SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Jangan Bikin Malu Anak Saya!


__ADS_3

Bagas memperhatikan sosok wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik keluar dari pintu mobil mewah yang tadi ditabrak oleh mobil ojek online yang membawanya pergi menuju restoran tempat dia dan Indhira berencana makan siang.


" Bagas?" Angel bergegas menghampiri Bagas setelah turun dari mobilnya. Sepertinya dari dalam mobil tadi, Angel pun melihat kemunculan Bagas, sehingga membuatnya turun dari mobil.


Angel langsung memeluk tubuh putranya itu. Sudah lebih dari satu bulan dia tidak berjumpa dengan Bagas. Rasa rindu seorang Ibu kepada anaknya tetap ada di hati Angel, apalagi kepergian Bagas dari rumah karena pertikaian dengan Adibrata. Sebenarnya Angel sendiri ingin bisa bertemu dengan Bagas, namun rasa takut akan ancaman suaminya yang melarangnya menemui Bagas membuat keinginan untuk berjumpa dengan Bagas harus dia pendam.


" Mama? Mama mau ke mana?" Tanya Bagas masih memeluk Mamanya. Meskipun sering menyindir kelakuan Mamanya, tapi sebagai seorang anak yang menghormati orang tua, tentu Bagas sangat menyanyangi Mamanya. Apalagi selama ini justru Mamanya tidak pernah melarang ini itu kepadanya. Bagi Angel yang penting anaknya merasa senang dan tidak mengusik hobi dan kesenangan dirinya.


" Mama mau bertemu dengan teman-teman Mama. Kebetulan ada satu teman Mama yang datang dari Paris yang mau menawarkan kalung berlian terbaru pada Mama. Tapi, tiba-tiba ada yang menabrak mobil kita ini." Angel masih saja senang dengan aktivitas berkumpul dengan teman-teman berkelasnya. " Kamu sendiri kok ada di sini? Kamu mau ke mana, Bagas?" Tanyanya kemudian seraya mengurai pelukannya.


" Aku mau makan siang menggunakan mobil ojek online ini, Ma." Bagas menunjuk mobil yang bersenggolan dengan mobil Mamanya itu.


" Kamu naik mobil begini, Bagas?" Angel terkejut memperhatikan mobil yang digunakan Bagas, apalagi itu mobil sewaan.


" Aku 'kan sudah tidak punya banyak uang seperti dulu, Ma. Jadi cuma bisa sewa ojek online." Bagas mengingatkan Mamanya jika dirinya memang tidak seperti dulu yang dengan mudah bisa membeli mobil mewah.


" Ya sudah, kamu ikut dengan Mama saja. Kita pergi makan bersama." Angel ingin mengajak Bagas untuk ikut bersamanya. Angel tentu tidak ingin melewatkan kesempatan bisa bersama Bagas walau hanya sebentar.


" Bukannya Mama Ingin bertemu teman Mama yang baru datang dari Paris?" Tanya Bagas heran, karena Mamanya saat ini malah mengajaknya pergi makan bersama.


" Itu gampang diatur, nanti Mama bilang saja mobilnya tertabrak jadi telat datang." Angel bersikeras ingin pergi bersama Bagas. Mereka berdua seolah melupakan kedua supir yang tadi berdebat.


" Ayolah, Bagas. Mumpung kita ketemu, Mama kangen sama kamu," bujuk Angel berharap Bagas mau mengikuti kemauannya.


" Tapi aku tidak sendiri, Ma." Bagas ragu jika Mamanya akan menerima jika dia mengatakan saat ini dirinya sedang bersama Indhira.


" Memangnya kamu sama siapa?" Tanya Angel seraya mengedar pandangan mencari siapa yang dimaksud oleh Bagas.


" Aku dengan istri aku, Ma." jawab Bagas.


" Istri kamu?" Mata Angel terbelalak saat mengetahui saat ini Bagas bersama dengan wanita yang disebut sebagai istri Bagas. Diakui atau tidak, istri Bagas sudah pasti berstatus menantunya.


" Mas, maaf. Mobil saya ini jadi gimana, ya?" Driver ojek online menanyakan nasib mobilnya. Setelah dia mengetahui jika Bagas dan pemilik mobil yang bersenggolan dengannya adalah Ibu dan anak.


" Mobil Bapak dibawa saja ke bengkel, nanti saya yang akan membayar biaya reparasinya." Bagas lalu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan juga beberapa lembar uang seratus ribuan kemudian menyerahkan pada driver ojek online.


" Ini, pakai saja uang ini, Pak. Kalau kurang, nanti pihak bengkel suruh kirim tagihannya ke alamat itu." Bagas berjanji akan menanggung biaya perbaikan mobil ojek online.


" Baik, Mas. Terima kasih," sahut driver ojek online menerima uang dan kartu nama milik Bagas.


