SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
La Grande Caffe


__ADS_3

" Bagaimana kaki sama lengan kamu, Indhira?" tanya Ibu Lidya setelah Indhira selesai membantu memakaikan pakaian Tante Sandra sehabis dibersihkan terlebih dahulu.


" Alhamdulillah sudah mulai membaik, Tante." sahut Indhira menoleh ke arah Ibu Lidya yang muncul dari pintu kamar Tante Sandra.


" Syukurlah kalau begitu. Jadi, kapan kamu akan mulai bekerja di cafe bersama Adam?" Berjalan masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidur Tante Sandra, Ibu Lidya menanyakan rencana Indhira yang akan bekerja di cafe yang sama dengan calon menantunya.


" Tadi Ibu Kia juga sudah menelepon saya, menanyakan kapan saya siap untuk mulai bekerja, Tante. Mungkin lusa saya baru bisa bekerja di sana, Tante." Indhira kini menyisir rambut Tante Sandra lalu mengikatnya.


" Itu yang namanya ada hikmah dalam sebuah musibah, Indhira. Kamu hampir tertabrak karena menolong anak kecil, malah kamu dikasih pekerjaan sama orang tua anak itu," ujar Ibu Lidya tertawa kecil.


" Iya, Tante. Saya juga tidak menyangka akan mendapatkan pekerjaan secepat ini." Indhira memang tidak menduga akan langsung mendapatkan pekerjaan secara tidak terduga hanya karena dia menolong seorang bocah berusia tujuh tahun.


" Itu namanya rezeki kamu, Indhira." Tante Lidya menimpali. " Selama ini kamu menjalani setiap masalah yang sedang kamu hadapi dengan ikhlas dan tidak patah semangat. Makanya Allah SWT menyayangi kamu, dan selalu memudahkan segala urusan kamu." Ibu Lidya mengusap lengan Indhira. Dia juga ikut merasa senang Indhira bisa bangkit dari keterpurukan yang dialami oleh sahabat dari putrinya itu.


" Aamiin, Alhamdulillah. Itu semua tidak terlepas dari support dan pertolongan dari Tante dan keluarga. Saya bahkan tidak dapat membayangkan jika tidak ada Rissa dan Tante. Entah, akan seperti apa nasib saya sekarang ini!?" Tidak dapat dibayangkan jika tidak ada sahabat yang mendukungnya, mungkin Indhira sudah hancur sejak lama.


" Ya sudah, tidak usah diingat lagi kenangan buruk masa lalu. Sekarang ini, kamu harus tetap bersemangat dan raih cita-cita kamu!" Ibu Lidya mengepalkan tangan memberikan semangat pada Indhira.


" Iya, Tante. Hmmm, saya mau ambilkan sarapan untuk Tante Sandra dulu ya, Tan." Indhira berpamitan ingin mengambil sarapan untuk Tante Sandra dan menyuapinya.


" Iya sudah, sana ..." Ibu Lidya membiarkan Indhira keluar untuk mengambil makanan untuk Tante Sandra.


Tak berapa lama Indhira kembali ke kamar Tante Sandra dengan membawa baki berisi makanan dan minuman untuk Tante Sandra, sementara Ibu Lidya sudah tidak ada di kamar Tante Sandra. Selama menyuapi Tante Sandra, mulut Indhira tidak berhenti berbicara, seakan mengajak berinteraksi Tante Sandra. Walau hanya direspon Tante Sandra dengan kedipan matanya saja.


" Tante, lusa aku akan mulai bekerja. Aku tidak akan bisa full mengurus Tante. Tidak apa-apa, ya, Tan!? Tapi aku tetap akan tinggal di sini dan bertemu Tante tiap hari. Aku masih bisa membantu mengurus Tante sebelum berangkat kerja seperti sekarang ini, Tan." Setelah selesai memberikan obat kepada Tante Sandra, Indhira menyampaikan kabar yang mungkin akan membuat Tante Sandra kecewa karena Indhira tidak mempunyai banyak waktu untuk mengurus Tante Sandra, seperti yang dijalani hampir sepuluh hari keberadaannya di Jakarta.


" Doakan Indi betah bekerja di sana ya, Tan!? Semoga bos tempat aku bekerja nanti sebaik Tante." Indhira mengusap tangan Tante Sandra, seperti meminta ijin kepada orang tua sendiri karena dia akan memulai pekerjaan yang baru.


