
Setelah menutup panggilan telepon dari Adibrata, Bagas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia merasa kesal, karena kebebasannya merasa terkekang oleh sang Papa. Mungkin ini adalah kesalahannya karena sejak awal tidak punya pendirian yang kuat untuk menentang belenggu yang sudah ditanamkan Adibrata sejak dirinya kecil.
Adibrata memang menginginkan dirinya menjadi sosok anak dan pemuda yang sempurna. Selain berwajah tampan, otak yang cemerlang, karir yang mapan dan tentu saja mempunyai pendamping hidup seorang wanita terhormat dari garis keturunan yang jelas keluarga yang mempunyai status ekonomi setara dengan keluarga Adibrata Mahesa.
Setiap orang mungkin memimpikan hal sempurna seperti itu. Tapi, hati seseorang tidak dapat dipaksakan untuk memilih harus jatuh cinta pada siapa. Seperti halnya Bagas. sebelum mengenal Indhira, dia senang berganti pasangan, karena dia mempunyai wajah tampan dan banyak wanita cantik yang menyukainya.
Awalnya, Bagas tidak merasa jika Indhira sangat istimewa. Di usianya kala itu, dia menganggap jika Indhira seperti gadis lainnya yang mudah dia pacari. Namun, perasaan itu berubah sejak peristiwa itu terjadi, bahkan sampai tersebarnya video viral tersebut. Apalagi sejak dia kehilangan jejak Indhira, sampai terdengar kabar Indhira dijual oleh Om nya. Perasaan bersalah, menyesal dibalut dengan kerinduan yang akhirnya membelenggunya selama kurun waktu delapan tahun belakangan ini selain belenggu dari kuasa Adibrata. Bahkan, sejak saat itu, Bagas seolah sulit untuk jatuh cinta lagi terhadap seorang wanita, meskipun wanita itu lebih sempurna dari Indhira.
Bagas turun dari mobilnya dan bergegas melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai di mana ruang kerjanya berada.
" Apa Papa saya tadi kemari, Ester?" tanya Bagas ketika sampai di depan ruangannya kepada sang sekretaris.
" Benar, Pak. Pak Adibrata baru pergi sekitar sepuluh menit lalu," sahut Ester.
" Papa saya bicara apa saja tadi?" tanya Bagas kembali.
" Pak Adibrata hanya menanyakan ke mana Pak Bagas pergi." jawab Ester. " Pak Adibrata lebih banyak bicara dengan Pak Zaenal, Pak," lanjutnya.
" Oh, ya sudah." Bagas menoleh ke arah ruangan wakilnya, kemudian masuk ke dalam ruangan kerjanya.
***
Indhira baru selesai membersihkan tubuhnya setelah pulang kerja. Walau tubuhnya merasa lelah, namun dia tidak bisa langsung beristirahat karena menyadari jika dia tinggal di rumah orang lain. Sebisa mungkin dia harus bisa membawa diri.
" Bagaimana pekerjaan baru kamu, Ra? Apa kamu bisa menjalankan pekerjaan itu dengan baik?" tanya Ibu Lidya, saat Indhira sedang berada di kamar Tante Sandra.
" Alhamdulillah bisa saya handle, Tan." sahut Indhira.
" Syukurlah kalau memang kamu bisa menghandle pekerjaan kamu dengan baik, Ra." ucap Ibu Lidya. " Lalu, kamu tadi pulang dengan siapa?" tanya Ibu Lidya kemudian.
" Saya tadi pakai ojek online, Tan. Ojek online langganan Bu Kia," jawab Indhira kemudian.
" Kenapa kamu tidak bawa motor kamu saja, Ra? Biar lebih irit pengeluaran kalau bawa kendaraan sendiri." Ibu Lidya menyarankan Indhira untuk memakai kendaraan sendiri seperti ketika Indhira bekerja di cafe. Jika sift pagi, Indhira berangkat menggunakan motor, namun jika sift malam, dia menggunakan ojek online saat berangkat karena pulang akan diantar dari pihak cafe.
" Kalau pagi saya harus ke rumah Bu Kia dulu. Nanti berangkat ke butiknya sama Bu Kia naik mobil, Tan. Sementara kalau pulang langsung ke sini, repot kalau ikut pulang ke rumah Bu Kia dulu untuk ambil motor di sana, Tan." Indhira merasa kerepotan jika harus menggunakan kendaraan sendiri untuk berangkat dan pulang kerja.
" Makanya, Kak Indi cari pacar biar ada yang antar jemput Kak Indi, dong!" celetuk Dhika yang saat itu ada di kamar Tante Sandra.
" Hush, anak kecil ngomong pacar-pacaran!" tegur Ibu Lidya kepada ponakannya.
