SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Jika Tidak Ingin Kehilangan Anak


__ADS_3

Mobil mewah yang dikendarai oleh Bagas berhenti di sebuah rumah mewah berlantai dua di hadapannya. Rumah itu menjulang dan terlihat megah dengan interior klasik modern. Jika dilihat dari bangunan rumah itu, Bagas menduga jika rumah itu milik seorang pengusaha atau orang yang mempunyai jabatan penting dalam sebuah perusahaan.


Bagas melepas seat belt nya, lalu turun dari mobil. Dia berjalan ke arah gerbang untuk berbicara dengan security yang berjaga di rumah itu. Dia melihat seorang security yang sedang duduk di pos menoleh ke arahnya. Sepertinya security itu menyadari kehadirannya, sehingga langsung mendekat ketika dia berhenti di dekat pintu pagar.


" Cari siapa, Mas?" Security itu langsung bertanya, sementara matanya memperhatikan Bagas dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pak Tono seakan menyadari jika orang yang dihadapinya bukanlah dari golongan rakyat jelata seperti dirinya. Tentu saja penampilan fisik Bagas bahkan aroma parfum mahal Bagas tidak dapat menutupi hal tersebut.


" Permisi, Pak. Apa boleh saya bertanya?" Bagas berusaha bersikap santun agar security di rumah Azkia tidak curiga akan niatnya datang ke rumah itu.


" Tanya apa, Mas? Kalau saya bisa menjawab pasti saya beritahu." Pak Tono merasa jika orang yang dihadapinya bukanlah orang jahat, sehingga dia tidak keberatan untuk membantu pria di hadapannya itu.


" Apa benar ini rumahnya Nona Almayra Azkia Atmajaya?" Bagas langsung bertanya pada Pak Tono. Bagas juga menyebutkan mobil dengan plat nomer polisi yang dia dapatkan dari rekaman cctv itu kepada Pak Tono.


" Maaf, Mas ini siapa, ya? Dan ada keperluan apa sampai mencari informasi soal Bu Kia?" tanya Pak Tono mulai merasa curiga karena pria tampan itu mencari Azkia. Dia takut jika pria itu ternyata menyukai majikannya yang memang cantik dan masih terlihat seperti anak muda sehingga tidak heran banyak pria yang akan tergoda meskipun Azkia sudah menikah dan hampir mempunyai empat orang anak.


" Saya ingin berbicara dengan Nona Almayra. Ada yang ingin saya tanyakan kepada dia, Pak," sahut Bagas.


" Gawat ini! Sudah ada pria yang berani datang ke sini mencari Bu Kia! Apa orang ini tidak tahu kalau Bu Kia itu sudah punya suami dan anak!? Kalau Pak Raffa tahu, bisa jadi ribut nanti, dikiranya Bu Kia selingkuh," gumam Pak Tono merasa khawatir majikannya itu akan bertengkar.


" Hmmm, maaf ya, Mas! Bu Kia tidak ada di sini, Beliau sedang pergi dengan suami sama anak-anaknya!" Pak Tono sengaja berbohong dengan menyebutkan Azkia pergi bersama suami dan anaknya agar pria di hadapannya itu mundur dan tidak mengejar Azkia lagi.


" Oh, begitu ... kira-kira, dia akan ada di rumah jam berapa, ya, Pak?" tanya Bagas kembali.


" Saya tidak tahu, Mas. Maaf ya, Mas. Saya harus kembali ke pos." Pak Tono segera meninggalkan Bagas kembali ke dalam pos nya.


Bagas mendengus melihat sikap Pak Tono yang tiba-tiba berubah. Tidak seramah ketika pertama tadi. Saat dia menyebut nama Azkia, terlihat sekali perubahan raut wajah Pak Tono, seperti tidak menyukai dirinya mencari-cari Azkia.


" Apa dia pikir aku menyukai wanita itu sehingga dia berubah sikap jadi ketus begitu?" Bagas mengerutkan keningnya.


Bagas akhirnya kembali ke dalam mobilnya. Dia berniat akan datang ke rumah itu nanti sepulang kerja, siapa tahu Azkia sudah kembali ke rumah itu.


***


Indhira sudah mulai mengerjakan tugas barunya di Alexa Butique yang kini sudah berpindah kepemilikan menjadi milik Azkia. Butik itu awalnya milik dari Natasha, Mama dari Azkia.