Indhira melihat gerakan kelopak mata Tante Sandra yang mengedip seolah mengiyakan apa yang dikatakan olehnya.


" Terima kasih, Tante. Aku selalu mendoakan kesembuhan untuk Tante." Indhira menggenggam kedua tangan Tante Sandra yang tidak dapat digerakkan oleh Tante Sandra seraya menitikkan air mata. Yang diikuti oleh tetesan air mata dari bola mata Tante Sandra yang sama terharunya dengan Indhira.


***


Dengan menggunakan ojek online, Indhira berangkat ke cafe milik Raffasya. Ini hari pertama Indhira bekerja di cafe itu. Ada rasa berdebar di hati Indhira karena harus bersosialisasi dengan lingkungan yang baru. Dia berharap keberadaan Adam di cafe itu bisa membantunya mengatasi kesulitannya di sana nanti.


" Selamat pagi, Pak." Indhira menyapa security yang berjaga di depan. Cafe sendiri buka jam sembilan pagi sementara untuk radio FM beroperasi mulai jam enam pagi.


" Pagi, Mbak." balas security yang berjaga di depan.


" Saya mau bertemu Pak Raffa atau Ibu Kia, Pak. Apa sudah datang, Pak?" Sebelumnya Indhira sempat dihubungi oleh Azkia untuk datang pagi ini jam sembilan. Sementara saat ini waktu baru menujukkan jam 08.45 menit.


" Pak Raffa belum datang, Mbak. Mungkin sebentar lagi. Kalau Ibu Kia ... Bu Kia jarang datang kemari, Mbak. Sewaktu-waktu saja ke sininya." Security yang bernama Yanto itu memberitahu Indhira.


" Oh gitu ya, Pa? Ya sudah, saya ikut menunggu di dalam boleh, Pak?" Indhira meminta ijin untuk menunggu di dalam cafe.


" Hmmm, Mbak ini sudah ada janji bertemu sebelumnya dengan Pak Raffa?" tanya security sebelum mengijinkan Indhira masuk ke dalam cafe.


" Sudah, Pak. Karena saya akan bekerja di sini." Indhira menyebutkan jika dia akan menjadi karyawan di cafe milik Raffasya itu.


" Mbak mau bekerja di sini? Mbak sudah memasukan lamarannya belum?" Pak Yanto, security yang berjaga memang tidak sedang bertugas saat Indhira datang bersama Azkia beberapa waktu lalu.


Hampir semua pegawai cafe mengenal watak Azkia. Wanita itu tidak akan membiarkan wanita cantik berada dekat di lingkungan tempat suaminya bekerja kecuali para pengunjung cafe. Karena itu dia merasa heran saat Indhira yang berwajah cantik dengan kulit putih bersih mengatakan akan bekerja di cafe milik Raffasya.


" Sudah, Pak. Saya bahkan diperintahkan oleh Ibu Kia untuk datang kemari pagi ini." Indhira menjelaskan jika dia sudah diterima di cafe itu untuk bekerja.


" Ibu Kia sendiri yang menerima Mbak nya?' Pak Yanto seakan tidak percaya istri bosnya itu yang mengijinkan wanita cantik bekerja di cafe itu.


" Benar, Pak." Indhira mencoba meyakinkan.


" Oh, ya sudah, kalau begitu silahkan menunggu di dalam saja, Mbak." Walau terasa aneh. Namun, Pak Yanto tetap mempersilahkan Indhira masuk ke dalam cafe dan menunggu di dalam.


" Terima kasih, Pak." Setelah mendapat ijin dari security, Indhira pun masuk ke dalam cafe menunggu kedatangan Azkia dan Raffasya.


Sementara di jalanan kota Jakarta, tepatnya di sebuah mobil sport yang dikendarai Raffasya dan membawa Azkia serta anak bungsu mereka Zehan sedang meluncur menuju Raff Studio & Caffe.

__ADS_1




" Kamu yakin, Ma? Akan menerima Indhira bekerja di cafe Papa?" Raffasya kembali meminta kepastian dari Azkia soal permintaan istrinya itu untuk mempekerjakan Indhira di cafe miliknya.


