SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Sedikit Berempati


__ADS_3

Indhira melihat kembali ponselnya, sementara saat ini waktu sudah menunjukkan pu kul sembilan malam. Indhira menunggu kabar dari Bagas. Dia ingin tahu kabar dari kekasihnya itu soal tanggapan orang tua Bagas mengenai rencana pernikahannya itu.


Sejujurnya Indhira merasa cemas. Dia khawatir jika Bagas akan mendapat pertentangan keras dari orang tuanya, karena dirinya bukanlah wanita sempurna dan bukan dari kalangan kaum berada dan tidak sebading dengan Bagas.


" Ya Allah, jika Bagas memang benar jodoh yang sudah Engkau tetapkan untuk hamba, permudahkan segala urusan kami." Indhira berdoa agar segala sesuatu yang direncanakan olehnya dan Bagas dapat berjalan lancar tanpa banyak rintangan yang menghadang.


Indhira mende sah. Jika tidak ada aral melintang, Minggu depan dia dan Bagas akan menjadi sepasang suami istri. Seketika rona merah membias di pipi Indhira. Ya ampun, membayangkannya saja sebelumnya dia tidak pernah, tapi Minggu depan semua itu mungkin akan menjadi kenyataan.


Jika itu benar, betapa bahagianya Indhira, karena dia bisa menikah dengan pria yang sejak SMA dicintainya. Dia tidak menyesal tidak membuka hati kepada pria lain selama ini, karena dia menjaga hatinya hanya untuk Bagas seorang. Mengingat hal tersebut senyum bahagia mengembang di bibirnya. Dia tidak menyangka hari bahagia itu akan menghampiri dirinya.


Ddrrtt ddrrtt


Suara dering telepon di ponsel Indhira membuat wanita yang sedang termenung membayangkan hal indah itu terkesiap. Dengan cepat Indhira mengambil ponselnya, dan ternyata nama orang yang sejak tadi dia tunggu lah yang menghubunginya saat ini.


" Assalamualaikum, Bagas." Indhira menyapa Bagas dengan mengucap salam.


" Waalaikumsalam, kamu sudah tidur, Ra?" tanya Bagas membalas sapaan Indhira.


" Belum, aku sedang menunggu kabar dari kamu, Bagas. Bagaimana? Apa kamu sudah bicara dengan Papamu?" Tak ingin menunggu lama, Indhira langung menanyakan soal reaksi orang tua Bagas soal rencana pernikahan mereka.


Suara dengusan keras terdengar di telinga Indhira. Dan Indhira tahu, arti hempasan nafas cukup keras itu menandakan jika semua tidak baik-baik saja.


" Apa orang tuamu tidak merestui kita?" Kecemasan seketika melanda hati Indhira. Seperti dugaannya, dirinya tidak akan mudah diterima oleh keluarga Bagas. Sungguh miris rasanya. Orang tua dari pria yang sudah merenggut kesuciannya saja tidak mau menerima dia, apalagi orang tua dari pria lain. Bagaimana wanita yang sudah tidak suci seperti dirinya bisa diterima dengan baik sebagai calon menantu? Terasa sesak di dada yang dirasakan Indhira saat ini.


" Mereka merestui pernikahan kita atau tidak, kita akan tetap menikah, Ra." Seharusnya kalimat yang diucapkan oleh Bagas saat ini bisa menjadi penenang di hatinya. Tapi mengetahui pernikahannya dengan Bagas nanti berjalan tanpa restu, hal itu membuat hati Indhira sedih.


Indhira sudah tidak mempunyai orang tua, semestinya orang tua Bagas dapat merestui, agar pernikahan mereka nanti dapat berjalan dengan baik dan rumah tangganya nanti bersama Bagas bisa berjalan sakinah mawadah dan warohmah.


" Bagas, apa ini baik untuk kita? Aku takut tanpa restu orang tuamu, rumah tangga kita akan bermasalah." Indhira menyampaikan rasa khawatirnya.


" Ra, aku laki-laki, tidak wajib menghadirkan wali nikah, jadi aku tetap bisa melaksanakan pernikahan meskipun mereka tidak menyetujui. Masalah rumah tangga kita ke depannya, aku yakin, jika kita melakukan hal ini karena niat baik, pasti semua akan berjalan lancar." Bagas mencoba meyakinkan Indhira, agar kekasihnya itu tidak goyah meskipun restu tidak didapat oleh orang tua Bagas.


" Besok kamu tolong mulai disiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pernikahan kita nanti," ucapan Bagas selanjutnya.


" Lalu kita akan menikah di mana, Bagas?" tanya Indhira, dia juga bingung, di mana acara akad nikahnya bersama Bagas akan dilaksanakan.