Sementara di dalam mobil, Indhira menatap heran ketika dia melihat seorang wanita paruh baya menghampiri Bagas bahkan memeluk Bagas. Wanita itu berbincang dengan Bagas terlihat sangat akrab.


" Ibu-ibu itu siapa, ya? Kok, peluk-peluk Mas Bagas?" Indhira bertanya-tanya dalam hati. Sampai akhir dia melihat sang suami berjalan mendekat ke arahnya.


" Mas, Ibu itu siapa?" Saat Bagas membuka pintu, Indhira menanyakan soal wanita yang tidak dia ketahui jika itu adalah Mama mertuanya.


" Kamu keluar dulu, Yank. Nanti aku kenalkan sama Mama," Jawab Bagas.


Bola mata Indhira terbuka lebar ketika Bagas mengatakan jika wanita yang bersama Bagas adalah Mama dari suaminya.


" Mama?"


" Iya, ayo aku kenalin kamu ke Mama." Bagas mengulurkan tangannya meminta Indhira segera turun dari mobil.


" Aku takut, Mas." Wajah Indhira memperlihatkan kecemasan. Dia tentu takut akan mengalami peristiwa yang sama seperti ketika dia bertemu dengan Adibrata dulu.


" Jangan takut, Yank! Mama tidak akan mungkin bertindak seperti Papa!" Walaupun Mamanya senang bergaul dengan orang-orang berkelas dari segi status ekonomi, namun dia yakin Mamanya tidak akan bersikap seperti Adibrata kepada Indhira. Karena Angel sangat menyayanginya, dan tidak pernah berani menentang semua keinginannya. Justru Papanya lah yang lebih mengatur hidupnya.


" Cepat, Yank! Mobil ini mau dibawa ke bengkel. Memangnya kamu mau ikut dibawa ke bengkel sama Pak Supir tadi?" Ledek Bagas terkekeh.


Akhirnga setelah dibujuk oleh Bagas, Indhira mau juga turun dari mobil. Saat ini Indhira berlindung di belakang Bagas, meskipun Bagas meminta dirinya untuk tenang, namun dia tidak bisa tenang begitu saja menghadapi Mama mertuanya itu.

__ADS_1


Bahkan saat mendekat ke arah Angel, Indhira hanya berani menundukkan kepalanya, tak sanggup. bersitatap dengan Angel.


" Ma, kenalkan ini Indhira, istri aku." Bagas memperkenalkan Indhira pada Mamanya.


Indhira memberanikan diri menaikkan pandangan untuk menatap wanita yang dikenalkan sebagai Mama dari suaminya..


" Ibu, apa kabar? Saya Indhira, Bu. Senang bisa bertemu dengan Ibu." Entahlah, Indhira sendiri bingung harus berkata apa kepada Mama mertuanya itu. Dia pun ragu ingin bersalaman dengan Angel takut Mama mertuanya itu akan menampik uluran tangannya. Namun, dia harus tetap melakukan. itu, sebagai bentuk sikap santun dan hormat kepada orang yang lebih tua. Apalagi Angel adalah Mama mertuanya.


Di luar dugaan Indhira, Angel justru menerima uluran tangan darinya dan membiarkan Indhira mencium punggung tangan Angel.


Angel memperhatikan wajah istri dari anaknya itu. Harus dia akui, wajah wanita itu sangat cantik, pantas saja jika sampai membuat anaknya tergila-gila pada Indhira. Namun, menurutnya penampilan Indhira itu terlalu sederhana untuk menjadi istri Bagas


" Ya sudah, ayo kita naik ke mobil." Angel lalu mengajak Bagas dan Indhira untuk menaiki mobilnya, tanpa membalas ucapan sapaan dari Indhira tadi.


" Zul, mobilnya masih bisa jalan, kan?" Kamu antar kami dulu ke restoran, nanti ke bengkelnya kalau sudah antar saya saja " Angel memberikan perintah pada supirnya.


" Baik, Bu." sahut Pak Zul.


" Oh ya, jangan bilang siapa-siapa kalau saya bertemu dengan Bagas!" Angel tentu tidak ingin sampai ada yang melaporkan pada suaminya jika dirinya pergi makan siang dengan Bagas, apalagi saat ini Bagas bersama dengan Indhira.


" Baik, Bu." jawab Pak Zul kembali.


Dia lalu melangkah lebih dahulu memasuki mobilnya.


" Ayo, Yank!" Bagas merangkulkan tangannya dan mengajak Indhira masuk ke dalam mobil milik Mamanya.


" Mas, nanti Mas yang duduk bersebelahan sama Mama. Aku di depan dekat supir saja, ya!" Rasa takut pada Angel yang melandanya membuat Indhira memilih duduk di samping pengemudi daripada bersebelahan dengan Mama mertuanya.


