
Di kamarnya, Indhira merasakan jantungnya berdebar kencang. Rencana pernikahannya esok hari membuatnya gelisah. Serasa mimpi jika mengingat dirinya akan segera melepas masa kesendiriannya. Besok malam dirinya pasti sudah bersama dan tinggal bersama Bagas. Semu merah seketika membias di pipinya saat mengingat dirinya akan tinggal dan bersama Bagas.
" Pa, Ma, seandainya Papa sama Mama masih hidup, Papa Mama pasti senang, kan? Melihat Indi akan menikah?" Indhira menatap foto kedua orang tuanya.
" Semoga pilihan Indi ini yang terbaik buat Indi, Pa, Ma. Walaupun kami dulu pernah berbuat dosa, tapi Bagas tulus ingin bertanggung jawab terhadap Indi." Indhira sudah cukup yakin dengan pilihannya untuk menikah dengan Bagas.
Ddrrtt ddrrtt
Indhira menoleh ke arah ponselnya yang berbunyi di atas nakas. Indhira melangkah untuk mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubungi malam ini.
" Bagas?" Nama calon suaminya itu yang muncul di layar ponselnya saat ini.
" Assalamualaikum ..." Indhira menyapa saat panggilan telepon Bagas dia terima.
" Waalaikumsalam, calon istri." sahutan dari Bagas dari balik ponsel Indhira membuat wajah Indhira kembali merona.
" Ada apa, Bagas?" tanya Indhira tak ingin terus dibuat salah tingkah karena ucapan Bagas tadi.
" Aku kangen calon istriku. Rasanya sudah tidak sabar untuk menghadapi hari esok." Mengatakan jika dirinya begitu kagen terhadap Indhira, itulah alasan yang Bagas berikan pada Indhira hingga menelepon kekasihnya itu.
" Kamu deg-degan tidak, Bagas?" Indhira ingin tahu, apakah Bagas juga merasakan debaran yang sama menghadapi hari pernikahan mereka yang sangat mendadak itu.
" Deg-degan bangetlah, Ra. Deg-degan mau ijab qobul, deg-degan mau merasakan malam kedua juga, hehe ..." Bagas berkelakar menyebut soal malam kedua yang membuatnya terkekeh.
" Kamu ini, Bagas!" Indhira memutar bola matanya mendengar ucapan Bagas tadi.
" Memang kamu tidak deg-degan mau merasakan malam kedua kita, Ra?" Bagas masih senang menggoda Indhira. Karena dia yakin Indhira akan malu-malu membicarakan hal tersebut.
" Jangan bicarakan hal itu, Bagas!" Indhira merasa enggan membicarakan hal yang masih dia anggap tabu, meskipun dirinya pernah melakukan hal tersebut dengan Bagas beberapa tahun silam ketika masih duduk di bangku SMA.
" Jangan dibicarakan, langsung dipraktekkan saja, ya!?" Bagas tertawa lebar menanggapi.
" Nanti kalau sudah sah, kamu jangan malu-malu, ya!?" Bagas semakin dalam membicarakan soal aktivitas malam pengantin mereka berdua yang akan terjadi besok malam.
" Pas banget, lho! Malam Jumat, kita sunah Rosul, hehehe ...."
" Bagas, sudah, deh! Jangan bahas itu terus!" Karena tak juga berhenti membahas soal aktivitas yang bersangkutan dengan has rat bira hi, Indhira langsung memprotes dengan nada sedikit tinggi.
" Hahaha ..." Hanya tawa, respon Bagas atas protes yang dilontarkan Indhira.
" Aku tutup teleponnya, ya!?" Merasa Bagas terus saja menggodanya, Indhira sampai mengancam akan mengakhiri percakapan telepon mereka.
" Jangan, dong, Ra! Kamu sensi banget, sih!?" keluh Bagas.
" Makanya jangan bahas itu, deh! Aku malas membahasnya!" ucap Indhira beralasan.
" Malas atau malu?" Bagas mengakhiri ucapannya dengan terkekeh.
" Bagas!!" pekik Indhira.
" Hahaha ..." Bagas justru tertawa senang mengetahui wanita yang akan menjadi istrinya itu merajuk.
" Bagas, apa Papamu akan menghalangi pernikahan kita nanti?" Ada sedikit ketakutan di hati Indhira mengingat Papa dari Bagas tidak merestui pernikahan mereka.
__ADS_1
" Jangan pikirkan hal itu, Ra. Jika kita memang berniat baik, Insya Allah segala sesuatunya pasti akan dilancarkan. Bukankah seperti itu yang selalu kamu bilang ke aku, Ra?" Bagas mencoba menenangkan Indhira yang merasakan khawatir akan se rangan dari Papanya yang mungkin saja masih berencana menggagalkan pernikahan mereka.
