SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Kejutan


__ADS_3

Bagas berada dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Yanto menuju arah kantor setelah melakukan pertemuan dengan relasi bisnisnya siang ini di sebuah restoran mewah yang banyak dikunjungi para eksekutif dari perusahaan-perusahaan.


Saat mobil yang dia tumpangi itu melintasi sebuah area pemakaman, pandangan mata Bagas terus memperhatikan area pemakaman itu sampai kepalanya ikut berputar meskipun mobil yang dikemudikan Pak Yanto sudah melewati area pemakaman itu.


" Pak, Pak, tolong putar balik ke pemakaman tadi, Pak!" Permintaan Bagas membuat Pak Yanto yang sedang fokus mengemudi terkesiap.


" Ke TPU tadi, Den?" tanya Pak Yanto kemudian.


" Iya, Pak! Mundur saja kalau bisa!" perintah Bagas kembali.


" Baik, Den." Pak Yanto menuruti apa yang diperintahkan oleh Bagas meskipun dia tidak tahu tujuan majikannya itu berhenti di depan area pemakaman umum tersebut.


Bagas segera turun dari mobil lalu melangkah masuk ke area tempat pemakaman itu. Dia ingat jika di TPU ini kedua orang tua Indhira dimakamkan, karena dulu sepulang sekolah dia sering mengantar Indhira berziarah orang tua Indhira.


Bagas mencoba mengingat di mana letak makam kedua orang tua Indhira yang dimakamkan berdampingan itu. Lebih dari setengah jam dirinya berputar-putar di area pemakaman tersebut. Namun, dia tidak juga menemukan keberadaan makam Papa dan Mama Indhira.


" Cari makam siapa, Mas?" Seorang pria menghampiri Bagas saat melihat Bagas seperti orang yang kebingungan mencari sesuatu.


" Hmmm, saya mencari makam kerabat saya, tapi saya lupa tempatnya di mana? Karena sudah delapan tahun tidak ke sini, Pak." Bagas menjekaskan kepada orang yang dia duga adalah penjaga di area TPU tersebut.


" Makamnya siapa, Mas? Biar nanti saya bantu carikan. Siapa tahu saya tahu letak makamnya." Pria tadi menawarkan bantuannya kepada Bagas.


" Makamnya suami istri, Pak. Makamnya bersebelahan," Bagas menyebutkan ciri-ciri yang kurang spesifik makam yang dia cari.


" Kalau makan suami istri yang bersebelahan banyak, Mas. Yang lebih jelas sebutkan namanya saja, Mas. Makamnya atas nama siapa? Saya sudah puluhan tahun jaga makam di sini. Insya Allah saya bisa bantu carikan," ucap pria yang ternyata benar penjaga makam itu.


" Kalau tidak salah namanya Pak Hasbi, tapi saya lupa nama lengkapnya. Kalau istrinya saya tidak ingat namanya. Kalau tidak salah posisinya sebelah kiri pintu gerbang dekat dengan rumah." Bagas kembali memberikan petunjuk soal makam yang dia cari tadi.


" Coba saya bantu carikan, Mas." Pria itu berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Bagas. Setelah lima menit mencari akhirnya petugas itu berhenti di hadapan sebuah pusara pasangan suami istri yang digabung menjadi satu makam dengan dua nisan.


" Ini bukan, Mas?" tanya penjaga makam kepada Bagas memberitahu makam pasangan suami istri bernama Hasbi.


Bagas mengerutkan keningnya. dia menatap pusara sepasang suami istri yang sudah memakai granit dengan dua batu nisan granit atas nama Hasbi Abdullah dan Anita Rahayu.


Bagas teringat jika nama yang tertera di dua batu nisan itu adalah nama orang tua Indhira. Dan yang membuatnya terkejut karena bentuk nisan makam orang tua Indhira yang kini berubah dari bentuk sebelumnya saat terakhir dia mengunjungi makam itu bersama Indhira beberapa tahun lalu. Pusara itu pun terlihat seperti baru direnovasi dan terawat dengan baik, menandakan jika ada orang yang sering berziarah mengunjungi makam itu. Apalagi dia melihat ada kelopak bunga mawar yang masih segar menaburi pusara itu.


