
Rissa merasa penasaran dengan ucapan Mamanya yang mengatakan jika dia telah salah paham menangkap maksud perkataan kedua orang tuannya semalam, hingga dia ikut menyusul Mamanya dan Indhira ke dapur
" Ma, maksud Mama apa?" Rissa masih menuntut jawaban dari Mamanya itu, karena dia masih belum paham.
" Semalam itu Mama berdiskusi sama Papa kamu. Tadinya Papa sama Mama berencana menawarkan kepada Indhira untuk ikut bekerja dengan Tante kamu di Semarang." Ibu Lidya menceritakan rencananya yang dibuat olehnya dan suaminya kepada Rissa juga Indhira.
" Maksud Mama, Indhira bekerja di salon milik Tante Sandra?" Rissa terlihat kaget dengan rencana kedua orang tuanya itu. Rissa ingat jika Tantenya itu memang mempunyai usaha salon studio di kota Semarang.
" Iya," sahut Ibu Lidya menganggukkan kepalanya.
" Iiihh, jangan deh, Ma! Tante Sandra itu 'kan istri simpanan, nanti Indhira malah diajarin jadi istri simpanan sama Tante Sandra lagi." Rissa menanggapi rencana kedua orang tuanya itu.
" Hush, kamu ini jangan ngaco, deh! Jangan berburuk sangka sama Tante kamu sendiri! Tante kamu itu tidak mungkin menjerumuskan orang lain seperti itu!" Ibu Lidya menasehati Rissa agar tidak berpikiran negatif terhadap Tantenya sendiri.
" Hehehe, maaf, Ma." Rissa memeluk Ibu Lidya dari samping menunjukkan hubungan harmonis antara Ibu dan anak.
Apa yang ditunjukkan oleh Rissa dan Mamanya membuat hati Indhira pilu. Seandainya saja saat ini Mamanya masih ada, mungkin dia juga akan merasakan kehangatan yang sama. Seketika itu juga Indhira merasakan kerinduan yang mendalam pada dua orang tuanya.
" Kamu gimana, Ra? Mau tidak ikut kerja di salon punya Tanteku? Tanteku orang baik, kok!"
Indhira seketika terkesip saat Rissa bertanya kepadanya yang sedang termenung.
" Hmmm, tapi aku tidak punya keahlian apa-apa untuk bekerja di salon, Ris." Walaupun dia ingin menerima tawaran untuk bekerja di salon. Tapi, dia merasa tidak punya keahlian di bidang itu.
" Kamu bisa belajar, Indhira. Nanti juga kamu akan dilatih di sana." Ibu Lidya mencoba menyemangati Indhira agar tetap percaya diri dan tidak berkecil hati.
" Tantenya Rissa itu tinggal berdua saja dengan anaknya yang berumur lima tahun. Suaminya orang Singapura, dan hanya pulang tiga bulan sekali. Jadi nanti kamu di sana tinggal di rumahnya Tantenya Rissa, biar mereka ada yang menemani," tutur ibu Lidya kemudian.
" Dan juga Tante rasa, kamu juga sebaiknya pergi menjauh dari Jakarta, Indhira. Agar kamu tidak bertemu dengan keluarga Tante kamu lagi. Kalau kamu tetap di Jakarta, kemungkinan kamu bertemu dengan mereka lebih besar ketimbang jika kamu di luar Jakarta." Ibu Lidya meyakinkan agar Indhira tidak ragu menerima tawaran bekerja di salon milik Sandra, adiknya.
" Tante, Rissa, terima kasih banyak atas bantuannya. Saya tidak tahu harus membalas dengan apa kebaikan Tante dan keluarga Tante." Di tengah kesedihannya, Indhira merasa bersyukur, masih ada orang-orang yang mendukungnya.
