
" Ra, kamu sudah mempersiapkan keperluan untuk pernikahan kamu?" tanya Azkia saat Indhira sedang menulis bilyet giro untuk pembayaran beberapa barang yang Minggu lalu datang.
" Besok rencananya Tante Lidya akan belanja keperluan untuk akad nanti, Bu." Indhira menghentikan menulis terbilang di bilyet giro, takut ada kesalahan penulisan karena dirinya harus menjawab pertanyaan Azkia.
" Saya juga sebenarnya mau minta ijin sama Ibu. Malam ini saya sudah mulai menginap di rumah Ibu Lusi, sementara hari Minggu saya harus menemami Tante Lidya belanja persiapan pernikahan saya, Bu." Rona merah seketika membias di wajah Indhira saat dia menyebut kata pernikahan dirinya kepada Azkia.
" Ya sudah, kalau kamu memang mau ada perlu untuk pergi berbelanja persiapan pernikahan kamu, nanti aku bantu bilang ke Oma nya anak-anak." Azkia tidak masalah dengan permintaan Indhira, sudah pasti Lusiana juga akan memberikan ijin kepada Indhira pergi.
" Terima kasih, Bu. Saya tidak enak sebenarnya. Selama ikut bekerja dengan Ibu, saya banyak merepotkan Bu Kia." Indhira menyadari, selama menjadi asisten pribadi Azkia, dia sering sekali melibatkan masalah pribadi di waktu kerja.
" Tidak apa-apa, Ra. Kamu itu 'kan mau menikah, jadi wajar kalau harus sibuk ini itu." Azkia pun memaklumi jika Indhira disibukkan dengan urusan mempersiapkan pernikahan.
" Oh ya, kamu sudah dapat salon belum? Mau pakai salon langgananku?" Azkia menawarkan salon langganannya untuk merias Indhira di hari pernihanannya nanti.
" Tidak usah, Bu. Ini hanya akad nikah sederhana saja, kok! Bukan pernihanan yang mewah." Indhira menolak ditawari salon langganan Azkia, karena selain dia memang tidak menggelar acara mewah, dia juga yakin harga salon langganan Azkia pastinya sangat mahal.
" Ra, biarpun hanya pernikahan sederhana, yang namanya moment pernihanan itu sakral, berharap moment ini hanya terjadi satu kali dalam hidup. Jadi kamu harus tampil cantik dan terlihat spesial, Ra. Apalagi suami kamu itu seorang pengusaha, jangan sampai asal saja milih MUA wedding." Azkia menasehati Indhira untuk tetap memperhatikan penampilan dalam moment istimewa Indhira nanti.
" Tenang saja, Ra. Kamu tidak usah mikir soal biaya salonnya, nanyi aku yang tanggung." Azkia mengira jika Indhira keberatan soal tarif salon langganan dirinya, sehingga dia berniat membayar biaya untuk salon dan MUA walaupun Azkia tahu, Bagas akan sanggup membayarnya.
" Tidak usah, Bu. Saya sudah terlalu sering merepotkan Bu Kia." Dengan cepat Indhira menolak karena dia benar-benar tidak ingin merepotkan Azkia berkali-kali.
" Kamu itu jangan selalu menolak rejeki, dong, Ra!" Azkia tidak suka ditolak oleh Indhira. " Ya sudah, nanti pulang dari butik sebelum ke rumah Mama Lusi, kita mampir ke salon itu. Terus kamu tinggal hubungi Bagas saja suruh datang ke sana juga, biar bisa pilih baju sekalian." Azkia tetap kukuh pada keinginannya dan memaksa Indhira untuk menurut dengan rencananya.
" Terima kasih banyak, Bu. Bu Kia sudah banyak membantu saya selama ini." Bola mata Indhira berkaca-kaca, karena merasa haru, masih banyak yang perduli dan sayang kepada dirinya.
" Ya sudah, kamu selesaikan nulis bilyet giromya, dan mana yang harus saya tanda-tangan." Setelah berbincang dengan, Azkia pun kembali ke meja kerjanya.
***
Adibrata memperhatikan rekaman cctv yang terhubung pada ruangan di depan ruang kerja putranya untuk memantau aktivitas Bagas, yang dia minta dari Zaenal, karena beberapa hari ini Bagas selalu telat pulang dari kantornya.
