
" Lanjutkan!"
" Kalau yang nyanyinya ganteng, suaranya merdu gini, sih. Kasih seratus ribu juga, aku tidak rugi.."
" Jangan satu lagu, Mas. Satu album saja sekalian."
Berbeda dengan pengamen tadi, komentar positif langung terdengar ketika mendengar suara Bagas.
" Oke, terima kasih ..." sahut Bagas. Dia pun mulai menyanyikan lagu itu.
...Terimalah lagu ini dari orang biasa ......
...Tapi cintaku padamu luar biasa ......
...Aku tak punya bunga ......
...Aku tak punya harta ......
...Yang kupunya hanyalah hati yang setia ......
...tulus padamu .......
Ketika menyanyikan lagu romantis itu, tatapan mata Bagas tidak lepas dari wajah Indhira, hingga mereka berdua saling bersitatap. Seakan ungkapan perasaan Bagas yang saat ini merasa dirinya tidaklah punya harta yang dapat dibanggakan pada Indhira.
Indhira sendiri senang melihat suaminya itu bisa menyanyi kembali walaupun hanya membantu si pengamen. Suara merdu Bagas itulah yang awalnya membuat dirinya sangat mengidolakan Bagas sebagai penyanyi idola sekolah. Siapa menduga jika Bagas pun ternyata tertarik kepadanya, seorang wanita biasa-biasa saja
" Lagi, dong, Mas! Kalau suaranya kayak gini kerasa makan di cafe yang ada live music nya." celetuk seorang wanita yang menikmati suara Bagas.
" Nasi pesanan saya siap di meja, Mbak. Bawain satu lagu bikin perut lapar." Bagas mengembalikan gitar kepada pengamen.
" Kangen masa muda, ya, Mas?" Indhira mengusap lengan Bagas.
" Iya, mungkin karena tadi pagi ketemu sama Odie, jadi kangen ngeband kayak dulu," sahut bagas. " Ya sudah, kita makan dulu nasi gorengnya." Bagas menyuruh Indhira untuk menyantap nasi goreng pesanan mereka.
*
*
*
.
Bersambung ...
__ADS_1
Happy reading❤️