SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Menolak Pergi


__ADS_3

Indhira mengambil kertas dari tasnya lalu duduk di tepi tempat tidur setelah dirinya dan juga sang suami selesai menjalankan ibadah sholat Isya. Sementara Bagas langsung keluar kamar untuk memastikan semua pintu dan jendela sudah tertutup rapat.


Tak berapa lama Bagas kembali masuk ke dalam kamar, lalu berjalan mendekat ke arah Indhira yang masih terduduk dengan sebuah kertas di tangannya.


" Apa itu, Yank?" tanya Bagas merasa penasaran dengan benda yang dipegang oleh Indhira.


Tidak menjawab pertanyaan Bagas, Indhira hanya menyodorkan kertas itu kepada sang suami.


Bagas mengambil kertas yang diserahkan Indhira kepadanya. Dia lalu membaca keras apa yang diberikan Indhira tadi. Terlihat tulisan Kartu Ibu Hamil dan nama Nyonya Indhira Kusumaningrum yang tertera di kertas itu membuat Bagas menolehkan pandangan pada Indhira.


" Kamu hamil, Yank?" Bagas seakan tidak percaya dengan pandangannya saat ini.


" Iya, Mas." sahut Indhira dengan bola mata mengembun.


" Alhamdulillah, Ya Allah ..." Bagas langsung memeluk Indhira dan menghujani wajah Indhira dengan kecupan tanda bahagia, membuat air mata langsung menetes di pipi Indhira.


" Sudah berapa bulan usia kehamilan kamu, Yank?" Bagas lalu duduk berlutut di hadapan Indhira dengan tangan mengusap perut Indhira yang masih rata.


" Baru tiga Minggu, Mas. Tadi siang aku mengantar Bu Kia periksa, lalu Bu Kia menyuruh aku periksa juga, untuk mencari tahu apakah aku hamil atau tidak? Karena aku telat datang bulan, ternyata beneran aku hamil." Indhira tidak dapat membendung rasa bahagianya hingga dia menceritakannya dengan air mata yang terus jatuh di pipinya.


" Aku bahagia sekali mengetahui kamu hamil, Yank. Kamu harus menjaga kehamilan ini. Sebaiknya kamu berhenti bekerja, aku tidak ingin kamu kecapean karena aktivitas kamu." Seperti dugaan Azkia, Bagas ternyata memang melarang Indhira bekerja.


" Kalau aku tidak bekerja, lalu aku harus melakukan apa, Mas? Di rumah ini sendirian aku bosan ..." keluh Indhira merasa keberatan harus berhenti bekerja.


" Kamu lebih mementingakan pekerjaan daripada anak kita ini?" tanya Bagas memberi ancaman.


" Iya, tapi aku bosan, Mas." Indhira memberengut mendengar larangan sang suami.


" Apa kamu ingin menemani aku di kantor? Biar kamu tidak merasa bosan di rumah sendirian?" Bagas menawarkan Indira untuk ikut bersamanya ke kantornya di hotel Richard Fams.

__ADS_1


" Tidak, Mas! Untuk apa ikut ke sana? Seperti tidak ada kerjaannya saja!" Indhira menolak diajak pergi sang suami, karena dia merasa tidak pantas ikut ke kantor suami, apalagi itu bukanlah kantor milik Bagas. Dia juga tidak ingin menjadi omongan pegawai di hotel tempat Bagas bekerja jika sampai mereka tahu dirinya mengikuti Bagas ke hotel itu.


" Tapi aku tidak ingin kamu capek karena bekerja, Yank. Apalagi Bu Kia juga sama-sama hamil. Selama ini dia mengandalkan kamu, kalau kamu hamil juga, nanti kamu yang kelelahan sendiri." Bagas menjelaskan alasannya kenapa dia melarang Indhira terus bekerja.


" Sayang, aku harap kamu mengerti. Ini untuk kebaikan anak kita di sini." Bagas mengusap kembali perut sang istri. " Kamu tidak ingin anak kita kenapa-napa karena kamu bersikeras ingin bekerja, kan?" Bagas mengingatkan, jika apa yang dia minta demi kesehatan anak mereka dan juga Indhira sendiri.


" Nanti setiap jam makan siang aku akan pulang ke rumah menemani kamu, kamu tidak usah khawatir akan kesepian di sini." Bagas berjanji akan menemani Indhira di waktu istirahatnya.


" Kalau kamu tidak enak pada Bu Kia, nanti aku yang meminta ijin kamu untuk resign." Bagas bahkan berniat bicara kepada Azkia karena dia menganggap istrinya tidak berani meminta resign pada Azkia.