" Nanti kita diskusi dengan Om Edwin, di mana kita akan melaksanakan akad. Tapi, sebaiknya kita melaksanakan akad nikah di KUA saja, Ra. Biar tidak terlalu merepotkan keluarga orang tua Rissa." Bagas berencana melaksanakan ijab qobul nya di Kantor Urusan Agama.


" Ya sudah, aku terserah kamu saja, Bagas." pasrah Indhira.


" Ra, aku berharap, apa pun yang akan menjadi rintangan ke depannya, kita tetap saling menjaga, agar kita dapat melalui semua cobaan dalam rumah tangga kita. Aku minta kamu jangan tinggalkan aku, seperti aku pun tidak akan meninggalkan kamu." Bagas meminta Indhira berjanji untuk menghadapi semuanya bersama dalam suka maupun duka.


" Iya, Bagas." Indhira tidak punya pilihan lain, selain menuruti permintaan Bagas. Karena sejujurnya, dia pun tidak ingin berpisah lagi dengan Bagas.


" Besok setelah pulang kerja, aku akan bicara dengan Om Edwin dan Tante Lidya, untuk membicarakan rencana pernikahan kita. Apa mereka besok malam ada acara, Ra?" Bagas perlu membicarakan rencana pernikahannya kepada orang tua Rissa, karena mereka sudah seperti keluarga bagi Indhira.


" Aku tidak tahu, Bagas. Nanti besok pagi aku tanyakan pada Om Edwin," sahut Indhira.


" Ya sudah, nanti hari Minggu, kita mulai cari perlengkapan untuk akad nikah kita, ya!? Apa saja yang dibutuhkan dicatat saja. Nanti minta saran pada Tante Lidya, apa-apa saja yang dibutuhkan untuk akad nikah." Bagas nampak bersemangat sekali dalam mempersiapkan rencana pernikahannya dengan Indhira, Dari mempersiapkan perlengkapan untuk akad, mencari tempat akad hingga mencari rumah tinggal mereka nanti.


" Kamu bersemangat sekali Bagas?"


" Harus, dong, Ra! Kita akan menyambut hari bahagia kita. Jadi harus kita siapkan dari sekarang!" Bagas terkekeh.

__ADS_1


" Iya sudah, nanti aku akan tanyakan pada Tante Lidya." Indhira tidak seantusias Bagas, karena dia masih terbebani dengan penolakan orang tua Bagas.


" Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat, Ra. Aku masih merasa lelah sekali." Bagas ingin mengakhiri panggilan teleponnya dengan Indhira dengan alasan lelah, karena baru sampai dari perjalanan jauh dini hari tadi. Padahal yang membuatnya terasa penat adalah pertengkaran dengan Papanya tadi.


" Kamu istirahat saja kalau begitu, Bagas. Jangan terlalu lelah, nanti kamu sakit." Indhira menasehati Bagas agar kekasihnya itu menjaga kesehatannya.


" Iya, Ra. Aku tutup dulu teleponnya kalau begitu, Ra. Assalamualaikum ..." Bagas mengakhiri panggilan teleponnya dengan mengucap salam.


" Waalaikumsalam ...."


***


Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian Tante Sandra, Indhira bersama Ibu Lidya dan Pak Edwin menyantap sarapan pagi bersama, sementara Dhika sudah berangkat sekolah lebih dahulu.


" Maaf, Om. Apa nanti malam Om dan Tante mau ada acara keluar?" tanya Indhira, di sela-sela menikmati sarapan pagi bersama.


" Memangnya kenapa, Ra?" Ibu Lidya yang menjawab pertanyaan Indhira.


" Hmmm, begini, Tante. Bagas ingin bicara dengan Om dan Tante nanti pulang kerja. Tapi, kalau Tante dan Om tidak bisa karena ada acara, tidak apa-apa." Indhira tidak ingin sampai mengganggu waktu kedua orang tua Rissa itu.


" Bagas ingin bicara apa sama Om, Ra?" Pak Edwin penasaran akan hal yang ingin dibicarakan oleh Bagas kepadanya.


" Hmmm, soal ..." Indhira ragu, apakah dia perlu memberitahu Pak Edwin terlebih dahulu perihal yang ingin dibicarakan oleh Bagas atau tidak.


" Soal rencana pernikahan saya dengan Bagas Minggu depan, Om."


" Uhuukk ... uhuukk ..." Ibu Lidya seketika tersedak mendengar kalimat yang diucapkan oleh Indhira.


" Tante, Tante tidak apa-apa?" Indhira panik melihat Ibu Lidya tersedak. Dia yakin itu terjadi karena kabar yang disampaikan dirinya. Dia pun langsung menyodorkan air minum untuk Ibu Lidya. " Ini, Tante. Minum dulu ...."