" Maaf, Bagas." Indhira menyampaikan permintaan maafnya karena sudah berburuk sangka pada calon mertuanya itu.
" Kamu tidak perlu minta maaf, Ra. Aku mengerti kalau kamu punya perasaan khawatir seperti itu." Bagas memaklumi jika Indhira merasakan cemas mengingat Adibrata pernah menye rang Indhira.
" Ra, aku tutup dulu teleponnya, ada tamu yang datang." Bagas berniat mengakhiri percakapan teleponnya dengan Indhira. Dia menyebutkan ada tamu yang mencari di rumah kontraknya yang sudah mulai dia tempati sejak kemarin.
" Tamu siapa yang datang malam-malam, Bagas?" Indhira heran saat Bagas menyebut alasan yang membuat Bagas ingin mengakhiri sambungan telepon mereka.
" Nanti besok kamu akan tahu, Ra. Aku tutup teleponnya, ya!? Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ..." Sebenarnya Indhira masih merasa penasaran dengan tamu yang datang ke rumah kontrakan Bagas, namun karena Bagas sudah buru-buru mengakhiri percakapan teleponnya, mau tidak mau dia pun menerima keputusan Bagas.
" Memangnya siapa tamu yang datang, ya? Bagas bilang aku akan tahu besok? Apa aku kenal dengan tamu Bagas itu?" gumam Indhira penasaran.
***
Bagas segera beranjak untuk membuka pintu rumah kontraknya saat mendengar suara pintu diketuk dari luar. Dia pun harus mengakhiri percakapan teleponnya dengan Indhira.
" Hai, Gas." Saat pintu kontrakan dibuka, terlihat Benny sudah berdiri di depan pintu rumah kontrakan Bagas.
" Hai, Ben ... ayo masuk." Bagas mempersilahkan sahabat SMA nya dulu masuk ke dalam kontrakannya.
Benny mengedar pandangan saat masuk ke dalam rumah kontrakan Bagas. Dia sebenarnya heran mengetahui Bagas menyuruhnya datang ke rumah itu. Dia juga tidak tahu rumah itu rumah milik siapa. Dan bagaimana Bagas bisa ada di rumah itu.
Bagas belum sempat bercerita kepada Benny jika dirinya keluar dari rumah dan melepas pekerjaannya. Dia hanya meminta Benny untuk datang ke Jakarta tanpa mengatakan jika dia menunjuk Benny untuk menjadi saksi pernikahannya dengan Indhira. Untuk mendatangkan Benny, Bagas membelikan tiket pesawat untuk Benny, agar Benny tidak curiga jika dirinya tidak sekaya dulu.
" Kenapa kamu suruh aku kemari, Gas? Sebenarnya ini rumah siapa?" tanya Benny bingung sambil terus memperhatikan rumah yang terlihat lengang tanpa ada perabotan rumah di dalamnya. Bahkan di ruang tamu rumah itu tak ada sofa, hanya karpet permadani dan sebuah kipas angin.
" Rumah kontrakanmu?" Benny tercengang mendengar pengakuan Bagas yang menyebut rumah yang dia datangi adalah rumah kontrakan Bagas. Dia sangat kaget dengan kondisi rumah kontrakan yang dipilih oleh Bagas. Benar-benar bukan rumah kontrakan yang pantas dihuni seorang anak konglomerat seperti Bagas.
" Kau serius, Gas? Kenapa kamu bisa mengontrak di tempat seperti ini?" tanyanya penasaran.
Bagas menghempas nafas dengan menarik senyum tipis di bibirnya.
" Aku sedang hidup prihatin, Ben." jawabnya.
" Jangan bilang ini adalah permintaan Indhira, Gas!" Bahkan Benny menduga jika Bagas mau tinggal di rumah kontrakan itu atas permintaan dari Indhira.
" Dia tidak pernah menuntut apa-apa dariku, Ben." tepis Bagas mendegar Benny menuduh Indhira mempengaruhinya.
" Lalu bagaimana kamu bisa mengontrak di rumah ini, Gas?" Benny semakin dibuat penasaran.
" Aku keluar dari rumah dan pekerjaanku, Ben. Papa tidak memberi pilihan lain untukku jika aku bersikukuh dengan pilihanku menikahi Indhira, Ben." Bagas menceritakan bagaimana kondisinya saat ini yang sudah tidak tinggal di rumah besar keluarga Adibrata Mahendra dan juga sudah tidak menjabat sebagai CEO di perusahaan keluarga milik Papanya itu.