" Yang penting kamu bisa terus menjalani hidup, Indhira. Kamu masih sangat muda. Perjalanan kamu ke depannya masih sangat panjang. Kesalahan yang kamu lakukan di masa lalu jangan kamu jadikan alasan untuk tidak memperbaiki diri kamu. Setiap masalah yang kita terima, pasti akan ada hikmahnya."
" Allah SWT tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umat-Nya. Jadi percayalah, kamu pasti bisa menghadapi permasalahan kamu ini dengan baik. Berserah diri dan tidak patah semangat, Insya Allah ... Allah SWT pasti akan membantumu." Tak lupa Ibu Lidya pun memberikan wejangan kepada Indhira.
" Iya, Tante."
" Ya sudah, kamu bantu Tante masak sekarang. Dari tadi kita mengobrol terus, nanti sarapannya telat matangnya." Ibu Lidya menyudahi perbincangan soal masalah yang menimpa Indhira dan fokus menyiapkan menu sarapan untuk keluarganya dan Indhira.
***
" Ada siapa, Mbok Nah?" Bagas yang berjalan menuruni anak tangga berpura-pura tidak tahu jika ada yang datang berkunjung ke rumahnya, padahal sebelumnya, Ibu Tika sudah memberikan kabar jika dia akan meluncur ke rumah Adibrata untuk mengambil kartu ATM milik Bagas yang akan diserahkan kepada Indhira.
" Ada gurunya Den Bagas. Katanya mau bertemu dengan Aden." Mbok Nah menjelaskan siapa yang datang ke rumah kediaman majikannya itu.
" Guru aku, Mbok Nah?" Bagas menunjuk ke arah dadanya sendiri.
" Benar, Den." jawab Mbok Nah.
Bagas bergegas melangkah ke arah ruangan tamu rumahnya, di mana Ibu Tika sedang duduk menunggu di sofa.
" Bu ..." Bagas menyapa Ibu Tika. Dia menghampiri Ibu Tika lalu menyalaminya dan menyerahkan kartu ATM itu secara sembunyi-sembunyi kepada Ibu Tika. Karena dia melihat salah satu boduguard yang menjaganya mengikuti Ibu Tika sampai ke ruang tamu.
" Bagaimana kabar kamu Bagas?" Ibu Tika menanyakan kondisi Bagas saat ini. Walaupun masih terlihat tampan, akan tetapi Ibu Tika dapat melihat wajah frustrasi yang terpancar dari muka Bagas.
" Ya, seperti inilah, Bu. Seperti tahanan," jawab Bagas sengaja meninggikan suaranya seraya melirik ke bodyguard yang masih menunggu di ruang tamu. " Silahkan duduk dulu, Bu." Bagas mempersilahkan Ibu Tika untuk kembali duduk.
" Kamu harus sabar, Bagas. Ini resiko yang harus kamu hadapi karena kesalahan kamu kemarin. Makanya ke depannya kamu harus lebih hati-hati dalam bertindak. Pikirkan resiko yang akan terjadi atas tindakan yang akan kamu perbuat, agar tidak merugikan kamu dan orang lain juga." Ibu Tika menasehati Bagas agar muridnya itu bisa menjadi lebih baik ke depannya.
__ADS_1
" Iya, Bu." balas Bagas. " Ngomong-ngomong, kapan saya bisa kembali bersekolah, Bu?" tanya Bagas kemudian.
" Soal itu masih sedang dibicarakan lagi, Bagas. Tapi, kamu juga harus siap menghadapi teman-teman kamu nanti. Walaupun video itu sudah di take down bukan berarti itu akan dilupakan begitu saja oleh teman-teman kamu." Bukan bermaksud menakuti. Namun, Ibu Tika mengatakan segala kemungkinan yang akan dihadapi oleh Bagas karena kasus video viral itu.
" Iya, Bu. Saya paham." Bagas pun mengerti apa yang dimaksud oleh gurunya itu.
" Ibu berharap apapun yang terjadi dengan kamu akihat kasus ini tidak menurunkan prestasi kamu, Bagas." Ibu Tika khawatir konsentrasi Bagas dalam mengikuti pelajaran akan terganggu dengan adanya kasus ini.
