SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Selalu Berdoa Untuk Papa


__ADS_3

Sesudah selesai berbincang dengan Bu Tika, Bagas dan Indhira kini sudah berada di kantin sekolah mereka dulu. Mereka sengaja menunggu Kartika di kantin itu.


Kehadiran mereka di kantin itu tentu saja membuat pemilik kantin yang mengenal Bagas dan Indhira terkejut. Ibu Seno bahkan langsung menghampiri Bagas dan Indhira yang sedang mencari meja untuk mereka menunggu Kartika datang menemui mereka.


" Ini Mas Bagas, ya? Dan ini ... ini Nenk Indhira, bukan, sih?" Ibu Seno menyapa Bagas dan Indhira.


" Benar, Bu. Ini kami, Bagas dan Indhira. Couple idola dari jaman SMA dulu." Bagas berseloroh seraya terkekeh.


" Wah, apa kabar Mas Bagas sama Nenk Indi?" Ibu Seno menyapa sepasang suami istri yang baru tiba di kantinnya. " Makin ganteng dan cantik saja setelah pada dewasa," Ibu Seno memuji penampilan fisik Bagas dan Indhira yang kini menjelma sebagai pria dan wanita dewasa yang berpenampilan fisik memukau.


" Alhamdulillah kami baik-baik saja, Bu." Bagas yang banyak menjawab pertanyaan Ibu Seno.


" Mas Bagas sama Nenk Indi ke mana saja? Tidak pernah muncul ke sini? Teman-teman Mas Bagas sering ada yang datang ke sini, lho!" Ibu Seno bercerita tentang para siswa-siswi angkatan Bagas dan Indhira yang sesekali datang berkunjung ke sekolah itu. Tapi pertanyaan Ibu Seno sebenarnya mengarah kepada ke mana saja setelah kasus video itu tersebar, kedua orang di hadapannya saat ini seperti menghilang dari kampus.


" Saya selama ini kuliah di Amerika, sementara Indhira bekerja di Semarang, Bu. Jadi kami tidak pernah berkunjung ke sini lagi sebelumnya." Bagas menjelaskan kepada Ibu Seno, kenapa tidak pernah muncul di sekolahan itu lagi.


" Oh, begitu, ya sudah, yang penting semua sehat-sehat dan baik-baik saja." Bagi yang mengenal baik sosok Bagas dan Indhira, peristiwa video viral yang menimpa Bagas dan Indhira beberapa waktu silam membuat mereka prihatin dan tidak menjudge secara berlebihan. Termasuk Ibu Seno yang sempat mendengar kabar Bagas harus melanjutkan sekolah dengan belajar home schooling sementara Indhira terdepak dari daftar pelajar di SMA itu. Bahkan kabar yang mengatakan Indhira menjual diri pun santer terdengar di telinganya. Namun dia cukup yakin jika itu hanya gosip semata. Dan hari ini dirinya melihat kehadiran Indhira dan Bagas kembali di hadapannya sepertinya cukup kuat menangkis semua gosip itu.


" Oh ya, Mas Bagas sama Nenk Indi habis ketemu sama guru-guru, mau kasih undangan pernikahan, ya?" tanya Ibu Seno penasaran.


" Kami mau bertemu dengan Kartika, Bu. Dia adik aku, yang kebetulan juga sekolah di sini sekarang." Bagas menyebutkan alasannya datang ke sekolah itu.


" Oh, Ibu kira karena mau kasih undangan pernikahan ..." Ibu Seno terkikik karena salah menduga maksud kedatangan Bagas dan Indhira ke sekolah mereka.


" Kami sudah menikah, kok, Bu." Bagas mengakui jika dirinya dengan Indhira sudah berstatus suami istri. Dia lalu menggengam tanda Indhira lalu memperlihatkan cincin pernikahan mereka kepada Ibu Seno untuk menunjukkan bukti jika mereka memang telah menikah.


" Oh, kalian sudah menikah, toh? Alhamdulillah ... selamat, ya, Ma Bagas, Nenk Indi. Ibu ikut senang mendengarnya." Kabar pernikahan Bagas dan Indhira tentu saja membuat orang-orang yang tahu lika-liku percintaan mereka turut merasa bahagia. Dia berpikir, kasihan Indhira jika kedua insan yang saling mencintai itu tidak berakhir di pelaminan.


" Kak Bagas ...!" Dari arah pintu kantin tiba-tiba terdengar Kartika berteriak dan berlari ke arah Bagas. Kartika bahkan langsung memeluk tubuh kakaknya yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengannya.


" Kak ... hiks ... Aku ikut Kakak saja ..." keluh Kartika menenggelamkan wajah di dada bidang Bagas. Gadis belia itu pun justru langsung terisak.