" Aku saat ini hanya punya yang hasil ngeband kita dulu. Semoga penghasilan yang aku dapat selama mengelola perusahaan aku serahkan semua ke Papa. Aku tidak ingin dianggap masih bergantung hidup pada Papaku." Bagas menegaskan setelah dia memutuskan keluar dari rumah Adibrata, dia tidak ingin dianggap masih bergantung kepada Papanya.
" Serius, Gas?" Benny terperanjat mendengar pengakuan Bagas saat tahu sahabatnya kini tidak mempunyai fasilitas mewah yang sejak lahir didapat oleh Bagas.
" Tapi kau masih punya ijasah, magister lulusan USA pula. Pasti gampang buat cari kerjaan, Gas." Mengingat Bagas merupakan lulusan universitas di negeri Paman Sam, Benny menduga Bagas tidak akan kesulitan mendapatkan pekerjaan.
" Ijasahku ditahan Papaku, Ben." ungkap Bagas jujur.
__ADS_1
" Hahh?? Serius kamu, Gas?" Benny tercengang menyadari sikap Adibrata yang terlalu keras kepada putranya sendiri.
" Iya, Ben." sahut Bagas.
" Astaga! Aku tidak menyangka Papamu sesa dis itu padamu, Gas. Lalu bagaimana kamu bertahan hidup tanpa pekerjaan, Gas?" Benny terlalu berlebihan meratapi apa yang dialami Bagas saat ini.
" Hei, kau pikir aku akan mati kelaparan hanya karena tidak tinggal dan menikmati fasilitas mewah dari orang tuaku!?" Bagas memutar bola matanya menanggapi kekhawatiran Benny.
" Aku masih bisa hidup secara normal seperti masyarakat pada umumnya, Ben. Jangan terlalu berlebihan sampai menganggapku orang kesusahan lah, Ben!" Enggan dianggap hidup susah, Bagas merasa masih sanggup menjalani kehidupannya secara normal.
" Lagipula Minggu depan aku sudah dapat pekerjaan, kok! Jadi aku tidak akan menjadi pengangguran lama-lama," lanjutnya mantap.
" Kamu sudah mendapatkan pekerjaan, Gas? Di mana?"
" Manager di salah satu cabang Hotel Richard Fams di Jarkarta ini.
" Manager? Kau langsung dapat posisi manager, Gas?" Sepertinya Benny tidak menyangka sahabatnya itu langung mendapatkan posisi enak di hari pertama.
" Iya, berarti keberuntungan masih berpihak kepadaku, Ben." jawab Bagas terkekeh.
" Lalu, kau menyuruhku ke Jakarta secepatnya karena apa, Gas?" tanya Benny masih belum menyadari jika besok Bagas akan menikah dengan Indhira.
" Aku ingin kamu jadi saksi pernikahanku dengan Indhira di pernikahanku besok, Ben." Akhirnya Bagas menjelaskan tujuannya meminta Benny datang ke Jakarta.
" Kau ingin menikah besok, Gas? Kok cepat sekali!?" Entah sudah berapa kali Benny dibuat terkejut dengan pengakuan-pengakuan Bagas.
" Iya, Ben. Makanya aku minta kau datang kemari hari ini. Masalahnya besok jam sembilan rencana akad nikahnya di KUA." Bagas kembali menjelaskan.
" Di KUA?" tanya Benny heran.
" Ada yang salah menikah di KUA?" Bagas mempertanyakan keterkejutan Benny.
" Tidak, sih! Tapi aku pikir ...."
" Saat ini aku bukan Bagaspati Mahesa yang berprofesi sebagai direktur utama lagi, Ben. Aku ingin menikmati kehidupan seperti orang umum kebanyakan," sahut Bagas kemudian.
Benny hanya menggelengkan kepala seakan tidak tahu harus mengomentari apa lagi perihal kehidupan Bagas saat ini, setelah semua fasilitas kemewahan yang sejak kecil dikecap Bagas telah dihentikan oleh Papanya sendiri.
Dua jam kemudian, ketika Bagas dan Benny sudah terlelap dan terbuai dengan mimpi mereka. Bagas dan Benny memang sudah terlelap di karpet ruangan tamu kontrakan Bagas.
Tok tok tok
Bagas mengerjapkan mata saat mendegar pintu rumah kontrakan diketuk kencang dari luar. Bagas segera bangkit untuk mengetahui siapa yang mengganggunya malam-malam begini. Karena dia melihat jam di ponselnya jam sebelas lebih. Sementara Benny masih berbaring dengan posisi telungkup di karpet di meja tamu.
Bagas terperanjat melihat ada tiga orang yang sudah berdiri di depan pintu rumah kontrakannya. Satu orang dia kenal, namun dua orang lainnya terlihat asing olehnya, tapi menatap penuh curiga menatap ke arahnya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️