Indhira mempelajari pekerjaan yang harus dia lakukan melalui Wanda. Wanda juga sebelumnya sudah diperintah oleh Azkia untuk mengajari Indhira cara menghandle pekerjaan yang akan Indhira pegang.


" Nanti kalau Mbak Kia ketemu klien, kamu mendengarkan dengan teliti ya, Ra. Lalu catat poin-poin penting dalam perbincangan antara Mbak Kia dengan klien butik ini." Wanda menerangkan salah satu tugas yang harus dilakukan oleh Indhira.


" Baik, Mbak." sahut Indhira.


" Kamu sudah paham semua yang saya ajari, Ra?" tanya Wanda kemudian.


" Insya Allah sudah, sih, Mbak. Tapi, deg-degan juga saat menjalankannya." Indhira tersipu secara jujur mengakui jika pekerjaan barunya ini membuatnya nervous.


" Santai saja, Mbak. Ini hanya butik, bukan seperti kantoran perusahaan besar, jadi tugas aspri nya masih ringan-ringan saja." Wanda mencoba membesarkan hati Indhira agar lebih rileks dalam melaksanakan aktivitasnya.


" Iya, Mbak."


" Oh ya, Mbak Kia bilang kalau kamu itu pernah menyelamatkan Naufal, ya?" Wanda menyinggung hal di luar pekerjaan.


" Saya hanya kebetulan berada di sana dan membantu, Mbak. Yang sanggup menyelamatkan kita dari mara bahaya hanya Allah SWT." Indhira merasa risih selalu dianggap sebagai penyelamat Naufal, padahal dia hanya perantara yang kebetulan memberi pertolongan kecil kepada Naufal sehingga putra sulung bosnya itu terhindar dari musibah.

__ADS_1


" Kamu orangnya rendah hati banget, Ra. Pantas saja kamu mudah mendapatkan kepercayaan dari Mbak Kia," ujar Wanda kembali.


" Itu hanya suatu kebetulan saja, Mbak. Alhamdulilah saya bisa diterima dengan baik oleh Bu Kia dan Pak Raffa." Indhira tidak ingin besar kepala meskipun banyak orang yang memujinya. Dia tetap berusaha tidak terbang tinggi saat orang-orang menyanjungnya.


" Oh ya, ini jadwal Mbak Kia selama dua Minggu ke depan, belum termasuk acara di luar pekerjaan di butik. Nanti kamu atur saja jadwalnya! Usahakan jangan bentrok dengan jadwal yang ada." Wanda menyerahkan kertas berisi jadwal acara yang sudah disusun untuk Azkia selama dua Minggu.


" Kamu ada alamat email, tidak? Nanti saya kirim soft file nya ke kamu, Atau, kamu catat juga di buku agenda jadwalnya," ujar Wanda menyarankan.


" Iya, Mbak. Nanti saya beli buku agenda dulu," sahut Indhira.


" Tidak usah beli, Ra. Aku ada persediaan." Wanda lalu membuka laci mejanya dan mengeluarkan buku agenda kosong pada Indhira.


" Terima kasih, Mbak." Indhira menulis di buku agenda tersebut alamat emailnya, lalu menunjukkan kepada Wanda.


" Ini email saya, Mbak." ucapnya kemudian.


" Oke, Ra. Aku kirim ke email kamu jadwalnya, ya!"


" Iya, Mbak." sahut Indhira, sementara dia langsung menyalin jadwal tugas yang sudah direncanakan untuk dua Minggu ke depan untuk Azkia.


***


Sejak melihat Indhira siang kemarin, sampai detik ini Bagas tidak bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya. Keinginan untuk bertemu dengan Indhira semakin menguat di hatinya. Baginya, Indhira adalah obat yang dia butuhkan yang akan menyembuhkan kerinduannya selama bertahun-tahun.


Ddrrtt ddrrtt


Tangan Bagas mengambil ponsel yang berdering, lalu mendekatkan ke telinganya, karena panggilan masuk itu berasal dari Damar, yang dia yakini akan memberikan informasi seputar Indhira kepadanya.


