
Evelyn menatap Daddy nya yang terlihat sangat marah. Dia sangat mengenal sosok Nathael. Sosok pria yang selalu menginginkan kesempurnaan untuk calon menantunya. Dia yakin kemarahan Daddy nya bukan karena masa lalu Bagas, tapi karena Bagas berniat mengakhiri pertunangan dengan dirinya.
Evelyn beranggapan harga diri Daddy nya merasa diremehkan oleh Bagas dengan niat Bagas itu. Apalagi acara pertunangan mereka digelar dengan pesta yang sangat meriah.
" Maaf, Om. Saya bukannya memikirkan diri sendiri. Saya merasa jika saya bukanlah pria terbaik untuk Evelyn. Saya tidak bisa memberikan cinta yang Evelyn inginkan. Evelyn berhak mendapatkan pria yang pantas untuknya, Om. Evelyn wanita baik, sepantasnya dia mendapatkan pria yang tulus dan benar-benar mencintainya."
" Saya yakin Evelyn bisa mendapatkan seorang pria yang jauh lebih baik dari saya. Pria yang tanpa cela, tidak seperti saya. Tanpa saya, Evelyn masih bisa mendapatkan pria mana pun yang dia inginkan. Tidak seperti wanita di masa lalu saya, Om. Tanpa saya, dia sulit mendapatkan pria yang bisa menerima dia dengan segala masa lalunya. Saya harap Om bisa mengerti, kenapa saya harus bertanggung jawab atas perbuatan saya dulu." Bagas masih berharap Nathael dapat mengerti dengan alasan yang dia sampaikan.
" Banyak penderitaan yang sudah saya buat pada dia, kehilangan kesucian, kehilangan nama baik, dikeluarkan dari sekolah, dibully orang-orang. Sedangkan saya? Dengan kekuasaan Papa saya, saya masih bisa sekolah dan kuliah mencapai gelar sarjana, masih bisa hidup enak, masih dapat bekerja dan mempunyai jabatan CEO. Menurut Om apa yang terjadi pada cukup adil untuk dia? Padahal semua itu adalah salah saya, tapi dia yang menanggung semua bebannya." Terasa sesak di dada Bagas ketika membayangkan penderitaan yang Indhira alami.
" Jika Om berharap saya tetap meneruskan pertunangan dengan Evelyn dan melanjutkan ke jenjang pernikahan, apa Om tidak kasihan pada Evelyn? Karena saya tidak dapat memberikan cinta pada Evelyn." Bagas berharap Nathael bisa berpikir panjang ke depan, karena ini menyangkut kebahagiaan Evelyn di masa yang akan datang.
" Kenapa kamu berkata seperti itu, Bagas!? Kalau kamu tidak mencintai Evelyn, kenapa kamu mau menerima pertunangan itu? Kamu merasa kasihan sama kekasih kamu dulu, lalu kamu tidak merasa kasihan telah berpura-pura mencintai Evelyn? Kamu sudah mempermainkan Evelyn, Bagas!" Merry pun ikut menyalahkan Bagas, sebagai seorang Ibu, Merry tentu merasa sedih putrinya seolah dipermainkan oleh Bagas.
" Mom, itu tidak benar! Bagas tidak berpura-pura mencintai Eva. Eva tahu masa lalu Bagas sejak lama, sebelum kami bertunangan." Mendengar Daddy dan Mommy nya terus menyalahkan Bagas, Evelyn mencoba melakukan pembelaan kepada Bagas.
" Sejak Bagas masih kuliah di sini, Bagas sudah menceritakan tentang masa lalunya kepada Eva. Dan Eva tahu, di dalam hati Bagas hanya ada wanita itu. Tapi, karena Eva menginginkan Bagas, Eva mencoba menampikkan kenyataan jika Bagas tidak dapat mencintai Eva. Eva hanya berharap, seiring berjalannya waktu, rasa cinta Bagas akan hadir untuk Eva. Tapi, harapan tidak sesuai dengan kenyataan, Mom." Kalimat pilu yang diucapkan Evelyn terdengar dipaksakan terucap oleh wanita itu.
" Eva?" Merry tak percaya putrinya justru membela Bagas. Padahal dia sangat tahu jika anaknya itu sangat mencintai dan sangat menginginkan Bagas menjadi pendamping hidup Evelyn.
