
Bagas menggenggam tangan Indhira, dia membawa Indhira ke dalam sebuah kamar yang tidak seluas kamar yang saat ini ditempati oleh Mamanya. Namun, tetap kamar yang dia booking saat ini pun mempunyai fasilitas lengkap dengan tarif yang bernilai jutaan rupiah per malam.
" Mas, kita sewa kamar lagi?" Indhira yakin jika suaminya itu pasti membuang uang untuk menyewa kamar hotel itu.
" Lalu kita mau make love di depan Mama gitu?" Bagas meledek Indhira.
" Daripada sewa kamar, kenapa kita tidak pulang saja ke kontrakan saja kalau cuma mau gituan, doang, Mas? Sayang buang uang jutaan," keluh Indhira memprotes suaminya yang dia anggap melakukan pemborosan.
" Tidak apa-apalah, Yank. Nanti juga rejekinya kembali lagi." Bagas menyeringai membalas protes yang dilayangkan oleh sang istri. Bagas memeluk Indhira dari belakang setelah dia mengunci pintu kamar terlebih dahulu. Tangannya lalu mengusap perut Indhira.
" Dek, bilang sama Mama, kalau mau dienakin sama Papa itu jangan suka rewel," bisik Bagas menyeringai di telinga Indhira seolah dia sedang mengadu kepada calon anak mereka.
Indhira langsung mendelik mendengar sindiran sang suami kepadanya.
" Nah, kan, sekarang malah melototin Papa, Dek!" Kembali Bagas menggoda Indhira lalu memberikan gi gitan lemah di ceruk leher Indhira.
" Mas ..." Indhira menggeliat karena merasa geli disentuh suaminya.
" Mas, nanti Mama cari kita tidak kalau kita di sini?" Indhira khawatir Mama mertuanya akan mencari mereka berdua.
" Nanti aku kirim pesan sama Mama, bilang tidak usah ganggu anak sama menantunya yang mau enak-enak." Bagas menyerigai kembali.
" Ya ampun, Mas. Tidak usah pakai bilang kayak gitu, deh!" protes Indhira kembali. Dia pasti akan malu ketahuan Angel kalau sengaja menyewa kamar hanya karena ingin melakukan hubungan suami istri dengan Bagas.
" Terus aku mesti bohong gitu?" sahut Bagas. Sementara tangannya sudah mulai melucuti kancing pakaian yang dikenakan oleh Indhira, lalu meremas bagian dada Indhira. Bibir Bagas sendiri mulai mengabsen leher jenjang Indhira, setelah itu dia membawa Indhira berbaring di atas sofa kamar itu.
" Kenapa di sofa?" tanya Indhira.
" Kenapa memangnya? Bercinta itu di mana saja bisa, kok. Di sofa, di dapur, di bathroom, di meja kantor juga bisa." Bagas menyebut tempat-tempat yang bisa dijadikan tempat alternatif untuk bercinta selain di ranjang.
" Mas tahu semua? Pernah coba?" Indhira iseng bertanya.
" Gimana mau coba? Aku melakukan seperti ini cuma sama kamu saja, Yank." tepis Bagas.
Indira menatap netra sang suami mencari kebenaran dari ucapan suaminya itu. Walaupun Bagas pernah menegaskan jika dia tidak pernah melakukan hubungan in tim dengan wanita lain, tapi rasa khawatir itu tetap ada.
__ADS_1
" Punyaku ini tidak pernah tersesat ke lubang yang lain, kok! Suer!"
Kalimat Bagas kali ini justru membuat Indhira terkekeh. Dia lalu mengusap rambut sang suami.
" Mas, jangan kayak Papa, ya! Kalau Mas jauh dari aku, jangan pernah mencari wanita lain hanya untuk sekedar iseng atau apa pun itu," pinta Indhira.
" Mas, harus lihat Mama. Mama benar-benar kecewa. Mama merasa dikhianati, padahal Mama sudah melahirkan dua anak yang baik seperti Mas dan Kartika." Indhira menasehati Bagas, mengingatkan perjuangan sang Mama mengandung dan melahirkan Bagas dan juga Kartika supaya Bagas tidak berselingkuh di belakangnya.
" Iya, Yank. Kamu harus percaya sama aku. Kalau aku niat main perempuan, mungkin sudah lama aku lakukan saat aku lama di Amerika. Tapi, hatiku ini sudah terikat oleh hatimu." Bagas pun berjanji tidak akan menjejaki Papanya.
