
Indhira hendak menuju ke dapur karena terbangun dan merasakan haus, namun dia melihat Angel yang terlihat gelisah berjalan mondar-mandir di ruang makan. Indhira tidak tahu apa yang membuat Mama mertuanya itu nampak gelisah.
" Ma, Mama belum tidur?" tanya Indhira pada Angel.
" Oh, kamu, Ra." Angel terlihat kaget saat mendengar suara Indhira.
" Kenapa, Ma? Mama kelihatan gelisah sekali?" Indhira bahkan melupakan niatnya ke dapur untuk mengambil air untuk minum. Dia lalu menarik kursi dan meminta Mama mertuanya itu untuk duduk.
" Mama tidak apa-apa, kok, Ra." Angel menepis jika dirinya sedang gelisah.
" Ma, Mama bisa cerita ke Indi kalau Mama sedang memikirkan sesuatu." Indhira ingin menjadi pendengar yang baik jika Mama mertuanya ingin curhat tentang masalah yang sedang dipikirkan saat ini.
" Apa Mama sedang memikirkan Papa?" Indhira menebak apa yang membuat Angel gelisah.
Angel menoleh ke arah Indhira. Tak menduga jika Indhira tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
Angel mendengus kasar seraya mengusap wajahnya. " Mama bingung, Ra. Kalau kamu berada di posisi Mama, apa yang kamu lakukan?" tanya Angel minta pendapat Indhira. Menanyakan jika Indhira yang merasakan penghianatan.
" Naudzubillahi min dzalik, Ma. Jangan sampai saya mengalami itu." Indhira tidak ingin membayangkan berada di posisi Angel.
" Iya, sih. Jangan sampai kamu mengalami seperti Mama. Tapi, Mama yakin sama anak Mama, dia tidak akan seperti Papanya." Angel juga tidak ingin Indhira mengalami nasib seperti dirinya.
" Kalau saya boleh kasih pendapat, sebaiknya Mama berserah saja sama Yang Maha Kuasa, Ma. Berdoa, mohon petunjuk-Nya. Indi yakin, Allah pasti akan memberi petunjuk dan jalan keluar dari masalah yang sedang Mama hadapi saat ini. Seberat apa pun masalahnya, dengan berserah diri dan berdoa, Allah pasti akan bantu kita, Ma." Indhira menyebutkan cara paling ampuh jika dirinya merasakan masalah hidupnya terlalu berat dia rasakan.
Angel dibuat terkesima dengan saran yang diberikan oleh menantunya itu. Sungguh dia malu dengan ketaatan menantunya dalam beribadah, sangat berbeda dengan dirinya, yang sudah lama meninggalkan urusan dengan Tuhannya.
" Kamu benar-benar luar biasa, Indhira. Pantas saja Bagas begitu tergila-gila sama kamu." Angel kembali memuji menantunya itu, dan menganggap Indhira memang sangat pantas mendampingi putranya.
" Mama terlalu berlebihan. Apa yang saya sarankan itu adalah hal yang wajar, Ma." ucap Indhira merendah.
" Oh ya, kamu kenapa belum tidur, Ra? Jangan tidur malam-malam, Ra." Angel menasehati Indhira.
" Tadi sudah tidur tapi terbangun karena haus, Ma." jawab Indhira tersipu.
" Ya ampun, menangnya Bagas tidak menyediakan air mineral di kamar?" Angel lalu bangkit untuk mengambilkan botol air mineral untuk Indhira.
" Ini, bawa ke kamar saja. Terus buruan tidur lagi! Ibu hamil jangan begadang!" Nasehat Angel kembali.
__ADS_1
" Iya, Ma. Makasih. Mama juga tidur, jangan begadang!" Indhira berbalik menasehati Angel, lalu kembali ke kamar dengan membawa botol air mineral di tangannya.
***
Teettt
Indhira segera melangkah ke arah pintu apartemen saat bel apartemen berbunyi. Dia berpikir itu adalah driver yang mengantar pesanan makanan yang dia dan Angel pesan secara online
Teettt
Bel apartemen kembali berbunyi. Sepertinya driver yang mengantar makanan itu tidak sabar menunggu pintu dibuka.
" Iya, sebentar!" sahut Indhira, dia tidak tahu apakah suaranya itu terdengar akan tembus sampai keluar atau tidak.
Sesampainya di pintu, Indhira langsung menarik handle dan membuka pintu apartemen.
Indhira tersetak saat melihat sosok tinggi menjulang yang berdiri di hadapannya saat ini.
" P-Papa?" Hati Indhira seketika menciut saat mendapati sosok Adibrata yang saat ini ada di depannya.
" Mana Angel?" Adibrata langsung menerobos masuk ke dalam apartemen, tak mempedulikan keterkejutan Indhira yang melihatnya.
