SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Aspri Sementara


__ADS_3

Setelah Bagas berpamitan pulang kepada kedua orang tua Rissa, Indhira kini mengantar Bagas sampai gerbang rumah Pak Edwin. Indhira masih penasaran kepada kekasihnya dengan nominal uang yang dikeluarkan oleh Bagas untuk pernikahan sederhana mereka.


" Bagas, apa uang yang kamu berikan itu tidak terlalu berlebihan jumlahnya? Kita hanya akan mengadakan pernikahan sederhana saja, tidak perlu uang sebanyak itu." Indhira tidak mempermasalahkan uang itu diterima oleh Ibu Lidya, dia hanya mengkhawatirkan jika keluarga Bagas akan berprasangka buruk terhadapnya karena Bagas memberikan uang dalam jumlah yang sangat besar baginya.


" Hanya seratus juta, Ra. Itu tidak berarti apa-apa dibandingkan aku mendapatkanmu." Bagi Bagas, uang sejumlah itu memang tidak berarti apa-apa demi dapat menikahi wanita yang diinginkannya.


" Ya sudah, sebaiknya kamu masuk ke dalam. Aku harus kembali ke kantor dulu untuk mengambil tas dan mobilku." Bagas menyuruh Indhira untuk masuk ke dalam rumah karena dia juga harus kembali ke kantornya lebih dahulu sebelum pulang ke rumah.


" Kamu mau ke kantor lagi, Bagas?" tanya Indhira mengerutkan keningnya. " Kenapa tidak langsung pulang saja?" tanyanya kemudian.


" Aku harus mengambil mobil sama tas aku, Ra. Sudah, ya!? Nanti keburu malam, aku pamit dulu. Assalamualaikum ..." Bagas memilih segera pergi daripada Indhira terus bertanya-tanya kenapa dia sampai meninggalkan mobil dan tasnya


" Ya sudah, hati-hati, Bagas. Waalaikumsalam ..." balas Indhira. Dia lalu masuk ke dalam rumah terlebih dahulu atas permintaan Bagas.


Setelah Indhira masuk, Bagas pun kembali ke mobil Hendrik yang masih setia menunggunya sejak tadi.


" Kita ke mana sekarang, Pak?" tanya Hendrik saat Bagas memasuki mobil.


" Antar saya ke kantor, Pak Hendrik. Tapi turunkan saya agak jauh dari gerbang kantor." Bagas memberi perintah kepada Hendrik untuk mengantarnya kembali ke kantor.


" Baik, Pak." sahut Hendrik segera menjalankan mobil menjauh dari rumah keluarga Rissa.


Sekitar pu kul 21:30 menit, Bagas sudah sampai di kantornya. Ketika sampai, dia masih melihat mobil yang mengawasinya itu terparkir di seberang jalan perusahaannya. Untung saja dia sudah meminta Hendrik untuk menurunkannya agak jauh dari kantornya sehingga orang di mobil itu tidak mengetahui mobil Hendrik. Sementara tak jauh dari mobil itu, dia pun melihat mobil Dahlan terparkir di depan jalan kantornya berada.


Bagas hanya menggelengkan kepala sambil menghempas nafas panjang. Dia bagaikan seorang penjahat yang berbahaya sampai harus dikawal dari berbagai arah.


Setelah sampai di dalam ruangannya, Bagas segera berganti pakaian dengan pakaian yang tadi pagi dia pakai. Setelah berkemas, Bagas pun meninggalkan ruangannya untuk keluar dari kantornya itu.


***


Waktu sudah menunjukkan jam 21.50 menit. Adibrata masih berada di dalam ruangan kerja di rumahnya. Sampai saat ini belum terlihat kedatangan Bagas di rumahnya itu.


Ddrrtt ddrrtt


Adibrata menoleh ke arah ponsel di meja kerjanya. Dia mengambil ponsel tersebut dan mengecek pesan masuk di ponsel miliknya itu.