" Maaf, Tante. Kalau apa yang tadi saya sampaikan membuat Tante kaget." Indhira merasa tidak enak hati karena membuat Ibu Lidya sampai tersedak.


" Uhuukk ... tidak apa-apa, Indhira. Tante sudah tidak apa-apa. Uhuukkk ..." Bola mata Ibu Lidya bahkan sampai berair.


" Kamu tadi bilang akan menikah Minggu depan, Ra? Uhuuukkk ..." Ibu Lidya memang sempat kaget mendengar rencana pernikahan Indhira dan Bagas yang terlalu cepat menurutnya.


" I-iya, Tante." jawab Indhira.


" Apa itu tidak terlalu terburu-buru, Ra? Apa orang tua Bagas setuju dengan rencana pernikahan kalian?" Tentu saja reaksi orang tua Bagas yang Ibu Lidya khawatirkan.


" Saya ... saya tidak tahu, Tante." Karena Indhira pun tidak tahu apakah orang tua Bagas setuju atau tidak. Semalam, Bagas tidak mengatakan langsung sikap orang tuanya, hanya berkata, dengan atau tanpa restu orang tua, Bagas akan tetap menikahinya. Meskipun dia sudah dapat meraba apa tanggapan orang tua Bagas. Namun dia berharap semua metakutannya itu tidaklah benar.


" Kamu tidak tahu, tapi kamu sudah memutuskan untuk menikah dengan Bagas dalam waktu dekat ini?" Ibu Lidya menggelengkan kepala, menganggap Indhira dan Bagas tidak berpikir panjang dan terburu-buru mengambil keputusan.


" Ma, biar nanti kita dengar penjelasan dari Bagas saja." Pak Edwin lebih bisa memahami kondisi Indhira yang hanya bisa menerima apa yang diputuskan oleh Bagas.


" Ya sudah, Indhira. Om tidak ada acara nanti malam. Kalau Bagas ingin bicara dengan Om, suruh ke sini saja nanti malam." Pa Edwin menyetujui bertemu dengan Bagas nanti malam.


" Terima kasih, Om. Nanti saya sampaikan kepada Bagas soal ini." Indhira bersyukur karena Pak Edwin mau meluangkan waktunya untuk berbicara dengan Bagas.


***


Indhira memperhatikan seorang wanita hamil yang sedang menunggu antrian untuk memeriksa kandungannya. Di samping wanita itu, pria yang dia duga suami dari wanita itu terlihat memperlakukan sang istri dengan sangat manis. Satu tangan pria itu merangkul di pundak sang istri sambil mengusap kepala istrinya. satu tangan lainnya mengusap perut buncit sang istri.

__ADS_1


Indhira membayangkan jika dia menikah dengan Bagas lalu hamil dan punya anak, Bagas pasti akan melakukan hal itu juga kepadanya. Tanpa terasa senyuman mengembang di bibir Indhira membayangkan jika dirinya hamil dengan Bagas menemaninya periksa ke dokter kandungan.


" Sedang periksa kandungan juga, ya? Sudah berapa bulan?"


Indhira terkesiap saat mendengar seseorang di samping dia duduk betanya kepada dirinya. Indhira pun menolehkan pandangan ke arah sisi sebelah kanannya. Dia mendapati seorang wanita hamil besar sedang terduduk dengan mengelus perutnya.


" Tidak, kok, Bu. Saya sedang menunggu bos saya periksa kandungan," tepis Indhira menjelaskan jika dirinya tidak sedang hamil.


" Oh, syukurklah. Saya pikir kamu sedang hamil. Kami masih sekolah, ya?" tanya wanita itu kembali.


" Oh, tidak, Bu. Saya sudah bekerja," jawab Indhira.


" Eh, sudah kerja, ya? Saya kira kamu masih SMA, soalnya masih kelihatan seperti anak sekolahan." Wanita itu justru terkikik karena tebakannya salah.


Indhira tersenyum tipis mendengar wanita itu memujinya seperti anak sekolah, padahal usia nya saat ini sudah dua puluh enam tahun


" Maaf, ya!? Soalnya anak jaman sekarang, apalagi anak SMA, tidak sedikit yang terjebak dengan pergaulan bebas termasuk melakukan hubungan suami istri dengan kekasihnya. Bagi mereka kesucian itu tidak ada harganya, hingga dengan mudah dilepas begitu saja untuk ke kasihnya. Nanti giliran hamil, lalu ditinggal sama cowoknya, baru tahu rasa."


Walau Indhira tahu, wanita itu tidak bermaksud menyindirnya. Namun justru sindiran wanita itu seakan mengu liti kehidupan masa lalunya. Sindiran wanita itu mengena tepat di hatinya.