" Ada-ada saja kamu, Yank! Kamu sama Mama lah, biar aku yang di depan, biar kal,an saling akrab" Bagas menolak,karena tidak pantas menaruh istrinya duduk di depan. Bagas lalu membukakan pintu mobil untuk Indhira, setelah itu dia sendiri menaiki mobil di kursi depan


" Mama mau makan di mana?" Tanya Bagas.


" Terserah, tapi jangan restoran yang biasa kita kunjungi, takut ada yang melihat kita, nanti ada yang melaporkan ke Papa kamu." Jika datang mengunjungi restoran langganan keluarga mereka. Angel takut ada yang mengenali mereka.


" Ya sudah, terserah kamu saja." Tanpa banyak protes Angel menyetujui tawaran Bagas. Yang terpenting dia dapat melepas rindu pada putranya itu.


" Kamu sekarang tinggal di mana, Bagas?" Tanya Angel kemudian.


" Sementara ini kami mengontrak, Ma. Tapi sebentar lagi kemungkinan akan pindah, karena aku ambil rumah KPR." Bagas menerangkan di mana dia tinggal.


" Rumah KPR itu apa, Bagas?" Tentu saja untuk seorang Angel yang mempunyai harta berlimpah, dan tidak pernah kesulitan dalam membeli tanah, rumah dan mobil, tidak mengenal arti KPR.


" KPR itu Kredit Pemilikan Rumah, Ma. Jadi kita beli rumah dicicil selama beberapa tahun, dari lima sampai dua puluh tahunan tergantung usia dan penghasilan kita." Bagas menjelaskan kepada Mamanya yang tidak pernah tersentuh produk-produk secara kredit selain menggunakan credit card.


" Kamu beli rumah kredit, Bagas?" Tanya Angel terkesiap mengetahui singkatan KPR.


" Memangnya berapa harga rumah itu? Biar Mama yang bayarkan saja." Angel tentu tidak ingin melihat anaknya hidup kesusahan.


" Tidak usahlah, Ma. Rumah itu bisa aku cicil pakai uang gaji aku sendiri. Cicilannya cuma dua juta lima ratus ribuan sebulan. Lagipula kalau Papa tahu Mama melakukan hal ini ke aku, Papa pasti akan marah besar." Bagas menolak pemberian Mamanya. Karena dia khawatir sang Papa akan memantau pengeluaran Mamanya.


" Memang kamu kerja di mana sekarang ini, Bagas?" Angel ingin banyak tahu tentang kehidupan Bagas setelah keluar dari rumahnya.


" Aku diterima kerja sebagai General Manager di Richard Fams Hotel, Ma." jawab Bagas.


" Richard Fams Hotel?" Angel tentu kenal nama hotel bintang lima itu, karena pertunangan Bagas dan Evelyn dulu digelar di hotel itu, walaupun di cabang berbeda. " Apa gaji yang kamu terima dari hotel itu cukup untuk kehidupan kamu, Bagas?" Angel khawatir Bagas akan kesulitan ekonomi.


" Alhamdulillah, lebih dari cukup, kok, Ma. Mama tidak perlu khawatir, aku tidak akan hidup menderita walaupun tidak bekerja di perusahaan milik Papa!" Tegas Bagas mengatakan jika dirinya sanggup mandiri bertahan hidup di bawah kaki dan tangannya sendiri.


Sepanjang perjalanan ke restoran, Bagas dan Angel banyak berbincang, sementara Indhira lebih banyak terdiam karena dia takut, malu dan bingung harus berbicara apa.


Kurang dari tiga puluh menit, mereka sudah sampai di tempat makan itu. Mereka kemudian masuk ke dalam restoran dan memesan makanan yang mereka inginkan.

__ADS_1


" Di restauran inilah, aku bertemu dengan Indhira kembali setelah bertahun-tahun terpaksa dipisahkan oleh Papa, Ma." ungkap Bagas mengingat pertemuannya dengan Indhira, meskipun saat itu Indhira tidak melihatnya.


Indhira langsung menoleh ke arah Bagas saat sang suami menceritakan pertama kali melihat dirinya kembali. Namun, Indhira merasa kurang nyaman Bagas menceritakan soal itu di hadapan Angel. Apalagi Bagas mengatakan. kalimat terpaksa dipisahkan.


Angel pun langsung mengarahkan pandangan kepada Indhira. Sejujurnya dia sendiri tidak mengerti kenapa anaknya sampai mempertahankan Indhira walaupun menantunya itu memang cantik. Tapi jika bicara kecantikan, bukankah Evelyn juga tidak kalah cantik? Namun kenapa Bagas seakan susah move on dari Indhira? Itu yang membuat Angel terheran.


