SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Jangan Mendadak Kontraksi


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, hingga erut Indhira semakin lama semakin membesar. Wanita cantik itu begitu menikmati perannya sebagai seorang ibu hamil dengan rasa suka cita. Apalagi saat ini dia berada dalam lingkungan keluarga yang begitu menyayanginya. Bagas, Mama Angel, Kartika, dan juga Papa Adibrata yang semakin lama semakin melunak kepadanya.


Kehidupan Indhira saat ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dibanding ketika dia remaja dulu. Boleh dibilang, saat ini Indhira sedang merasakan hasil dari kesabarannya dan sikap pasrah pada Allah SWT.


Penderitaan yang dia rasakan ketika muda dulu, kini berubah menjadi kebahagiaan yang berlipat-lipat. Indhira selalu bersyukur, dalam sujudnya terhadap Sang Khaliq, Indhira selalu mengucapkan rasa syukurnya itu.


Bagas sendiri sejak dua bulan lalu sudah kembali mengambil alih perusahaan milik sang Papa yang dulu sempat dia tinggalkan. Dia berpamitan kepada Gavin, karena harus kembali mengurus perusahaan milik Adibrata. Karena hanya Bagas lah yang bisa diandalkan untuk menghandle perusahaan keluarga Adibrata Mahesa tersebut. Untung saja Gavin tidak keberatan dengan pengunduran diri Bagas dari hotelnya, sehingga Bagas tidak kesulitan ketika dia ijin resign dari usaha hotel milik Gavin itu.


Sementara Angel, sejak dekat dengan Indhira, dia sudah jarang berkumpul bersama teman-teman sosialitanya. Dia lebih senang berkumpul bersama anggota keluarganya, menemani Indhira dan juga Kartika di rumah.


Adibrata sendiri sudah benar-benar bertobat. Dia sudah tidak terlalu dominan di rumahnya. Apalagi hampir semua hartanya dilimpahkan kepada anak dan istrinya.


Adibrata tidak memperdulikan soal kepemilikan hartanya itu. Baginya, semua itu tergantikan karena ia kini merasakan suatu kehangatan sebuah keluarga yang utuh.


Seperti sore ini. Keluarga Adibrata disibukkan dengan acara pernikahan Evelyn dan Daffa. Mantan tunangan Bagas itu akhirnya menemukan jodohnya. Tentu saja pernikahan Evelyn dan Daffa, disambut bahagia oleh keluarga Adibrata, terutama Bagas dan Indhira.


Bagas merasa lega saat mengetahui Evelyn akhirnya berjodoh. Apalagi calon suami Evelyn adalah anak pengusaha kaya raya, Dirgantara Poetra Laksmana. Pernikahan Evelyn membuat hatinya tenang, karena Evelyn mendapatkan pria yang mencintainya setulus hati.


Sedangkan Indhira juga tidak menyangka, jika calon suami Evelyn masih ada hubungan kerabat dengan mantan bosnya. Karena salah satu dari saudara laki-laki Azkia menikah dengan Falisha, kakak dari Daffa.


"Mas, aku kelihatan gemuk sekali, ya?" tanya Indhira setelah dia memakai dress hamilnya.


"Ini bukan gemuk, Sayang. Tapi ini hamil." Bagas tidak ingin membuat hati istrinya sedih dengan mengatakan Indhira gemuk. Padahal jika mau jujur, memang ada beberapa bagian dari tubuh Indhira yang melebar.


Indhira melirik suaminya, "Mas malu tidak bawa aku ke pesta itu?" tanyanya kemudian.


"Kenapa aku harus malu, Yank? Kamu ini istri aku, kok! Hamil juga anak aku, bukan hamil di luar nikah juga," respon Bagas.


"Tapi aku yang malu, Mas." ujar Indhira, "Apa aku tidak usah datang ke sana saja, ya, Mas?" sambungnya berniat mengurungkan niatnya itu.

__ADS_1


"Kamu ingin Bu Kia marah karena kamu tidak datang di acara kerabatnya itu?" Bagas memakai alasan Azkia. Karena dia tahu, istrinya itu tidak anak berkutik menolak jika dia pakai alasan Azkia.


"Ya sudah, deh." Benar saja, Indhira tidak berani menentang lagi saat nama Azkia disebut.


