SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Rencana Licik Om Ferry


__ADS_3

Bagas menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Perbincangan dengan Papanya tadi ternyata tidak membawa hasil positif untuk Indhira. Jangankan meminta uang ganti rugi sebesar satu milyar seperti yang diminta oleh Tante Indhira. membantu agar Indhira tidak dikeluarkan saja tidak bisa dia lakukan.


Bagas menyadari jika pengaruh orang tuanya terhadap yayasan tempat dia sekolah cukup kuat. Bahkan Papanya sampai berani mengancam akan menghentikan sumber dana yang selama ini diberikan Papanya untuk yayasan tersebut.


Bagas merasa sangat tidak berguna. Di saat Indhira butuh pertolongan, dia justru tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan orang tuanya bahkan sanggup menekan pihak sekolah untuk mengeluarkan Indhira.


" Arrggghh ...!!" geram Bagas, seakan marah terhadap dirinya sendiri.


Praannggg


Suara pecahan kaca seketika terdengar saat Bagas melempar ponselnya ke cermin yang ada di kamarnya itu.


" Ya Tuhan, aku harus berbuat apa?? Indhira pasti akan semakin membenciku." Bagas mengusap kasar wajah tampannya.


Tok tok tok


" Den ...! Den Bagas kenapa?" Suara ketukan pintu dibarengi dengan suara Mbok Nah terdengar dari pintu kamar Bagas.


Suara kaca yang pecah karena dihan tam benda membuat Mbok Nah yang baru saja keluar dari kamar Kartika yang berada di sebelah kamar Bagas terperanjat, hingga membuat Mbok Nah mendekat ke kamar Bagas. ART senior di rumah Adibrata itu merasa khawatir dengan anak majikannya.


Bagas menolehkan pandangan ke arah pintu kamar. Dia lalu beranjak ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Mbok Nah.


" Den Bagas kenapa? Tadi suara apa, Den?" tanya Mbok Nah cemas. Pandangan matanya bahkan menerobos masuk ke dalam kamar Bagas untuk mencari tahu apa yang terjadi.


" Mbok, tolong suruh bibi bersihkan pecahan kaca itu." Bagas membuka lebar pintu kamar dan meminta Mbok Nah mengatur ART lainnya untuk membersihkan pecahan kaca.


" Astaghfirullahal adzim ...! Memang kenapa kacanya bisa pecah, Den?" tanya Mbok Nah kembali.


" Mbok Nah jangan banyak tanya, deh! Aku ini sedang pusing, Mbok! Tinggal kerjakan saja apa yang aku suruh apa susahnya, sih!?" Bagas sampai menyentak Mbok Nah yang dianggapnya terlalu banyak bertanya, padahal saat ini dirinya sedang kalut.


Sementara di rumah Indhira. Ketika Indhira sedang memasrahkan dirinya bersujud kepada Sang Khaliq, di kamar Tante Marta, adik dari Papa Indhira itu sedang berbincang dengan Om Ferry, membahas soal uang ganti rugi senilai satu milyar rupiah yang diminta oleh Tante Marta.


" Pintar kamu, Ma. Memang harus seperti itu! Mereka itu orang kaya jangan mau seenaknya saja menginjak-injak kita! Mereka harus mengganti atas kerugian yang dialami kita, nama baik kita!" Om Firman bersemangat saat istrinya itu menyebutkan nominal yang istrinya minta dari keluarga Bagas.

__ADS_1


" Tapi, kira-kira mereka mau memberi tidak ya, Pa?" Di tengah kebahagiaannya, Tante Marta sedikit meragukan keseriusan Bagas yang ingin memberikan ganti rugi, karena nominal yang dia minta sangat besar jumlahnya.


" Mereka harus mau, Ma. Lagipula, uang segitu untuk orang kaya seperti keluarga Bagas itu tidak akan berarti apa-apa, Ma." Om Firman sangat yakin jika mereka pasti akan mendapatkan uang itu.


" Kalau benar kita dapat uang satu milyar, enaknya untuk apa ya, Pa?" Tante Marta sudah menghayal mendapatkan uang satu milyar dari keluarga Bagas. " Kita jalan-jalan ke Jepang yuk, Pa!? Sekali-sekali pergi ke luar negeri. Atau keliling Eropa? Ke Italia, Spanyol, Inggris, Perancis. Di sana 'kan negaranya berdekatan, tuh! Biar Mama bisa upload di media sosial, biar bisa aku tunjukkan ke teman-teman Mama biar mereka pada iri," lanjutnya sudah berangan-angan.


" Kalau Papa ingin beli mobil, Ma." Setali tiga uang, Om Ferry juga sudah melambungkan mimpinya.


