
Karena belum juga didapatkan kesepakatan dari Angel soal pulang ke rumah Adibrata, akhirnya Bagas memutuskan untuk menyewa apartemen, daripada terus menginap di hotel yang biayanya akan semakin membengkak.
Mereka saat ini menyewa sebuah apartemen berjarak sekitar satu kilo meter dari hotel tempat kerja Bagas.
Bagas tidak bisa memaksakan Mamanya untuk terburu-buru mengambil keputusan, karena dia takut Angel akan marah. Dia juga harus mengerti perasaan Mamanya itu.
" Mama mending tinggal di apartemen ini daripada harus kembali ke rumah Papa mertua kamu itu, Ra." Kepada Indhira, Angel menyampaikan keluhannya. Dia masih sulit melupakan kesalahan suaminya itu.
Indhira hanya diam, tidak berani berkomentar apa-apa, karena dia takut salah bicara. Sebenarnya dia sendiri pun ingin melihat kedua mertuanya itu saling akur dan bisa kembali bersama lagi. Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan Angel karena rasa kecewa atas pengkhianatan Adibrata bukanlah perkara yang mudah untuk dimaafkan. Permasalahan apa pun dapat dimaafkan, namun perselingkuhan adalah hal yang paling sulit untuk dimaafkan apalagi dilupakan. Hanya kembali ke pribadi orang itu sendiri, apakah bisa berbesar hati memaafkan pasangannya setelah bertobat atau memilih untuk berpisah. Banyak pasangan yang memilih berpisah akibat kasus perselingkuhan, namun tidak sedikit juga wanita yang memilih bertahan dengan banyak pertimbangan.
" Mama harap, Bagas tidak menular sikap Papanya itu," harap Angel.
Kalimat selanjutnya dari Angel membuat Indhira yang sejak tadi merenung menjadi terkesiap.
" Mas Bagas insya Allah tidak seperti itu, Ma." Kali ini Indhira berani membantah ketakutan Mama mertuanya itu.
" Mama harap juga seperti itu, Ra. Bagas anak baik, dari sikapnya saja sudah jauh berbeda dengan Papanya." Angel setuju dan sependapat dengan Indhira soal Bagas.
" Bagas sangat mencintai kamu, bahkan saat kuliah di Amerika dulu, Mama sempat merasa khawatir karena Bagas tidak juga dekat dengan kawan wanita di sana kecuali Evelyn. Ternyata penyebabnya adalah kamu, Indhira." Angel mengisahkan bagaimana sikap Bagas yang dingin terhadap lawan jenis selama masa kuliah dulu.
Indhira tertunduk saat Angel menyinggung soal nama Evelyn. Dia merasa malu sendiri karena merasa telah merebut Bagas dari Evelyn.
" Evelyn pasti cantik ya, Ma?" Indhira masih merasa penasaran dengan sosok Evelyn yang disebut sebagai mantan tunangan Bagas.
" Cantiklah, sudah pasti," sahut Angel tak ragu menjawab.
__ADS_1
" Mama punya fotonya Evelyn?" tanya Indhira benar-benar ingin tahu wajah Evelyn itu seperti apa.
" Ada kayaknya. Sebentar Mama lihat dulu di HP." Angel lalu membuka galeri dan mencari foto Evelyn. Dia banyak menyimpan gambar Evelyn di galeri karena dia menganggap jika Evelyn akan menjadi calon menantunya.
" Ini dia Evelyn." Angel lalu menunjukkan salah satu foto Evelyn saat bertunangan dengan Bagas.
Indhira menatap wajah cantik Evelyn dari ponsel Angel. Sebagai wanita, dia juga menganggumi kecantikan wanita itu, apalagi Bagas mengatakan jika Evelyn adalah wanita yang baik. Namun dia heran, kenapa Bagas tidak dapat membuka hati pada Evelyn yang cantik seperti bidadari itu.
" Masya Allah cantik banget, Ma." ucap Indhira mengagumi kecantikan mantan tunangan suaminya itu.
" Maka dari itu Mama heran, kenapa Bagas tidak tertarik dengan Evelyn. Pertunangan mereka juga tidak membuat Bagas bisa jatuh cinta pada Evelyn," sahut Angel mengungkapkan rasa heran yang pernah dia rasakan dulu.
" Iya, kenapa Mas Bagas tidak bersama Evelyn saja, ya, Ma?" tanya Indhira ikut merasa heran.
Indhira terkesiap saat Angel tiba-tiba saja mengusap wajahnya, dia pun dibuat salah tingkah dengan perlakuan Mama mertuanya.