"Ayo, kita keluar. Tidak enak kalau Papa dan Mama sudah menunggu kita." Bagas merangkulkan tangannya ke pundak Indhira, lalu bersama istrinya itu turun ke lantai bawah.


"Sudah siap, Bagas, Indi?" Angel bangkit dari kursi saat melihat Bagas dan Indhira menuruni anak tangga.


"Sudah, Ma." jawab Bagas dan Indhira bersamaan.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Adibrata.


"Iya, Pa." sahut Bagas, "Kartika mana?" Bagas mencari keberadaan adiknya.


"Dia tidak ikut katanya," sahut Angel.


"Lho, kenapa?" tanya Bagas heran.


"Ya ampun, anak itu ada-ada saja." Bagas tertawa kecil menanggapi alasan yang dipakai Kartika enggan ikut ke pesta pernikahan Evelyn.


"Ya sudah, ayo kita berangkat!" Angel melingkarkan tangannya di lengan Adibrata berjalan mendahului Bagas dan Indhira.


"Biar aku saja yang bawa mobil, Pak Agus." ujar Bagas pada Agus, supir pribadi Adibrata yang membukakan pintu mobil untuk majikannya.


"Lho, memangnya kenapa kamu yang bawa, Bagas?" tanya Adibrata mewakili rasa penasaran Agus.


"Biar Pak Agus duduk di belakang saja, nanti kalau sudah sampai lokasi Pak Agus yang memarkirkan mobilnya. Papa sama Mama duduk di tengah, aku sama Indhira biar di depan." Bagas mengatur posisi duduk untuk istri dan kedua orang tuanya.


"Papa di depan saja, biar Indhira yang sama Mama." Angel menyela ucapan Bagas dan menukar posisi duduk suaminya dengan Indhira.

__ADS_1


"Ya sudah, tidak apa-apa," sahut Adibrata, tak membantah apa yang diminta sang istri.


"Mama masuk duluan, biar Indhira duduk di sebelah kiri." Setelah membantu Indhira masuk ke mobil, Bagas lalu berputar ke arah kemudi untuk mengendarai mobil pegangan Pak Agus yang biasa digunakan oleh Adibrata.


"Kenapa perutnya, Ra?" tanya Angel saat Indhira memegangi perutnya yang sudah terlihat turun ke bawah, karena persalinan Indhira hanya menghitung hari saja.


"Tidak apa-apa, Ma. Tadi kerasa kencang saja," sahut Indhira.


"Perkiraan Indhira melahirkan kapan? Jangan sampai tiba-tiba ketika sedang di pestanya Evelyn, kamu mendadak kontraksi saja," celetuk Adibrata.


"Duh, Papa ini kalau bicara ... jangan doain yang tidak-tidak, dong, Pa!" tegur Angel karena suaminya memikirkan hal yang membuatnya khawatir.


"Papa bukannya mendoakan yang tidak-tidak, Ma. Tapi, kadang hari perkiraan melahirkan bisa maju dan mundur harinya, kabm? Dulu saja waktu Mama melahirkan Bagas dan Kartika, semuanya maju dari tanggal yang diprediksi oleh dokter." Adibrata berbicara sesuai fakta yang pernah dia hadapi.


"Ya sudah, jangan mengharapkan Indhira kontraksi di pesta nanti, dong!" Perdebatan terjadi antara Adibrata dan Angel.


Indhira memicingkan mata hingga keningnya berkerut mendengar perselisihan antara kedua mertuanya, Ucapan Adibrata yang mengatakan agar jangan sampai dirinya mengalami kontraksi, membuat Indhira cemas. Apalagi dua hari lalu sempat keluar flek meskipun jadwal HPL nya satu minggu ke depan.


Bagas melirik sang istri dari kaca spion. Dia melihat wajah istrinya sedikit menegang mendengar perdebatan ringan Adibrata dan Angel.


"Pa, Ma, sudah jangan berdebat! Lihat itu istriku jadi ketakutan, tuh!" Bagas sengaja menyebut istrinya ketakutan agar Adibrata dan Angel berhenti berdebat.


"Maaf, Ra. Mama tidak bermaksud membuat kamu takut. Papa mertuamu itu yang bikin khawatir. Namanya kontraksi memang kita bisa milih-milih kapan waktu kontraksi!" Angel mengusap bahu Indhira sambil menyalahkan sang suami yang dia anggap mengacaukan suasana.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2