" Ah, iya ... beli mobil juga, Pa. Biar tetangga-tetangga kita pada melotot melihat kita bisa beli mobil sendiri. Cash tanpa kredit!" ucap Tante Marta penuh rasa percaya diri.


" Oh ya, apa Mama akan tetap mengusir Indhira dari rumah ini?" tanya Om Ferry kemudian.


" Itulah yang bikin Mama bingung, Pa. Mama sudah berjanji tidak akan mengusir Indhira dari sini kepada Bagas kalau ingin uang itu." Tante Marta memang tidak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan Bagas jika dia ingin uang satu milyar itu menjadi miliknya.


" Tapi kalau dia tetap di sini, tetangga pasti akan mencibir kita terus," lanjutnya kemudian.


" Apa dia jadi dikeluarkan dari sekolah?" tanya Om Ferry lagi.


" Besok aku disuruh menghadap kepala sekolah. Ck, memalukan sekali! Pasti aku akan jadi bahan pergunjingan di sana," keluh Tante Marta sudah menduga jika dirinya akan mendapatkan tatapan mata orang-orang yang akan menggunjingkannya sebagai wali murid dari Indhira.


" Kalau aku tidak datang, aku kasih alasan apa, Pa? Guru Indhira sendiri yang tadi siang datang kemari," sahut Tante Marta.


" Memangnya Mama tidak malu datang ke sana?"


" Ya pasti malu lah, Pa!"


" Suruh Indhira saja yang menghadap ke kepala sekolahnya! Dia yang buat kesalahan, dia yang seharusnya yang menanggung akibatnya, bukan Mama!"


" Kalau nanti aku kena tegur gimana, Pa?"


" Biarkan saja, biar Indhira dikeluarkan dari sekolah itu. Aku punya rencana untuk dia, Ma." Otak licik Om Ferry sudah merencanakan sesuatu untuk Indhira.


" Rencana apa, Pa?" Kening Tante Marta mengerut mendengar suaminya itu mempunyai rencana untuk Indhira.

__ADS_1


" Bosku itu senang main perempuan. Kita jual saja dia ke bosku, kita bisa dapat uang dari si bos, Ma. Nanti si bos pasti akan mengontrakan rumah untuk Indhira, jadi dia tidak perlu tinggal di sini lagi. Kita usir dia secara halus. Kalau dia tetap sekolah, akan sulit untukku melaksanakan rencanaku itu." Om Ferry dan Tante Marta memang cocok, sama-sama tidak punya hati nurani, memanfaatkan penderitaan Indhira untuk mengambil keuntungan sendiri.


" Jadi wanita simpanan maksudnya, Pa?" tanya Tante Marta.


" Iya, Ma. Dia sudah tidak perawan, jadi kita tidak harus merasa bersalah, kan?" ucap Om Ferry tanpa ada belas kasihan.


" Aku menurut Papa saja." Tante Marta menyetujui rencana suaminya untuk menjual Indhira ke bos di tempat suaminya itu bekerja.


***


Indhira baru selesai melaksanakan sholat shubuh dan berdoa. Dia segera beranjak ke arah dapur untuk mulai aktivitas hariannya setiap pagi. Walaupun permasalah yang dia hadapi cukup membuat semangatnya menyuruh. Namun, hal itu tidak membuat tugasnya melakukan pekerjaan rumah berhenti.


Buugghh


" Astaghfirullahal adzim!" pekik Indhira saat tubuhnya menabrak tubuh Om Ferry yang baru saja keluar dari kamar mandi bertelan jang dada dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


" M-maaf, Om." Indhira segera menurunkan pandangan karena saat ini Om nya itu hanya memakai handuk. Indhira lalu berjalan karena dia ingin menyiapkan air di mesin cuci untuk mencuci pakaian.


Sementara Om Ferry memperhatikan tubuh Indhira yang berlalu meninggalkannya. Memang harus dia akui jika wajah keponakan istrinya itu sangat cantik. Berkulit putih dan mulus, membuat pria mana pun yang melihatnya pasti akan tergoda untuk menyentuhnya.


" Papa kenapa berdiri saja di situ?"


Suara Tante Marta tiba-tiba terdengar di dapur membuat Om Ferry yang sedang memperhatikan Indhira terkesiap dan langsung menoleh ke arah istrinya itu.


" Eh, Mama. Tidak ada apa-apa kok, Ma." Om Ferry segera merangkulkan tangannya dan membawa istrinya itu keluar dari dapur. Dia tidak ingin jika istrinya itu mengetahui jika dirinya sedang menikmati keindahan wajah cantik dan kulit mulus Indhira.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2