SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Mengingkari Kesepakatan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju Alexa Boutique, Indhira terus berpikir soal permintaan Azkia, supaya dirinya bisa menemani Mama mertua bosnya itu, sebagai asisten pribadi Lusiana beberapa hari ini, menggantikan asisten pribadi Lusiana yang sedang cuti. Bukan pekerjaan sebagai asisten pribadinya yang dia permasalahan, tapi karena dia harus menginap di rumah Lusiana yang memberatkannya. Artinya dia harus meninggalkan tugasnya mengurus Tante Sandra, itulah yang galau hatinya.


" Ra, kamu mikirin permintaan aku tadi, ya? Ya, kalau kamu keberatan, tidak apa-apa, nanti aku coba cari karyawan lain saja yang mau." Melihat Indhira termenung, Azkia sengaja mengatakan hal yang membuat Indhira justru semakin tidak enak hati.


" Oh, tidak, kok, Bu. Saya tidak keberatan. Tapi, saya mau ijin dulu sama Tante Lidya dulu, karena saya tidak bisa membantu Tante Lidya mengurus Tante Sandra." Indhira memberi alasan kepada Azkia agar bosnya itu dapat mengerti posisinya. Indhira juga tentu tidak enak menolak permintaan Azkia untuk menemani Mama mertua bosnya itu sementara waktu ini.


" Ya sudah, kalau begitu. Tapi, kalau kamu merasa berat meninggalkan tugas kamu mengurus Tante Sandra, aku tidak masalah, kok, Ra." ucap Azkia santai, padahal dia sudah membuat Indhira terbebani pikiran.


" Tidak apa-apa, Bu. Nanti saya akan beri pengertian kepada Tante Lidya." Indhira menjelaskan jika dia akan memberi penjelasan kepada orang tua sahabatnya itu. Indhira ingin bersikap profesional dengan pekerjaannya. Namun, karena selama ini dia juga menumpang di rumah orang lain, tentu saja dia harus meminta ijin terlebih dahulu. Apalagi selama ini keluarga sahabatnya itu sudah banyak membantu dirinya.


" Ya sudah tidak apa-apa." Azkia tersenyum senang karena berhasil mempengaruhi Indhira untuk menetap di rumah Lusiana beberapa hari sampai pernikahan Bagas dan Indhira tiba.


***


Bagas terlihat gelisah di dalam ruangannya. Dahlan baru saja mengabari dirinya jika sang Papa sudah memberi mandat kepada Dahlan untuk mengecek ke KUA soal rencana pernikahan Bagas. Untung saja Bagas belum sempat mendaftarkan rencana pernikahannya dengan Indhira. Karena dia berencana akan menyuruh Damar mendaftarkan ke KUA esok hari.


" Aku tidak mengerti, kenapa Papa bersikeras menghalangi rencana pernikahanku? Apa Papa tidak senang melihat anaknya bahagia?" keluh Bagas termenung di dalam ruang kerjanya.


Bagas mendengus kasar seraya merapatkan punggungnya ke sandaran kursi dengan kepala menengadah ke atas langit-langit ruang kerjanya.


Sepertinya dia sudah tidak tahan dan ingin secepatnya terlepas dari kekuasaan Papanya. Mungkin jika bukan karena ingin menemani Kartika, sudah lama dia ingin keluar dari rumah itu.


Bagas lalu mengambil ponselnya, dia berniat menghubungi Indhira. Siang ini dia tidak bisa menemui Indhira karena mata-mata tersebar di mana-mana. Sore hari nanti pun dia masih berpikir, bagaimana harus menjemput Indhira? Tidak mungkin juga menggunakan trik yang sama seperti kemarin.


Bagas sendiri sudah mendengar dari Raffasya jika bos dari Indhira itu berniat menitipkan Indhira di rumah orang tua Raffasya. Tentu saja Bagas setuju, di mana pun itu asalkan tempat itu aman untuk Indhira.


" Assalamualaikum, Bagas ..." Suara lembut dibarengi dengan wajah cantik Indhira langsung terlihat di ponsel Bagas saat panggilan videonya dijawab oleh Indhira.


" Waalaikumsalam, cantik ..." Dengan sedikit menggoda, Bagas menjawab kalimat sapaan Indhira padanya.


Rona merah seketika terlihat jelas di wajah cantik Indhira, walaupun saat ini Bagas tidak berhadapan langsung dengan wanita itu.


" Apaan, sih, kamu!?" Indhira langsung tersipu malu mendengar ucapan Bagas tadi yang memanggilnya dengan kata cantik.


" Apanya yang apaan, Cantik?" Bagas semakin bersemangat menggoda Indhira. Bisa berbincang dengan Indhira walaupun via telepon, cukup membuat hatinya yang sedang gelisah menjadi tenang.


" Jangan bicara seperti itu, Bagas! Biasa saja panggilnya!" Indhira keberatan Bahas memanggilnya dengan sebutan kata cantik, karena hal itu membuat dirinya sangat malu.


" Memang aku harus seperti apa? Memang kamu cantik, kok!" Bagas masih saja menggoda Indhira, walaupun wanita itu sudah memintanya untuk tidak berkata dengan kata cantik.


" Sudah, ah. Jangan bicara itu terus!" Indhira menolak membahas hal tadi, membuat Bagas terkekeh.


" Ra, maaf, siang ini aku tidak bisa menemui kamu untuk makan siang. Kamu mau makan apa? Nanti aku pesankan. Aku juga akan pesan menu yang sama denganmu. Kita makannya samaan sambil video call seperti ini, ya!? Jadi kita seperti makan bareng walaupun di tempat berbeda." Bagas sampai mempunyai ide konyol kepada Indhira, demi bisa makan bersama dengan Indhira.


