
" Kenapa Mama bilang Indhira akan menikah?" tanya Raffasya kepada Azkia setelah berhasil 'mengusir' Bagas dari rumah mereka.
" Biarkan lah, Pa! Enak saja dia ingin mudah menemukan Indhira! Papa tidak melihat bagaimana penderitaan Indhira selama ini!? Tidak ingat bagaimana dia syok sama kasus kemarin di La Grande? Apa yang dirasakan oleh Bagas ini belum ada secuil pun dari apa yang sudah dirasakan oleh Indhira selama ini, Pa!"
" Kalau dia benar-benar menginginkan Indhira, dia harus berjuang, dong! Jangan mau enak dikasih jalan mulus begitu saja!" Azkia mengungkapkan alasannya mengapa dia sampai bersandiwara dengan mengatakan Indhira akan menikah kepada Bagas.
" Tapi, aku merasa dia memang sungguh-sungguh menyesali perbuatannya, Ma. Ya, walaupun sebelumnya dia tidak maksimal dalam mencari Indhira. Setidaknya, dia tidak lepas tanggung jawab begitu saja." Raffasya yang pernah berada di posisi Bagas pasti bisa merasakan begitu sulitnya mendapatkan ijin dari Azkia untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan kepada istrinya dulu.
" Aku juga 'kan pernah seperti Bagas, Ma. Sulitnya untuk meluluhkan hati Mama. Harus kena bo gem Uncle Gavin. Untung Papa Yoga lebih bijak dalam menyingkapi permasalahan." Raffasya bahkan mengingat masa lalunya ketika berjuang mendapatkan Azkia, karena pertolongannya kala itu justru menyebabkan kehamilan Azkia.
" Jangan samakan Papa dengan dia, dong, Pa! Papa itu jauh lebih baik dari dia! Papa itu tidak kenal lelah terus berusaha dekati Mama, walaupun Mama jutekin terus, Papa tidak perduli! Papa tetap teguh pada pendirian Papa untuk bertanggung jawab!" Azkia menolak suaminya disamakan dengan Bagas. Karena Azkia merasa, sikap Raffasya bersikap lebih gentleman ketimbang Bagas.
" Lagipula, aku kok merasa khawatir, Pa." Azkia merasakan kecemasan dengan niat Bagas yang menginginkan kembali bersama dengan Indhira.
" Khawatir kenapa?" Raffasya menanyakan hal yang menyebabkan rada khawatir sang istri.
" Adam pernah bilang kalau orang tua Bagas menghalangi Bagas mencari Indhira. Artinya, orang tua Bagas itu tidak menyukai anaknya dekat dengan Indhira, kan? Lalu tadi Bagas bilang rela melepas apa yang dimilikinya saat ini untuk mendapatkan Indhira, apa Papa berpikir jika orang tua Bagas akan merestui begitu saja jika Bagas ingin kembali pada Indhira? Apa Papa tidak khawatir nantinya Indhira justru akan kembali menderita? Daripada Indhira harus menderita untuk yang kesekian kali, lebih baik mereka tidak pernah bertemu, Pa! Biar Indhira juga lebih tenang, tidak terus disakiti oleh sikap keluarganya Bagas!" Azkia mengungkapkan ketakutannya. Dia merasakan akan ada halangan yang lebih besar yang akan dihadapi oleh Bagas dan Indhira. Dan itu beresiko menyakiti hati Indhira kembali.
Raffasya mengerutkan keningnya seraya berpikir. Mungkin benar juga apa yang dikatakan istrinya. Tantangan Bagas lebih besar dibanding dirinya dulu. Dulu dia hanya butuh meluluhkan hati Azkia. Padahal keluarganya dan keluarga Azkia sudah mengizinkan dirinya bertanggung jawab atas kehamilan Azkia. Sedangkan Bagas? Rintangan terbesar adalah keangkuhan Adibrata Mahesa yang selalu dominan mengatur hidup Bagas.
Sementara itu di luar rumah megah Raffasya yang sudah direnovasi total sejak Azkia melahirkan anak kedua. Bagas masih diam di dalam mobilnya. Mobilnya tak bergerak meninggalkan jalan di depan rumah Raffasya. Pria itu bertekad akan tetap menemui Raffasya dan Azkia kembali esok hari.
Kendatipun Bagas mendengar kabar Indhira akan menikah, namun dia tetap ingin bertemu dengan Indhira untuk menyampaikan permintaan maafnya, untuk menyampaikan penyesalannya.