" Selamat malam, Tuan. Maaf mengganggu. Mobil Mas Bagas baru saja keluar dari kantor, Tuan."


Sebuah pesan masuk dari Dahlan mengabarkan aktivitas yang dilakukan oleh Bagas hari ini. Sebelumnya orang suruhan Adibrata lainnya juga sudah mengabari aktivitas Bagas siang tadi yang datang ke sebuah cafe. Bahkan orang suruhan Adibrata itu langsung masuk ke dalam cafe, untuk mengetahui apakah Bagas datang ke sana untuk sekedar makan siang atau berjumpa dengan seseorang di sana. Dari orang suruhannya itu Adibrata mengetahui jika Bagas di cafe itu bertemu dengan pemilik cafe tersebut. Namun, orang suruhan Adibrata itu tidak tahu apa yang dilakukan atau dibicarakan oleh Bagas dengan pemikik cafe itu.


Sebenarnya, Dahlan juga menginformasikan kepada Adibrata jika Bagas menyambangi cafe tersebut, namun Dahlan bersikap pasif, tidak sampai masuk dan mencari tahu apa yang dilakukan Bagas di sana.


Adibrata langsung menyambungkan panggilan telepon kepada Dahlan setelah membaca pesan masuk tersebut.


" Selamat malam, Tuan." Dahlan dengan cepat mengangkat panggilan telepon dan menyapa Adibrata.


" Dahlan, besok tolong kamu cek di KUA, apakah Bagas sudah mendaftarkan rencana pernikahannya di sana. Karena dia berniat melakukan pernikahan Minggu depan dengan wanita itu! Kabari secepatnya, saya tidak ingin sampai pernikahan itu sampai terjadi!" Adibrata langsung memerintah Dahlan untuk mengecek di Kantor Urusan Agama, untuk mencari informasi apakah putranya itu benar akan menikah Minggu depan atau hanya gertakan Bagas semata.


" Baik, Tuan." sahut Dahlan cepat. Dahlan tidak mungkin menentang apa yang diperintahkan kepadanya, walaupun dia tetap berusaha melindungi Bagas.


" Oh ya, apa kau tahu siapa pemilik cafe yang didatangi oleh Bagas siang tadi?" tanya Adibrata kemudian.


" Saya tidak tahu, Tuan. Memangnya kenapa dengan pemilik cafe itu, Tuan?" tanya Dahlan kemudian.


" Tidak apa-apa, kau kerjakan saja apa yang saya perintahkan tadi." Adibrata mengurungkan niatnya memberi perintah kepada Dahlan, karena dia merasa orang suruhannya itu lambat dalam bergerak dan tidak memberikan informasi yang akurat kepadanya.


" Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan," jadwab Dahlan saat Adibrata terdengar enggan berkata banyak padanya soal pemilik cafe yang didatangi oleh Bagas siang tadi.

__ADS_1


Setelah mengakhiri percakapan telepon dengan Dahlan, Adibrata segera menghubungi Hamid, orang kepercayaannya. Anak buah Hamid lah yang menguntit Bagas selain Dahlan, karena Adibrata mulai meragukan kerja Dahlan yang dinilainya mulai lambat.


" Selamat malam, Tuan Adibrata. Apa ada yang harus saya kerjakan malam ini?" tanya Hamid saat menjawab panggilan telepon masuk dari Adibrata.


" Hamid, tolong kau cari tahu pemilik cafe yang dikunjungi putra saya. Saya ingin tahu apa yang dibicarakan Bagas dengan dia. Tolong informasikan secepatnya kepada saya. Saya tunggu besok siang laporannya sudah masuk ke saya!" Adibrata memilih menyuruh Hamid agar memberi tugas anak buah Hamid mencari informasi soal pemilik cafe yang didatangi oleh Bagas siang tadi.