" Jangan hatinya saja yang diikat, tapi itunya juga harus direm!" Dengan menahan senyuman Indhira menyinggung soal senjata milik kaum lelaki yang kadang tidak dapat dikontrol ketika melihat godaan wanita cantik dan seksi.
" Hahaha ... oke, oke. Nanti aku kasih jampe-jampe dulu, biar punyaku ini tidak bisa berdiri pada lubang yang lain." Bagas berseloroh membuat mereka tertawa bersama.
Indhira kini melingkarkan tangannya di tengkuk Bagas.
" Aku beruntung sekali punya suami seperti Mas," ungkap Indhira jujur.
" Pastilah, punya suami ganteng, setia, kaya raya, apa yang kurang coba?" Bagas menyeringai. " Aku juga beruntung punya istri seperti kamu, Yank. Kamu banyak membawa perubahan positif terhadapku," ujar Bagas jujur.
" Karena aku tahu, hidupku akan semakin lebih baik saat kamu mendampingiku," jawab Bagas.
" Aku tidak menyangka Mas benar-benar mencitai aku." Indhira menahan senyuman.
" Kenapa kamu meragukan aku?" tanya Bagas.
" Karena Mas banyak penggemarnya dulu. Tidak menyangka kalau Mas malah minta aku jadi pacar Mas," sahut Indhira.
" Kamu beda dari wanita lainnya, Yank. Itu yang membuat aku tidak bisa melupakan kamu." Bagas menyebutkan alasannya memilih Indhira.
" Terima kasih Mas sudah mencintai aku," ucap Indhira, rasa bahagia saat ini begitu menguat di hatinya. Indhira kini menarik tengkuk sang suami, hingga membuat bibir mereka saling bersentuhan dan saling melu mat. Kedua insan yang sedang kasmaran itu menikmati sentuhan bibir mereka hingga suara decapan mulut sangat dominan terdengar di kamar itu, sebagai pemanasan sebelum mereka berdua melanjutkan ke aktivitas lainnya, sampai mereka berdua mencapai kepuasan atas penyatuan mereka.
***
Adibrata memasuki Richard Fams Hotel pusat di mana Gavin saat ini berkantor. Dia sengaja ingin menemui Gavin untuk membicarakan soal status anaknya yang saat ini bekerja di salah satu hotel milik pengusaha hotel terkenal itu.
__ADS_1
" Selamat siang, Tuan Gavin." sapa Adibrata saat dipersilakan masuk oleh sekretaris Gavin.
" Selamat siang, Tuan Adibrata. Mari silahkan duduk ..." Gavin bangkit dari kursi kerjanya lalu mendekat ke arah Adibrata. Setelah dia bersalaman, dia mempersilahkan Adibrata untuk duduk di sofa.
" Terima kasih, Tuan Gavin. Bagaimana kabar Anda?" tanya Adibrata berbasa-basi.
" Alhamdulillah, saya masih dikasih sehat sehingga masih bisa beraktivitas di usia yang sudah tidak muda lagi ini, Tuan Adibrata." jawab Gavin.
" Bagaimana dengan Anda sendiri?" Gavin balik bertanya.
" Baik-baik juga, Tuan Gavin." Adibrata membalas, walaupun sejujurnya keadaan dia saat ini tidak baik-baik saja.
" Di usia seperti kita ini, memang kesehatan tetaplah yang terpenting," Gavin menanggapi.
" Oh ya, ada apa Tuan Adibrata tiba-tiba berkunjung ke tempat saya ini?" tanya Gavin kemudian.
" Saya ingin menanyakan bagaimana kinerja anak saya selama bekerja di tempat Anda, Tuan Gavin? Apakah mengecewakan atau ...."
" Sejauh ini baik-baik saja, Tuan Adibrata. Bagas pernah memimpin di sebuah perusahaan besar milik Anda, saya yakin dia pun bisa mengelola hotel saya di sana dengan baik, Tuan." jawab Gavin.
" Syukurlah kalau dia bekerja dengan baik. Saya takut dia tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik di sana," sahut Adibrata.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang putra Anda itu, Tuan Adibrata. Dia seorang pekerja keras, saya yakin dia akan menjadi orang yang hebat suatu saat nanti," puji Gavin merasa yakin jika Bagas akan menjadi pengusaha yang sukses.
Adibrata terdiam, ketika orang lain merasa bangga terhadap sosok Bagas, dia sendiri yang notabene adalah Papa kandung Bagas menyia-nyiakan Bagas. Seketika itu juga dirinya merasa sangat bo doh atau lebih tepatnya orang tua yang tidak bersyukur dengan kelebihan yang dimiliki oleh anaknya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1