" Lihat anakmu, Sandra! Baru kelas satu SMP sudah ngerti bilang pacaran!" Ibu Lidya seolah mengadukan sikap Dhika yang dianggapnya terlalu dewasa sebelum waktunya.
" Dhika 'kan sudah SMP, Bude. Bukan anak kecil lagi!" tepis Dhika terkekeh seraya berjalan keluar dari kamar Mamanya.
" Ucapan Dhika ada benarnya juga, lho, Ra!Sudah saatnya kamu membuka hati untuk menerima seorang pria untuk menjadi pendamping kamu." Ibu Lidya menyinggung soal pendamping hidup bagi Indhira.
" Usia kamu sudah menginjak dua puluh enam tahun. Kamu harus mulai memikirkan masa depan kamu, Ra. Kamu tidak bisa terus bersembunyi di balik masa lalu kamu itu. Sudah waktunya kamu menggapai kebahagiaan kamu, bertemu dengan pria yang kamu cintai dan mencintai kamu dengan tulus, lalu melangkah ke pelaminan, Ra!"
Indhira terdiam dan tertunduk mendengar perkataan Ibu Lidya. Dia memang selalu gelisah jika disinggung soal masalah pendamping hidup.
" San, coba kamu cepat sembuh! Lalu nasehati anak sulung kamu ini!" Kembali Ibu Lidya seakan mengadu kepada Tante Sandra. Namun, kali ini justru Indhira yang dia adukan pada Tante Sandra.
Indhira masih terdiam. Dia tidak berprasangka buruk dengan menduga-duga jika Ibu Lidya merasa keberatan dirinya berada di rumah itu. Namun, tetap saja perkataan Mama Rissa tadi membuat pikirannya tidak tenang, seakan dia dikejar target untuk segera menikah, sementara dirinya sendiri masih belum bisa mengatasi rasa traumanya menjalin hubungan dengan seorang pria.
" Tante senang kamu ada di sini. Bisa menemani Tante dan Sandra. Tapi, Tante lebih senang jika kamu bisa menemukan kebahagiaan untuk masa depan kamu sendiri. Tante dan Sandra sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri. Dan kebahagiaan orang tua adalah melihat anaknya bahagia berumah tangga." Ibu Lidya mengungkapkan keinginannya melihat Indhira bahagia.
" Tante berharap, dengan kamu bekerja bersama istri bos kamu, dia bisa membuat kamu lebih percaya diri." Melihat karakter Azkia yang kuat Ibu Lidya berharap Azkia dapat menularkannya kepada Indhira, agar Indhira dapat lebih percaya diri.
***
__ADS_1
Bagas turun dari mobil dan menghampiri rumah Azkia. Dia berharap kali ini dapat bertemu dengan Azkia, karena security yang berjaga kali ini bukan security yang berjaga pagi tadi.
" Permisi, Pak. Apa Pak Raffasya dan Bu Azkia ada di rumah?" Kali ini Bagas menyebut nama Raffasya agar tidak dituduh ingin mengejar istri orang.
" Maaf, dengan Mas siapa, ya?" tanya Pak Dudung, security yang berjaga malam hari mendekat ke pintu gerbang.
" Saya Bagas, Pak. Saya ingin bertemu dengan Ibu Kia, karena Ibu Kia adalah teman dari orang yang saya cari selama delapan tahun ini, Pak." Bagas menjelaskan agar security itu mau membukakan pintu untuknya.
" Oh, sebentar, saya kasih tahu orang di dalam dulunya, ya, Mas!?" Pak Dudung kembali ke pos untuk memberitahu orang di dalam rumah Raffasya.
Sementara di dalam rumah ...
Azkia dan Raffasya baru selesai menyantap makan malam dan menikmati waktu santai sambil berbincang dan bersenda gurau dengan anak-anak mereka di rumah keluarga.
" Mama, Dede bayinya perempuan saja kaya Alma ya, Ma? Biar Alma nanti ada temannya," ucap Almasyiffa, anak ke dua pasangan Azkia dan Raffasya sambil bergelayut manja di kaki Mamanya.
" Perut Mama 'kan belum besar, Sayang. Jadi adik bayinya belum kelihatan perempuan atau laki-lakinya." Azkia mengelus kepala bocah cilik berusia delapan tahun itu. Dirinya teringat akan masa kecilnya, saat dia merasakan hal yang sama dengan putrinya. Ketika dia dibully karena tidak punya adik perempuan, sampai merengek minta pada Mama Papanya untuk diberikan adik perempuan.
" Tapi nanti adik bayinya perempuan 'kan, Ma? Kalau Perut Mama sudah kelihatan besar!?" tanya Alma kembali.