Tidak ada aktivitas mencurigakan yang terlihat dalam rekaman cctv tersebut, termasuk saat Bagas meminjam seragam office boy agar aman keluar dari kantor, karena Bagas sudah mengantisipasinya dengan memberi perintah untuk menghapus bagian saat dia pergi meninggalkan kantornya memakai seragam office boy.
Semua tangkapan kamera cctv yang terekam berjalan normal, hingga Adibrata melihat rekaman kemarin sore saat Bagas keluar kantor sekitar jam empat lewat. Bagas melepas blazer dan turun melalui lift dan baru kembali ke kantor tiga jam kemudian.
__ADS_1
Adibrata mengecek hasil rekaman di sekitar basement, untuk mengetahui ke mana perginya Bagas kemarin? Karena menurut laporan anak buahnya, mobil milik Bagas begerak ke luar kantor di atas jam delapan malam, lalu apa yang dilakukan selama tiga jam itu jika dia tidak pergi dari kantornya? Benar-benar mencurigakan, menurut Adibrata.
Sore harinya ...
Mobil ojek online yang dipesan oleh Bagas bergerak meninggalkan kantor Bagas. Bagas memang sempat meminta nomer telepon driver ojol yang kemarin, supaya dia dapat meminta bantuan driver itu mengantarnya pergi tanpa diketahui oleh orang suruhannya.
Saat ini Bagas ingin pergi ke salon seperti yang diminta Indhira siang tadi saat menghubunginya untuk mencoba pakaian untuk akad nanti. Tentu saja Bagas sangat antusias, karena mereka akan memilih baju untuk akad. Bagas juga rencananya ingin membeli cincin pernikahan mereka.
Saat mobil driver ojek online itu melintasi sebuah mobil berwarna dark grey, tak lama mobil berwarna dark grey itu pun mengikuti mobil ojek online yang membawa Bagas pergi.
" Halo, Pak Hamid. Saya sedang mengikuti mobil yang baru saja keluar dari kantor Tuan Bagas. Mobil itu baru masuk ke dalam kantor dan tak lama sudah keluar kembali dari kantor itu. Mobil itu adalah mobil yang sama seperti mobil yang membawa Tuan Bagas kemarin sore. Saya rasa mobil itu saat ini akan membawa Tuan Bagas pergi. Saya akan coba mengikuti ke mana mobil itu akan pergi." Malik, anak buah Hamid menjelaskan kepada Hamid, karena dia melihat mobil dengan nomer polisi yang sama seperti yang membawa Bagas kemarin, sesuai yang terlihat dari rekaman cctv.
Sebelumnya Hamid telah menyelidik mobil yang membawa Bagas yang terekam oleh cctv dari basement atas perintah Adibrata. Dan dari penyelidikkan Hamid diketahui jika Bagas menyewa mobil ojek online.
" Kau ikuti terus mobil itu, jangan sampai ketahuan kalau kau ikuti, Lik! Kabari secepatnya ke mana Tuan Bagas pergi!" Hamid mengintruksi anak buahnya untuk melakukan apa yang diperintahkan olehnya.
" Baik, Pak Hamid." Setelah menerima perintah dari Hamid, Malik pun segera menutup panggilan telepon dan kembali fokus pada mobil driver ojek online yang membawa Bagas pergi.
***
" Assalamualaikum, Bagas." Suara lembut Indhira langsung terdengar saat Bagas menelepon kekasihnya itu.
" Waalaikumsalam, Ra. Aku sudah sampai di salon, kamu di mana sekarang?" tanya Bagas. Indhira memang menyuruh Bagas langsung ke salon dan tidak usah menjemputnya, karena Indhira akan bersama Azkia ke salon itu.
" Kamu sudah sampai, ya? Aku masih di jalan, Bagas." sahut Indhira.
" Suruh tunggu saja di dalam, Ra. Temui Ci Lily saja! Bilang saja kenalanku, mau lihat baju untuk akad. Tadi aku sudah hubungi Ci Lily nya kalau mau ke sana, kok!" Suara Azkia terdengar di belakang suara Indhira, memerintah Bagas untuk menunggunya di dalam salon.