" Indhira itu wanita istimewa, Ma. Walau Papa dan mungkin Mama berpikir jika Indhira telah merubah sikapku karena menentang Papa, tapi sebenarnya aku bisa berubah lebih baik setelah bersama Indhira." Seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh sang Mama, Bagas menceritakan apa yang membuatnya memilih Indhira sebagai pendamping hidupnya.


* Setidaknya sekarang ini aku selalu menjalankan sholat lima waktu dan selalu mendoakan kebaikan untuk Mama dan Papa." Bagas menyebutkan perubahan paling penting yang dialaminya setelah bersama Indhira.


Angel masih diam. Dia masih tidak tahu harus berkomentar apa tentang menantunya itu. Karena sejujurnya dia sendiri ingin Evelyn lah yang menjadi istri Bagas.


" Bagas, nanti Mama transfer uang ke kamu. Kamu juga berhak atas uang Mama." Angel merasa jika Bagas juga berhak atas hartanya, walaupun saat Bagas keluar rumah, Adibrata melarang dirinya memberikan pertolongan dana pada Bagas.


" Sebaiknya Mama jangan melakukan transaksi transfer ke rekening aku, Ma. Aku yakin Papa akan marah kalau tahu Mama menyokong dana buat aku." Namun, Bagas melarang niat baik Mamanya itu. " Percayalah, Ma. Kami tidak kekurangan dana sedikit pun!" Tegas Bagas meyakinkan Mamanya untuk tidak mengkhawatirkannya.


" Lagipula, istri aku juga kerja, Ma. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan keuangan kami," lanjut Bagas.


" Kerja? Kerja di mana? Jangan sampai pekerjaan dia bikin malu nama baik kamu, Bagas!" Angel khawatir Indhira mempunyai pekerjaan yang tidak pantas dilakukan sebagai istri seorang General Manager.


Indhira menggigit bibirnya mendengar Angel berburuk sangka dengan pekerjaannya.


" Indhira bekerja di Alexa Boutique sebagai orang kepercayaan bosnya, Ma." Bagas menjelaskan di mana Indhira bekerja.


" Orang kepercayaan?" Angel semakin curiga saat Bagas nenyebutkan posisi yang ditempati oleh Indhira dalam pekerjaannya.


" Bosnya itu wanita, kok, Ma. Dan bosnya itu keponakan dari Pak Gavin Richard yang punya hotel Richard Fams. Dari bosnya Indhira ini akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan yang sekarang, karena Mama tahu sendiri aku tidak membawa ijasah apa-apa saat keluar dari rumah." Bagas menjelaskan agar Angel tidak salah paham terhadap pekerjaan Indhira.


" Permisi ..." Pelayan restoran tiba menyajikan beberapa makanan yang mereka pesan.


" Ya sudah, kita makan dulu ..." Bagas mengajak Mamanya dan Indhira untuk menyantap makanan terlebih dahulu.


Saat makan pun Indhira lebih banyak menjadi pendengar percakapan antara anak dan ibu itu. Baginya, Angel mau semeja dengannya dan tidak bersikap atau mengeluarkan kata-kata kasar seperti yang dilakukan Adibrata dulu, dia sudah sangat bersyukur. Hingga akhirnya mereka selesai menyantap hidangan dan bersiap untuk pulang.


" Aku bayar bill nya dulu." Bagas bangkit dari duduknya ingin membayar pesanannya.


" Pakai uang Mama saja, Bagas!" Angel segera mengeluarkan dompet dari tas branded nya.


" Tidak usah, Ma. Pakai uang aku saja!" Bagas lalu berjalan ke arah kasir meninggalkan Mama dan istrinya.


Indhira menelan salivanya saat dirinya ditinggal berdua saja dengan Angel. Jantungnya berdebar cukup kencang, bahkan telapak tangannya sudah berkeringat, karena takut Angel akan memarahinya.


" Bagas itu dari kecil selalu dilayani dengan baik oleh ART di rumah, jadi kamu juga harus bisa melayani dia dengan baik!"


Indhira menaikkan pandangan mendengar Mama mertuanya itu berkata kepadanya.


" Iya, Bu. Saya berusaha semaksimal mungkin menjalankan tugas saya sebagai istri," sahut Indhira menjawab ucapan Angel.


" Penampilan kamu juga, seharusnya kamu bisa menyesuaikan penampilan kamu sebagai seorang istri bos, jangan bikin malu anak saya!" lanjut Angel memprotes penampilan Indhira yang terkesan sederhana menurutnya.


" M-maaf, Bu." Indhira menggigit bibirnya.


Namun, secara tak terduga Angel melepas cincin, gelang dan kalung berlian yang dia kenakan di tubuhnya.


" Ini ambillah! Pakai ini jika harus pergi mendampingi Bagas! Jangan memakai perhiasan murahan seperti itu!" ujar Angel kemudian, karena merasa perhiasan yang dipakai Indhira saat ini tidak menunjukkan jika dia seorang istri dari General Manager di hotel ini.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2