
Setelah menaruh koper ke dalam rumah kontraknya. Bagas lalu mengajak Indhira ke rumah pak RT untuk melapor karena mereka akan tinggal di sana, selama satu atau dua bulan sambil menunggu Bagas memproses KPR nya.
Mereka memilih berjalan kaki menuju rumah Pak RT yang berjarak seratus meter dari kontrakannya. Dan meninggalkan motor milik Indhira di pekarangan rumah kontrakannya.
Sepanjang perjalanan di gang menuju rumah Pak RT, mereka berdua menyita perhatian warga di sekitar perkampungan itu. Tentu saja sosok tampan dan cantik Bagas dan Indhira bak model dan artis membuat para warga terkagum seperti kedatangan selebritis. Apalagi sikap Bagas dan Indhira yang ramah menyapa setiap warga yang dilewatinya membuat mereka bertanya-tanya siapa kedua orang yang mempunyai fisik sempurna itu.
" Assakamualaikum ..." Bagas mengucap salam saat sampai di depan rumah Pak RT.
" Waalaikumsalam ..." seorang wanita muda membukakan pintu rumah Pak RT.
" Permisi, Mbak. Bapaknya ada?" tanya Bagas pada wanita yang tertegun menatap ke arahnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Bagas, namun wanita muda itu justru terpana menatap wajah tampan Bagas.
" Siapa, Sari?" Suara wanita lainnya terdengar dari dalam rumah Pak RT hingga terlihat kemunculannya di belakang wanita muda yang membukakan pintu tadi.
" Maaf, Bu. Bapaknya ada?" Tak juga mendapatkan jawaban dari wanita muda tadi, Bagas kini bertanya kepada wanita yang dia tahu sebagai Ibu RT, karena saat dia datang pertama kali setelah mengontrak rumah, dia sudah bertemu dengan istri dari Pak RT itu.
" Oh, bapak ada. Mari silahkan masuk!" Ibu RT mempersilahkan Bagas dan Indhira masuk ke dalam rumahnya sambil menarik lengan wanita yang dia panggil sebagai Sari itu.
" Kamu kenapa malah bengong, Sari?" Bu RT menegur anaknya yang terpana melihat sosok Bagas. " Sana panggil Ayah, bilang ada tamu!" Kini Ibu RT menyuruh anaknya itu untuk memanggilkan Ayahnya.
" I-iya, Bu." Sari terkesiap karena menyadari jika dirinya tadi keasyikan menikmati ketampanan tamu Ayahnya itu. Merasa malu karena ketahuan, Sari bergegas masuk ke dalam rumah sekaligus memanggilkan Ayahnya.
" Silahkan duduk dulu!" Ibu RT sangat ramah menerima Bagas dan Indhira di rumahnya itu.
" Terima kasih, Bu." sahut Bagas kemudian mengajak Indhira untuk duduk bersebelahan dengannya di sofa.
" Mas ini yang baru mengontrak di rumahnya Pak Budi, kan?" tanya Ibu RT yang masih mengingat Bagas.
" Benar, Bu. Saya Bagas, yang mengontrak di rumah depan gang," jawab Bagas.
Kini Ibu RT menoleh ke arah Indhira, Dia merasa heran, ada apa Bagas membawa wanita itu ke rumahnya, hingga membuatnya lalu bertanya. " Kalau ini siapa?" menunjuk ke arah Indhira.
" Ini istri saya, Bu. Namanya Indhira." Bagas menjelaskan status Indhira kepada Ibu RT.
" Istri Mas Bagas? Oh, Mas Bagas sudah menikah, ya?" Ibu RT nampak terkejut saat Bagas mengenalkan Indhira sebagai istrinya,, karena dirinya berpikir jika Bagas belum berkeluarga. Awalnya dia malah sempat berpikir ingin menjodohkan putrinya dengan Bagas, padahal dia baru mengenal Bagas, namun dia merasa jika Bagas adalah sosok pria yang baik, selain mempunyai wajah yang rupawan.
" Benar, Bu. Kami baru menikah Kamis kemarin. Makanya kami datang menemui Bapak untuk melapor, karena sementara ini kami akan mengontrak di rumah Pak Budi itu, Bu." tutur Bagas menjelaskan maksud tujuannya menemui Pak RT.
" Oh, masih pengantin baru, dong!? Wah, lagi hangat-hangat, ya!?" Ibu RT terkekeh berseloroh menanggapinya.