Bagas bahkan mematikan ponselnya agar Adibrata yang menunggunya di rumah untuk meminta penjelasan atas maksud perkataan di telepon tidak terus menghubunginya. Bagi Bagas saat ini yang terpenting adalah bertemu Indhira. Hingga akhirnya dia bertekad akan bermalam di mobil dan esok hari akan mencoba bicara dengan Azkia dan Raffasya kembali. Berharap pasangan suami istri itu bisa berubah pikiran.
Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 23.30 menit. Keberadaan mobil mewah Bagas di depan rumah Raffasya tentu saja mengundang perhatian warga setempat yang sedang berjaga dan berkeliling melakukan kegiatan siskamling.
Mobil mewah milik Bagas memang jarang terlihat beredar di jalan kawasan perumahan itu. Di antara perumahan di sekitarnya, hanya rumah milik Raffasya yang paling menonjol. Namun begitu karena Raffasya dan Azkia senang berinteraksi dan ramah dengan warga sekitar, hingga membuat warga di sana akan perduli jika terjadi sesuatu dengan keluarga Raffasya.
" Pak Birin, mobil itu dari petang tadi terparkir di depan rumah Pak Raffa. Mencurigakan sekali tidak menurut Pak Birin?" tanya Pak Darman menunjuk ke arah mobil mewah yang masih terparkir di depan rumah Raffasya.
" Apa mungkin tamunya Pak Raffa ya, Pak Darman?" Pak Sobirin balik bertanya kepada Pak Darman.
" Kalau tamunya Pak Raffa kenapa tidak parkir di pekarangan rumah Pak Raffa saja, Pak? Pekarangan rumah Pak Raffa itu 'kan muat parkir sampai lima mobil, lho, Pak!" Mengingat dirinya sering berkunjung ke rumah Raffasya, membuat Pak Darman tahu kondisi halaman rumah Raffasya yang memang cukup luas.
" Benar juga ya, Pak!? Apalagi mobil itu mobil mewah harganya milyaran. Kalau ditaruh di luar ada yang lecet atau ada orang yang iseng 'kan repot juga, tuh!" sahut Pak Sobirin kembali.
" Sebaiknya kita tanya security yang jaga di rumahnya Pak Raffa saja yuk, Pak!" Pak Darman mengajak Pak Sobirin untuk berbicara dengan Pak Dudung yang malam itu kebagian tugas berjaga.
" Assalamualaikum, Pak Dudung!" Pak Darman dan Pak Sobirin menyapa Pak Dudung yang sedang menonton acara di televisi di pos nya.
" Waalaikumsalam ... eh, Pak Darman, Pak Birin." Pak Dudung bergegas menghampiri kedua tetangga majikannya itu. " Ada apa, Pak?" tanya nya kemudian.
" Pak Dudung tahu mobil yang parkir di depan rumah Pak Raffa itu?" Pak Darman menunjuk ke arah mobil Bagas.
" Mobil mana, Pak?" Pak Dudung sampai membuka pintu gerbang untuk melihat mobil yang dimaksud oleh Pak Dudung tadi.
" Itu kalau tidak salah mobil tamunya Pak Raffa dan Bu Kia, Pak. Tapi, bukannya orangnya sudah keluar dari tadi, ya!?" Pak Dudung bingung kenapa mobil tamu majikannya itu masih saja terparkir di depan padahal Bagas sudah keluar dari beberapa jam lalu.
" Coba saja kita dekati lalu tanya apa maksudnya masih berada di tempat ini, Pak Darman!?" Pak Sobirin menyarankan agar mereka mencari tahu langsung tujuan orang itu belum beranjak pergi dari kawasan perumahan mereka.
" Ayo, Pak!" Pak Darman dan Pak Dudung segera mendekati mobil Bagas, namun sebelumnya Pak Dudung mengunci gerbang terlebih dahulu.
__ADS_1
Mata Bagas baru saja terpejam, karena sejujurnya hari ini sangat melelahkan baginya. Dia terasa bagai bola yang dilempar ke sana kemari demi mendapatkan keberadaan Indhira.
Tok tok tok
Bagas terkesiap dan terjaga dari tidurnya saat dia mendengar kaca pintu mobilnya diketuk dari luar. Bagas melihat beberapa orang pria sedang berdiri di samping mobilnya. Salah satu dari orang itu adalah security di rumah Raffasya yang dia tahu.
Merasa jika dia adalah orang asing di daerah itu, Bagas lalu membuka pintu dan keluar dari mobilnya.
" Ada apa ya, Pak?" tanya Bagas kemudian. Bagas tentu tidak ingin orang lain mencurigainya hendak berbuat jahat di sana.