" Sssttt ... jangan menangis di sekolah, Dek." Bagas membelai kepala Kartika penuh kasih sayang. Dia tahu jika adiknya itu begitu sangat kehilangan dirinya karena dia keluar dari rumah orang tua mereka. Di antara anggota keluarga yang lain, Kartika menang lebih dekat dengan dirinya dibandingkan dengan Papa dan Mama mereka.


" Kak Bagas kapan pulang ke rumah, Kak? Aku kangen Kakak." Kartika tidak menghentikan tangisannya meskipun Bagas menyuruhnya untuk tidak menangis.


" Kakak belum tahu, Kartika. Kalau kamu kangen Kakak, nanti kakak akan sering datang kemari." Hati Bagas terasa sakit mendengar adiknya menangis seperti itu. Dia sebenarnya tidak tega melihat adiknya bersedih. Seandainya bisa, dia ingin membawa adiknya itu tinggal bersamanya. Namun karena kedua orang tuanya lebih berhak mengurus Kartika, Bagas tentu tidak akan menambah masalah yang akan membuat sang Papa semakin marah terhadapnya.


Indhira menatap sepasang adik kakak yang tengah melepas rindu. Hatinya seakan mencelos melihat Bagas harus terpisah dari Kartika, karena Bagas memilih tetap bersama dengannya. Tak dapat ditampik perasaan bersalah kembali menyeruak di hati Indhira. Sementara Ibu Seno yang tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga Bagas dan Indhira langsung berpamitan.


" Mas Bagas, Nenk Indi, Ibu tinggal dulu, ya!? Kalau mau pesan, pesan saja silahkan ...."


" Baik, Bu."


" Terima kasih, Bu."


Indhira dan Bagas menjawab secara bersamaan.

__ADS_1


Sedangkan Kartika yang menyadari ada sosok yang asing baginya di antara dia dan Bagas langsung menoleh ke arah Indhira, apalagi Ibu Seno tadi sudah menyembut nama Indhira, membuatnya menyadari jika wanita yang bersama Bagas itu adalah wanita yang sangat dicintai oleh kakaknya. Kartika menatap sosok wanita cantik yang terlihat anggun dan sederhana itu cukup lekat


" Oh iya, Kartika. Kenalkan ini Kak Indhira, dia kakak ipar kamu." Bagas akhirnya mengenalkan Indhira kepada Kartika,


Ditatap lekat oleh adik dari suaminya tentu saja membuat Indhira berdebar-debar. Walaupun Bagas sudah memastikan jika adiknya adalah sosok yang baik, namun hal itu tidak langsung membuat hatinya tenang sebelum dia bertemu dan mengetahui secara langsung dengan mata kepalanya sendiri jika Kartika memang baik.


" Hai, Kak Indi. Senang akhirnya bisa bertemu dengan bidadarinya Kak Bagas." Setelah menyeka air matanya, Kartika kini menyapa Indhira dengan riang dan ramah seolah tanpa beban, padahal gadis belia itu baru saja menangis.


Sapaan penuh dengan nada bersahabat tentu saja membuat Indhira tertegun. Dia sungguh tak percaya jika yang dikatakan kekasihnya memang benar. Kartika mempunyai sifat seperti Bagas, sama sekali tidak mirip seperti orang tuanya. Terutama sosok Adibrata yang menurutnya sosok paling menakutkan, bahkan lebih menakutkan dibanding Om dan Tantenya dulu.


" Hai, Kartika ..." Masih merasa canggung, Indhira membalas sapaan Kartika, dan mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Kartika. Bahkan dia semakin terkesiap saat Kartika mencium punggung tangannya.


" Kak Indi ternyata beneran cantik, lho! Pantas saja Kak Bagas tidak bisa move on. dari Kak Indi." Dalam sekejap Kartika sudah berdiri di samping Indhira bahkan melingkarkan tangannya di lengan Indhira.


Apa yang dilakukan oleh adik suaminya itu semakin membuat Indhira tercengang. Dengan begitu mudahnya Kartika menerima dia dan mengakrabkan diri kepadanya. Suatu sikap yang membuat hati Indhira senang. Bukan senang karena kalimat pujian dari Kartika, tapi sikap ramah Kartika lah yang membuat dirinya terharu.


" Tentu saja, dong! Pilihan Kakak tidak pernah salah, kan?" Bagas menarik cuping hidung Kartika, membuat Kartika terkekeh.


" Kakak ganggu pelajaran kamu tidak?" tanya Bagas karena adiknya itu harus keluar dari kelasnya.


