SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Kangen La Grande


__ADS_3

Indhira mengusap cambang halus yang tumbuh di sekitar rahang suaminya itu. Saat ini, seperti sudah menjadi hobinya mengelus bulu halus di wajah Bagas dengan jari-jari lentiknya itu.


Sementara mata Bagas terpejam, sentuhan yang dilakukan oleh Indhira seolah menjadi pengantar tidur bagi Bagas.


"Mas ..." Indhira berharap suaminya masih terjaga, karena dia tidak juga dapat terlelap.


"Hmmm ..." Bagas membuka matanya menoleh ke arah istrinya. "Kenapa, Yank?" tanya kemudian.


"Kenapa Mas tidak memilih Evelyn?" Indhira masih merasa heran karena suaminya tidak dapat mencintai Evelyn yang menurutnya sosok wanita sempurna setelah bertemu langsung dengan Evelyn.


"Kenapa masih menanyakan itu, sih, Yank? Hati aku itu sudah kamu kunci waktu kita berpisah, jadi tidak ada yang bisa membukanya lagi selain kamu." Bagas menggengam tangan Indhira lalu mengecupnya.


"Sudah, sekarang kamu tidur, sudah jam sepuluh." Bagas melirik ke jam di dinding kamar. Dia lalu mengeratkan pelukan pada tubuh Indhira. "Aku sudah ngantuk banget," sambungnya.


Beberapa menit kemudian ...


"Mas ..." Indhira masih belum juga tertidur.


"Ada apa lagi, Yank?" Bagas menolehkan wajahnya dengan mata setengah terpejam.


"Kita ke La Grande, yuk, Mas!" Tiba-tiba saja Indhira kangen suasana tempat kerjanya dulu.


Bagas membuka kelopak mata lebar-lebar saat mendengar permintaan istrinya.


"Mau apa ke La Grande, Yank?" tanya Bagas.


"Kepengen ke sana saja, Mas." Indhira sendiri tidak mengerti, kenapa tiba-tiba rindu suasana La Grande.


"Yank, ini sudah malam, lagipula besok hari Senin, aku harus bekerja." Bagas memberi pengertian kepada istrinya itu.


"Aku kepengen makan steak di sana, Mas. Enak sekali rasanya." Indhira mengusap perutnya.


"Lapar lagi? Aku suruh Bibi buatkan makanan untuk kamu, ya!?" Bagas bangkit dari tidurnya dan terduduk.


"Jangan, Mas. Aku tidak mau makanan Bibi. Aku kepengen steak di La Grande." Indhira ikut bangkit dari tidur. Dia menolak makanan di rumah dan bersikukuh ingin makan steak buatan chef di La Grande Caffe milik Raffasya.


"Ya sudah, aku pesan pake ojol saja, ya?" Bagas meraih ponselnya di atas nakas.


"Aku mau makan di sana, Mas. Aku juga mau dengar Mas nyanyi kayak dulu. Nanti Mas nyanyi di sana untuk aku." Ada-ada saja keinginan Indhira saat ini.


"Ya sudah, besok saja kita ke sana. Besok kita makan malam di sana." Bagas berjanji akan membawa istrinya makan malam di La Grande Caffe besok malam, karena saat ini sudah terlalu malam.

__ADS_1


"Orang laparnya sekarang, diajaknya besok." Indhira langsung memberengutkan wajahnya.


"Ini sudah malam, Yank." Bagas mencoba memberi pengertian agar Indhira tidak terus merajuk.


"Tapi aku lapar ingin makan di sana, Mas." rengek Indhira.


Bagas memperhatikam wajah istrinya yang terus saja memberengut kesal. Dia menghela nafas panjang, agak susah jika menghadapi wanita hamil.


"Ya sudah, kalau kamu ingin ke sana. Kamu ganti baju dulu sana!" Bagas turun dari tempat tidurnya dan menyuruh Indhira berganti pakaian.


"Kita ke sana sekarang, Mas?" Indhira kegirangan hampir meloncat ke lantai dari tempat tidur.


"Hati-hati, dong, Yank!" Bagas menegur Indhira yang teledor dan bisa membahayakan bayi dalam kandungannya.


"Maaf, Mas." sesal Indhira. "Aku mau ambil Hoodie dulu." Indhira mengambil hoodie di dalam lemari lalu memakainya.


"Mas tidak ganti baju dulu?" tanya Indhira melihat suaminya masih mengenakan celana boxer dan kaos tanpa lengan.


"Nanti, Yank. Aku mau ke kamar Papa dulu, mau minta ijin pergi ke La Grande," sahut Gagah berjalan ke arah pintu kamar.