" Oh, s-sebentar, Pa." Indhira sedikit berlari ingin memanggil Angel. Namun langkahnya tertahan saat tangan kokoh Adibrata mencekal lengannya, membuat Indhuta tersentak.
Rasa takut kembali menyeruak dalam hati Indhira mendapati perlakuan Adibrata saat ini kepadanya.
" Hei, jangan berlari! Kamu ini sedang hamil!" Adibrata menegur Indhira yang dia anggap ceroboh dan bisa membahayakan janin di perut Indhira.
Indhira kembali tercengang, ternyata Adibrata bukan ingin memarahinya, namun menasehatinya agar dirinya tidak berbuat teledor.
" I-iya, Pa." Indhira benar-benar dibuat gugup dengan sikap Papa mertuanya yang berbanding terbalik dengan sikap Adibrata dulu kepadanya.
" Di mana Angel berada? Biar saya saja yang menemui Mama mertuamu." Adibrata melarang Indhira bergerak, dan ingin menemui Angel sendiri.
" Makanannya sudah sampai, Ra?" Dari arah pintu kamar Angel, wanita paruh baya itu muncul dan langsung terkesiap melihat keberadaan Adibrata di apartemen tempat dia tinggal bersama Bagas dan Indhira.
" Papa?" Bola mata Angel membulat mengetahui kehadiran Adibrata yang tidak dia duga.
__ADS_1
" Mau apa Papa kemari?" tanya Angel dengan melipat tangan di dada dan membuang muka tak ingin menatap sang suami.
" Papa kangen, Ma." Adibrata jujur mengungkap apa yang dirasakannya pada istrinya itu.
" Kenapa Papa tidak mendatangi ja lang itu saja!? Dia lebih muda, lebih cantik, lebih segar!" sindir Angel melampiaskan unek-uneknya.
" Angel, tolong jangan bahas hal itu lagi! Aku benar-benar menyesal telah melakukan hal itu." Adibrata mengungkap penyesalannya.
" Karena ketahuan makanya Papa menyesal, kan!? Kalau tidak ketahuan, Papa pasti masih berhubungan dengan ja lang itu!" Angel sudah mulai terisak.
" Angel, jangan bicara seperti itu." Adibrata mendekati Angel ingin memeluk tubuh istrinya itu.
" Aku tidak pernah melakukannya lagi, sekalipun hal itu tidak ketahuan olehmu, Angel." Adibrata mengatakan yang sejujurnya jika dia memang tidak pernah berniat meneruskan kesalahannya itu lagi bersama Kyle, karena dia akan kehilangan harta paling berharganya, yaitu keluarga.
Sementara Indhira merasa tidak enak berada di antara kedua mertuanya itu. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan dia menguping apa yang dibicarakan oleh Papa dan Mama dari suaminya itu dari kamarnya saja.
" Pa, Ma, maaf. Saya permisi dulu ..." Indhira berpamitan lalu meninggalkan Adibrata juga Angel. Karena dia juga ingin memberikan ruang untuk kedua mertuanya itu berbicara.
" Angel, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku. Kamu boleh hukum aku, apa pun itu, asal kamu tidak meminta kita berpisah." Adibrata mengatakan dirinya tidak akan sanggup harus berpisah dari Angel.
" Kamu boleh minta apa pun yang kamu mau Angel. Tapi, tolong jangan minta berpisah dariku." Adibrata memohon agar Angel mau memaafkannya.
" Papa yakin akan memberikan apa pun yang aku minta sebagai syaratnya?" Angel menatap sang suami, dia ingin memberikan tantangan sesuai apa yang suaminya itu ucapkan tadi.
" Iya, Angel. Katakan saja, aku pasti sanggup melakukannya. Kamu ingin aku menerima istri Bagas, aku akan terima. kamu ingin Bagas kembali bekerja di perusahaan kita, aku juga terima. Apa pun yang kamu minta akan akan aku penuhi Angel." Adibrata mengatakan siap menerima permintaan Angel.
" Baiklah kalau Papa menginginkan hal itu. Mama minta sembilan puluh sembilan persen harta milik Papa. Mama akan bagi harta itu untuk Mama, untuk Bagas dan istrinya, juga untuk Kartika. Papa cukup memiliki satu persen dari keseluruhan harta Papa agar Papa tidak bisa lagi bersenang-senang dengan wanita lain menggunakan harta Papa itu." Angel menyebutkan permintaannya kepada sang suami.
Apa yang diminta oleh Angel membuat Adibrata tercengang. Dia tidak menyangka jika Angel akan meminta harta miliknya.
" Gimana? Papa sanggup tidak memberikan apa yang Mama inginkan? Kalau Papa sanggup, Mama akan memaafkan Papa, tapi kalau Papa tidak sanggup, Mama tetap memilih untuk berpisah!" ancam Angel dengan menarik satu sudut bibirnya ke atas merasakan kemenangan dan membuat suaminya itu tidak berkutik.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️