
Satu jam sudah, Bagas berbincang bersama Odie. Odie benar-benar membutuhkan jawaban atas rasa penasarannya. Tentang pernikahan Bagas dengan Indhira juga tentang pekerjaan Bagas saat ini. Sementara Indhira lebih banyak menjadi pendengar, dan hanya akan menjawab ketika ditanya saja.
Indhira mengedar pandangan hingga kini tatapan matanya mengarah ke pintu ruangan Fero yang terbuka dan memperlihatkan kemunculan pria yang menjabat sebagai manager di cafe itu.
Terlihat Fero berjalan ke arah tangga dan pasti akan berjalan melintasi meja di mana Indhira dan suami berada.
" Malam, Pak." Indhira bangkit dan menyapa Fero yang berjalan dengan pandangan mengarah ponselnya.
Fero terlihat menolehkan pandangan saat mendengar seseorang menyapanya.
" Indhira? Kamu ada di sini?" tanya Fero terkesiap dengan kemunculan Indhira. Fero pun menoleh orang-orang yang berada satu meja bersama Indhira.
" Iya, Pak. Saya bersama suami saya." Indhira memperkenalkan Bagas pada Fero..
" Oh iya, Raffa bilang kamu sudah menikah. Selamat, ya, Indhira." Fero memberikan ucapan selamat kepada Indhira dan juga Bagas. Fero memperhatikan Bagas. Dia mendengar cerita dari Raffasya jika suami dari Indhira adalah seorang anak konglomerat. Dia juga sedikit mendegar soal bagaimana pernikahan Bagas dan Indhira yang ditentang oleh orang tua Bagas hingga Bagas rela terusir dari rumahnya.
" Terima kasih, Pak Fero." jawab Indhira.
Bagas pun ikut bangkit dan berjabat tangan dengan Fero, apalagi saat Fero menyebut nama Raffasya.
" Saya Bagas, Pak. Saya suami Indhira." Bagas memperkenalkan dirinya pada Fero.
" Fero." Fero pun menyebutkan namanya. " Saya sudah mendengar sedikit dari Raffa," jawab Fero. " Kalian sedang menikmati malam mingguan, ya?" tanya Fero berbasa-basi.
" Iya, Pak." sahut Indhira dan Bagas bersamaan.
" Wah, pengantin baru jadi kompak jawabnya." Fero terkekeh mendengar jawaban serempak Bagas dan Indhira. " Ya sudah, selamat menikmati malam mingguan. Saya mau ngecek ke pantry dulu." Fero kemudian berpamitan dan berjalan menuruni anak tangga.
" Kamu kok kenal banyak orang di sini, Ra?" tanya Odie heran, karena banyak yang mengenali istri dari teman SMA nya dulu.
" Aku dulu pernah bekerja di sini, Di." Indhira menjawab rasa penasaran Odie.
" Kamu pernah kerja di cafe?" Odie terkesiap, mengetahui Indhira pernah bekerja di cafe itu.
__ADS_1
" Jangan mikir yang aneh-aneh kau, Di!" sergah Bagas, menegur Odie untuk tidak berpikir negatif tentang pekerjaan istrinya dulu.
" Sorry, Gas." Odie menyeringai.
" Ya sudah, aku rasa kita sudah cukup berbincang. Kita pulang sekarang, Yank?" Bagas bertanya pada Indhira.
" Terserah, Mas." sahut Indhira.
" Okelah, Di. Kita lanjut lain waktu." Bagas bangkit dari kursi berniat mengakhiri pertemuannya dengan Odie.
" Oke, deh, Gas. Kapan-kapan kita ketemuan lagi." Odie pun ikut bangkit untuk meninggalkan meja yang ditempati mereka tadi.
" Kau lewat mana, Di? Boleh nebeng sampai rumah kami tidak?" Bagas melingkarkan tangan merangkul Indhira. Seperti yang dikatakan Bagas sebelumnya pada Indhira, jika dia ingin ikut menebeng pulang menggunakan mobil Odie.
" Memang kamu tidak bawa mobil, Gas?" Odie merespon permintaan Bagas.
" Si alan, dari tadi aku cerita kau masih tidak paham juga, Di? Aku ini sudah tidak mempunyai fasilitas sebagai anak konglomerat." Padahal Bagas sudah mencetitakan kondisinya pada Odie, namun temannya itu seakan tidak paham dengan ceritanya tadi.
" Tapi kau bilang sekarang ini kau bekerja sebagai GM di Richard Fams Hotel. Itu 'kan hotel bintang lima, Gas." Menurut Odie, tidak mungkin dengan jabatan sebagai seorang General Manager, Bagas tidak mempunyai mobil.
