
" Aku sudah bilang padamu, Lan. Jangan bertindak di luar keinginan Tuan Adibrata! Kau lihat sendiri hasilnya, kan? Tuan Adibrata murka dan akhirnya kita kena pecat! Sikapmu sama sekali tidak menguntungkan bagi kita!" Setelah keluar dari restoran tadi dan menerima pemecatan Dari Adibrata, tak henti-henti Taufan menggerutu dan menyesalkan sikap Dahlan yang memutuskan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Bagas untuk tidak mengusik kehidupan Bagas.. Padahal mereka berdua tahu jika murka Adibrata adalah hal paling menyeramkan di dunia ini.
" Sorry, Fan. Kalau langkah yang aku ambil membuat kita bermasalah." Dahlan menyampaikan permintaan maafnya kepada Taufan, karena langkah yang dia ambil membuat rekannya itu terkena imbasnya.
Dahlan sendiri sudah siap dengan kemungkinan terburuk yang dia terima dari Adibrata akibat kesalahannya menentang keputusan Adibrata. Secara pribadi, dia sendiri kurang suka dengan sikap dan sifat seorang Adibrata Mahesa yang terkenal arogan.
Sesungguhnya selama dia bekerja pada Adibrata, Dahlan merasakan bertentangan dengan hati nuraninya. Dia pun sebenarnya miris melihat perlakuan Adibrata kepada Bagas sejak remaja, meskipun dia tidak membenarkan tindakan Bagas pada Indhira kala itu yang akhirnya membuat gerak dibatasi oleh Adibrata
" Kau pikir sesalmu itu akan membuat kita bisa mendapatkan pekerjaan kita kembali!?" Taufan masih belum bisa menerima pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Adibrata.
" Seharusnya aku tidak mengikuti ide gi lamu itu, Lan!" Taufan kemudian melangkah dengan langkah lebar dan hati yang kesal meninggalkan Dahlan.
Sementara itu di butik milik Azkia ...
" Aura pengantin baru itu beda, ya, Ra? Kelihatan makin bersinar wajahnya setelah menikah," ucap Wanda memperhatikan wajah Indhira, saat Indhira sedang membantu memasang price tag di beberapa dress baru yang akan dipajang di display. Mungkin karena rasa bahagia yang dirasakan saat inilah yang membuat pancaran bersinar wajah asisten Azkia itu.
" Ah, Mbak Wanda bisa saja ..." Indhira tersipu malu mendengar pujian Wanda yang dianggap terlalu berlebihan. Dirinya bukanlah seorang gadis dan sudah kehilangan kesuciannya sebelum menikah, bagaimana mungkin bisa dikatakan auranya berbeda setelah menikah.
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Indhira tiba-tiba berbunyi, layar ponselnya menunjukkan nama Bagas yang menghubunginya saat ini. Namun, karena saat ini dia sedang mengerjakan tugas, rasanya tidak enak jika dia mengangkat panggilan masuk yang merupakan urusan pribadi itu.
Ddrrtt ddrrtt
" Diangkat saja, Ra! Tidak apa-apa, kok! Tapi jangan lama-lama, bilang saja kamu masih repot, nanti dihubungi balik saja. Daripada kamu acuhkan, nanti suami kamu itu akan telepon terus." Melihat Indhira terkesan ragu untuk mengangkat panggilan masuk dari Bagas, Wanda menyarankan Indhira mengangkat panggilan telepon tersebut terlebih dahulu.
" I-iya, Mbak." Indhira akhirnya mengikuti saran dari Wanda untuk mengangkat panggilan masuk dari Bagas.
__ADS_1
" Assalamualaikum, Mas." Indhira mengucap salam ketika mengangkat panggilan masuk suaminya itu.
" Waalaikumsalam, kamu sibuk, ya, Yank?"
Entah mengapa tiba-tiba Bagas menyebutnya dengan panggilan Yank. Awalnya Indhira pikir itu hanya keisengan Bagas saja menyebutnya dengan panggilan Yank, ketika berbincang dengan Pak Dudung tadi pagi saat Bagas mengantarnya ke rumah Raffasya. Namun, sepertinya Bagas memang sudah merubah panggilannya untuk Indhira, seperti dia menyebut Mas pada Bagas.
" Hmmm, iya, Mas. Aku sedang membantu Mbak Wanda memasang price tag pakaian yang baru saja tiba." Indhira menjelaskan kenapa dia tidak segera mengankat panggilan telepon dari Bagas.