" Baik, Tuan. Saya akan atur orang malam ini juga ke sana." Hamid cepat merespon, karena cafe buka sampai malam, dia berharap anak buahnya yang akan dia kerahkan dapat memperoleh informasi secepatnya.


" Bagus kalau malam ini juga anak buahnya bisa memberi informasi kepada saya." Adibrata merespon positif kinerja Hamid yang lebih cekatan dan gesit daripada Dahlan dan Taufan.


" Baik, Tuan." sahut Hamid meyakinkan.


Adibrata segera mengakhiri percakapan telepon dengan Hamid setelah mendapat jawaban meyakinkan dari Hamid.


" Kamu ingin main-main dengan Papa, Bagas? Papa pastikan pernikahanmu dengan wanita miskin itu tidak akan pernah terjadi!" seringai di sudut bibir Adibrata terlihat samar. Dengan percaya diri dia memastikan jika dia akan dapat menghalangi rencana pernikahan putranya dengan Indhira.


Segala upaya akan Adibrata lakukan untuk membatalkan pernikahan Bagas. Dia tidak sudi jika anaknya mendapatkan istri dari keluarga yang tidak setara dengan keluarganya.Terlebih, Indhira adalah wanita yang berkasus kala itu dengan Bagas sampai kasus video viral itu beredar di publik beberapa waktu silam. Bagi Adibrata, sosok Indhira sudah membawa pengaruh buruk pada anaknya itu.


***


Keesokan paginya, sekitar jam setengah sembilan, Indhira sudah sampai di rumah Raffasya. Tidak seperti biasanya, ketika sampai di rumah itu, dia melihat Azkia nampak sudah rapih menunggunya di sofa di ruangan tamu rumahnya.


" Assalamualaikum, Bu." Indhira sampai melirik ke arah jam di pergelangan tangannya untuk memastikan jika dirinya tidak telat.


" Waalaikumsalam, masuk, Ra." Azkia menyuruh Indhira masuk, karena melihat wanita itu nampak ragu, apalagi sampai melirik arlojinya.


" Kamu tidak telat, kok, Ra. Aku memang sudah bersiap sejak tadi." Azkia lalu bangkit dari sofa.


" Kita berangkat sekarang, yuk! Aku mau mengajak kamu ke rumah mertuaku." Azkia lalu menyuruh Indhira membawa barang-barang yang diperlukannya.


" Baik, Bu." Azkia membawa tas kerja Indhira, tanpa mengira jika sebenarnya Azkia ingin mengenalkan dirinya dengan mertua Azkia itu karena Azkia dan Raffasya berniat menitipkan dirinya ke rumah mertua Azkia sementara waktu sampai Bagas menikahi Indhira.


" Saya, Bu." Sus Ina terlihat menuruni anak tangga dengan menggandeng tangan Zehan.


" Zehan, ayo ikut Mama ke rumah Oma." Azkia segera menyambut anaknya.


" Mau ke rumah Oma?Asiiikk ..." sambut Zehan yang sudah berusia empat tahun itu dengan bersukaria.


" Sini, Zehan sama Mbak Indi." Indhira tersenyum melihat bocah kecil itu terlihat bersorak kegirangan. Dia lalu mengulurkan tangannya agar Zehan mau digandeng olehnya.


Zehan pun meraih tangan Indhira dan melepas tangannya dari genggaman tangan Azkia.


" Zehan mau sama Mbak Indi, Ma." ucap bocah itu kemudian.


" Hmmm, masih kecil sudah pintar pilih yang cantik-cantik!" Azkia memutar bola matanya menanggapi sikap putranya itu, seraya berjalan ke luar untuk mengambil mobilnya.


Indhira terkekeh menanggapi ucapan Azkia yang seakan protes dengan pilihan Zehan yang memilih bersama dirinya daripada bersama dengan Mamanya.


Sekitar Empat puluh menit kemudian, mobil yang kendarai oleh Azkia sampai di rumah keluarga orang tua Raffasya.


