
Tok tok tok
" Permisi, Pak. Di depan ada Pak Marcel dan Pak Leo ingin bertemu dengan Bapak." Yanti, sekretaris dari Adibrata Mahesa memberitahukan jika kepala sekolah dan ketua yayasan tempat Bagas sekolah datang ke kantor Adibrata siang ini.
" Suruh mereka masuk, Yan!" Adibrata menyuruh sekretarisnya itu menyuruh kedua orang tamunya untuk masuk ke ruangannya. Karena sebelumnya mereka memang sudah membuat janji untuk bertemu siang ini.
" Baik, Pak." Yanti kemudian kembali keluar untuk mempersilahkan Pak Marcel dan Pak Leo masuk ke dalam ruangan bosnya.
" Selamat siang, Pak Adibrata." sapa Pak Marcel dan Pak Leo bersamaan saat masuk ke ruangan Adibrata.
" Selamat siang, Pak Marcel, Pak Leo. Mari silahkan ..." Adibrata langsung bangkit dan menghampiri kedua tamunya lalu menyuruh mereka duduk di sofa.
" Maaf kalau kami mengganggu waktu Anda, Pak Adibrata." ujar Pak Leo.
" Masalah yang terjadi lebih penting untuk kita bahas, Pak Leo. Saya benar-benar tidak menyangka Bagas sampai berbuat hal memalukan seperti itu. Selama ini Bagas tidak pernah bertingkah nakal sampai membuat malu keluarga dan sekolah seperti ini. Saya rasa wanita itulah yang mempengaruhi Bagas. Siapa sebenarnya wanita itu? Dia pasti wanita nakal yang sering melakukan hubungan bebas seperti di video itu!" Adibrata terlihat geram. Dia bahkan menyalahkan Indhira, tanpa menyadari jika putranya lah yang menyebabkan hal tercela seperti yang terekam di kamera cctv dan kini menjadi viral di masyarakat itu terjadi.
Pak Leo dan Pak Marcel saling berpandangan mendengar kemarahan Adibrata terhadap Indhira.
" Wanita yang bersama Bagas itu bernama Indhira Kusumaningrum. Dia sebenarnya anak baik, Pak Adibrata. Dia juga termasuk anak yang pandai dan tidak pernah bertingkah macam-macam selama ini. Kami juga kaget saat mengetahui jika pelaku wanita di video itu adalah Indhira." Pak Marcel tahu bagaimana perilaku Indhira selama ini adalah salah satu siswi teladan di sekolah yang dia pimpin.
" Maksud Pak Marcel semua ini kesalahan Bagas, seperti itu!? Pak Marcel tahu sendiri bagaimana Bagas selama sekolah di sana, kan!? Tidak ada sikap atau tingkah laku Bagas yang memalukan nama keluarga. Justru sebaliknya, dia selalu bikin prestasi yang membanggakan sekolah itu." Adibrata enggan putranya disalahkan dalam kasus itu.
" B-bukan seperti itu, Pak Adibrata. Maksud saya, saya juga sama-sama tidak menduga baik Indhira dan Bagas sampai melakukan hal seperti itu." Pak Marcel mencoba mengklarifikasi ucapannya. Karena Adibrata sepertinya salah paham dengan ucapannya tadi.
__ADS_1
" Maaf, Pak Adibrata. Soal video yang sudah tersebar di masyarakat ini bagaimana nasibnya, Pak? Karena ini juga menyangkut nama baik sekolah dan yayasan kami." Pak Leo menanyakan soal penyelesaian video viral yang sangat menghebohkan di SMA Satu Nusa Satu Bangsa. Karena dia merasa hal itu lebih penting daripada mencari siapa yang salah dalam kasus ini.
" Saya sudah suruh orang untuk mengurus hal ini. Secepatnya video itu akan di-takedown dan media tidak akan berani menaikkan berita ini kembali. Tapi, saya tidak ingin wanita itu ada di sekolah Pak Marcel lagi. Saya tidak ingin Bagas terus bertemu dan berhubungan dengan wanita itu. Kalau Pak Leo tetap mempertahankan wanita itu di sekolah, saya akan memindahkan Bagas dan saya akan menghentikan pemberian dana kepada yayasan milik Pak Leo." Adibrata bahkan mengancam akan menghentikan sumbangan dana yang selama ini banyak mengalir ke pihak yayasan milik Pak Leo.