" Kan Mama sudah bilang, Pa. Kalau Mama itu ingin membalas budi atas pertolongan Indhira yang sudah menyelamatkan Naufal dari bahaya. Kenapa mesti dibahas lagi, sih!?" Azkia tampaknya sadar jika sang suami ingin meledeknya karena sikapnya selama ini yang selalu cemburu jika ada wanita cantik di lingkungan sekitar suaminya itu berada.


Raffasya terkekeh mendengar jawaban Azkia.


" Ya, Papa heran saja, tiba-tiba Mama kasih Papa karyawan wanita yang cantik. Biasanya Mama 'kan selalu melarang. Dan yang merasa aneh itu bukan Papa saja lho, Ma. Adam juga sama kagetnya. Papa pikir cemburu Mama itu tanpa kecuali.* Raffasya kembali terkekeh membuat Azkia memutar bola matanya.


" Rencananya Papa ingin menempatkan Indhira di La Grande saja, Ma." Raffasya berencana mempekerjakan Indhira di cafe dia yang lainnya.


" Memangnya kenapa, Pa?" tanya Azkia dengan kening berkerut.


" Kalau di Raff cafe, takut dia jadi baper dan lama-lama terpesona ke Papa, Ma." Raffasya berkelakar yang diakhiri dengan gelak tawa.


" Idiiihh ... pede amat sih, Pa! Tapi Mama yakin Papa tidak akan berani macam-macam!" Azkia tahu jika suaminya itu bukan tipe pria yang mudah tergoda oleh wanita.


" Kalau Papa berani macam-macam?" Raffasya sengaja meledek Azkia.


Azkia langsung mendelik tajam ke arah suaminya yang sedang mengendarai mobil.


" Coba saja kalau Papa berani macam-macam! Mama bawa anak-anak pulang ke rumah Papi Maminya! Dan tidak akan Mama ijinkan Papa menemui mereka seumur hidup!!" Azkia langsung menebar ancaman agar suaminya itu tidak banyak bertingkah dengan wanita lain.


" Ya ampun, menyeramkan sekali ancaman Mama, Zehan. Masa Papa dilarang ketemu Zehan, Kak Naufal sama Kak Alma? Mama jahat ya, Dek?" Seolah mengadu ke putra bungsunya, Raffasya berkata dengan nada menyedihkan.


" Tapi, Mama yakin Indhira itu wanita baik-baik, sih, Pa. Feeling Mama mengatakan begitu. Lagipula Pak Adam juga sudah bilang kalau Indhira itu baik. Tapi, untuk mengantisipasi apa yang Papa khawatirkan, Mama juga setuju kalau Indhira di La Grande." Meskipun Azkia merasa jika Indhira adalah wanita baik-baik. Namun, dia juga memang harus waspada. Karena segala kemungkinan itu bisa terjadi bukan karena ada niat tapi juga karena ada kesempatan.


Sekitar tiga puluh menit berselang, mobil yang dikemudikan Raffasya sampai di cafe miliknya. Dengan menggendong putra bungsunya, Azkia turun dari mobil. Setelah Raffasya juga turun dari mobil. Azkia menyerahkan Zehan kepada Raffasya. Raffasya lalu menurunkan Zehan dan menuntun putra kecilnya itu berjalan memasuki cafe mengikuti Azkia yang sudah melangkah lebih dulu ke cafe.


" Pagi, Bu Kia." sapa Pak Yanto.


" Pagi ... Pak, sudah ada pegawai baru yang datang belum?" Azkia menanyakan keberadaan Indhira.


" Oke, Pak. Makasih." Azkia lalu bergegas masuk ke dalam cafe suaminya, sementara Raffasya agak lambat berjalan karena sambil menuntun Zehan.


***


Indhira melihat kemunculan Azkia dari pintu cafe. Segera dia berdiri dan menghampiri wanita cantik yang merupakan istri dari calon bos barunya itu.


" Selamat pagi, Bu Kia." Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, Indhira menyapa Azkia.


" Pagi, Indhira. Kaki kamu sudah sembuh?" Azkia melihat Indhira yang kini sudah dapat berjalan normal.


" Alhamdulillah sudah membaik, Bu." sahut Indhira.


" Syukurlah kalau sudah membaik. Kamu bisa naik ke lantai atas, kan?" tanya Azkia ingin mengajak Indhira berbincang di ruangan kerja suaminya untuk menjelaskan pekerjaan yang akan dilakukan Indhira.


" Bisa, Bu." sahut Indhira cepat.