" Tidak, Kak. Sebentar lagi juga sehabis ashar pulang, kok." jawab Kartika. " Bu, pesan es teh manis sama seblak, dong, Bu." Kartika langsung memesan makanan dan minuman lalu memilih kursi bersebelahan dengan Indhira.


" Jangan makan pedas-pedas, Dek!" Bagas memperingatkan adiknya yang senang makanan pedas.


" Sambalnya hanya sedikit, kok, Kak!" tepis Kartika, saat dilarang Bagas untuk tidak makan pedas.


" Oh ya, selamat atas pernikahan Kak Bagas dan Kak Indi. Aku sedih tidak bisa hadir di acara pernikahannya Kakak dan Kak Indi." Kartika memperlihatkan wajah sedihnya, padahal dirinya ingin sekali berada di momen bahagia kakaknya itu. Momen itu hanya akan dilewati sekali dalam hidup oleh Kakaknya, menyedihkan dia tidak bisa hadir dalam momen bahagia mereka.


" Oh ya, terus Kakak tinggal di mana sekarang?" tanya Kartika kemudian.


" Kami nantinya mengontrak rumah." balas Bagas.


" Kak Bagas sekarang sudah dapat pekerjaan belum, Kak?" Kartika teringat jika Kakaknya kini pengangguran setelah dipecat oleh Papa mereka dari perusahaan yang sudah dua tahun Bagas urus.


" Alhamdulillah, Kakak sekarang sudah dapat pekerjaan baru, Dek." jawab Bagas dengan mengembangkan senyuman.


" Syukurlah kalau begitu. Nanti aku boleh main ke tempat kontrakan Kakak, kan?" Tentu saja Kartika merasa senang jika bisa main ke rumah kontrakan kakaknya. Dia senang bisa berkumpul dengan lingkungan orang yang sepemikiran dengannya. Beda dengan kedua orang tua mereka yang terlalu jauh cara berpikirnya.


Bagas bersitatap dengan Indhira ketika Kartika bertanya ingin berkunjung ke rumah kontrakan mereka. Tentu saja Bagas senang dikunjungi saudaranya itu, tapi dia mengkhawatirkan jika hal tersebut akan diketahui oleh Papa mereka. Adibrata pasti tidak akan membiarkan Kartika bertemu dengan dirinya, apalagi jika sampai Papanya itu tahu Kartika ternyata bisa akrab dan dapat menerima Indhira dengan baik. Tidak dapat terbayangkan olehnya jika Papanya itu akan murka dan naik pitam. Dia pun takut hal itu akan berimbas kepada sikap sang Papa kepada Kartika. Dan itu akan membuatnya kesulitan bertemu adik semata wayangnya itu.


" Kakak senang kalau kamu mau berkunjung ke rumah kontrakan kami, Dek. Tapi bagaimana kalau Papa sampai tahu? Kakak tidak ingin membuat kamu terkena masalah, kalau kamu sampai ke tempat Kakak. Kalau kamu ingin bertemu dengan Kakak, nanti Kakak akan datang kemari ketika Kakak istirahat." Bagas memberikan solusi terbaik untuk adiknya itu, agar adiknya tidak terkena imbas kemarahan dari sang Papa.


" Tapi tidak bebas kalau di sini, Kak!" protes Kartika dengan wajah memberengut.


" Dek, Papa sedang marah terhadap Kakak. Kamu jangan ikutan buat Papa kesal, ya!? Kamu harus kasihan sama Papa. Kakak janji akan selalu menemui kamu di sini." Bagas mencoba memberi penjelasan kepada Kartika agar adiknya itu dapat mengerti.


***

__ADS_1


Indhira menghempaskan nafas dengan kasar seraya memandang kilauan cahaya lampu yang berkelap-kelip dari gedung pencakar langit yang ada di hadapannya.


Sejujurnya Indhira merasakan sedih melihat adik suaminya itu yang terpisah dari kakak tercintanya. Seandainya Papa mertuanya itu lebih lunak dalam bersikap, mungkin tidak akan seperti ini ceritanya. Mungkin juga dia bisa akrab dengan Kartika dan menjalani hubungan yang baik layaknya kakak dan adik ipar.


" Hei, sedang apa melamun di sini?" Tiba-tiba Bagas memeluk tubuh Indhira dari belakang dengan mengecup pipi Indhira, membuat Indhira langung menyandarkan tubuhnya dalam rengkuhan tubuh suaminya.


" Aku kasihan dengan Kartika, Mas. Dia pasti sedih jauh dari Mas," ucap Indhira menyebutkan apa yang membuat dirinya termenung selepas Isya di tepi balkon kamar hotel.


