SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Kedatangan Adibrata


__ADS_3

Adibrata berpikir sejenak. Dia ingin masuk ke dalam atau menunggu mereka berdua keluar dari rumah Lusiana. Dia tidak ingin nama baiknya akan tercemar jika dia harus masuk dan melabrak wanita yang membuat putranya itu sampai meninggalkan Evelyn, wanita yang dia nikai lebih berkelas dan lebih layak mendampingi Bagas.


" Tuan ingin masuk ke sana?" tanya Agus saat melihat Adibrata membuka pintu mobil. Dia pun dengan cepat keluar mobil untuk membukakan pintu untuk majikannya itu


" Iya, Gus. Kau tunggulah di sini!" Setelah mempertimbangkan secara matang, Adibrata akhirnya memutuskan untuk turun dan masuk ke dalam rumah Lusiana.


" Baik, Tuan." sahut Agus kemudian menutup kembali pintu mobil setelah Adibrata keluar dari mobil itu.



Dengan langkah lebar dan tegap Adibrata menghampiri pintu gerbang rumah Lusiana. Dia nampak seperti serdadu yang siap bertempur menghadapi musuh.


" Tolong bukakan pintunya! Saya mau masuk!" Dengan nada tegas penuh perintah, Adibrata meminta security membukakan pintu untuknya.


" Maaf, Bapak ini siapa?" tanya Pak Mamat menanyakan siapa Adibrata yang berani memberi perintah untuk membukakan pintu gerbang.


" Saya ingin menjemput anak saya pulang! Cepat bukakan pintunya!" Kembali Adibrata memberi perintah.


" Anak Bapak yang mana, Pak? Anak bapak siapa?" Pak Mamat bingung dengan ucapan Adibrata.


" Anak saya Bagas, pria yang tadi masuk ke dalam rumah ini." Adibrata menarik dompet di sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menyodorkan uang itu kepada Pak Mamat. " Cepat bukakan pintunya!"


Pak Mamat memperhatikan uang yang disodorkan oleh Adibrata kepadanya. Tentu saja jumlah itu sangat menggiurkan jika ditolaknya. Namun, dia tentu tidak mungkin bisa menerima uang itu begitu saja jika maksud tujuan orang di hadapannya itu tidak baik.


" Maaf, Pak. Saya tidak dapat menerima uang itu." Dengan nada sopan tak ingin menyinggung Adibrata, Pak Mamat menolak uang yang disodorkan oleh Adibrata.


Penolakan Pak Mamat sontak membuat Adibrata memicingkan matanya dan menatap tajam ke agak Pak Mamat. Selama ini hampir jarang dia menemukan orang yang berani menolak pemberiannya. Tentu saja hal tersebut menimbulkan percikan emosi di hati Adibrata karena merasa diremehkan.


" Kalau Bapak memang orang tua dari laki-laki yang datang sama Mbak Indi dan berniat baik, silahkan masuk saja, Pak." Pak Mamat akhirnya membukakan pintu gerbang untuk Adibrata.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan terima kasih kepada Pak Mamat, Adibrata langsung masuk ke dalam pekarangan rumah Lusiana karena dia merasa kesal dengan sikap Pak Mamat yang sudah berani menolak pemberian uang darinya.


Adibrata melangkah dengan hati kesal ke arah teras rumah Lusiana. Samar-samar dia mendengar suara Bagas yang berbincang dengan seorang wanita yang dia anggap pemilik rumah itu.


" Saya tidak akan lama, Bu. Hanya mengantar Indhira saja. Saya mau langsung pulang."


" Oh ya, sudah. Kamu tenang saja, Indhira aman tinggal di sini sama kami."


" Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya permisi, Bu."


" Saya antar Bagas ke depan dulu, Bu."


" Iya, Indhira."


Itu percakapan yang tertangkap di indera pendengarannya. Dia pun bergegas berjalan ke arah pintu sebelum Bagas meninggalkan ruangan tamu rumah Lusiana.


" Selamat malam, Nyonya. Maaf jika kedatangan saya mengganggu Anda." Saat sudah berada di depan pintu rumah, Adibrata menyapa Lusiana, wanita yang dia anggap pemilik rumah tersebut.


" Papa?" Dengan ekspresi wajah menegang, bibir pria itu menyebut kata Papa.


" Papa, ada apa Papa kemari?" Bagas yang merasa khawatir Adibrata akan membuat keributan dan akan menyakiti Indhira segera menghampiri Adibrata.