" Saya berusaha akan sebaik mungkin mengikuti pelajaran nanti," sahut Bagas, walau dia merasakan akan ada yang hilang dengan tidak adanya Indhira di kelas nanti.
" Ibu tidak bisa lama, Bagas. Ibu ingin pamit. Ibu hanya ingin melihat bagaimana kondisi kamu." Ibu Tika berniat berpamitan setelah mendapatkan kartu ATM beserta nomer PIN nya dari Bagas.
" Kok, buru-buru sekali, Bu?" Bagas berbasa-basi agar bodyguard nya itu tidak curiga.
" Ibu masih ada keperluan lagi setelah ini." Keperluan yang dimaksud oleh Ibu Tika tentu saja mengantarkan kartu ATM Bagas kepada Indhira.
" Oh begitu, ya sudah ... terima kasih Ibu sudah mengunjungi saya di rumah, Bu." Bagas kembali menyalami Ibu Tika.
" Sama-sama, Bagas. Kamu harus tetap semangat, ya!?" Ibu Tika mengusap lengan Bagas, karena dia tahu jika saat ini Bagas pun sedang mengalami tekanan akan rasa bersalahnya terhadap Indhira.
" Salam saya untuk Indhira ya, Bu!?" Bagas sempat berbisik kepada Ibu Tika yang dibalas anggukkan kepala Ibu Tika.
" Ibu pamit, ya!? Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam, hati-hati, Bu!"
Ibu Tika pun berjalan ke arah mobilnya dan segera meninggalkan rumah orang tua Bagas untuk menuju rumah Indhira.
Kurang lebih empat puluh lima menit waktu yang dihabiskan Ibu Tika untuk sampai di rumah Indhira, hingga kini dia sudah berdiri di depan pintu rumah Indhira.
Setelah beberapa kaki mengetuk pintu dan mengucap salam akhirnya pintu rumah Indhira dan menampakkan sosok Tante Marta yang muncul dari bakik pintu.
" Waalaikumsalam, mau ada perlu apa lagi Ibu datang ke sini?!" tanya Tante Marta dengan nada ketus. Sudah pasti kaburnya Indhira dan pemu kulan yang dialami oleh suaminya membuat Tante Marta menjadi kesal dengan Indhira. Apalagi saat ini muncul guru dari Indhira mengatakan ingin bertemu dengan Indhira.
" Saya ingin bertemu dengan Indhira, Bu." Agak aneh sambutan Tante Marta pada dirinya, namun Ibu Tika tetap berkata dengan bahasa yang sopan.
" Indhira itu 'kan sudah dikeluarkan dari sekolah, untuk apa lagi Ibu temui dia!?" Tante Marta beralasan dan menghalangi niat Ibu Tika karena dia takut Ibu Tika akan tahu jika Indhira kabur semalam.
" Benar, Bu. Indhira memang sudah dikeluarkan dari sekolah. Tapi, saya ingin membantu Indhira untuk melanjutkan pendidikannya dengan mengikuti sekolah paket C, Bu." Ibu Tika beralasan ingin memberikan program belajar non formal kepada Indhira seperti yang dia tawarkan kepada Indhira beberapa waktu lalu.
" Ck, sekolah seperti itu pasti akan keluar biaya lagi!" Tante Marta berusaha menolak tawaran program pendidikan yang ditawarkan oleh Ibu Tika.
" Saya bisa bicara sebentar dengan Indhira nya, Bu. Sayang sekali kalau tidak diambil, karena itu bermanfaat supaya Indhira mempunyai ijazah setara SMA, Bu." Ibu Tika yang mendapat tugas menyerahkan kartu debit milik Bagas kepada Indhira bersikeras ingin bertemu dengan Indhira.
" Bu, saya bilang Indhira tidak butuh itu! Lagipula Indhira sibuk, tidak punya waktu untuk mengikuti itu!" Tante Marta kesal, karena Ibu Tika terkesan memaksa.
