SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Orang-Orang Kuat Di Belakang Raffasya


__ADS_3

Azkia masuk ke dalam kamarnya. Tak dijumpai Raffasya di dalam kamarnya itu. Dia lalu melongok ke arah balkon. Azkia melihat suaminya itu sedang berdiri termenung di tepi balkon memandang langit kota Jakarta yang berwarna-warni, membuatnya melangkah ke arah balkon kamar mereka.


" Ada apa, Pa?" tanya Azkia, membuat Raffasya menoleh ke arahnya lalu melingkarkan tangan di pundaknya.


" Tidak ada apa-apa ..." Raffasya lalu memberikan kecupan di pipi istrinya itu.


" Papa pasti bohong, kan?" Azkia merasa ada yang disembunyikan Raffasya darinya.


" Memang kelihatan kalau Papa sedang berbohong?" Raffasya menyentuh hidungnya. " Perasaan hidung Papa masih sama ukurannya, tidak tambah panjang, kan?" Raffasya terkekeh, menyamakan dirinya dengan tokoh fiktif Pinokio.


" Ayo, dong, Pa! Cerita ada apa?" Azkia memaksa sang suami untuk terbuka kepadanya, karena dia yakin ada yang sedang dipikirkan oleh sang suami.


" Tadi siang ada orang suruhan Pak Adibrata datang menemuiku di cafe." Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Raffasya menceritakan apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Bukan karena ancaman yang diberikan Hamid kepadanya, namun dia memikirkan hubungan antara Bagas dan Indhira yang sepertinya masih akan terus mendapatkan rintangan dari orang tua Bagas.


" Mau apa Papanya Bagas datang ke cafe Papa?" tanya Azkia terkejut mengetahui ada orang suruhan Adibrata mendatangi tempat usaha suaminya.


" Apa Papanya Bagas sudah mengetahui keberadaan Indhira bersama kita, Pa?" tanyanya khawatir. Azkia takut jika keberadaan Indhira akan terendus oleh orang tua Adibrata, dan itu akan membuat hidup Indhira tidak tenang.


" Pak Adibrata menduga jika Bagas akan menyewa cafe Papa untuk resepsi pernikahan. Dia lalu menawarkan uang ganti rugi sepuluh kali lipat dari uang kesepakatan sewa untuk wedding party, asalkan Papa mau membatalkan kesepakatan dengan Bagas yang mereka pikir akan mengadakan wedding party di cafe Papa." Raffasya menjelaskan apa maksud kedatangan orang suruhan orang tua Bagas ke cafenya.


" Mereka pikir bisa mempengaruhi Papa dengan uang yang mereka tawarkan itu," lanjut Raffasya menjelaskan.


" Apa?? Papanya Bagas berusaha menyuap Papa untuk melakukan hal licik itu?" Azkia semakin terperanjat dengan perbuatan Adibrata yang mencoba mempengaruhi suaminya untuk membatalkan rencana wedding party Bagas, meskipun acara itu tidak diadakan di cafe milik suaminya itu.


" Iya." Singkat jawaban yang diberikan Raffasya.


" Sombong sekali Pak Adibrata itu! Dia pikir, kita tidak bisa mendapatkan uang yang halal sampai mau menerima uang itu?" geram Azkia merasa marah, harga dirinya keluarganya seakan diin jak oleh Adibrata.


" Lalu, bagaimana sikap Papa atas tawaran itu?" Azkia penasaran dengan sikap sang suami atas tawaran licik dari Adibrata.


" Daripada aku menerima uang itu, mending aku gadaikan istriku ini ke mertuaku, hahaha ..." Raffasya tertawa berseloroh, tak ingin mengambil pusing apa yang dilakukan Adibrata kepadanya.


" Iissshhh, Papa ini ..." Azkia pun ikut tertawa sambil bergelayut manja di bahu sang suami.


" Lalu rencana Papa apa ke depannya?" tanya Azkia ingin tahu bagaimana rencana Raffasya dalam menghadapi rencana licik Adibrata.