" Assalamualaikum ... Omaaa ... ini ada Zehan datang, lho!" Saat Bi Junah membukakan pintu untuk Azkia, wanita itu langsung berseru memanggil Mama dari suaminya itu.


" Waalaikumsalam, eh, ada cucu Oma yang ganteng." Lusiana langsung menyambut Zehan terlebih dahulu seraya merentangkan tangan dan memyambut tubuh Zehan lalu menghujani dengan kecupan di pipi bocah itu. " Tambah berat kamu, Nak. Sehat-sehat selalu ya, cucu Oma. Kamu gimana, Kia? Masih merasa mual-mual, tidak?" Kali ini Lusiana bergantian memeluk Azkia seraya mengusap perut Azkia.


Pemandangan hangat antara menantu, mertua dan cucu itu membuat hati Indhira bergetar. Sungguh suatu hubungan ideal yang sangat di idam-idamkan setiap wanita seperti dirinya. Sebentar lagi dirinya akan menikah, entah apakah dia juga bisa mendapatkan kehangatan dari orang tua Bagas seperti Azkia dan Mama mertuanya itu.


Indhira tidak ingin berandai-andai. Dirinya bukanlah wanita yang terlahir dari keluarga kaya raya seperti Azkia. Tentu tidak mudah baginya untuk mendapatkan pengakuan seperti yang Azkia dapatkan dari Mama mertuanya.

__ADS_1


" Oh ya, Ma. Kenalkan ini Indhira yang kemarin kami ceritakan."


Suara Azkia yang terdengar membuat Indhira yang sedang tercenung seketika tersadar jika saat ini dia sedang berada di antara banyak orang dan tidak sendirian.


" Oh, halo, Tante ... saya Indhira." Indhira memperkenalkan dirinya kepada Mama mertua Azkia..


" Hai, Indhira ..." Lusiana membalas sapaan Indhira. " Jadi ini, karyawan kamu yang ingin dititipkan di sini?" tanya Lusiana kemudian.


Perkataan Lusiana membuat Azkia dan Indhira terbelalak, terutama Indhira. Dia tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Lusiana tadi. Dititipkan? Memangnya siapa yang ingin dititipkan di rumah ini? Hati Indhira bertanya-tanya.


" Ma ..." Azkia langsung menegur Lusiana, agar Mama mertuanya itu tidak keceplosan bicara.


" Lho, benar, kan? Katanya kamu mau kasih karyawan kamu untuk menemani Mama sementara waktu di sini sampai pegawai Mama kembali." Lusiana langsung mengalihkan maksud dari perkataannya.


" Hmmm, Kia belum sempat bicara sama Indhira nya, Ma. Takut dia nya keberatan." Azkia pun mulai menjalankan sandiwara yang dimulai oleh Mama mertuanya itu.


" Harus mau, dong, Indhira! Kamu mau 'kan menemani Tante di sini?" Walau berwatak keras, namun Lusiana termasuk orang yang sangat terbuka terhadap siapa saja, termasuk terhadap Rosa, anak perempuan suaminya dari wanita lain setelah bercerai dengannya.


Indhira mengerutkan keningnya. Dia semakin tidak mengerti dengan sikap Lusiana yang seakan memaksanya untuk tinggal di rumah itu, sementara Azkia sendiri belum mengatakan apa-apa kepadanya.


" Sus, bawa Zehan ke kamar anak-anak." Azkia menyuruh Sus Ina untuk membawa Zehan naik ke kamar anak-anak di rumah Opa dan Oma nya, karena dia ingin berbicara dengan Mama mertuanya.


" Baik, Bu." sahut Sus Ina mengerti. " Ayo, Zehan kita ke kamar." Sus Ina mengajak Zehan naik ke kamar anak-anak yang ada di lantai atas.