Bagas yakin jika bukan Tante atau Om nya Indhira yang merawat makam itu. Karena dulu Indhira pernah bercerita, jika Tantenya jarang berziarah ke makam orang tua Indhira.


Bagas kini menyipitkan matanya, jika bukan Tante dan Om Indhira yang mengurus, tidak ada orang lain lagi yang akan mengurus makam itu selain Indhira sendiri. Dan itu artinya jika saat ini Indhira masih hidup dan masih ada di Jakarta. Seketika itu juga hatinya terasa berdebar-debar.


" Pak, apa Bapak tahu siapa yang sering mengunjungi makam ini?" tanya Bagas penuh antusias.


" Yang sering berziarah ke makam ini saya ingat, Mas. Orang nya cantik soalnya." jawab penjaga makam tertawa kecil.


" Wanita cantik? Dengan siapa jika dia berziarah ke makam ini?" selidik Bagas. Dia takut jika Indhira sudah menikah dan berkeluarga.


" Kalau datang kemari sendiri saja," sahut penjaga makam.


" Berapa lama jarak waktu dia jika datang kemari?" tanya Bagas mengorek informasi. Siapa tahu akhirnya dia dapat menemukan Indhira.


" Baru kemarin sore datang kemari, Mas. Biasanya ke sini sebulan sekali. Seringnya kalau Kamis sore tiap kliwonan pasti datang berziarah." cerita penjaga makam.


" Oh begitu ya, Pak." Jika dilihat dari kelopak bunga mawar yang masih segar, memang menandakan jika malam itu baru saja dikunjungi. " Berarti dia akan datang kemari lagi bulan depan ya, Pak?" tanyanya kemudian.


" Biasanya memang begitu, Mas."


" Oh ya, Bapak tahu tidak nama orang itu?" tanya Bagas untuk memastikan jika itu adalah Indhira.


" Jangankan namanya, nomer teleponnya juga saya punya, Mas." sahut penjaga makan itu terkekeh.


Bagas membulatkan bola matanya saat penjaga makam itu menyebut mempunyai nomer telepon orang yang sering berziarah ke makam orang tua Indhira.


" Bapak punya nomer teleponnya?" Bagas tidak menyangka akan semudah ini bisa menemukan Indhira.


" Iya, Mas. Soalnya waktu perbaikan makam ini saya komunikasi sama dia." Petugas makam menjelaskan bagaimana dia bisa mempunyai nomer telepon Indhira.


" Apa orang itu bernama Indhira, Pak?" Agak berdebar Bagas menanti jawaban dari penjaga makam.


" Iya, benar, Mas. Saya panggil dia Neng Indi," jawab penjaga makam.


Bagas seakan merasakan angin segar yang selama ini dia butuhkan menerpa jiwanya. Dia menyesal, kenapa dia tidak teringat akan makam kedua orang tua Indhira. Seandainya dia ingat jika Indhira sering datang ke makam kedua orang tuanya jika sedang ingin berkeluh kesah atas sikap Om dan Tantenya, mungkin dia akan lebih cepat menemukan Indhira.

__ADS_1


" Apa saya bisa minta nomer telepon Indhira, Pak? Saya sudah lama mencari dia, tapi tidak pernah ketemu." Bagas segera merogoh dompet di saku celananya. Dia mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan lalu dia sodorkan kepada petugas makam agar orang itu mau memberikan nomer Indhira kepadanya.


" Ini untuk Bapak, ambillah!"


Petugas makam itu terbelalak disodorkan uang lembaran uang bergambar Soekarno-Hatta itu. Jarang sekali dia diberi uang sebanyak itu secara cuma-cuma. Paling hanya satu lembar saja jika ada orang yang memberinya uang tip.