__ADS_1


" Untuk orang seperti Pak Adibrata, dia pasti akan merasa tersinggung dengan penolakan Papa ini. Dia pasti akan mencari cara lain agar rencananya itu tetap berhasil." Raffasya sudah memperkirakan apa yang akan dilakukan oleh Adibrata kepadanya.


" Papa harus hati-hati menghadapi orang seperti itu, Pa." Azkia memperingatkan Raffasya untuk berhati-hati menghadapi orang yang licik seperti Adibrata.


" Mama tidak usah khawatir, Papa bisa handle urusan itu." Dengan memeluk erat tubuh sang istri, Raffasya mencoba menenangkan istrinya untuk tidak khawatir.


***


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Ada Pak Hamid ingin betemu dengan Bapak." Diana, sekretaris dari Adibrata masuk ke dalam ruangan kerja Adibrata memberitahukan soal kedatangan Hamid siang ini di kantor Adibrata.


Adibrata yang sedang fokus dengan draft kerja sama dengan klien baru di perusahaannya mengarahkan pandangan ke arah Diana.


" Suruh dia masuk!" Kalimat perintah langsung keluar dari mulut Adibrata yang harus segera dilaksanakan oleh sekretarisnya itu.


" Baik, Pak." Wanita berusia tiga puluh dua tahun yang sudah menjadi sekretaris Adibrata selama tujuh tahun itu segera menyahuti.


Diana lalu berjalan keluar untuk mempersilahkan Hamid masuk ke dalam ruang kerja bosnya Dan setelah Hamid masuk ke dalam ruangan Adibrata, Diana lalu menutup pintu ruang Adibrata dan membiarkan Bosnya dengan Hamid berbincang di dalam, entah apa yang dibicarakan oleh mereka, dia tidak memperdulikannya.


" Duduklah!" Dengan arahan matanya, Adibrata menyuruh Hamid untuk duduk di kursi depan meja kerjanya.


" Baik, Tuan." Hamid menarik kursi di depan meja kerja bos besar itu lalu mendudukinya.


" Informasi apa yang sudah kamu dapatkan, Hamid?" Adibrata langsung menanyakan informasi yang dia butuhkan soal Raffasya yang dia anggap menantangnya, karena menolak mentah-mentah tawaran yang diberikan olehnya.


" Saya sudah mendapatkan informasi lengkap seputar Ananda Raffasya, pemilik cafe itu, Tuan. Pria itu berusia tiga puluh enam tahun. Dia dalah anak tunggal pasangan Lusiana dan Fariz, pemilik perusahaan leasing ternama di negeri ini. Dia punya adik perempuan satu ayah beda ibu. Dia sudah merintis bisnis cafe sejak usia masih muda." Hamid menceritakan secara detail siapa sosok Raffasya sebenarnya.


" Keluarga istri Raffasya mempunyai usaha butik yang memiliki banyak cabang di beberapa daerah. Ayah mertua dari Raffasya bernama Prayoga Atmajaya, adalah dosen senior di universitas ternama, anak tunggal dari pengusaha terkenal di daerah Bogor. Dan ..." Hamid seperti agak canggung mengatakan informasi lainnya seputar Raffasya kepada Adibrata.


" Dan apa, Hamid?" Saat Hamid menjeda ceritanya, hal tersebut membuat Adibrata semakin penasaran.


" Besan dari mertua Raffasya juga bukan orang sembarangan, Tuan." Hamid yakin, saat mendengar nama yang akan dia sebut, bosnya itu pasti akan tercengang.


" Siapa yang bukan orang sembarangan itu, Hamid?" Adibrata yang awalnya duduk santai merapatkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya, kini duduk dengan posisi serius, dengan dengan telapak tangan menempel di atas meja.

__ADS_1


" Besan dari mertua Raffasya, pengusaha properti bonafit pemilik perusahaan Angkasa Raya Group, Tuan. Tuan Dirgantara Poetra Laksmana." Akhirnya Hamid menyebutkan nama salah seorang pengusaha berpengaruh di negaranya itu.