" Saya sudah mendapat informasi pemilik rumah itu, Pak Bagas. Pemilik rumah itu bernama Ananda Raffasya, dia pemilik beberapa cafe terkenal di Jakarta ini. Di antaranya La Grande Caffe dan Raff Studio FM & Caffe. Menurut informasi, Raffasya berkantor Raff Studio FM & Caffe. Jika ingin bertemu dengan orang itu, harus datang ke Cafe itu." Damar memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi Bagas dalam usahanya mencari Indhira.


" Oke, Pak! Nanti saya saja yang menemui orang itu. Pak Damar kirim saja alamat cafe itu di mana!?" Bagas memutuskan akan menemui Raffasya. Siapa tahu dari Raffasya dia mendapat kesempatan bertemu dan berbicara dengan Azkia untuk mencari informasi soal Indhira.


Satu jam kemudian, Bagas sudah tiba di cafe yang dimaksud oleh Damar. Bagas memang tidak ingin membuang waktu untuk menemui Raffasya. Bahkan, dia sampai menyerahkan tugas kepada wakilnya untuk memimpin rapat siang ini. Karena baginya, Indhira adalah prioritas utamanya saat ini.


" Permisi, Pak. Apa saya bisa bertemu dengan Pak Raffasya?" tanya Bagas kepada Pak Yanto, security yang berjaga.


" Pak Raffa? Sepertinya saya belum lihat Pak Raffa datang ke sini, Mas." sahut Pak Yanto ramah. " Maaf, Mas ini siapa dan ada keperluan apa ingin bertemu Pak Raffa?" Meskipun saat ini Raffasya tidak ada di tempat, namun Pak Yanto tetap menanyakan maksud dan tujuan Bagas mencari bosnya, agar dia dapat memberikan informasi kepada bosnya itu jika ada orang yang mencari Raffasya.


" Saya Bagas, Pak. Saya ada keperluan dengan Pak Raffasya." sahut Bagas, tidak secara gamblang menjelaskan tujuannya datang ke sana.


" Sebentar saya tanyakan ke Mas Adam, siapa tahu Mas Adam tahu keberadaan Mas Raffa saat ini ada di mana!?" Pak Yanto lalu menelepon Adam untuk menanyakan keberadaan Raffasya.


" Maaf, Mas Adam, ada tamu yang mencari Pak Raffa di depan. Apa Pak Raffa akan datang kemari, Mas?" tanya Pak Yanto kepada Adam dari sambungan teleponnya.


" Tamu siapa, Pak Yanto? Mas Raffa hari ini ada keperluan ke Bandung, mungkin tidak akan kemari." Adam menyampaikan kemungkinan Raffasya yang tidak akan datang ke cafe itu hari ini.


" Oh, ya sudah. Nanti saya sampaikan ke orangnya, Mas." sahut Pak Yanto.


" Siapa tamunya, Pak Yanto? Dan ada keperluan apa ingin bertemu dengan Mas Raffa?" tanya Adam kembali.


" Namanya Mas Bagas, Mas. Katanya sih ada keperluan dengan Pak Raffa, Mas." jawab Pak Yanto.

__ADS_1


" Bagas?" Nama itu mengingatkan Adam pada nama mantan kekasih Indhira yang pernah dia dengar dari cerita Rissa. Namun, tentu Adam tidak terpikirkan jika Bagas itu adalah Bagas yang sama dengan tamu yang mencari Raffasya.


" Ya sudah, bilang saja Mas Raffa sedang ke luar kota, Pak Yanto. Jika dia ingin bertemu coba saja besok datang kemari lagi." Adam yang saat itu memang agak repot tidak menemui Bagas langsung. Tidak seperti biasanya, Adam selalu menyempatkan bertemu dengan tamu Raffasya jika bosnya itu tidak di tempat.


" Baik, Mas." Pak Yanto segera menutup sambungan teleponnya.


" Maaf, Mas. Menurut info dari orang kepercayaan Mas Adam, katanya Pak Raffa sedang keluar kota. Kalau Mas Bagas ada perlu dengan Pak Raffa, sebaiknya besok datang saja kemari lagi." Pak Yanto segera menyampaikan apa yang dikatakan Adam kepadanya di telepon.


Bagas menghela nafas panjang. Ternyata kali ini pun dia gagal mendapatkan informasi seputar Indhira dari Raffasya.