" Alhamdulilah, terima kasih banyak, Mas." Petugas makam itu menerima dengan senang hati uang yang diberikan Bagas untuknya. Dia pun lalu mengeluarkan ponselnya. " Sebentar saya cari nomer Neng Indi dulu, Mas." Penjaga makam mencari nomer ponsel milik Indhira yang dia simpan di ponselnya lalu dia menunjukkan nomer telepon itu kepada Bagas.


Bagas pun mengambil ponsel dari dalam saku blazernya. Dia mengetik nomer ponsel milik Indhira lalu menyimpannya.


" Apa pernah ada lelaki yang bersama dia datang kemari, Pak?" Bagas merasa penasaran walaupun dia yakin, jika dari cerita penjaga makam itu Indhira selalu datang sendiri, artinya Indhira belum bersuami. Karena jika Indhira sudah menikah, pasti suaminya akan menemani Indhira datang berziarah ke makam itu.


" Neng Indi biasanya sendirian kalau ke sini, Mas. Cuma waktu itu saja, waktu masih sekolah SMA, ada pacarnya yang sering menemaninya ke sini kalau pulang sekolah." Penjaga makam yang sudah bekerja selama puluhan tahun itu sepertinya sangat hapal pada sosok Indhira.


Bagas tersenyum saat penjaga makam tanpa sadar menyebut ciri-ciri dirinya sebagai pacar dari Indhira kala itu.


" Orang yang dulu mengantar Indhira ke sini saat masih sekolah itu saya, Pak." sahut Bagas kemudian seraya terkekeh.


" Hahh?? Masa, sih? Aduh, maaf, Mas. Saya tidak mengenali, soalnya Mas terlihat beda sekarang. Tambah gagah dan ganteng." Penjaga makam terkejut dan kaget saat mengetahui pria yang ada dihadapannya saat ini adalah orang yang sedang dia ceritakan.


" Tidak apa-apa, Pak. Itu sudah lama juga. Sudah delapan tahun lalu." Bagas memaklumi.


" Ya sudah, Pak. Terima kasih untuk informasinya. Bapak boleh kembali melanjutkan aktivitas Bapak. Saya ingin mengirim doa dulu." Bagas mrmpersilahkan penjaga makam untuk melanjutkan aktivitasnya.


" Baik, Mas. Permisi." Penjaga makam itu berpamitan kepada Bagas.


" Oh ya, Pak. Tolong jangan beritahu Indhira soal kedatangan saya kemari, ya! Saya ingin memberikan kejutan kepadanya." Bagas minta penjaga makam itu merahasiakan kedatangannya termasuk meminta nomer telepon Indhira.


" Baik, Mas." Setelah mengangguk setuju, penjaga makam itupun segera meninggalkan Bagas yang ingin mengirimkan doa untuk kedua orang tua Indhira.


Sepeninggal penjaga makam, Bagas kemudian duduk berjongkok di samping makam orang tua Indhira.


" Om, Tante, maaf saya baru berkunjung ke sini lagi. Saya minta maaf, Om. Saya merasa bersalah telah membuat Indhira selama ini menderita. Saya seorang penge cut. Tidak berani menentang apa yang orang tua perintahkan kepada saya. Saya benar-benar laki-laki tidak berguna." Bagas menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. Dadanya seketika itu bergejolak. Seandainya dia lebih serius mencari Indhira, dia pasti bisa menemukan Indhira sejak lama.


" Om, Tante, ijinkan saya menebus kesalahan saya kepada putri Om dan Tante. Saya berjanji, saya akan mengganti penderitaan yang pernah saya buat kepada Indhira menjadi kebahagiaan untuknya kelak." Di hadapan makam kedua Indhira, Bagas mengikrarkan janji jika dia akan berusaha membuat hidup Indhira lebih bahagia sebagai pengganti penderitaan yang dialami oleh Indhira selama ini.