" Memangnya kau tidak diberi fasilitas invetaris mobil untuk beraktivitas?" Odie masih tidak percaya jika Bagas tidak diberi fasilitas dengan jabatannya itu.
" Rumah kontrakanku dengan hotel itu dekat banget, Di. Untuk apa pakai mobil? Mending pakai motor. Lagipula rumah kontrakanku masuk gang sempit, mau parkir mobil di mana?" Bagas tetap merendah.
" Sengsara banget hidupmu, Gas!" sindir Odie menertawakan Bagas yang dia anggap kehilangan mahkotanya sebagai putra mahkota dinasti Adibrata Mahesa.
" Si alan, kau!" Bagas justru ikut tertawa mendengar cibiran Odie. Dan mereka pun kemudian berjalan menuruni anak tangga, untuk melakukan pembayaran terlebih dahulu sebelum meninggalkan cafe.
" Mas, aku mau ke toilet dulu." Saat suaminya melakukan pembayaran, Indhira pamit ke toilet.
" Ya sudah." Bagas menyahuti.
Indhira lalu berjalan ke arah toilet karena ingin mencuci tangannya.
__ADS_1
" Hei, Ra. Kamu masih di sini?" Secara kebetulan, Nena juga masuk ke dalam toilet.
" Ini baru mau pulang, Mbak. Mau istirahat, ya, Mbak?" tanya Indhira.
" Iya, Ra. Eh, Ra. Aku rasanya familiar sama suami kamu itu, lho! Kalau aku tidak salah, dulu pernah lihat suami kamu itu datang ke cafe ini." Nena sepertinya mulai mengingat di mana bertemu dengan Bagas.
" Oh ya? Kapan, Mbak?" Indhira terkejut mendengar perkataan Nena yang mengatakan pernah melihat Bagas di cafe itu, sedangkan dia sendiri pernah bekerja di cafe itu, namun dia tidak pernah melihat kehadiran Bagas di cafe itu sebelumnya.
" Kalau tidak salah waktu kamu sudah tidak di sini, Ra. Aku ingat dia waktu itu datang bersama wanita cantik. Dan wanita itu kayak sedih banget wajahnya, kayak orang patah hati,, Ra." Nena menggambarkan bagaimana wanita yang kala itu datang bersama Bagas. Wanita yang tak lain adalah Evelyn, mantan tunangan Bagas.
" Tapi, semoga saja itu hanya mirip saja sama suami kamu, Ra." Melihat wajah murung Indhira, saat dia menceritakan ada seorang wanita yang datang bersama Bagas, Nena merasa tidak enak hati dan langsung berkata semoga apa yang dia pikirkan tidak sama dengan kenyataan. Walaupun dia yakin mereka adalah orang yang sama. Wajah tampan Bagas tentu akan mudah menempel di otaknya, sehingga dia tidak akan lupa jika pernah bertemu dengan Bagas, meskipun tadi hampir lupa pernah bertemunya di mana.
" Iya, Mbak." lirih Indhira, namun hatinya bertanya-tanya, apa benar orang yang dilihat itu adalah Bagas? Lalu siapa wanita cantik yang bersama Bagas? Indhita dibuat penasaran.
" Orangnya seperti apa wanita itu, Mbak?" tanya Indhira penasaran
" Cantik banget, Ra. Putih, tinggi, ramping, rambutnya coklat pirang." Nena menyebut ciri-ciri Evelyn.
" Yank! Sudah belum di toiletnya?" Dari luar terdengar suara Bagas memanggil Indhira. Sepertinya Bagas sudah selesai melakukan pembayaran bill nya.
" Iya, Mas." sahut Indhira. " Mbak, aku duluan, ya!? Nanti kita lanjut ngobrol-ngobrol di telepon." Indhira berpamitan dengan Nena kemudian bergegas keluar dari toilet.
" Sudah?" Saat Indhira keluar toilet, Bagas sudah menunggu di depan toilet wanita. Pertanyaan Bagas hanya dibalas anggukan kepala Indhira.
" Ya sudah, ayo kita pulang. Odie sedang mengambil mobilnya. Kita ikut pulang pakai mobil dia, kebetulan kita satu arah." Bagas kemudian melingkarkan lengannya di pinggang Indhira, karena saat ini banyak mata menatap ke arah mereka berdua. Sudah pasti wajah rupawan sepasang suami istri itu yang menjadi sebab beberapa pengunjung cafe itu memperhatikan mereka yang berjalan keluar cafe.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Baca juga novelku CINTA PALSU SANG MAFIA ( A Perfect Lie ) di PF Orange ya, nama pena Rez zha29
Happy Reading ❤️