" Ini Papa kamu Bagas?" tanya Lusiana saat Bagas memanggil pria yang yang muncul di rumahnya dengan sebutan Papa. Lusiana juga terheran bagaimana Adibrata bisa sampai di rumahnya.


" Iya, Bu. Ini Papa saya." Bagas menjawab dengan cepat.


" Mari silahkan masuk, Pak." Lusiana menyuruh Adibrata untuk masuk ke dalam rumahnya.


" Tidak usah, Bu. Kami ingin segera pergi." Bagas menolak tawaran Lusiana karena dia ingin segera membawa Papanya keluar dari rumah Lusiana.

__ADS_1


" Kenapa kamu terburu-buru, Bagas? Papa justru ingin tahu apa yang kamu lakukan beberapa hari ini sampai kamu telat pulang dan meninggalkan kantor secara sembunyi-sembunyi." Tatapan tajam Adibrata kini mengarah kepada Indhira. Sontak membuat Indhira langung menurunkan pandangannya, tidak berani membalas tatapan menakutkan Adibrata.


" Pa, sebaiknya kita membahas ini di rumah saja, jangan di tempat orang!" Dengan sedikit berbisik, Bagas meminta Papihnya untuk tidak meneruskan kata-katanya, karena dia yakin jika Papanya itu akan menyulitkan posisinya, terlebih akan menyakiti Indhira.


" Kenapa, Bagas? Papa justru ingin kenal dengan wanita pilihanmu itu! Apa dia lebih segala-segalanya dari Evelyn, sehingga kamu rela meninggalkan tunanganmu demi wanita itu!?" sindiran Adibrata bernada cukup tinggi hingga terdengar di telinga Indhira juga Lusiana.


Indhira terkesiap mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Adibrata yang ditujukan kepadanya. Indhira mendengar nama Evelyn yang disebut oleh Adibrata tadi. Dari kalimat yang diucapkan oleh Adibrata, dia bisa menarik kesimpukan jika Papa dari kekasihnya itu menuduh dirinya telah merebut Bagas dari tunangan Bagas. Benarkah Bagas sudah bertunangan sebelumnya bersama wanita bernama Evelyn? Kenapa Bagas tidak mengatakan apa-apa soal pertunagannya? Bukankah Bagas bicara padanya jika Bagas tidak dapat berpaling pada wanita lain selama delapan tahun ini? Lalu apa arti perkataan Adibrata tadi? Segala pertanyaan berkecamuk di pikiran Indhira dan itu sangat membuat hatinya terasa sakit. Dia berpikir, kenapa Bagas tega membohonginya? Jika Bagas sudah bertunangan, kenapa Bagas ingin menikahinya?


" Pa! Tolong jangan bahas masalah ini di rumah orang!" Bagas merasa kesal karena Papanya sengaja mengatakan hal itu di hadapan Indhira dan juga Lusiana. Dia bahkan sontak melirik ke arah Indhira, dia melihat wanita itu menatap ke arahnya dengan bola mata mengembun.


" Bagas, sebaiknya kita bicara sambil duduk. Sebenarnya ada masalah apa? Maaf kalau saya terkesan ikut campur, karena ini adalah rumah saya." Lusiana yang mendengar berdebatan antara Bagas dan Adibrata menyuruh mereka untuk duduk bersama dan membicarakan hal tersebut secara baik-baik. Tentu saja karena Lusiana dari sempat mendengar Adibrata menuding Indhira sebagai perebut Bagas dari tunangan Bagas, sehingga dia merasa perlu memberi penjelasan tentang hal tersebut kepada Adibrata.


" Maaf, Bu. Kami mau langsung pulang saja. Assalamualaikum ... ayo, Pa!" Bagas menarik lengan Adibrata untuk membawa Adibrata keluar dari rumah Lusiana.


" Papa ingin bicara dengan wanita itu, Bagas!" Adibrata menepis tangan Bagas dari lengannya. Adibrata justru berjalan masuk mendekat ke arah Indhira.


Plaakk


Sebuah tam paran langsung dilayangkan Adibrata pada pipi Indhira sebagai tanda jika dia sangat marah pada wanita itu.


Indhira tersentak ketika sebuah pu kulan mengenai pipi mulusnya. Seketika itu cairan bening langsung menghujani pipinya itu. Dia merasakan perih di pipinya saat ini. Bukan hanya karena perih akibat tam paran, tapi juga karena penghinaan yang dilakukan oleh ayah satu kekasihnya itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2