" Ya sudah, kita bicara di ruangan suami saya!" Azkia langsung melangkah menuju anak tangga.


Indhira pun mengekor di belakang Azkia. Hatinya semakin berdebar seakan menghadapi ujian. Dia juga terus memanjatkan doa agar diberikan kemudahan dalam menghadapi pekerjaannya nanti.


" Silahkan ..." Sesampainya di ruang kerja Raffasya, Azkia mempersilahkan Indhira masuk dan duduk di sofa.


Indhira mencium aroma maskulin dari aroma therapy yang menguar saat dia masuk ke dalam ruangan Raffasya. Dia lalu duduk di sofa berwarna hitam yang ada di ruangan tersebut.


" Tunggu suami saya sebentar, ya!?" Azkia menunggu Raffasya yang masih belum sampai ke ruangan kerja karena menuntun Zehan yang kadang berhenti berjalan karena disapa oleh para pegawai cafe yang senang melihat kehadiran. bocah berumur dua tahun itu.


" Kamu mau minum apa?" Azkia melangkah ke arah showcase untuk mengambilkan minuman untuk Indhira.


" Tidak usah, Bu. Ini sudah cukup," jawab Indhira menunjuk air mineral cup yang tersusun rapih di wadah yang ada di meja.

__ADS_1


" Mau yang dingin?" Azkia menawarkan air mineral yang dingin dari dalam showcase.


" Tidak usah, Bu. Ini saja tidak apa-apa." Indhira menolak tawaran Azkia.


Tak lama kemudian, Raffasya masuk ke dalam ruangannya, tidak hanya bersama Zehan, tapi juga bersama Fero. orang kepercayaan Raffasya yang mengurus La Grande Cafe miliknya.


" Pagi, Bu bos." sapa Fero saat muncul di ruangan Raffasya.


" Lho, Pak Fero sudah datang?" tanya Azkia terkejut dengan kehadiran Fero tiba-tiba.


" Fero tadi datang waktu aku mau masuk cafe, Ma." Raffasya me jelaskan.


" Oh ..." sahut Azkia.


" Ini orang yang kamu maksud, Raf?" tanya Fero saat matanya mendapati seorang wanita cantik yang duduk sofa.


" Iya, Fer. Duduk dulu, deh!" Raffasya menyuruh Fero untuk duduk sebelum dia menjelaskan kepada Fero.


Indhira melirik pria yang dipanggil dengan sapaan Fero yang sedang memperhatikannya. Dia sendiri tidak tahu siapa pria itu dan maksud Fero berkata seperti tadi.


" Indhira, kenalkan ini Fero. Dia orang saya yang menghandle cafe saya di tempat lain. La Grande Caffe. Rencananya saya akan menempatkan kamu di cafe itu. La Grande lebih besar dari cafe ini tempatnya. Di sana juga sering disewa untuk mengadakan event-event party seperti event ulang tahun, pertunangan, wedding party dan lainnya. Nanti Fero yang akan menjadi atasan kamu di sana. Dan nanti Fero yang akan menjelaskan apa yang akan kamu kerjakan di La Grande." Raffasya menjelaskan kepada Indhira, di mana wanita itu akan ditempatkan nantinya.


" Apa kamu keberatan di tempatkan di sana, Indhira?" tanya Raffasya kemudian.


" Saya terserah Bapak saja akan ditempatkan di mana, Pak" sahut Indhira. Walau dia sedikit kecewa. Karena berpikir jika ada orang yang dia kenal seperti Adam, dia bisa lebih tenang bekerja di tempat barunya itu. Namun, dia tidak bisa menolak keputusan dari Raffasya. Saat dia memasuki pekerjaan baru, dia harus siap dengan semua pekerjaan yang diberikan kepadanya.


" Nanti kamu akan ikut dengan Fero ke La Grande. Di sana Caffe beroperasi mulai jam sepuluh sampai jam dua belas malam. Ada dua sift. Dan untuk pegawai yang kebagian sift malam yang tidak dijemput akan diantar dari pihak cafe. Jadi, kamu tidak usah khawatir jika harus pulang malam. Tidak masalah kalau saya tempatkan kamu bukan di bagian administrasi?" Raffasya meminta kesediaan Indhira. Walaupun nantinya dia berencana menempatkan Indhira di bagian administrasi, khususnya menanggani pembukuan sesuai dengan kemampuan Indhira di bidang akutansi.