" Ra, ke butik sekarang, yuk!" Suara Azkia terdengar tiba-tiba setelah selesai mengecek kondisi janin di perutnya.


" Oh, iya, Bu " Indhira langsung bangkit dan menoleh kepada wanita yang mengajaknya bicara bicara tadi. " Saya duluan, Bu." Lalu dia pun berjalan mengikuti langkah Azkia. Dia bersyukur akhirnya Azkia selesai periksa kandungan. Jika tidak? Mungkin wanita tadi akan mengatakan hal-hal yang pasti akan menyakiti hatinya.


***


Dua orang pria berperawakan tinggi kekar sedang berbincang serius di kedai soto Betawi. Dua orang itu adalah orang suruhan Adibrata yang diberi tugas mengawasi putranya, Bagaspati Mahesa. Kedua orang itu tak lain adalah Dahlan dan Taufan, Saat ini Dahlan dan Taufan sedang berbincang seputar tugas mereka.


" Apa kau akan terus menyembunyikan soal wanita itu pada Tuan Adibrata, Lan? Aku khawatir Tuan Adibrata akan murka kalau beliau tahu, kita menyembunyikan soal identitas wanita yang dibawa Mas Bagas ke kantornya beberapa hari lalu." Taufan mengutarakan kekhawatirannya akan sangsi yang diberikan Adibrata saat Adibrata mengetahui mereka telah menyembunyikan informasi seputar Indhira. Selama ini, kesetian dan kinerja mereka tidak diragukan lagi. Namun, karena kasus menutupi identitas wanita yang dibawa oleh Bagas ke kantornya, Adibrata nampaknya mulai meragukan keahlian mereka berdua.


" Lalu, menurutku kita harus mengakui kesalahan kita soal wanita itu? Aku rasa jika kita mengambil keputusan untuk mengakui kalau selama kita sudah menutupi keberadaan wanita itu dari Tuan Adibrata, itu tidak akan menghilangkan hukuman yang akan kita terima, Fan." Dahlan merasa jika bos nya itu bukan tipe seorang pemaaf. Sekecil apa pun bentuk kesalahannya, tetap tanpa ampun, pasti akan mendapatkan hukuman.


" Tapi, setidaknya kita terhindar dari pemecatan, Lan! Apa kamu tidak merasa sayang kalau harus lepas dari pekerjaan kita sekarang ini?" Taufan sedikit bertentang pendapat dengan Dahlan.


" Kita sudah berjanji pada Mas Bagas untuk tidak mengusik wanita itu, Fan." Dahlan merasa harus komitmen pada janjinya.


" Tapi kita juga punya komitmen pada Tuan Adibrata, Lan! Secara tidak langsung dengan menutupi masalah Mas Bagas, kita sama saja sudah mengkhianati Tuan Adibrata." Taufan berargumentasi sesuai dengan pemikirannya sendiri.


" Dalam kasus Mas Bagas ini, cobalah kita sedikit berempati, Fan. Apa kamu lupa? Jika wanita itu dikeluarkan dari sekolah atas permintaan Tuan Adibrata. Tuan Adibrata juga menyuruh kita mengawasi Mas Bagas, agar Mas Bagas tidak dapat keluar dari rumah untuk menemui wanita itu. Seandainya kita yang menjadi orang tua wanita itu, apa kita bisa menerima dengan lapang dada sikap Tuan Adibrata yang menekan kita?" Dahlan meminta Taufan lebih mengutamakan hati nurani daripada loyalitas mereka kepada bos mereka. Lagipula orang yang mereka bela juga bukan orang lain, tapi anak dari bos mereka sendiri.


Taufan mendengus kasar. dia tidak tahu apakah akan mengikuti cara pikir rekannya itu, atau tidak? Yang dia khawatirkan adalah kemarahan seorang Adibrata.


" Tapi, Lan."


" Jika kamu ingin melaporkan soal keberadaan wanita itu pada Tuan Adibrata, aku rasa itu justru akan menambah masalah baru, Fan." Dahlan mencoba mengingatkan Taufan untuk hati-hati untuk bertindak.


" Astaga, kenapa kita harus ditempatkan di posisi sulit seperti ini?" keluh Taufan mengusap kasar wajahnya. " Lalu kita harus bagaimana, Lan? Tuan Adibrata sudah menilai kerja kita buruk karena menganggap kita kecolongan, tidak tahu ada wanita itu di dekat Mas Bagas. Padahal sebenarnya kita tahu, bahkan sampai identitas wanita itu pun kita tahu, Lan!" Taufan terlihat kesal, tapi harus menahan diri.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy reading❤️


__ADS_2