" Iya, seperti itulah, Bu." Bagas ikut terkekeh seraya menoleh ke arah Indhira yang hanya tersipu malu.
__ADS_1
" Oh, ada Mas Bagas?" Pak RT kini sudah muncul di ruangan tamu rumahnya.
" Iya, Pak " Bagas bangkit menyalami Pak RT diikuti oleh Indhira.
" Oh, ini istri Mas Bagas?" Karena sempat mendengar kabar dari Bagas jika akan menikah, Pak RT cepat tanggap dan menebak jika wanita yang bersama Bagas ini adalah istri dari Bagas yang baru saja dinikahi oleh Bagas.
" Benar, Pak. Ini Indhira, istri saya." Bagas membenarkan tebakan Pak RT.
" Lho, kok, Ayah tahu Mbak nya ini istrinya Mas Bagas?" tanya Bu RT heran suaminya bisa tahu jika Indhira adalah istri dari Bagas.
" Kemarin Mas Bagas ini bilang ke Ayah katanya mau menikah, Bu. Makanya Ayah langsung menebak Mbak ini adalah istri Mas Bagas." Pak RT menjelaskan bagaimana dia bisa mengetahui Indhira adalah istri dari Bagas.
" Oh, begitu ...."
" Kami datang kemari karena ingin melapor agar tidak ada salah paham dan fitnah karena saya tinggal bersama wanita, Pak." Bagas lalu menyerahkan foto copy KTP Indhira kepada Pak RT.
" Sementara baru itu dulu dokumen yang bisa saya serahkan sebagai tangan pengenal, Pak. Nanti kalau urus kartu keluarga sudah selesai saya kasih foto copy kartu keluarga kami," lanjut Bagas.
" Baiklah, Mas Bagas. Yang penting Mas nya sudah melapor ke kami akan tinggal di lingkungan kampung ini. Biar tidak ada kesalahpahaman." Pak RT pun menyahuti.
Sekitar lima belas menit berbincang di rumah Pak RT, Bagas pun lalu berpamitan setelah menyelesaikan urusannya di rumah Pak RT dan kembali ke kontrakannya.
***
" Resiko jadi orang ganteng, memang seperti itu, kan?" Bagas justru menanggapi keluhan Indhira dengan berkelakar.
" Senang, ya? Ditaksir banyak wanita?" Dengan memasang wajah memberengut, Indhira menegur reaksi dari suaminya yang dia anggap genit.
" Senang, dong! Biarpun tidak semuda dulu, tapi masih tetap digandrungi banyak wanita." Mendengar sindiran Indhira, Bagas justru memancing kemarahan Indhira.
" Dasar laki-laki gombal! Katanya hanya cinta aku, tapi ada wanita lain yang terpesona malah kegirangan!" Indhira memalingkan wajah tak ingin menatap Bagas karena dia merasa kesal dengan ucapan Bagas tadi.
" Kamu lihat, tuh! Artis banyak yang dikagumi banyak wanita, itu hal yang normal, kan? Kita tidak bisa melarang orang lain mengagumi kita 'kan, Ra!?" Bagas menyamakan dirinya dengan para artis. Sontak apa yang dikatakan Bagas semakin membuat Indhira memberengut.
" Hahaha, kamu ini kalau sedang merajuk masih seunyu dulu." Bagas mencu bit gemas pipi Indhira. " Kamu ingat tidak? Saat kamu merajuk seperti ini ketika kamu kabur dari pentas seni di sekolah karena kamu cemburu banyak wanita yang ngefans sama aku?" Bagas membuka ingatan Indhira ke masa lalu saat mereka sama-sama masih SMA.
Tentu Indhira tidak akan melupakan hal tersebut. Karena akibat dirinya merajuk dan merasa cemburu, akhirnya Bagas membawa dirinya ke rumah Bagas dan terjadilah dosa yang dilakukan oleh mereka berdua.
" Sudah, ah! Jangan mengingat masa lalu!" Indhira enggan membahas hal yang mengakibatkan mereka berbuat kesalahan.
Bagas kemudian merangkulkan tangannya di pundak Indhira lalu berujar, " Kamu harus percaya sama aku, Ra. Walaupun banyak wanita cantik yang mengagumiku, aku hanya cinta kamu. Kamu pikir untuk apa aku rela meninggalkan rumah dan pekerjaanku jika bukan karena ingin mendapatkan kamu. Lalu, apa kamu pikir, aku akan mudah berpaling pada wanita lain begitu saja!?" Bagas menegaskan, jika dia tidak akan berpindah hati kepada wanita lain selain Indhira.