"Harus ijin Papa?" tanya Indhira dengan mata terbelalak.


"Mas, jangan!!" Indhira dengan cepat melarang Bagas yang hendak meminta ijin.m pada Adibrata.


"Kenapa, Yank?" tanya Bagas menoleh ke arah Indhira. Dia berpura-pura tidak mengerti, padahal itu adalah triknya.


"Tidak usah, Mas. Tidak jadi ke La Grande kalau harus minta ijin Papa." Rupanya Indhira masih takut terhadap sosok Papa mertuanya itu, sehingga dia tidak berani harus berurusan dengan Adibrata kembali. Dia takut kalau Adibrata menegurnya karena ingin keluar malam-malam.


"Katanya kamu mau makan steak di sana?" Bagas sengaja mengatakan ingin meminta ijin sang Papa, karena dia tahu istrinya itu masih takut terhadap Adibrata, sehingga dia memakai alasan itu sebagai penolakan secara halus terhadap permintaan sang istri. Sebab jika dia yang menolak, Indhira akan terus memaksa ingin pergi ke La Grande Caffe.


"Tidak jadi." Indhira memberengut dan duduk di tepi tempat tidur.


Bagas menutup kembali pintu kamar kemudian berjalan ke arah istrinya lalu duduk di samping Indhira.


"Jangan ngambek gitu, dong, Yank! Jangan cemberut kalau menghadapi suami. Aku sudah menurut sama istri, lho." Bagas merangkulkan tangannya di pundak Indhira.


"Kamu minta ke La Grande, ayo kita ke sana. Nanti kita diantar Pak Zul saja, soalnya aku mengantuk, takut tidak konsen bawa mobilnya." Bagas masih berpura-pura ingin mengajak Indhira pergi, padahal dalam hatinya dia senang Indhira akhirnya luluh karena takut dia laporkan pada Adibrata.


"Tidak mau kalau harus laporan sama Papa. Papa pasti tidak memberi ijin kita keluar malam, Mas." cemas Indhira.


"Kita belum coba, Yank. Siapa tahu Papa mengerti jika calon cucunya ini kepengen merasakan steak buatan La Grande." Bagas mengusap perut Indhira.

__ADS_1


"Tidak usah, Mas. Aku tidak mau!" Indhira tetap menolak ijin ke Adibrata. Dia tidak ingin mengambil resiko dimarahi oleh Papa mertuanya.


"Kalau begitu kita pesan via online saja, ya?" tanya Bagas.


Indhira menganggukkan kepala dan melepas kembali Hoodie yang sudah dia kenakan, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara Bagas langsung mengambil ponselnya dan melakukan pesanan steak permintaan Indhira ke La Grande Caffe.


Empat puluh lima menit kemudian steak pesanan Indhira sudah sampai. Bi Iyem yang menerima dari security menaruh steak itu di meja makan. Dia lalu menghampiri kamar Bagas, karena sebelumnya Bagas berpesan kepadanya jika Bagas sedang memesan makanan via online untuk Indhira.


Tok tok tok


"Den, Den Bagas, makanannya sudah datang," ujar Bi Iyem dari luar pintu Bagas.


Tok tok tok


"Non, Non Indhira, steaknya sudah datang. Apa mau Bibi bawa ke kamar?" Tak juga mendapatkan jawaban, Bu Iyem kembali mengetuk pintu.


Lima menit mengetuk pintu, ternyata tidak ada yang keluar dari kamar Bagas. Sepertinya sepasang suami istri itu sudah terlelap dalam tidurnya.


Tok tok tok


"Den ..." Bi Iyem sekali lagi mengetuk pintu, jika tidak juga mendapat jawaban, dia akan menghentikan membangunkan Bagas dan Indhira.


"Ada apa ketuk-ketuk pintu kamar Bagas, Bi?" Tiba-tiba pintu kamar Adibrata terbuka dan sosok Papa dari Bagas keluar dari dalam kamarnya.


"Oh, maaf kalau mengganggu, Tuan. Saya ingin membangunkan Non Indhira, karena Den Bagas tadi memesan makanan untuk Non Indhira. Tapi, sepertinya Den Bagas sama Non Indhira sudah tertidur, Tuan." Bi Iyem meminta maaf karena merasa telah mengganggu tidur Adibrata.


"Iya, mungkin mereka sudah tidur. Kamu kembali saja ke kamarmu!" perintah Adibrata.


"Baik, Tuan." Bi Iyem kembali ke bawah.


"Pesan makanan apa si Bagas?" Penasaran dengan makanan yang dipesan oleh anaknya, Adibrata pun akhirnya turun untuk menuju ruangan makan.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2