" Indhira sibuk apa memangnya, Bu?" tanya Ibu Tika curiga. " Apa Indhira bekerja? Bekerja apa?" tanyanya lagi karena penasaran.
" Indhira sibuk mengerjakan pekerjaan rumah!" Tante Marta tidak punya alasan lain selain mengatakan hal tersebut.
" Saya hanya ingin bicara sebentar kok, Bu! Tolong ijinkan saya bertemu dengan Indhira. Saya ingin memastikan jika Indhira baik-baik saja!" Sebenarnya Ibu Tika sudah sangat kesal dengan sikap Tante Marta, tapi dia harus mengontrol emosinya.
" Saya bilang tidak bisa, ya tidak bisa! Ibu jangan memaksa, dong!" geram Tante Marta dengan suara tinggi.
" Bu, saya datang ke sini dengan maksud baik-baik, ya! Kalau Ibu melarang saya bertemu dengan Indhira, saya curiga ada sesuatu yang Ibu sembunyikan dari saya soal Indhira!" Ibu Tika mulai mengendus sesuatu yang tidak baik karena Tante Marta tetap tidak mengijinkan dirinya bertemu dengan Indhira.
" Ibu jangan menuduh yang tidak-tidak, ya!" sanggah Tante Marta kesal.
" Ada apa sih, Ma? Kok ribut-ribut?" Om Ferry tiba-tiba muncul dari dalam. Om Ferry memang tidak kerja hari ini karena Bosnya melarangnya berangkat bekerja beberapa hari ini.
__ADS_1
" Ini, Pa. Ada gurunya Indhira maksa ingin bertemu dengan Indhira malah nuduh yang tidak-tidak pada kita!" Tante Marta mengadukan sikap Ibu Tika kepada sang suami.
" Maaf, Pak. Saya hanya ingin bertemu dengan Indhira sebentar saja. Saya juga ingin menawarkan Indhira untuk ikut program belajar paket C agar dia mempunyai ijazah. Kalau Bapak dan Ibu keberatan soal biaya, biar saya yang tanggung biayanya, yang penting Indhira bisa mengikuti pelajaran secara tuntas dan mendapatkan ijazah setara SMA yang dapat dia pakai untuk mencari pekerjaan, Pak." Ibu Tika menjelaskan maksud kedatangannya kepada Om Ferry agar Om Ferry dapat mengerti dengan niat baiknya.
" Indhira tidak perlu hal itu! Anaknya juga sudah kabur entah ke mana!" Jawab Om Ferry dengan nada menyentak membocorkan apa yang sejak tadi istrinya tutupi.
Kalimat dengan nada tinggi yang diucapkan Om Ferry sontak membuat Ibu Tika terkejut, bukan dari nada tingginya, akan tetapi dari perkataannya yang menyebutkan jika Indhira kabur.
" Astaghfirullahal adzim!! Indhira kabur? Kabur ke mana, Pak?" Rasa khawatir mulai menghinggapi hati Ibu Tika mengetahui jika Indhira pergi dari rumah.
" Mana saya tahu! Anak itu menyusahkan saja!" gerutu Om Ferry dengan mendengus kesal, karena dengan kaburnya Indhira, dia justru mendapat masalah dari bosnya.
Ibu Tika sempat mendengar cerita dari Rissa jika Indhira sempat diusir dari rumahnya. Hal itu membuat Ibu Tika tidak percaya begitu saja jika Indhira kabur dari rumahnya.
" Maaf, Bapak Ibu ini bukan mengusir Indhira, kan?" Ibu Tika sampai menanyakan hal tersebut karena dia tidak tahan melihat kelakuan sepasang suami istri di hadapannya saat ini.
" Hei, Ibu jangan sembarangan menuduh, ya!!" Wajah Om Ferry seketika memerah karena emosi mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh Ibu Tika.