Baik Pak Leo maupun Pak Marcel terkesiap mendengar ancaman Adibrata yang akan menghentikan aliran dana yang selama bertahun-tahun ini mengalir ke yayasan milik Pak Leo. Bagi mereka ancaman Adibrata bagaikan mimpi buruk bagi yayasan dan juga pihak sekolah SMA Satu Nusa Satu Bangsa.
***
" Ben ...!" Bagas melambaikan tangannya saat dia melihat kemunculan Benny dan Hans di pintu masuk cafe. Kedua teman Bagus yang juga sama-sama personil band Bagas pun langsung menghampiri meja di mana Bagas berada.
" Kenapa kamu tidak masuk ke kelas, Gas?" tanya Hans, karena melihat Bagas menggunakan seragam sekolah meskipun menutupinya dengan hoodie.
" Tadi aku menghadap Pak Marcel dan Pak Marcel melarang aku ikut pelajaran dulu, Hans." sahut Bagas.
" Kamu sudah menghadap Pak Marcel? Lalu?" Benny penasaran dengan sikap dari pihak sekolah.
" Kemungkinan itu kecil untuk aku, Hans. Tapi, entah untuk Indhira. Aku takut ada perbedaan sangsi terhadap kami berdua," cemas Bagas.
" Kau tenang saja, Gas. Aku yakin kau pasti aman. Pihak sekolah berani macam-macam sama kamu, langsung di-cut sumbangan dana ke yayasan. Aku yakin pihak sekolah maupun pihak yayasan tidak akan mengambil resiko itu, Gas." Peranan besar keluarga Adibrata Mahesa di yayasan yang menaungi sekolah mereka bukan rahasia umum di kalangan murid-murid sekolah itu. Sehingga tidaklah heran jika Bagas di sana menjadi idola dan tidak ada yang berani bersebrangan pendapat dengan Bagas apalagi memusuhinya.
" Aku tidak memusingkan apa yang akan aku alami, Hans. Yang aku khawatirkan itu Indhira. Aku takut kalau dia sampai dikeluarkan. Kasihan kalau dia harus putus sekolah." Bagas menjelaskan apa yang membuatnya cemas.
" Kalau begitu kamu tinggal minta tolong orang tuamu agar Indhira juga tidak dikeluarkan, mudah, kan?" sahut Hans enteng.
__ADS_1
" Gas, kenapa kalian sampai nekat melakukan perbuatan itu? Lalu bagaimana bisa terekam dan beredar di publik? Kamu sengaja merekam aktivitas kalian itu?" tanya Benny penasaran kenapa Bagas sampai melakukan hal tercela bahkan sampai beredar videonya.
" Aku khilaf, Ben. Dan aku juga benar-benar tidak ingat dengan cctv di kamar," sesal Bagas.
" Lalu bagaimana bisa tersebar?" tanya Hans ikut penasaran.
" Sehari setelah kejadian itu, ada orang yang mengecek rekaman cctv di rumah. Orang suruhan tetangga depan rumah. Sepertinya mereka yang mengcopy rekaman itu dan menyebarkannya di media." Bagas menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi. Dan dia juga tetap yakin jika orang suruhan tetangga depan rumahnya lah dalang dari kekacauan yang terjadi sekarang ini.
" Di sekolah ramai sekali mengunjingkan soal video ini, Gas. Aku tidak tahu bagaimana seandainya kalian berdua tadi masuk sekolah," ucap Hans kemudian.
" Aku tadi ke rumah Indhira, aku sengaja melarang dia ke sekolah. Karena dia pasti syok berat dengar kasus ini," ujar Bagas.
" Indhira sudah tahu?" tanya Benny.
" Iya, dan dia syok banget, Ben. Dia sangat terpukul dengan peristiwa ini. Aku benar-benar menyesal, Ben. Aku yang telah melakukan kesalahan. Tapi, dia yang menanggung lebih berat. Apalagi jika dia harus dikeluarkan dari sekolah." Bagas mengusap kasar wajahnya. Sungguh dia merasakan penyesalan yang teramat dalam.
" Memang tidak mudah menghadapi hal ini untuk dia, Gas. Satu-satunya jalan yaitu tadi, seperti yang dikatakan Hans. Minta tolong Papamu agar menghubungi pihak sekolah agar tidak memberi sangsi mengeluarkan Indhira dari sekolah ini. Ya, kalau untuk urusan malu sih, gimana cara kamu menenangkan Indhira dan memberi pengertian teman-teman agar tidak terus menerus membahas masalah ini." Benny memberikan saran pada Bagas. Saran yang terlihat mudah. Namun, tidak mudah untuk dilaksanakan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️