SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Ngidam Lumpia


__ADS_3

Indhira menoleh suaminya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Dia ingin membangunkan sang suami karena tiba-tiba merasakan lapar, padahal sebelum isya tadi mereka sudah makan malam, namun dia tidak tega, takut sang suami kelelahan.


Kini pandangan Indhira tertuju pada jam dinding yang sudah menunjukkan pu kul sebelas malam. Dia bangkit lalu menyibak selimutnya dan perlahan turun dari tempat tidur


" Mau ke mana, Yank?" tanya Bagas, dengan tangan menahan tangan Indhira. Rupanya pergerakan halus yang dilakukan Indhira tetap saja dapat membuat Bagas terjaga dari tidurnya, seperti ada sinyal yang membangunkan saat Indhira bergerak menjauh darinya.


" Aku mau ke dapur, Mas." ujar Indhira. " Maaf, aku membangunkan Mas, ya?" Indhira meminta maaf karena merasa telah mengganggu waktu tidur suaminya.


" Tidak apa-apa, kamu mau apa ke dapur? Biar nanti aku yang ambilkan." Bagas bangkit dari tempat tidur dan melarang Indhira keluar dari kamar.


"Aku lapar, Mas." Indhira mengusap perutnya.


" Lapar lagi?" Bagas menoleh ke arah jam dinding. " Di dapur ada makanan apa?" Bagas sendiri tidak tahu, makanan apa yang ada di dapur.


" Hanya ada buah," sahut Indhira.


" Kamu mau buah? Aku ambilkan dulu!" Bagas bergegas ke arah pintu hendak ke luar kamar.


" Aku tidak mau buah, Mas." tolak Indhira.


" Lalu kamu mau makan apa?" tanya Bagas.


Indhira menggelengkan kepala lalu berjalan menyusul sang suami ke arah pintu kamar.


" Kita lihat saja apa yang bisa dimakan, Mas?" sahut Indhira berjalan ke luar menuju dapur.


Setelah sampai di dapur, Indhira membuka kulkas untuk melihat bahan makanan yang dapat digarap olehnya. Hanya ada daging ayam dan sayuran. Indhira juga teringat jika nasi yang dia masak hari ini sudah habis tak tersisa.


" Kamu mau makan apa, Yank?" tanya Bagas kembali setelah melihat Indhira hanya berdiri menatap ke dalam kulkas.


" Paling bikin telur dadar saja, tapi harus masak nasi dulu karena nasinya habis," jawab Indhira.


" Kelamaan kalau harus masak dulu, Yank. Kamu mau makan apa? Nanti aku suruh orang bawakan makanan dari restoran untuk kamu." Bagas berniat menyuruh salah satu pegawai restoran di hotel untuk membawakan makanan untuk Indhira agar mempersingkat waktu.


" Sebenarnya aku kepingin banget makan lumpia, deh, Mas. Di restauran hotel ada tidak, Mas?" Mengetahui suaminya ingin membawakan makanan dari resto hotel, Indhira menyebutkan apa yang dia inginkan.


" Lumpia? Apa di restoran hotel ada?" Bagas mengambil ponsel untuk menghubungi pihak restoran hotel.


" Halo, Amir. Apa di sana ada menu lumpia?" tanya Bagas pada salah satu staf yang ada di restoran tersebut.


" Lumpia? Maaf, di sini tidak tersedia, Pak." sahut Amir.

__ADS_1


" Kamu tahu di mana ada yang jual itu?" tanya Bagas. Dia yakin jika keinginan istrinya itu karena faktor mengidam, sehingga dia menyuruh staf nya untuk mencari makanan itu.


" Sebentar saya cari di goo gle dulu, Pak. Siapa tahu ada yang menjual dan buka sampai dua puluh empat jam." Amir bersedia membantu mencarikan.


" Ya sudah, tolong kabari segera. Istri saya sedang ngidam. Dia ingin makan lumpia." Bagas menjelaskan alasannya mencari makanan itu.


" Baik, Pak. Saya segera kabari secepatnya." Amir menyahuti.


" Terima kasih." Bagas segera mengakhiri percakapannya dengan Amir.


" Kamu tunggu di kamar dulu saja, Yank." Bagas membawa Indhira kembali ke kamarnya. Setelah itu, tak lama kemudian dia mendapat kabar dari Amir tentang lokasi yang menjual lumpia yang masih buka. Dan Bagas pun langsung menyuruh anak buah Amir untuk membelikannya lalu di antar ke rumah kontrakannya.