" Oh ya, nanti sore kita cari perlengkapan dapur untuk kamu memasak, ya!? Aku belum sempat membeli peralatan dapur." Karena kini mereka sudah tinggal di rumah kontrakan, Bagas merasa perlu membeli perlengkapan dapur untuk istrinya memasak sehari-hari.
__ADS_1
" Mas belum beli peralatan dapur selain kompor?" Kali ini Indhira sudah melupakan rasa kesalnya kepada suaminya akibat anak Pak RT yang mengagumi Bagas.
" Ada panci untuk bikin mie ..." Bagas menyeringai menyebut panci untuk memasak mie.
" Persis anak kost banget, ya?" sindir Indhira mendengar jawaban suaminya tadi.
" Aku waktu kost di Amerika tidak pernah masak mie lah, Ra." tepis Bagas, tidak ingin disamakan dengan anak kost lainnya, karena saat dia kuliah di Amerika, dia tidak seperti anak kost kebanyakan yang menjadikan mie instan sebagai menu favorit di saat dompet menipis.
" Mas 'kan orang kaya, mana mungkin kehabisan stok uang hingga terpaksa makan mie instan untuk menyambung nyawa sampai dapat kiriman dari orang tua." Indhira pun terkekeh memberi alasan suaminya tidak mungkin kehabisan uang untuk membeli makanan.
" Hahaha ..." Bagas tertawa merespon ucapan Indhira. Tentulah dia tidak akan terlantar dalam hal fasilitas meskipun dia jauh dari keluarganya.
" Sekarang berbanding terbalik. Setelah tidak kuliah, malah makan mie instan." Ucapan Bagas terdengar miris.
" Tidak usah disesali, Mas. Kita masih tetap harus bersyukur. Tapi, biarpun hidup kita prihatin, aku tidak akan membuatkan Mas mie instan terus, karena itu tidak baik untuk kesehatan." Indhira menyebut tidak akan membiarkan mereka mengkonsumsi mie instan secara berlebihan yang akan berpengaruh pada kesehatan.
***
Malam harinya, Bagas dan Indhira sedang melepas lelah setelah belanja perabotan dapur. Sebenarnya Indhira tidak ingin membeli terlalu banyak, namun Bagas memaksanya untuk membeli. Bagas berpikir, dia akan segera bekerja dan dia akan mempunyai penghasilan kembali.
" Mas besok sudah mulai bekerja, ya?" tanya Indhira menatap wajah Bagas yang fokus menonton pertandingan bola.
" Iya, Ra. Ini kesempatan aku, jadi aku tidak boleh sia-siakan," jawab Bagas.
" Hmmm, aku boleh bekerja di tempat Bu Kia lagi tidak, Mas? Di sini lingkungan baru untukku. Kalau Mas pergi bekerja, aku pasti sendirian di rumah ini, Mas. Aku takut kalau menunggu Mas di sini sendiria." Indhira beralasan agar suaminya mengijinkan dirinya bekerja.
" Aku tidak ingin kamu bekerja, Ra. Biar aku saja yang mencari nafkah untuk rumah tangga kita." Bagas tidak ingin Indhira ikut bekerja. " lagipula salary aku di tempatnya Om Gavin cukup untuk untuk membiayai rumah tangga kita , Ra.
" Tapi aku harus berbuat apa di rumah ini, Mas?" Indhira bertanya kepada Bagas, apa yang akan dilakukannya sendirian. di rumah kontrakan. " Mending aku kerja sama Ibu Kia. Aku punya kesibukan dan dapat uang.* Indhira masih membujuk sang suaminya agar mau mengijinkannya bekerja.
" Baiklah, tapi aku tidak ingin kamu terlalu capek dengan pekerjaan kamu. Aku kasih ijin kamu bekerja sebagai cara mengisi waktu kosong karena merasa sepi di rumah sendirian. Dan jangan berpikiran bekerja karena ingin membantu aku dari segi keuangan, Ra! Aku tidak akan ijinkan!" Bagas memberi syarat jika Indhira tetap ngotot ingin bekerja.
" Iya, Mas." Indhira segera memeluk suaminya setelah Bagas mengijinkan tetap bekerja bersama Azkia. " Terima kasih, ya, Mas." Indhira senang karena Bagas sangat mengerti keinginannya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy reading❤️
__ADS_1
.