" Bagas, Bu Kia bilang, kamu masuk saja ke dalam hotel. Temui Ibu Lily, bilang saja kamu mau coba baju pengantin dari orang nya Bu Kia," lanjut Indhira kemudian.
" Ya sudah, kalau begitu aku tunggu di dalam salon, Ra. Assalamualaikum ..." Bagas memilih mengakhiri teleponnya dengan Indhira untuk masuk ke dalam salon.
" Waalaikumsalam ..." Suara lembut Indhira masih sempat terdengar di telinga Bagas.
" Bapak tunggu di sini saja, ya! Saya akan masuk ke dalam." Bagas mengintruksikan driver ojol menunggunya selama dia masuk ke salon.
__ADS_1
" Baik, Mas. Saya siap mengantar Mas nya ke mana saja tujuan Mas pergi." Rezeki besar yang didapat driver ojek online kemarin membuat driver itu bersemangat mengatar Bagas hari ini, ke mana pun Bagas inginkan.
" Setelah ini saya rencananya ingin ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan, Pak." Bagas menyampaikan rencana selanjutnya kepada driver ojol.
" Oh, siap, Mas!" tegas driver ojek online.
Bagas pun lalu turun dari mobil ojek online lalu berjalan memasuki bangunan salon tersebut.
" Selamat sore, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" Saat masuk ke dalam salon, Bagas langsung disambut oleh pegawai salon dengan ramah. Tentu saja kehadiran Bagas di salon itu cukup menyita perhatian pegawai dan juga pelanggan salon yang sedang melakukan perawatan di salon yang terlihat cukup besar dan banyak dikunjungi pelangan dari kalangan atas. Setidaknya, pengunjung yang datang ke salon itu rata-rata menggunakan mobil pribadi dan termasuk mobil-mobil mewah.
" Sore, Mbak. Saya janji bertemu orang di sini. Tapi mereka sedang dalam perjalanan kemari. Saya disuruh bertemu dengan Ibu Lily, apa saya bisa bertemu dengan beliau?" tanya Bagas, mengatakan maksud kedatangannya ke sana
" Tolong bilang saja, Bu Azkia yang meminta saya menemui Ibu Lily," Sesuai pesan yang disampaikan oleh Azkia saat dia menelepon tadi, Bagas lalu menyebutkan jika dia adalah salah satu kerabat Azkia, salah satu pelanggan rutin di salon tersebut.
" Oh, Bu Kia yang punya butik, ya, Mas? Sebentar saya bilang ke Bu Lily dulu." pegawai salon itu lalu meninggalkan Bagas untuk melaporkan kepada pemilik salon itu tentang kedatangan Bagas.
Sementara di luar bangunan salon, dari dalam mobilnya, Malik segera melaporkan posisi Bagas saat ini kepada Hamid.
" Bagaimana, Lik?" tanya Hamid, saat panggilan telepon Malik tersambung dengan Hamid.
" Saat ini Tuan Bagas berhenti di sebuah salon, Pak Hamid." jawab Malik cepat.
" Salon? Untuk apa Tuan Bagas pergi ke salon? Tidak mungkin Tuan Bagas ingin melakukan perawatan di sana sampai meninggalkan kantornya secara sembunyi-sembunyi 'kan, Lik!?" Hamid merasa aneh dengan kunjungan Bagas ke sebuah salon.
" Benar, Pak. Hal yang mungkin terjadi adalah ... Tuan Bagas bertemu dengan wanita itu, atau mungkin ingin membicarakan untuk persiapan pernikahan, karena salon ini juga menyewakan pakaian pengantin, Pak Hamid." Malik menjelaskan kemungkinan yang menyebabkan Bagas datang ke tempat itu.
" Oke, Lik. Kau pantau terus, Tuan Bagas. Kalau bisa kau selidiki wanita yang nanti bertemu dengan Tuan Bagas itu. Saya akan segera mengabari hal ini pada Tuan Adibrata." Hamid menyuruh Malik untuk memfokuskan pada wanita yang akan bertemu Bagas di salon itu. Sementara dia sendiri akan melaporkan hasil penemuannya pada bos besarnya, Adibrata Mahesa.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️