" Kalau Alma ingin adik bayinya perempuan, Alma harus berdoa sama Allah, supaya dikasih adiknya perempuan." Azkia menirukan apa yang pernah Papa Mamanya ucapkan saat dia kecil dulu.
" Maaf, Mbak Kia, kata Pak Dudung, ada orang yang mencari Mbak Kia dan Mas Raffa di luar." Di sela-sela perbincangan keluarga Raffasya, Uni menyampaikan berita soal tamu yang datang mencari Azkia.
" Tamu? Tamu siapa, Mbak Uni?" tanya Azkia mengerutkan keningnya, apalagi saat ini waktu sudah menunjukkan jam delapan malam.
" Katanya, mengaku bernama Bagas, Mbak Kata Pak Dudung, orang itu bilang ada perlu ingin bertemu dengan Mbak Kia," sahut Uni seraya melirik ke arah Raffasya yang langsung mendelik ke arah istrinya.
" Bagas? Bagas siapa, Mbak?" Merasa tidak mempunyai kenalan bernama Bagas, Azkia justru bertanya kepada Uni.
" Uni tdak tahu, Mbak," jawab Uni kembali.
" Ada perlu apa malam-malam begini mencari istri orang?" Raffasya yang sedang bermain bersama Zehan langsung berdiri dan berjalan ke arah layar yang tersambung dengan cctv di gerbang rumahnya.
Raffasya lalu bergegas meninggalkan ruangan keluarga.
" Mbak Uni, titip anak-anak!" Melihat suaminya dengan langkah lebar meninggalkan ruangan keluarga, Azkia pun segera mengikuti. Namun sebelumnya dia menitipkan anaknya terlebih dahulu ke Uni.
" Suruh dia masuk, Pak Dudung!" teriak Raffasya memberi perintah Pak Dudung untuk membukakan pintu gerbang. Setelah itu dia masuk kembali menunggu Bagas masuk ke dalam rumahnya.
" Papa suruh dia masuk?" tanya Azkia saat mengetahui suaminya membiarkan Bagas masuk ke dalam rumah mereka.
" Papa ingin tahu, siapa pria yang berani mencari istriku sampai datang ke rumah ini!" Sorot mata tajam menatap sang istri.
" Papa tidak menuduh Mama selingkuh, kan?" Mendapat sorot tajam sang suami, Azkia curiga suaminya itu mempunyai pikiran jika dia selingkuh dengan pria lain.
" Mama tidak selingkuh, tapi tidak menutup kemungkinan membuat pria lain menyukai Mama!" Kalimat yang diucapkan Raffasya berbau cemburu.
" Itu resiko Papa punya istri cantik kayak aku ini, Pa!" Azkia mengusap bahu sang suami. Dia mencoba meredam rasa cemburu yang mulai menyeruak di hati suaminya itu. " Tapi, Mama 'kan sayangnya hanya sama Papa, tidak sama yang lain," lanjut Azkia.
" Permisi, Pak, Bu. Ini tamu yang ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu."
Saat Azkia sedang menenangkan sang suami, Pak Dudung masuk ke dalam ruangan tamu bersama dengan Bagas.
Raffasya dan Azkia langsung menatap seorang pria bergaya perlente dan nampak charming. Dari penampilanya, baik Raffasya dan Azkia menilai jika pria itu bukan pria biasa. Terutama Azkia yang langsung mengerutkan keningnya karena merasa pernah melihat pria tampan itu sebelumnya.
" Selamat malam, Pak Raffasya, Bu Azkia. Perkenalkan saya Bagas." Bagas memperkenalkan dirinya pada sepasang suami istri di hadapannya saat ini.
" Ada keperluan apa Anda datang kemari mencari istri saya?" tanya Raffasya dengan nada ketus.
__ADS_1
" Suruh duduk dulu dong, Pa!" Berbeda dengan sang suami, Azkia justru bersikap lebih hangat.
" Mari silahkan duduk dulu, Mas." Bahkan Azkia mempersilahkan Bagas untuk duduk di sofa. Tentu saja hal tersebut membuat Raffasya mendengus kasar.
" Terima kasih, Bu." Bagas lalu duduk di sofa setelah dipersilahkan oleh Azkia.
Azkia pun ikut duduk, sementara Raffasya masih berdiri dengan tangan berkacak pinggang.
" Pa, duduk, dong! Ada tamu, tidak sopan bertolak pinggang seperti itu!" Azkia menarik ujung kaos yang dipakai oleh suaminya itu, hingga Raffasya terduduk di sebelah Azkia dan langsung melingkarkan tangannya ke pundak sang istri.
Bagas memperhatikan Raffasya yang menatapnya tak bersahabat. Dia bisa menduga apa yang ada dipikiran suami dari Azkia itu.