" Ya sudah, saya permisi dulu, Pak." Bagas pun berpamitan kepada security untuk kembali ke dalam mobilnya.


Bagas menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok. Dia menyadari ternyata kesempatan untuk bertemu dengan Indhira tidak semudah dugaannya.


Ddrrtt ddrrtt


Bagas merogoh saku bagian dalam blazernya untuk mengambil ponselnya yang berbunyi. Dia melihat nama Papanya yang saat ini menghubunginya.


Bagas mendengus saat mengetahui Papanya yang menelponnya. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh sang Papa dengannya. Apakah soal Evelyn? Apa jangan-jangan Evelyn sudah mengadukan soal rencananya mengakhiri hubungan pertunangan mereka? Itu sekelumit pertanyaan yang hinggap di benaknya.


" Halo, Pa?" sapa Bagas saat menerima panggilan telepon itu.


" Ada di mana kamu, Bagas? Ada rapat yang harus kamu ikuti, tapi kamu pergi tanpa ada yang tahu tujuan kamu ke mana!?" Pertanyaan Adibrata terdengar bernada ketus. dan Bagas dapat merasakan kemarahan dari Papanya itu.


" Hmmm, aku sedang ada keperluan sebentar, Pak. Ini aku akan segera kembali ke kantor." Bagas memberikan jawaban yang kurang memuaskan bagi Adibrata.


" Apa kamu pergi bersama Evelyn?" tanya Adibrata sedikit melembut, Karena jika berhubungan dengan Evelyn, Adibrata pasti tidak akan menentang putranya itu.


" Tidak, Pa. Aku tidak bersama Evelyn," tepis Bagas.


" Dengar, Bagas! Papa tidak ingin kamu menomerduakan pekerjaan kamu! Jika kamu pergi karena bertemu dengan Evelyn, Papa masih dapat memaklumi! Diluar itu, Papa tidak mentolelir kamu pergi meninggalkan rapat untuk keperluan lain yang tidak penting!" tegas Adibrata seolah tidak ingin dibantah.


" Pa, aku ini bukan anak kecil yang harus terus diatur oleh Papa! Aku ini sudah dewasa, aku bebas menentukan harus begini dan harus begitu tanpa harus mendapatkan persetujuan dari Papa! Lagipula Bagas sudah memberi wewenang kepada Pak Zaenal untuk memimpin rapat. Tidak akan terjadi pada perusahaan hanya karena aku absen tidak mengikuti rapat, Pa!" Bagas merasa jika Papanya terlalu berlebihan seolah perusahaan akan bangkrut jika dirinya tidak hadir mengikuti rapat.


" Kamu berani menentang Papa, Bagas!?" Adibrata langsung meradang mendengar perkataan Bagas yang dia anggap menentangnya.


" Pa, aku mohon sebaiknya Papa tidak terus mendikte hidupku! Aku ini laki-laki, Pa! Sebaiknya Papa jangan terus mengatur hidup Bagas! Jika Papa tidak ingin kehilangan anak Papa!" Bagas mengatakan kalimat yang sangat mengejutkan bagi Adibrata.


" Apa maksud kamu, Bagas? Apa maksud kamu Papa akan kehilangan anak!?" Adibrata semakin penasaran dengan perkataan anaknya itu.


" Pa, aku tidak ingin berdebat seperti ini. Aku ingin Papa membebaskan aku dari belenggu Papa selama ini. Aku sudah dewasa, aku dapat menentukan pilihan hidupku sendiri tanpa campur tangan Papa di dalamnya! Termasuk jika harus meninggalkan perusahaan yang sedang aku pimpin saat ini!" Belum bertemu Indhira saja, Bagas udah berani mengungkapkan niatnya menentang sikap Papanya yang selama ini sangat dominan terhadapnya. Bagas teringat perkataan Benny yang mengatakan jika orang tuanya pasti akan menentang dirinya bersama Indhira


" Apa sebenarnya yang kamu rencanakan, Bagas? Apa maksud kamu, kamu siap meninggalkan perusahaan kamu!?" Adibrata semakin terkejut dengan pernyataan yang diucapkan oleh Bagas. Perkataan Bagas bagaikan isyarat jika anaknya akan melakukan hal yang tidak disukai olehnya hingga berkata siap jika harus didepak dari jabatannya saat ini.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2