***


Bagas lalu melakukan panggilan telepon ke nomer Indhira yang dia dapat dari penjaga makam. Terdengar nada sambung cukup lama, namun panggilannya tak terangkat sampai sambungan teleponnya kini terputus. Bagas mencoba berkali-kali, hingga akhirnya panggilan kelimanya itu tersambung.


" Halo, Assalamualaikum ..." Suara lembut yang terdengar di telinga Bagas seakan langsung menembus ke hatinya, bagaikan angin surga yang memberikan kesejukan di hatinya yang selama ini terasa hampa tak berpenghuni.


" Halo, maaf ini siapa?" Suara lembut Indhira terdengar penuh ketenangan membuat Bagas tanpa terasa mengulum senyuman.


" Halo?"


Bagas masih tidak bersuara. Dia tentu tidak ingin kehilangan Indhira kembali jika dia sampai menyebutkan siapa dirinya. Karena dia merasa selama ini Indhira memang tidak ingin keberadaannya diketahui olehnya.


" Halo? Ini siapa, sih?" Suara Indhira kali ini terdengar sangat kesal karena sejak tadi Bagas tidak menjawab Indhira namun sambungan telepon masih berlangsung.


" Maaf saya sedang bekerja! Klik ... tut ... tut ... tut ..." Panggilan telepon itu diputus secara sepihak oleh Indhira.


Bagas terkekeh menyadari jika Indhira saat ini sedang kesal dia kerjai. Bagas lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Dia membayangkan wajah Indhira jika sedang memberengut.


Bagaimana Indhira saat ini? Pasti akan semakin cantik. Dia sangat merindukan melihat wajah cantik wanita itu. Dia ingin secepatnya bertemu wanita yang selama ini sulit membuatnya berpindah hati pada wanita lain meskipun saat ini dia sudah bertunangan dengan Evelyn.


Teringat akan pertunangannya dengan Evelyn. Bagas melirik cincin tunangan yang melingkar di jarinya. Perlahan dia melepas cincin pertunangannya dengan Evelyn dan menyimpannya di laci meja kerjanya.


Bagas kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi Evelyn. Dia harus secepatnya mengakhiri pertunangannya dengan Evelyn sebelum rencana pernikahan mereka dilaksanakan.


" Halo, Bagas. Apa kamu merindukanku?" Suara Evelyn terdengar kaget. Karena Bagas memang jarang menghubunginya apalagi saat Bagas di kantornya.


" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Evelyn!" ucap Bagas.


" Kamu mau bicara apa, Bagas? Bicara saja sekarang," sahut Evelyn.


" Kita harus bertemu langsung, tidak bisa lewat telepon." Bagas merasa tidak etis mengakhiri suatu hubungan via telepon sehingga dia harus bertemu langsung dengan Evelyn.


" Sekarang?" tanya Evelyn.


" Nanti pulang kantor aku jemput ke apartemenmu!" Bagas berencana berbicara dengan Evelyn setelah pulang dari kantornya.

__ADS_1


" Apa kamu lupa kalau saat ini aku sedang tidak di Jakarta, Bagas?" Evelyn terkekeh.


" Ah, sorry aku lupa." Bagas menepuk keningnya karena dia lupa jika dua hari lalu Evelyn mengatakan jika dia sedang menemani iparnya berkunjung ke Seoul.


" Oh ya sudah, nanti saja kalau kamu kembali ke Jakarta kita bicaranya." Bagas memutuskan membicarakan hal itu setelah Evelyn tiba di jakarta. Karena hal yang ingin dibicarakan bukan hal yang menyenangkan.


Ada rasa bersalah di hati Bahas, dia juga tidak ingin membohongi hatinya sendiri jika dia masih belum bisa melupakan cintanya kepada Indhira. Mungkin ini akan menyakitkan bagi Evelyn, tapi mungkin ini lebih baik sebelum mereka berdua melangkah lebih jauh lagi.