Bagas menarik sudut bibirnya tipis. Sangat wajar jika Raffasya cemburu padanya, karena istri dari Raffasya memang sangat cantik.
" Oh ya, ada keperluan apa Mas datang kemari mencari saya?" tanya Azkia kemudian.
" Hmmm, begini, Bu. Maksud kedatangan saya kemari karena saya ingin mencari seseorang yang mungkin ibu kenal. Karena kemarin saya melihat Ibu bersama seseorang yang saya cari selama ini." Bagas mulai menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah itu.
" Langsung saja pada tujuan inti! Jangan terlalu bertele-tele!" Raffasya masih berbicara ketus pada Bagas, apalagi menurutnya Bagas tidak to the point pada tujuannya menemui Azkia.
" Pa ...!" Azkia menegur sang suami yang masih terlihat kurang hangat menyambut tamunya.
" Papa, Kak Naufal nakalin Zehan!" Dari dalam ruang keluarga terdengar suara teriakan Zehan yang disusul dengan kemunculan bocah cilik itu berlari ke arah Raffasya. Membuat perbincangan antara Azkia dan Bagas terjeda.
" Zehan duluan yang nakal, kok, Pa!" teriak Naufal melakukan pembelaan dari dalam ruangan.
" Maaf, Pak. Saya kemari hanya ingin mencari informasi soal orang yang bersama Ibu Kia kemarin di rumah makan Sunda." Bagas memperjelas ucapannya. " Apa wanita yang bersama Ibu Kia kemarin itu bernama Indhira Kusumaningrum?"
Azkia dan Raffasya sama-sama terkesiap saat Bagas menyebut nama Indhira. Bahkan pasangan suami istri itu saling berpandangan satu sama lain.
" Untuk apa Anda mencari Indhira?! Dan apa hubungan Anda dengan Indhira?!" Nada ketus Raffasya tak juga menyurut meskipun kedatangan Bagas ke rumah itu bukan karena pemuda itu menyukai istrinya. Terlebih menyangkut Indhira. Karena sejak kejadian kemarin, Bagas terlihat lebih protektif terhadap Indhira.
" Saya, saya teman lama Indhira, Pak. Saya sudah lama mencari Indhira. Kemarin ketika saya makan siang di rumah makan Sunda, saya melihat Indhira bersama Ibu Kia. Karena itu saya datang kemari." Bagas kembali menerangkan alasannya mencari Azkia.
Penjelasan Bagas membuat Raffasya dan Azkia berpikir keras. Bagas mengatakan mencari Indhira sampai ke rumahnya. Dari mana Bagas soal istrinya itu dan rumah mereka.
" Dari mana Anda menemukan rumah ini?" tanya Raffasya curiga.
" Maaf, Pak. Saya menyuruh orang untuk menyelidiki pemilik mobil yang dipakai Ibu Kia saat membawa Indhira pergi dari rumah makan itu." Secara jujur Bagas mengatakan dari mana dia mendapat informasi soal alamat rumah Azkia.
" Siapa Anda sebenarnya? Dan untuk apa mencari Indhira?!" Mengetahui jika pria di hadapannya bukan orang sembarangan sampai mencari tahu alamat rumah mereka dari plat nomer mobil istrinya, membuat Raffasya semakin mencurigai Bagas.
" Sebentar, sebentar, nama kamu tadi siapa?" Azkia mencoba mengingat nama Bagas, karena dia sempat mencari tahu dari Adam sosok mantan kekasih Indhira. Karena Adam mengatakan jika mantan kekasih Indhira anak dari orang terpandang.
" Saya Bagas, Bu. Bagaspati Mahesa." Bagas kembali menyebutkan namanya.
" Bagaspati Mahesa?" Kening Azkia berkerut mencoba mengingat. " Kamu? Apa kamu mantan kekasih Indhira?" Akhirnya Azkia ingat nama Bagas adalah mantan kekasih Indhira yang terlibat dalam video viral itu.
Bagas terkesiap saat Azkia mengenali dirinya adalah mantan kekasih dari Indhira. Bagas berpikir, mungkin Indhira yang bercerita kepada Azkia soal dirinya.
" Benar, Bu. Saya memang pernah menjalin hubungan dengan Indhira saat SMA dulu." Bagas mengatakan dengan jujur siapa dirinya.
" Jadi kamu pria breng sek yang sudah menodai Indhira sampai video itu tersebar!?" Raffasya terlihat geram mengetahui pria di hadapannya saat ini adalah orang yang sudah membuat Indhira menderita. Raffasya lalu bangkit dan menyerahkan Zehan ke tangan Azkia, kemudian berjalan menghampiri Bagas.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy Reading ❤️