" Sayangnya Papaku tidak sampai memikirkan hal tersebut. Keputusan Papa sama-sama membuat Kami terluka dan kecewa sebenarnya. Bukan hanya aku dan Kartika saja, Ra. Tapi Papa dan Mama juga sebenarnya merasakan kecewa dan sedih. Tapi Papa masih saja kukuh dengan egonya sendiri," keluh Bagas menyayanginya sikap Papanya yang terlalu egois, tidak memikirkan kebahagiaan anak.


" Aku harap Papa segera bisa berubah, ya, Mas!?" harap Indhira, dia ingin suatu saat nanti keberadaannya diterima baik oleh Adibrata dan Angel.


" Aamiin, Ra. Aku juga berharap seperti itu. Aku tidak ingin Papa dijauhi anak-anaknya sendiri karena sikap Papa yang keras kepala." Bagas juga berharap sang Papa dapat menyadari kekeliruan sikapnya selama ini.


" Semoga tidak sampai seperti itu, Mas. Dalam sholat Mas harus banyak berdoa, agar dibukakan hati Papa dari kebaikan-kebaikan. Bagaimanapun sikap Papa terhadap Mas, beliau tetap Papa Mas. Darah antara Papa dan anak itu tidak akan pernah bisa putus. Meski kita jauh dari Papa, tetap selalu berdoa untuk Papa Mas." Indhira menasehati suaminya agar tidak menyimpan dendam terhadap orang tua, walaupun orang tua suaminya tidak bersikap adil dengan Bagas.


Bagas terkesima mendengar nasehat yang diucapkan oleh Indhira. Tidak salah dia memilih Indhira sebagai pendamping hidupnya. Indhira bahkan tidak menyimpan Adibrata meskipun Adibrata telah membuat Indhira menderita. Wanita itu sanggup menyejukkan dan memberi ketenangan di hatinya.


" Kamu benar-benar wanita spesial, Ra. Tidak salah aku memperjuangkamu." Bagas mengeratkan pelukan di tubuh sang istri seakan tidak rela harus berpisah lagi seperti sebelumnya.


***


Minggu sekitar jam sepuluh pagi Bagas dan Indhira check out dari hotel. Setelah tertunda membawa Indhira ke rumah kontrakannya Jumat kemarin, akhirnya Bagas memutuskan membawa pulang Indhira ke rumah kontrakan setelan masa menginap mereka selama tiga hari di hotel berakhir.


Indhita memperhatikan rumah kontrakan yang akan dijadikan tempat mereka tinggal untuk sementara. Rumah itu setipe dengan rumah milik orang tuanya dulu, membuatnya seketika rindu akan rumah orang tuanya yang entah sudah menjadi milik siapa saat ini.


" Maaf, Ra. Aku hanya bisa bawa kamu tinggal di kontrakan sempit ini." Bagas menyesal karena tidak dapat memberikan kehidupan yang layak untuk Indhira. Dan hanya membawa Indhira ke rumah kontrakan.


" Segini sudah cukup untuk aku, Mas. Mas lupa rumah aku dulu seperti apa? Seperti ini juga, kan?" Indhira tidak mempermasalahkan tempat tinggal mereka saat ini.


" Ya sudah, kita masuk dulu. Setelah ini kita lapor ke Pak RT. Aku tidak mau kejadian seperti malam kamis kemarin kejadian lagi." Bagas mengedikkan bahunya mengingat dirinya hampir digrebek karena salah paham.


" Memang kenapa waktu malam Kamis, Mas?" Ucapan Bagas membuat Indhira penasaran.


" Waktu Benny datang kemari, aku lupa lapor ke Pak RT, lalu malam harinya Pak RT sama dua orang datang ke sini. Mereka menduga aku membawa pria kemari untuk berkencan. Mereka mengira aku ini penyuka sesama jenis. Naudzubillahi min dzalik." Kembali bahas mengedikkan bahunya berulang-ulang.


" Kok, bisa begitu, Mas? Kenapa mereka bisa menganggap Mas sama Benny seperti itu?" tanya Indhira menahan tawanya karena mengetahui suaminya dituduh mempunyai perilaku menyimpang.


" Entahlah, mereka bilang kalau jaman sekarang yang ganteng, yang terlihat macho, yang bertubuh kekar tidak tertarik dengan wanita." Bagas menerangankan bagaimana kesalahpahaman itu dapat terjadi.


" Dapat istri cantik seperti ini, masa dibilang tidak suka sama wanita? Ada-ada saja pikiran mereka itu!" Bagas tergelak lalu melangkah masuk ke dalam rumah kontrakannya dengan dengan tangan membawa koper, semetara satu tangan lainnya merangkul pundak Indhira.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading❤️


__ADS_2