" Apa pun keputusan yang Bagas ambil soal nasib pertunangan kami, Eva sudah siap menerimanya, Mom. Kita tidak bisa egois memikirkan diri kita sendiri, nama baik kita sendiri. Kita juga harus bisa memikirkan bagaimana nasib wanita itu. Eva tahu, kesedihan, kekecewaan dan rasa sakit wanita itu melebihi apa yang dirasakan oleh Eva saat ini." Walaupun cairan bening sudah menutupi bola matanya, namun Evelyn masih mengucapkan kalimatnya tanpa terbata. Bahkan Evelyn sanggup bersikap bijaksana.
" Eva, apa maksud kamu, Nak?" tanya Merry menatap sedih putrinya. Walau diucapkan dengan kata-kata yang tegar, namun Merry tahu jika Evelyn sedang merasakan kepedihan.
" Pertunangan ini tidak akan baik ke depannya jika terus dipaksakan, Mom. Eva sudah memutuskan untuk menyudahi pertunangan kami ini." Dengan mengusap air mata yang akhirnya menitik di pipinya, Evelyn mengambil keputusan menyutujui permintaan Bagas dan mengakhiri pertunangan mereka.
" Eva ..." Merry bangkit dan menghampiri putrinya, memberikan pelukan atas rasa sedih yang dialami oleh anak perempuan satu-satunya itu.
" Saya mohon maaf jika keputusan saya sudah melukai hati Om, Tante dan Evelyn." Bagas menyampaikan permohonan maaf dan penyesalannya karena harus mengecewakan keluarga Nathael.
Nathael mendengus kasar. Dia ikut merasa kecewa seperti halnya Evelyn. Tapi dia juga tidak ingin anaknya kelak akan menderita jika melanjutkan ke jenjang pernikahan dengan Bagas.
" Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan kalian. Om tidak bisa memaksa." Akhirnya Nathael pun dapat menerima keputusan Bagas dan putrinya yang akan mengakhiri pertunangan mereka.
Bagas menarik nafas lega. Ternyata menghadapi Nathael tidak serumit menghadapi seorang Adibrata. Terlihat sekali kecintaan Nathael terhadap putrinya mampu mengalahkan sikap ego pria paruh baya itu. Sangat kontras dengan Adibrata. Papanya justru lebih mementingkan sikap egoisnya ketimbang kebahagiaan anaknya sendiri.
" Terima kasih, Om. Terima kasih Om mau mengerti saya. Saya tidak akan melupakan kebaikan hati Om ini." Terasa haru di hati Bagas menanggapi sikap bijak Nathael.
" Om lakukan ini karena Eva, bukan karena berniat menolongmu, Bagas!" tegas Nathael membantah jika dia menyetujui permintaan Bagas karena alasan yang Bagas berikan. Tapi karena dia sangat menyayangi putrinya.
" Apa pun itu, saya tetap berterima kasih. Dan saya juga meminta maaf yang sedalam-dalamnya kepada Om dan keluarga. Saya berharap Evelyn akan mendapatkan kebahagiaannya sesuai dengan keinginan Evelyn." Bagas mendoakan untuk kebahagiaan Evelyn kelak.
" Apa tanggapan Papamu tentang keputusanmu ini?" Nathael merasa penasaran dengan sikap Adibrata. Karena Adibrata belum menghubunginya sama sekali untuk membahas soal masalah ini.
" Papa belum tahu soal ini, Om. Saya sengaja merahasiakan hal ini dari Papa dan Mama, karena Om tahu sendiri bagaimana sifat Papa. Saya yakin Papa tidak hanya akan menentang, tapi yang saya takutkan Papa akan menyakiti hati wanita yang saya cintai kembali. Saya berusaha melindungi agar dia tidak terus mendapat penderitaan dari sikap arogan Papa." Bagas menjelaskan alasan menutupi hal tersebut dari Papanya.
" Tapi kamu tidak bisa terus menutupi hal ini, Bagas!" sahut Nathael. Nathael sangat paham bagaimana karakter Adibrata.
" Saya tahu, Om. Setelah pulang ke Jakarta, saya akan memberitahu soal ini pada Papa. Apa pun tanggapan Papa, saya siap untuk menerima, termasuk jika Papa menyuruh saya meletakkan jabatan saya dan Papa mengusir saya dari rumah." Di hadapan Nathael pun Bagas berani mengatakan tekadnya lebih memilih wanita yang dia cintai daripada pekerjaan ataupun semua harta yang dia miliki.
***
__ADS_1
" Aku pamit, Evelyn. Sekali lagi aku minta maaf atas sikapku selama ini yang tidak berkenan di hati kamu. Maaf jika pertunangan kita ini sudah memberikan harapan palsu untukmu," ucap Bagas saat Evelyn mengantar Bagas hingga ke mobil yang akan mengantar Bagas kembali ke hotel.