Adibrata terbelalak mendengar nama terakhir yang disebut oleh Hamid. Tentu saja dia sangat mengenal nama besar Poetra Laksmana, sebagai salah satu raksasa di bidang properti di dalam negeri.


Adibrata mendengus kasar mengetahui jika Raffasya dikelilingi orang-orang kuat dalam hal finasial. Tidak akan mudah untuk mengintimidasi Raffasya saat mengetahui jika orang yang telah menentangnya itu mempunyai koneksi yang kuat dengan orang-orang penting.


" Pantas saja dia menolak tawaranku, ternyata orang-orang didekatnya mudah mengucurkan dana untuknya." Adibrata menilai alasan Raffasya menolaknya karena Raffasya tidak kekurangan uang dan mudah mendapatkan bantuan jika sedang membutuhkan suntikan dana.


" Bisa jadi seperti itu, Tuan. Tapi, menurut informasi yang saya dapatkan, Raffasya adalah sosok pekerja keras yang mandiri dan tidak pernah mau menerima bantuan finansial dari siapa pun termasuk dari keluarganya sendiri. Jadi soal tawaran uang itu, saya rasa alasan dia menolak karena dia mempunyai prinsip, bukan hanya kerena dikelilingi orang-orang yang kuat dalam segi finansial, Tuan." Hamid menyampaikan pendapatnya soal penolakan Raffasya terhadap tawaran uang ganti rugi dari Adibrata.


" Apa kamu menyebut nama saya saat bertemu dengan Raffasya, Hamid?" Setelah mengetahui siapa Raffasya, tentu saja Adibrata akan sangat merasa malu jika sampai namanya disebut oleh Hamid. Mau ditaruh di mana mukanya itu jika dia bertemu dengan kerabat dekat Raffasya yang disebutkan oleh Hamid tadi, jika ketahuan dia menawarkan uang dengan nominal yang tidak banyak kepada Raffasya, untuk suatu kelicikan yang dia perbuat.


" Tidak, Tuan. Bukakah Tuan sudah menyuruh saya untuk tidak membawa nama Tuan dalam hal ini?" Hamid menjawab apa yang dikhawatirkan oleh Adibrata.


" Ya sudah, syukur kalau orang itu tidak tahu saya yang menyuruh kamu, Hamid." Adibrata bangkit dari duduknya dan menjauh dari meja kerjanya.


" Lalu apa yang harus saya lakukan lagi, Tuan?" tanya Hamid menunggu perintah selanjutnya. Dia tidak bisa gegabah dalam bertindak. Karena orang yang akan dihadapi bukankah orang sembarangan.


" Sudah cukup, Hamid! Kita jangan bersinggungan dengan pemilik cafe itu lagi! Saya tidak ingin sampai dia curiga dan balik menyelidiki kita!" Adibrata menyuruh Hamid menghentikan rencana membatalkan wedding party yang mereka duga di adakan di Cafe milik Raffasya.


" Kau suruh anak buahnya semakin ketat mengawasi Bagas, ke mana saja dia pergi? Dan apa tujuan putraku itu datang ke tempat yang dia tuju. Dua hari ini dia selalu telat pulang dari kantor, apa tidak ada yang mencurigakan yang dilakukan Bagas di sana?" Adibrata merasa curiga, karena belakangan, Bagas selalu telat keluar dari kantor.


" Sejauh yang dilaporkan anak buah saya, memang Tuan Bagas tidak pergi ke suatu tempat yang aneh, Tuan. Tuan Bagas terpantau berada di kantor sejak datang sampai pulang kemarin." Hamid melaporkan apa yang dilaporkan anak buahnya kepadanya.


Adibrata mengerutkan keningnya. Sebenarnya dirinya merasa curiga dengan aktivitas putranya yang terlihat betah berada di kantor sampai malam.


" Apa saja yang dia lakukan di kantornya itu? Beberapa hari ini dia selalu pulang telat." Adibrata belum sempat mengecek ke Zaenal ataupun Ester soal kegiatan Bagas beberapa hari ini yang membuat Bagas selalu pulang malam.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2