***


Akhir pekan di La Grande Caffe. Seperti biasanya, setiap akhir pekan cafe yang selalu menyajikan live music itu ramai dikunjungi para tamu yang ingin bermalam mingguan bersama teman, kekasih atau keluarga.


Di sebuah sudut cafe nampak tiga orang pria berkumpul sambil berbincang. Mereka memesan makanan dan minuman yang tersedia di cafe itu sambil menikmati alunan musik dan tembang yang dinyanyikan oleh penyanyi cafe tersebut.


" Eh, Man. Coba deh perhatikan pelayan itu!" salah seorang pengunjung bernama Yandi menunjuk ke arah Indhira kepada temannya yang bernama Arman.


" Yang mana?" tanya Arman menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yandi.


" Itu yang sedang melayani meja dekat pintu samping cafe." Yandi memperjelas arah yang dia tunjuk.


" Kenapa memangnya, Yan?" tanya Stevan, teman lainnya ikut penasaran menoleh arah yang ditunjuk Yandi.


" Coba kalian perhatikan! Wajahnya masih kalian ingat tidak?" Arman mengetes ingatan kedua temannya itu.


" Siapa, sih? Kayak pernah lihat." Arman merasa famiar dengan wajah Indhira.


" Memang siapa sih, Yan?" tanya Stevan penasaran.


" Mirip Indhira, ya!?" Yandi mencoba meminta pendapat temannya untuk menegaskan jika tebakannya benar.


" Ah, iya, benar! Pantas kayak pernah lihat." Dengan cepat Arman menyahuti.


" Indhira? Indhira mantannya di Bagas? Yang pernah kena kasus video hot itu?" Mata Stevan terbelalak mengetahui siapa orang yang dimaksud Yandi itu.


" Iya, kau masih ingat saja soal video itu, Van!" Yandi terkekeh menyindir Stevan.


" Ingatlah! Aku sampai nonton berulang-ulang." Stevan ikut tertawa menanggapi sindiran Yandi.


" Aku juga sempat simpan videonya. Tapi gara-gara HP rusak malah hilang. Sayang banget, dulu sebelum tidur aku sering nonton video itu sambil solo karir. Hahaha ..." Kali ini Yandi tertawa lebar.


" Body dia mulus banget! Dulu sempat iri, kepingin juga jadi si Bagas mencicipi dia." Arman menimpali.


" Doi tambah cantik saja tuh lihat!" Yandi kembali menatap Indhira.


" Dulu si Bagas sempat cari-cari dia tapi tidak ketemu. Ternyata dia kerja di cafe ini," ujar Stevan.


" Aku dengar-dengar sih katanya jadi simpanan Om-Om. Kok, sekarang malah kerja di cafe? Apa Sugar Daddy nya itu bangkrut sampai mau kerja di sini, ya?" Yandi kembali menyebar gosip. Mereka bertiga sudah seperti netizen yang julid yang senang membully tanpa tahu fakta yang sebenarnya.


" Mbak, Mbak ...!" Yandi kemudian memanggil seorang waitress yang melintas di samping meja mereka.


" Ada apa, Mas?" tanya pelayan cafe yang langsung mendekat ke meja mereka.


" Mbak, saya tambah pesan roti bakar 2 porsi lagi, ya! Sekalian minta air mineral dua." Yandi menambah pesanan pada pelayan itu.


" Baik, Mas. Saya catat dulu, ya!?" Pelayan itu mengambil nota custom dan pulpen dari kantong apronnya.


" Mbak, kalau temannya yang itu namanya Indhira bukan?" tanya Yandi kemudian menunjuk ke arah Indhira.


Waitress itu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Yandi. " Oh iya, benar, Mas."sahutnya kemudian.


" Mbak, kalau bisa yang antar makanannya Indhira saja, bisa, kan? Kami ini teman SMA dia. Kami mau memberi kejutan, tapi Mbaknya jangan kasih tahu dia kalau kami di sini, ya!?" Yandi sepertinya merencanakan sesuatu yang akan menjadi kejutan untuk Indhira tentunya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2