" Sudahlah, tidak ada yang perlu disesali lagi." Evelyn enggan membahas soal pertunangan mereka yang hanya tinggal kenangan.
" Aku harap secepatnya kamu menemukan lelaki yang akan membuatmu bahagia." Bagas hanya bisa berharap demi kebaikan Evelyn.
Evelyn hanya tersenyum miris mendengar harapan Bagas. Di saat hatinya sedang terluka seperti saat ini, tidak terpikirkan olehnya untuk mendapatkan pria yang lain.
" Semoga kamu berhasil meluluhkan hati Om Adi dan melewati semua rintangan untuk menggapai apa yang kamu cita-citakan." Evelyn juga mendoakan akan semua keinginan Bagas dapat terwujud.
" Aamiin, semoga saja, Evelyn. Aku pamit dulu. Semoga kita bisa bertemu kembali saat kita berdua sudah bahagia dengan pasangan masing-masing." Setelah mengucapkan kalimat perpisahan, Bagas pun meninggalkan mansion milik Nathael untuk kembali ke hotel tempat dia menginap diantar oleh salah seorang supir keluarga Nathael.
Sementara di Jakarta pada waktu yang bersamaan. Indhira baru saja tiba di rumah Azkia. Dan seperti biasa, setelah menyiapkan apa yang akan dibawa oleh Azkia ke butik, Indhira menunggu di ruang keluarga karena Raffasya ada di kamar bersama Azkia.
Ddrrtt ddrrtt
Indhira merasakan jika ponselnya berdering di dalam tasnya. Dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya, karena dia ingin tahu siapa yang menghubungi saat ini. Wajah Indhira seketika berbinar saat melihat nama Bagas yang saat ini menghubunginya.
" Assalamualaikum ..." Indhira menjawab panggilan masuk dari Bagas dengan tangan menjinjing tas kerja Azkia dan berjalan menuruni anak tangga. Dia memilih berbincang via telepon dengan Bagas di teras rumah.
" Waalaikumsalam, Ra. Kamu sudah berangkat kerja?" tanya Bagas menyahuti salam yang diucapkan Indhira.
" Aku sudah di rumah Bu Kia, menunggu Bu Kia selesai berhias," sahut Indhira. " Kemarin sibuk, ya?" Indhira menanyakan kabar Bagas, karena sejak dua hari lalu pria itu tidak juga menghubunginya.
" Iya, aku sibuk banget. Sorry, aku tidak sempat menghubungi kamu. Kamu kangen, ya?" Bagas menggoda Indhira. Mungkin sebenarnya bukan Indhira yang kangen, tapi dirinya yang sangat rindu berat terhadap wanita itu.
" Tidak apa-apa kalau kamu memang sedang sibuk." Indhira tidak ingin menjawab pertanyaan Bagas soal rasa kangen. Ia terlalu malu untuk mengakui perasaan yang dia rasakan sebenarnya pada pria itu.
" Sudah, ah! Kamu belum pergi ke kantor?" Indhira tidak tahu jika saat ini Bagas sedang berada di luar negeri. Dia pikir saat ini Bagas sedang bersiap untuk beraktivitas seperti dirinya saat ini.
" Aku baru sampai hotel dan mau istirahat," jawaban Bagas membuat Indhira terheran.
" Memang kamu sedang di mana? Kamu tidak ke kantor, Bagas?" Indhira mengerutkan keningnya mendengar jawaban Bagas yang mengatakan baru sampai di hotel dan ingin beristirahat.
" Coba tebak aku ada di mana sekarang?" Bukannya menjawab pernyataan Indhira, Bagas malah mengajak Indhira bermain tebak-tebakan.
" Ada di hotel, kan?" jawab Indhira lugu.
" Hahaha ... itu, sih, aku sudah bilang tadi. Maksudku sekarang ini aku berada di kota mana?" Bagas masih menyuruh Indhira menebak keberadaannya.
" Aku tidak tahu, kamu tidak bilang mau pergi ke mana, kan?" Indhira memang tidak tahu di mana kekasihnya itu berada. Setahunya Bagas sedang di Jakarta.
" Oke, aku kasih tahu. Clue nya ... sekarang ini aku berada di kota berinisial N, coba tebak!Kalau kamu salah menebak, kamu harus cium aku. Kalau kamu benar, aku yang cium kamu. Gimana? Setuju tidak?" Bagas terkekeh mengajak Indhira bertaruh dengan memberikan tawaran hukuman yang akan diterima.
" Jangan macam-macam kamu, Bagas!" Nada suara Indhira sedikit meninggi dengan membulatkan bola matanya.