" Jangan, Mas! Bu Kia juga sudah menduga jika Mas akan melarang aku bekerja." Indhira jujur mengatakan jika bosnya juga sudah menduga jika Bagas melarangnya bekerja.


" Nah, berarti Bu Kia sudah kasih ijin kamu resign, kan? Ya sudah, tidak ada masalah. Kalau kamu masih bersikukuh ingin tetap kerja, nanti aku akan laporkan kamu ke Mama, biar nanti Mama yang menasehati kamu, kamu mau?" Bagas mengancam dengan mengatakan akan melaporkan pada Angel perihal Indhira yang tidak ingin berhenti bekerja.


Indhira seketika terbelalak saat sang suami mengancamnya akan melaporkan dirinya pada Angel. Sudah pasti Indhira langsung menciut dengan ancaman sang suami. Dia tidak ingin mengambil resiko dibenci oleh Mama mertuanya, sementara Mama mertuanya itu sudah terbuka menerimanya.


" Jangan, Mas! Ya sudah, aku tidak akan bekerja lagi, aku akan di rumah saja menuruti apa yang Mas mau," ucap Indhira menyetujui apa yang diminta oleh suaminya.


***


Adibrata memasuki kamar setelah selesai dengan urusannya di ruang kerja. Dia melihat Angel yang masih melakukan perawatan pada wajahnya. Tak heran, dalam usia yang sudah meyentuh lima puluh tahun, istrinya itu masih terlihat cantik dan selalu membangkitkan ga irahnya.


" Lusa Papa akan berangkat ke Hong Kong. Papa ingin bertemu rekan bisnis Papa di sana. Apa Mama mau ikut?" Adibrata menyibak selimut tebal lalu duduk bersandar di headboard spring bed berukuran besar itu.


" Papa ingin ke Hong Kong?" Angel mengangkat kedua alisnya ke atas saat suaminya itu menawarinya ikut pergi ke Hong Kong. Biasanya dia akan bersemangat jika suaminya itu pergi ke luar negeri. Namun, tidak untuk kali ini. Kepergian suaminya ke luar negeri memberikan peluang untuknya bisa bertemu dengan Bagas.


" Kalau Papa tugas ke luar negeri, aku punya waktu bebas bertemu dengan Bagas. Mending aku di sini saja bersama Bagas. Pergi ke luar negeri sudah biasa, lain waktu bisa dilakukan lagi," gumam Angel dalam hati.


" Memangnya berapa hari Papa pergi ke sana?" tanya Angel.

__ADS_1


" Satu atau dua hari saja. Kalau Mama mau ikut, nanti Papa suruh Diana pesankan tiket pesawatnya," ucap Adibrata.


Angel bangkit dari kursi di depan meja riasnya lalu berjalan ke arah tempat tidur.


" Mama tidak ikut, deh, Pa." tolaknya kemudian.


Adibrata menatap heran istrinya, tidak biasanya sang istri menolak jika diajak berpergian ke luar negeri walaupun hanya mendampinginya bertemu relasi bisnis.


" Lusa Mama ada arisan, Pa. Daripada jalan-jalan shopping di sana sendirian, mending Mama kumpul sana teman-teman Mama di sini sajalah, Pa." Angel beralasan.


" Yakin Mama tidak akan ikut Papa pergi?" Adibrata bertanya kembali untuk memastikan.


" Iya, Pa. Nanti saja kalau Kartika liburan sekolah, Mama ingin mengajak Kartika berlibur ke Jepang." Angel mencari alasan lain agar suaminya itu tidak curiga karena dia menolak pergi ke Hongkong.


" Mama ingin berlibur dengan Kartika?" Adibrata mengerutkan keningnya mendegar rencana yang disebutkan oleh sang istri.


" Kita sudah lama tidak pergi berlibur bersama, Pa. Makanya liburan sekolah nanti, Mama ingin mengajak Kartika berlibur ke Jepang. Boleh, kan, Pa?" Angel meminta ijin kepada suaminya, padahal dia belum merencanakan apa-apa.


" Kalau Papa tidak bisa ikut, biar Mama dan Kartika saja yang pergi berlibur ke sana. Kartika 'kan pandai berbahasa Jepang, jadi tidak ada masalah kalau Mama dan Kartika pergi berdua saja ke sana," jelas Angel meyakinkan suaminya.


" Ya sudah, kalau memang Mama dan Kartika akan pergi ke sana." Akhirnya Adibrata memberikan ijin juga kepada Angel dan Kartika yang berencana pergi ke Jepang liburan musim panas nanti. Tanpa merasa curiga jika itu hanya akal-akalan istrinya saja agar Adibrata tidak curiga dengan rencananya bertemu dengan Bagas.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2