" Maaf, Mas. Kenapa mobil Mas terparkir di sini?" tanya Pak Darman langsung mengintrogasi Bagas.
" Oh, maaf, jika keberadaan saya membuat Bapak-bapak tidak nyaman. Saya hanya ada keperluan dengan Pak Raffasya dan Ibu Azkia, Pak. Saya tidak mempunyai maksud jahat sama sekali kok, Pak!" Bagas seolah kehilangan akal sehat. Sebenarnya dia bisa kembali esok hari pagi-pagi sekali, tidak harus menginap di dalam mobil seperti sekarang ini. Tapi sepertinya kebingungan lah yang menguasai hati dan pikirannya saat mendengar Indhira akan menikah hingga membuatnya nekat bermalam di depan rumah Raffasya.
" Lho, bukannya tadi Mas sudah bertemu dan berbicara dengan Pak Raffa dan Bu Kia?" Pak Dudung bertanya heran. Karena setahunya Bagas memang sudah berbicara dengan majikannya tadi.
" Benar, Pak. Tapi, saya masih belum mendapatkan jawaban dari yang saya cari. Saya harus bicara lagi esok pagi." Bagas menyampaikan alasannya kenapa dia harus berbicara kembali dengan Raffasya dan Azkia.
" Kalau begitu kenapa Mas tidak datang besok lagi saja kemari? Kenapa harus menunggu di sini?" selidik Pak Sobirin curiga.
" Saya ... saya tidak berpikir ke sana, Pak. Karena saya benar-benar bingung. Saya sedang mencari orang yang sudah delapan tahun menghilang. Pak Raffasya dan Bu Azkia mengetahui keberadaan orang yang saya cari itu. Tapi, mereka tidak mau memberitahu di mana keberadaan orang itu pada saya." Bagas menjelaskan tujuannya bertemu dengan pemilik rumah mewah di hadapannya saat ini.
" Besok pagi saya akan berusaha berbicara kembali, dengan harapan Pak Raffasya dan Bu Azkia mau memberitahu di mana saya bisa bertemu dengan orang yang saya maksud, Pak." Raffasya berharap, dengan melihat dirinya rela bermalam di luar rumah Raffasya, pasangan suami istri itu akan luluh dan memberitahu di mana Indhira berada.
Ketiga orang di hadapan Bagas saling berpandangan. Mereka bingung harus percaya atau tidak dengan perkataan Bagas tadi.
" Kalau Bapak kurang yakin jika saya tidak berniat jahat kepada Pak Raffasya da Bu Azkia, Bapak boleh memegang ini " Bagas mengeluarkan indentitas dirinya, termasuk KTP, SIM, kartu nama termasuk STNK dari mobil mewah yang dikendarainya saat ini untuk membuktikan jika dia bertanggung jawab dengan tindakannya saat ini.
Pak Darman, Pak Dudung dan Pak Sobirin terperangah saat melihat kartu nama Bagas yang menyebutkan jabatan pria itu sebagai CEO dari perusahaan besar.
" Ternyata dia bos, Pak Darman. Untung keluarga saya tidak ada yang bekerja di perusahaan milik dia. Bisa-bisa dipecat mereka jika ketahuan saya mencurigai dia," celetuk Pak Sobirin terkekeh.
" Saya juga sudah curiga dari penampilan sama harumnya beda kalau orang-orang gedean, Pak Birin." Pak Sobirin menimpali.
" Apa kita harus lapor ke Pak Galih, Pak? Tapi kayaknya sudah istirahat jam segini, Pak!" Pak Sobirin bertanya apakah perlu menghubungi ketua RT di tempat tinggal mereka.
" Tidak usah, Pak. Kita handle sendiri saja!" sahut Pak Darman.
" Baiklah, Mas. Bukannya kami tidak percaya. Tapi, kami memang berkewajiban melindungi warga di sini, jadi terpaksa identitas Mas dipegang sama Pak Dudung. Tidak masalah 'kan, Mas?" Pak Darman akhirnya mengambil keputusan untuk menyimpan dokumen penting milik Bagas tersebut.
" Tidak masalah kok, Pak. Silahkan saja ..." jawab Bagas. Dia tidak keberatan karena dia memang tidak mempunyai niat jahat sama sekali.
" Pak Dudung, tolong ini disimpan baik-baik. Jika urusan Mas ini sudah selesai dengan Pak Raffa, kembalikan ini semua ke Mas nya." Pak Darman menyuruh security di rumah Raffasya untuk menyimpan dokumen penting milik Bagas tersebut.
" Siap, Pak!" sahut Pak Dudung tegas.
" Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu, Mas Bagas. Silahkan dilanjut kembali istirahatnya." Pak Darman akhirnya berpamitan kepada Bagas, kemudian bersama Pak Sobirin dan Pak Dudung meninggalkan Bagas.
Keesokan harinya ...
Sekitar pu kul 05.10 menit Raffasya keluar dari rumahnya melakukan aktivitas berolah raga untuk menjaga kebugaran tubuhnya seperti yang biasa dia lakukan setiap hari. Raffasya melakukan aktivitas itu di pekarangan rumahnya.
" Pagi, Pak Raffa." sapa Pak Dudung melihat majikannya itu berolah raga.
__ADS_1
" Pagi, Pak Dudung." balas Raffasya tanpa menghentikan aktivitasnya meregangkan otot-ototnya.
" Maaf, Pak Raffa. Tamu yang semalam datang masih menunggu di luar semalam." Pak Dudung menyampaikan informasi seputar Bagas yang masih menunggu di luar rumah Raffasya.
" Tamu semalam? Di mana, Pak Dudung?" Raffasya terkesiap saat mengetahui Bagas masih berada di sekitar lingkungan rumahnyam
" Itu di luar, Pak. Orang itu juga menyimpan ini sebagai jaminan kalau dia tidak akan berbuat macam-macam. Semalam orang itu didatangi oleh Pak Darman dan Pak Sobirin yang berkeliling siskamling, Pak." Pak Dudung menyerahkan dokumen penting milik Bagas kepada Raffasya.
Raffasya memperhatikan dokumen penting milik Bagas hingga kartu nama yang menunjukkan profesi Bagas sebagai seorang CEO. Raffasya tidak menyangka jika pemuda itu akan bertahan di depan rumahnya dan menginap di luar.
Raffasya lalu beranjak ke arah pintu gerbang untuk melihat keberadaan mobil Bagas. Dia pun lalu menyerahkan dokumen penting milik Bagas itu kepada Pak Dudung.
" Simpan saja dulu, Pak Dudung. Biarkan saja dia menunggu di sana!" Raffasya membiarkan Bagas menunggu di depan rumahnya. Sementara dia terus melanjutkan aktivitasnya berolah raga.
***
Indhira berlari ke luar rumah setelah dia berpamitan kepada Tante Sandra dan Ibu Lidya karena ojek online sudah menunggu di depan.
" Dengan, Mbak Indhira?" sapa driver ojek online yang sudah menunggu di depan gerbang.
" Iya, benar, Pak." sahut Indhira mendekat.
" Ke tempat yang kemarin ya, Mbak?" tanya driver Ojol itu menyerahkan helmet kepada Indhira. Membuat Indhira langsung menolehkan pandangan pada driver itu.
" Oh, kemarin Bapak yang mengantar saya juga, ya?" Indhira ingat jika driver ojol yang di hadapannya adalah driver ojol yang kemarin mengantarnya ke rumah Azkia juga.
" Iya, Mbak." jawab driver ojol. " Sudah siap, Mbak?" tanya driver Ojol saat Indhira sudah menaiki motornya.
" Sudah, Pak." sahut Indhira kemudian.
Dua puluh menit kemudian Indhira sampai di depan rumah Azkia. Dia sempat melirik mobil mewah yang terparkir di depan rumah bos nya itu. Namun, dia tidak terlalu tertarik memperhatikan mobil tersebut.
" Assalamualaikum, Pak." sapa Indhira kepada Pak Tono.
" Waalaikumsalam, Mbak Indhira ..." Pak Tono bergegas menghampiri pintu gerbang.
Sementara di dalam mobilnya, Bagas mengerjapkan matanya. Dia lalu menggeliat dan melirik arlojinya. Dia terkesiap saat melihat saat ini sudah menunjukkan jam 08.30 menit. Setelah didatangi Pak Darman dan rekan-rekannya semalam, Bagas memang tidak dapat kembali terlelap. Dia baru bisa memejamkan matanya sekitar jam 03.00 hingga akhirnya dia bangun kesiangan.
Bagas terkesiap karena matahari sudah nampak bersinar terang pagi ini. Dia langsung menoleh ke arah gerbang rumah Azkia dan Raffasya. Saat itu juga dia melihat sosok wanita yang berdiri di depan pintu gerbang rumah itu.
" Indhira?" Bagas terperanjat melihat kedatangan Indhira di depan rumah Azkia. Namun, tak lama wanita itu masuk ke dalam rumah saat pintu gerbang terbuka.
" Indhira ...!" Bagas bergegas keluar dari mobilnya lalu berlari mengejar Indhira ke pintu gerbang rumah Azkia.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1