" Sebentar lagi masuk waktu istirahat. Apa aku bisa jemput kamu untuk makan siang, Ra?" Mendengar Indhira mengatakan jika sedang sibuk, membuat Bagas ragu untuk menjemput istrinya itu untuk makan siang.
" Kalau Mas berangkat ke sininya sekarang sih, kayaknya kerjaannya sudah kelar, Mas." Indhira menjelaskan jika dia akan selesai dengan aktivitasnya jika Bagas sudah sampai di sana.
* Oke kalau begitu aku berangkat ke sana sekarang saja. Aku tutup dulu teleponnya, ya! Assalamualaikum ..." Bagas berniat mengakhiri percakapannya dengan Indhira karena ingin secepatnya pergi ke Alexa Butique untuk menjemput sang istri.
" Waalaikumsalam ..." Indhira segera menutup panggilan telepon tadi setelah Bagas mengakhiri percakapan mereka dan meletakkan ponselnya kembali di atas meja.
" Mau dijemput, ya?" Sempat mencuri dengar ucapan Indhira pada Bagas, Wanda menebak jika Bagas akan datang ke butik itu.
" Bagas itu kelihatan sayang sekali sama kamu, ya, Ra? Aku dengar dari Bu Kia, katanya Bagas itu cinta pertama kamu, lalu kalian putus, tapi akhirnya betemu kembali dan melamar kamu.. Itulah wujud nyata, jika memang jodoh, meskipun berpisah bertahun-tahun akhirnya bertemu juga untuk bersama," tutur Wanda.
Indhira terkejut saat Wanda bercerita, diberi tahu Azkia jika Bagas adalah cinta pertamanya. Wajahnya seketika menegang. Meskipun dia yakin jika Azkia tidak akan mungkin bercerita tentang masa lalunya, namun dia tetap merasa khawatir dan tak nyaman jika ada orang yang berbicara soal masa lalunya.
" Memang dulu kenapa kalian berpisah Ra?" lanjut Wanda melanjutkan pertanyaannya, tanpa menyadari jika Indhira merasa tidak nyaman dengan pertanyaan seputar masa lalunya yang memalukan menurutnya.
":Hmmm, mungkin karena kami sama- sama masih muda, Mbak Belu dapat berpikir tenang.." Indhira memberi alasan yang pas untuk membuat Wanda mengerti.
" Oh, ya juga ya!?" sahut Wanda menganggukkan kepala tanda mengerti penjelasan Indhira.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu kita selesaikan pekerjaannya." Wanda meminta Indhira melanjutkan pekerjaan mereka agar saat Bagas tiba, pekerjaan yang sedang mereka lakukan sudah beres.
" Iya, Mbak." Indhira menyahuti.
***
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Indhira, Bagas segera keluar dari ruang kerjanya karena dia ingin segera menyusul Indhira di butik milik Azkia untuk pergi makan siang bersama.
" Bagas, kamu mau ke mana?" Secara bersamaan Elma berjalan hendak masuk ke ruang Bagas.
" Kenapa?" tanya Bagas.
" Pihak dari perusahaan Alibama meminta bertemu siang ini. Aku sudah menyetujui kita bertemu siang ini. Kita akan menemui perwakilan mereka sekarang." Elma memberitahukan jika ada jadwal pertemuan yang dimajukan, padahal jadwal bertemu denga nperwakilan dari perusahaan Alibama adalah esok hari.
" Siang ini? Kenapa mendadak sekali?" tanya Bagas dengan kening berkerut.
" Karena mereka ingin mempercepat jadwal kepulangan mereka ke luar negeri. Jadi mereka minta agar jadwal pertemuannya dimajukan hari ini. Aku pikir karena jadwal kamu kosong hari ini jadi aku menyetujui permintaan mereka." Elma menuturkan apa yang membuat dia memutuskan hal tersebut.
Bagas mendengus kasar mendengar tindakan yang dibuat oleh Elma tanpa seijinnya. Andaipun Elma mengatakannya terlebih dahulu soal ini kepadanya dia juga pasti menerima permintaan pihak Alibama, setidaknya dia tidak akan menghubungi Indhira, karena dia sudah membuat rencana menjemput istrinya. Tapi setidaknya Elma menghargai dia sebagai pemimpin di hotel itu meskipun dia adalah personil baru dan meskipun Elma adalah orang yang dulu pernah dekat dengannya.
.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy reading ..❤️