" Hmmm, begini, lho, Ra. Jadi Mama Lusi ini butuh Aspri di sini selama beberapa hari, paling hanya satu Minggu ini, soalnya Aspri Mama sedang pulang kampung. Lalu aku tawari kamu untuk menemani Mama beberapa hari ini. Kamu bisa tidak, Ra?" tanya Azkia menjelaskan maksud perkataan Mama mertuanya agar Indhira tidak merasa curiga.


" Hmmm, saya harus bicara dulu dengan orang tua Rissa ya, Bu. Soalnya saya tidak enak, saya juga harus meninggalkan Tante Sandra juga." Indhira merasa berat menerima karena dia tidak enak hati terhadap orang tua Rissa.


" Ya sudah, kamu bicara saja dulu. Nanti kalau perlu saya bicara ke Pak Adam agar bicara ke mertua dia." Azkia sampai mengatakan akan meminta tolong kepada Adam.


" J-jangan, Bu! Biar saya sendiri saja." Indhira melarang Azkia yang ingin meminta bantuan Adam untuk bicara kepada mertua Adam.


" Ya sudah, nanti kamu cepat kasih keputusan ya, Ra!?" Azkia merasa yakin orang tua Rissa akan mengijinkan, karena pagi tadi Bagas sudah mengabari jika orang tua Rissa sudah tahu akan rencana Bagas yang akan menitipkan Indhira di tempat yang aman.


***


Adibrata baru selesai melakukan zoom meeting dengan para direktur di beberapa cabang perusahaan di luar pulau dari ruangannya. Dia lalu mengambil telepon genggam yang sedari tadi bergetar. Adibrata melihat nomer telepon Hamid yang menghubunginya beberapa kali. Adibrata pun segera melakukan panggilan telepon kepada anak buahnya itu.


" Selamat siang, Tuan Adibrata."


" Bagaimana, Mid? Sudah dapat informasi tentang pemilik cafe itu?" Adibrata rasanya tidak sabar mendengar kabar tentang pemilik cafe itu dan hubungan dengan Bagas.


" Sudah, Tuan. Pemilik cafe tersebut bernama Raffasya. Selain cafe itu, dia mempunyai satu cafe yang cukup terkenal dan lebih besar dari cafe yang dikunjungi oleh Tuan Bagas. Dan cafe itu banyak diminati orang untuk menyelenggara event-event seperti pesta pernikahan, pertunangan, ulang tahun dan event-event lainnya, Tuan. Besar kemungkinan, Tuan Bagas datang ke cafe milik Raffasya adalah untuk menyewa tempat bagi acara wedding party Tuan Bagas, Tuan." Hamid menjelaskan kemungkinan yang menyebabkan Bagas datang ke cafe milik Raffasya tersebut.


" Pernikahan itu tidak akan terjadi, Hamid! Saya pastikan jika pernikahan itu tidak akan pernah ada!" tegas Adibrata memastikan.


" Saya harap juga begitu, Tuan. Lalu, sekarang apa lagi yang harus lakukan terhadap pemilik cafe itu, Tuan?" Hamid menanyakan tugas yang harus dia kerjakan selanjutnya.


" Kau cari informasi apa benar Bagas berniat menyewa tempat itu sebagai tempat resepsi. Kalau memang benar, buatlah pemilik cafe itu mau bekerja sama dengan kita. Suruh dia menerima tapi di hari H, batalkan acaranya. Kalau pihak cafe menolak, tawarankan uang pengganti senilai sepuluh kali lipat dari biaya acara resepsi di cafe itu!" Entah terbuat dari apa hati dan pikiran Adibrata. Bahkan dia juga mencoba mempengaruhi pihak cafe untuk mengacau di hari H jika Bagas benar menyewa cafe milik Raffasya.


" B-baik, Tuan. Akan saya atur untuk itu." Walaupun agak bingung dengan permintaan Adibrata, namun Hamid tetap mengiyakan apa yang diperintahkan majikannya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading❤️


__ADS_2