Namun, dia merasa haru. Dia diterima dengan baik oleh Mama mertuanya itu. Sungguh di luar dugaannya, karena awalnya dia menganggap Mama Bagas tidak beda jauh sifatnya dengan Adibrata.
" Ma, terima kasih Mama sudah mau menerima saya. Saya sangat beruntung bisa mempunyai Mama mertua seperti Mama. Saya hanya wanita biasa tidak punya apa-apa, tidak punya keluarga." Indhira tidak tahan untuk tidak meneteskan air matanya, jika mengingat dirinya seperti hidup tanpa saudara di dunia ini. Bersyukur dia masih didekatkan oleh orang-orang yang baik hati kepadanya.
" Jangan bicara seperti itu, Indhira. Bagas memilihmu sebagai istrinya, pasti karena ada yang spesial dalam diri kamu, Ra. Bagas banyak berubah menjadi lebih baik, sangat bijaksana dan lebih sabar sejak dia menikah denganmu." Harus diakui oleh Angel, perubahan terbesar dalam sikap putranya adalah karena pengaruh dari Indhira. Sepertinya aura positif dari Indhira menular pada Bagas.
" Oh ya, apa kamu memang tidak punya keluarga, Ra? Saudara Papa sama Mama kamu selain yang menjahati kamu itu apa tidak ada lagi?" tanya Angel kemudian. Bagas sempat cerita kepada Angel soal keluarga Indhira yang memperlakukan Indhira sangat buruk.
" Mama saya anak tunggal, Ma. Kalau Papa saya punya satu saudara Tante Marta itu, Ma." jawab Indhira. " Mama tahu soal Tante Marta, apa Mas Bagas yang cerita?" Indhira bertanya bagaimana Mama mertuanya itu bisa tahu soal keluarganya yang selalu bersikap buruk kepadanya.
__ADS_1
" Iya, Bagas cerita sama Mama, Ra. Kurang ajar sekali Tante kamu dan suaminya itu." Angel pun sampai kesal ketika Bagas menceritakan soal keluarga Indhira.
Indhira diam, walaupun Tantenya itu memang bersikap buruk terhadapnya, namun dia tidak bisa membencinya karena bagaimanapun juga Tante Marta adalah satu-satunya keluarga dari pihak Papanya.
" Lalu, sekarang ini mereka tinggal di mana?" tanya Angel lagi, rasanya dia ingin sekali bertemu dengan Tante Indhira itu.
" Saya tidak tahu sekarang Tante Marta tinggal di mana, Ma. Tapi anak dari Tante Marta sekarang ini bekerja di hotel tempat ." Indhira menceritakan soal sepupunya yang juga berada di hotel itu.
" Anak Tante kamu kerja di hotel Bagas?" Angel terkejut saat mengetahui sepupu Indhira bekerja di hotel yang sama dengan Bagas berkerja. " Apa dia masih kerja sekarang? Kenapa Bagas tidak bilang kalau sepupu kamu kerja di sana?" tanya Angel heran karena Bagas tidak bercerita soal Dahlia.
" Dahlia masih bekerja, Ma. Memangnya kenapa, Ma?" tanya Indhira.
" Kenapa Bagas membiarkan dia bekerja di sana? Sudah jelas-jelas orang tuanya itu jahat sama kamu, Ra." Angel tidak suka jika orang yang sudah menyakiti Indhira bisa bekerja dengan bebas di tempat Bagas.
" Saya tidak masalah soal itu lagi, Ma. Lagipula itu hanya masa lalu, kalau kita menyimpan dendam, hidup kita tidak akan tenang dan tentram. Biarkan saja dia dengan perbuatan mereka dulu, Allah Maha Melihat apa yang dilakukan oleh umatnya. Kita hanya perlu menjalankan hidup sebaik-baiknya dengan terus berbuat kebaikan, insya Allah kebahagiaan akan terus menyertai kita suatu saat nanti," tutur Indhira.
Angel tertegun mendengar ucapan Indhira. Dia saja yang sudah berusia hampir setengah abad kadang masih memikirkan duniawi dan kandang menyimpan rasa kesal pada orang yang menyakiti hatinya, seperti apa yang dilakukan Adibrata kepadanya. Namun, Indhira yang jauh lebih muda darinya, dapat berpikiran dan bersikap sangat bijaksana. Secara tak langsung, Angel mengagumi sosok menantunya itu, dan dia bersyukur anaknya mendapatkan istri seperti Indhira.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1