" Pasti mata kamu sekarang ini sedang melotot, kan?" Suara tawa terdengar di ponsel Indhira. Bagas sepertinya tahu jika Indhira sedang memasang wajah galak dan bola mata membulat. " Cuma cium pipi, doang, Ra!" lanjutnya merayu Indhira mau menerima hukumannya.
" Aku tidak percaya sama kamu, Bagas!" Masih teringat di benak Indhira, saat Bagas merayunya, sampai akhirnya dosa itu terbuat, rasanya Indhira tidak mudah percaya jika Bagas tidak akan melakukan apa-apa.
" Ya sudah, cepat tebak, aku ada di mana sekarang?" Tak ingin membuat Indhira marah, Bagas kembali menyinggung soal tebak-tebakan tadi.
__ADS_1
" Kota N, ya? Nganjuk? Ngawi?" Indhira menyebut kota berinisial N yang dia ketahui. Mana mungkin Indhira kepikiran kalau saat ini Bagas berada di New York.
" Aku malah belum pernah ke kota yang kamu sebut tadi, Ra." jawab Bagas terkekeh mendengar jawaban Indhira yang hanya menyebutkan kota-kota di daerah Jawa.
" Terus kamu di mana? Aku memyerah, deh! Aku benar-benar tidak tahu kamu ada di mana sekarang ini, Bagas." Malas berpikir mencari kota inisial N lainnya, Indhira memilih menyerah dan meminta Bagas memberi jawaban.
" Aku sedang di New York." Akhirnya Bagas menyebutkan posisinya saat ini berada di mana.
" Hahh? New York? Di Amerika?" Indhira terkesiap saat Bagas menyebutkan keberadaannya. Dia bahkan menganggap jika Bagas hanya bercanda.
" Memangnya ada New York lain selain di Amerika?" Bagas tertawa kecil membalas ucapan Indhira.
" Kamu sedang apa di sana, Bagas?" tanya Indhira heran, kenapa Bagas ada di sana. Dan kenapa Bagas tidak memberitahu sebelumya jika berada di New York.
" Sedang survey tempat, untuk kita pergi honeymoon nanti." Jawaban Bagas membuat Indhira tercegang.
Untung saja saat ini, Bagas tidak berada di hadapan Indhira. Kalau saja pria itu ada di hadapannya. Dapat dipastikan betapa malunya dia saat ini, karena pipinya sudah dihiasi rona merah.
" Ra, kita berangkat sekarang, yuk!" Suara Azkia yang muncul dari belakang Indhira membuat wanita itu terkesiap.
" I-iya, Bu." sahut Indhira merespon ucapan Azkia.
" Bagas, aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum ..." Tanpa menunggu balasan dari Bagas, Indhira segera mengakhiri sambungan telepon dengan Bagas dan menaruh kembali ponsel miliknya ke dalam tas.
Indhira merasa kemunculan Azkia bagaikan penyelamat baginya dari bujuk rayu Bagas, yang sepertinya tidak pernah surut sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMA. Indhira mungkin tidak pernah tahu jika selama berpisah darinya, Bagas tidak pernah lagi meluncurkan kalimat-kalimat rayuan ma utnya untuk membuat kaum hawa jatuh hati pada pria itu.
***
Bagas memperhatikan benda pipih, alat komunikasinya yang tadi dipakai untuk berkomunikasi dengan Indhira, yang tiba-tiba terputus.
" Kenapa tiba-tiba ditutup?" tanya Bagas masih memandang wajah cantik Indhira dari ponselnya.
Jari tangan Bagas mengusap wajah Indhira, walau hanya fotonya saja. Senyuman seketika terkulum di sudut bibir pria itu.
" Kamu semakin cantik sekarang, Ra. Walau tetap sederhana seperti dulu," gumam Bagas, dan memberikan kecupan di layar ponselnya yang menampilkan wajah cantik Indhira.
" Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menikahimu, Ra! Walau berat rintangannya, tapi aku akan berjuang untuk cinta kita, masa depan kita." Bagas masih berbicara pada foto Indhira, seolah wanita itu ada di hadapannya saat ini.
" Aku harap kamu bisa bertahan, dan jangan pergi meninggalkanku lagi, Ra. Aku bisa gi la kalau kamu lakukan hal itu sekarang ini." Bagas sepertinya tidak akan sanggup jika harus berpisah dengan Indhira untuk yang kedua kalinya. Dia rela kehilangan harta benda, tapi dia tidak rela harus kehilangan Indhira kembali. Wanita yang kurang lebih sembilan tahun sudah masuk ke dalam hatinya.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1