" Maaf, Pak. Bukannya saya bermaksud menuduh. Tapi menurut teman Indhira yang pernah datang kemari, dia pernah dilarang bertemu dengan Indhira dan Ibu ini mengatakan jika Indhira sudah dia usir. Saya rasa sikap dan ucapan Ibu ini dengan mengatakan mengusir Indhira itu bukanlah hal yang baik dan pantas untuk diucapkan sebagai wali murid. Apalagi ini adalah rumah orang tua Indhira sendiri." Ibu Tika menjelaskan kenapa dia mempunyai dugaan seketika itu.
" Sebaiknya Ibu pergi saja dan jangan ganggu kami!" hardik Om Ferry menarik lengan Tante Marta masuk ke dalam rumah dan menutup kencang pintu rumah itu
Braakkk
" Astaghfirullahal adzim!!" Ibu Tika memegangi dadanya mendengar suara pintu di tutup secara kasar. Dia hanya geleng-gekeng kepala mendapati sikap buruk kedua orang wali murid Indhira itu.
Ibu Tika langsung kembali ke dalam mobilnya dan segera memberitahu Bagas soal Indhira yang menurut Om Ferry dan Tante Marta kabur dari rumah.
Ibu Tika memang tidak diberitahu Rissa soal Indhira yang saat ini ada di rumahnya. Karena Indhira meminta Rissa untuk menyembunyikan hal tersebut dari siapa pun juga termasuk Ibu Tika. Apalagi Indhira akan pergi ke luar kota Jakarta, sebaiknya tidak ada yang mengetahui itu selain keluarga Rissa sendiri.
***
Ddrrtt ddrrtt
Bagas mendengar suara ponselnya berbunyi, dengan cepat dia mengangkat panggilan telepon itu karena nama Ibu Tika lah yang muncul di layar ponselnya saat ini.
" Halo, bagaimana, Bu? Apa Ibu sudah bertemu Indhira? Apa dia mau menerima kartu ATM nya, Bu" Bagas dengan cepat mengangkat panggilan telepon Ibu Tika, karena Bagas pun ingin tahu kabar terbaru tentang Indhira dari gurunya itu.
" Maaf, Bagas. Ibu tidak berhasil menemui Indhira. Karena Ibu dilarang oleh Tantenya untuk bertemu," Suara Ibu Tika terdengar menyesal karena gagal menjalankan misinya untuk membantu Indhira.
" Berani sekali Tantenya melarang Ibu bertemu dengan dia!" geram Bagas kesal. Bagas tidak menyangka jika Tante Marta pun berani berlaku buruk pada Ibu guru bukan kepadanya atau Rissa saja.
" Menurut Om nya Indhira kabur dari rumah Bagas." Ibu Tika menyebutkan kabar lainnya yang membuat Bagas tersentak.
" Apa?? Indhira kabur??" Sama seperti Ibu Tika saat mendengar kabar Indhira kabur, Bagas pun terkejut mengetahui hal itu.
" Om nya bilang begitu, Bagas. Tapi, Ibu tidak yakin jika Indhira kabur, dia tidak mungkin kabur dari rumahnya kecuali dia diusir." Ibu Tika menduga jika Indhira itu diusir dari rumahnya oleh Om dan Tante dari Indhira.
" Ya Tuhan, sekarang Indhira di mana ya, Bu?" Bagas mengusap kasar wajahnya. Rasa cemas begitu menguat di hati Bagas mengetahui Indhira sudah tidak ada lagi di rumahnya saat ini. Jika saja dia bisa keluar rumah, dia akan mencoba menyusuri jalan mencari keberadaan Indhira. Dia pasti akan berusaha keras menemukan Indhira. Namun, dia tidak mampu berbuat apa-apa.
Tanpa terasa setitik air mata menetes di pipinya. Bagas merasa sangat bersalah. Hatinya pun terasa pilu melihat penderitaan yang saat ini dialami oleh Indhira karena perbuatannya itu.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading❤️