Bagas tidak malu jika sampai diketahui oleh pegawainya di hotel itu jika dia hanya mengontrak di sebuah rumah kecil di gang sempit padahal dia seorang General Manager hotel bintang lima. Seperti dia juga tidak malu harus menggunakan motor matic untuk operasionalnya sehari-hari.


Setengah jam kemudian, akhirnya makanan yang diinginkan oleh Indhira sampai juga.


" Yank, ini sudah matang atau belum, sih?" Bagas menunjukkan dua buah lumpia dalam wadah mika.


" Itu mesti digoreng dulu, Mas." Indhira kembali ke arah dapur untuk menggoreng lumpia permintaannya tadi.


" Biar aku saja yang menggoreng, Yank!" Bagas ingin melayani sang istri dengan baik, sampai bersedia menggorengkan lumpia.


" Tinggal goreng saja apa susahnya?" Bagas merasa tertantang dengan sindiran sang istri.


" Nanti gosong lagi ..." cibir Indhira.


" Ngeledek, nih!?" Bagas memeluk tubuh Indhira dan menciumi pipi istrinya itu.


" Astaghfirullahal adzim, Mas! Jangan suka bercanda di depan kompor menyala!" Indhira memprotes suaminya itu.


" Sudah kamu duduk saja!" Bagas lalu mengambil kursi platik dan menyuruh istrinya untuk duduk. " Biar aku yang goreng," lanjutnya.


" Api kompornya dikecilkan, Mas. Biar tidak gosong." Indhira memberi arahan.


" Ini minyaknya sudah panas belum, Yank? Cara mengecek minyak sudah panas itu gimana, Yank? Celupin jari ke minyaknya?" tanya Bagas dengan berseloroh, bahkan dia mendekatkan tangannya hampir menyentuh minyak goreng itu.


" Mas! Jangan bercanda!" tegur Indhira, karena suaminya itu justru sengaja bermain-main.


" Aaakkkhh ... aawww ... awww ..." Bagas meringis seraya mengibaskan tangannya.


" Astaghfirullahal adzim, Mas!" Indhira seketika bangkit karena dia cemas saat tahu suaminya terkena panas minyak goreng.

__ADS_1


" Mana sini aku obati, Mas. Makanya aku bilang juga jangan bercanda di depan kompor, jadi beneran kena, kan?" Indhira nampak senewen.


" Ini." Bagas lalu menunjukkan jarinya yang tidak terkena minyak panas sama sekali.


" Mas ngeprank aku?" Indhira memberengut karena merasa telah dikerjai oleh sang suami.


" Maaf, sayang, maaf ..." Bagas kembali memeluk erat sang istri dan mencium bibir Indhira yang memberengut.


" Awas, deh! Aku saja yang goreng, sudah panas apinya." Indhira mengurai pelukan sang suami lalu mendekati arah kompor dan memasukkan lumpia itu ke dalam wajan dengan minyak panas dan api sedang.


Setelah selesai menggoreng, Indhira lalu menyantap makanan yang tiba-tiba saja dia inginkan.


" Alhamdulillah ..." Indhira menghabiskan po tongan lumpia terakhirnya.


" Sudah kenyang sekarang?" tanya Bagas.


" Ada lagi tidak, Mas? Itu enak sekali rasanya. Aku mau lagi ..." Indhira minta tambah.


" Aku tadi cuma beli satu porsi, Yank. Mau lagi?" Bagas terkejut melihat istrinya ingin lumpia lagi, padahal dia cuma menyuruh membeli satu porsi saja, karena dia tahu istrinya itu tidak pernah makan dengan porsi yang banyak.


" Iya, lumpianya enak. Aku mau lagi, Mas." ujar Indhira.


" Yakin, Yank?" tanya Bagas heran.


" Iya, Mas." Indhira mengangguk


" Ya sudah nanti aku suruh Amir atur orang untuk beli lumpia lagi." Bagas kembali meraih ponselnya.


" Jangan suruh orang di hotel, Mas. Kasihan disuruh bolak-balik gitu. Pesan pakai G-food saja, Mas." Indira menyarankan memakai jasa ojek online untuk membeli lumpia.


" Oh iya, kita bisa pakai G-food." Bagas membuka aplikasi ojek online lalu mencari toko penjual lumpia untuk membeli lumpia lagi atas permintaan sang istri tercinta.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2