" Saya tidak masalah, Pak. Saya berniat mencari pekerjaan. Saya harus siap ditempatkan di mana saja selama saya bisa melakukan pekerjaan itu." Indhira memastikan jika dia sanggup melakukan pekerjaan apapun yang dipilihkan Raffasya untuknya.


" Ya sudah jika kalau kamu bersedia., nanti ikut sekalian ke La Grande bersama Fero saja." Kembali Raffasya memberitahu jika Indhira akan pergi bersama Fero ke La Grande.


" Pak Fero, aku titip Indhira. Jangan macam-macam dengan dia, ya!?" Azkia bahkan berani mengancam Fero agar Indhira aman dari pria-pria yang akan memanfaatkan kecantikan Indhira.


" Waduh, istrimu sudah menebar ancaman, Raf. Apa karena itu kau menempatkan Indhira di tempatku?" Fero mengakhiri ucapannya dengan tawa lebar. Dia berpikir jika Raffasya menempatkan Indhira di La Grande, agar Raffasya aman dari kecurigaan dan kecemburuan Azkia.


" Indhira itu titipan langsung dari istriku, Fer! Makannya dia bilang jangan sampai macam-macam." Sama dengan Fero, Raffasya pun ikut tertawa.


" Pantas saja, aku juga awalnya heran, kok bisa dia diterima bekerja olehmu. Hahaha ...."


Indhira mengerutkan keningnya mencoba memahami perbincangan yang terjadi antara Raffasya dan Fero. Dia pun menyangkutkan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Adam tentang Azkia yang tidak mengijinkan suaminya mempunyai pegawai yang berwajah cantik di atas rata-rata selama ini.


Sambil menunggu La Grande buka, Fero berbincang seputar cafe dengan Raffasya. Sementara Indhira sendiri harus meladeni Azkia yang terus mengajaknya berbincang di ruangan yang berbeda.


" Oh ya, aku lihat ijasah paket C kamu. Memang kenapa kamu tidak sekolah SMA?" Azkia menanyakan soal ijasah paket C yang dimiliki oleh Indhira. Karena surat lamaran yang awalnya ingin diserahkan kepada perusahaan terakhir diminta oleh Azkia untuk arsip.


Indhira terdiam beberapa saat ketika Azkia menanyakan soal ijasah paket C yang dia miliki. Meskipun dia sudah tahu jika hal itu nantinya akan dipertanyakan. Namun, dia tetap merasa berdebar saat harus menjawabnya.


" Saya putus sekolah karena Papa saya meninggal, dan tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah, Bu." Sejujurnya Indhira merasa bersalah karena berbohong pada Azkia. Tapi, dia tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin dia menceritakan hal yang sebenarnya kepada Azkia. Yang ada dia akan kehilangan peluang bekerja di cafe milik Raffasya itu.


" Kebetulan sahabat saya, tunangannya Mas Adam itu membantu saya dan mempekerjakan saya di salon Tantenya di Semarang. Setelah bekerja dan mengumpulkan uang baru saya melanjutkan sekolah paket C dan melanjutkan kuliah mengambil program diploma, Bu. Kebetulan saya di Semarang ikut tinggal di rumah Tante teman saya itu jadi saya bisa menyisihkan uang untuk melanjutkan kuliah diploma." Tak ingin banyak ditanya soal alasan dia putus sekolah SMA, Indhira menceritakan bagaimana dia bisa melanjutkan sampai kuliah diploma.


" Lalu kenapa kamu keluar dari pekerjaan kamu yang dulu?" tanya Azkia kembali.


" Karena Tante teman saya itu menjual salon miliknya ke orang lain. Dan Tante teman saya itu terkena stroke dan dibawa ke Jakarta ke rumah kakaknya. Karena saya juga merasa berhutang budi dengan Tante teman saya, makanya saya pindah ke Jakarta. Selain dapat mencari pekerjaan di sini, saya juga dapat ikut membantu mengurus beliau." Indhira menceritakan alasan dia melepas pekerjaan lamanya dan mencari peruntungan bekerja di tempat yang baru.


Azkia mendengar penjelasan Indhira yang sama persis dengan yang dia dengar dari Adam, Sepertinya wanita itu semakin yakin jika Indhira memang wanita baik dan tidak akan berbuat macam-macam apalagi menggoda suaminya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2