" Ya ampun, Bagas! Kamu kayak anak kecil banget, sih!" Indhira menggelengkan kepalanya mendengar ide yang dilontarkan oleh Bagas soal makan bareng di tempat masing-masing tapi sambil video call-an.


" Memangnya kenapa?" Bagas terkekeh merasa tidak ada yang salah dengan idenya tadi.


" Kenapa harus video call segala makannya?" tanya Indhira dengan memutar bola matanya.


" Biar bisa lihat kamu lah, Ra. Jadi seperti kita makan bersama." Bagas menyeringai memberi alasan kenapa dia mempunyai ide seperti itu.

__ADS_1


" Ya kalau kamu enak, punya ruangan sendiri, Bagas. Sedangkan aku? Aku satu ruangan sama Bu Kia, masa aku makan di sini sambil video call sama kamu di depan Bu Kia? Ini saja aku bisa angkat telepon kamu karena Bu Kia ada tamu di bawah. Di dapur juga pasti banyak pegawai lain. Sudah tidak usah macam-macam, deh, Bagas!" Indhira berharap agar Bagas tidak melakukan hal yang aneh-,aneh.


" Oh ya, Bagas. Aku dapat tugas menemani Mama mertuanya Bu Kia beberapa hari ke depan untuk menjadi asisten Mama mertua Bu Kia. Tapi, aku harus menginap di sana beberapa hari. Menurut kamu gimana, ya? Aku tidak enak menolak, tapi aku juga tidak enak meninggalkan Tante Sandra." Indhira seperti sedang berada dalam satu dilema.


" Kamu harus bisa menentukan pilihan, Ra. Aku rasa Tante Lidya akan mengerti soal itu. Itu hanya sementara, kan? Lagipula setelah menikah, kamu juga pasti tidak akan tinggal di rumah Om Edwin lagi. Jadi aku rasa Tante Lidya akan bisa memaklumi, Ra." Bagas mencoba mempengaruhi Indhira agar menerima tugas dari Azkia, karena itu juga yang dia inginkan. Dia juga sudah memberi tahu Pak Edwin, sehingga Pak Edwin pasti akan mengerti dan memberi ijin pada Indhira. Bagas terpaksa melakukan itu agar orang-orang Papanya tidak sampai mengusik Indhira di rumah orang tua Rissa. Bagas khawatir, jika Papanya sampai mengintimidasi keluarga Rissa juga.


" Ya sudah, nanti aku bicara sama Tante Lidya dan Om Edwin. Semoga mereka dapat mengerti." Setelah mendapat nasehat dari Bagas, Indhira akhirnya memantapkan diri menerima tugas dari Azkia. Bagas benar, sebentar lagi dia juga akan meninggalkan orang tua Rissa, jadi dia yakin Pak Edwin dan Bu Rissa akan mengerti dengan tugasnya ini.


" Kalau begitu, aku tutup dulu video call nya, ya,. Bagas. Aku tidak enak kalau Bu Kia kembali ke ruangan." Indhira berniat mengakhiri panggilan teleponnya karena dia tidak enak ketahuan melakukan panggilan video di jam kerja.


" Ya sudah, kalau begitu. Jangan telat makan, ya!?" Tanpa banyak protes Bagas pun terpaksa mengiyakan apa yang diinginkan oleh Indhira.


" Iya, kamu juga jangan lupa sholat, lho!" Indhira pun mengingatkan Bagas untuk tidak meninggalkan ibadahnya.


" Iya, cantik." Dengan mengerlingkan matanya dan mengembangkan senyuman, Bagas menjawab peringatan dari Indhira tadi.


" Assalamualaikum ..." Indhira sepertinya ingin segera mengakhiri percakapannya dengan Bagas.


" Waalaikumsalam ..." Bagas membalas .dengan senyuman, sebelum panggilan video mereka benar-benar berakhir.


***


Hamid menatap bangunan cafe di hadapannya. Tak lama tangannya yang sedang menggenggam ponsel segera mencari nomer telepon milik Adibrata.


" Selamat siang, Pak Adibrata. Saya sekarang ada di depan cafe. Saya akan masuk ke dalam untuk menanyakan soal kedatangan Tuan Bagas kemarin." Hamid melaporkan terlebih dahulu kepada Adibrata niatnya yang ingin menemui Raffasya.


" Oke, Mid. Tapi ingat, jangan sampai menyebut nama saya!" Adibrata tentu tidak ingin sampai orang lain mengetahui kelicikannya.


" Baik, Tuan." Hamid dengan cepat menyahuti.


" Permisi, Pak. Apa saya bisa bertemu dengan pemilik cafe ini?" tanya Hamid kepada Pak Yanto yang berjaga di depan.


" Bapak ingin bertemu dengan Pak Raffa? Maaf, dengan Pak siapa? Dan ada keperluan apa ya, Pak?" tanya Pak Yanto menatap penampilan Hamid yang bertubuh tinggi tegap seperti tentara.


" Hmm, saya Hamid, Pak. Saya ingin menyewa tempat di cafe ini untuk event saya, Pak." Hamid berbohong kepada Pak Yanto dengan mengatakan jika dirinya sedang ingin mengadakan event yang akan dilaksanakan di cafe milik Raffasya.


" Oh, sebentar, Pak." Pak Yanto segera menghubungi Adam untuk memberitahu soal kedatangan tamu yang ingin bertemu dengan Raffasya.


" Mas Adam, ada tamu yang ingin bertemu dengan Pak Raffa, katanya ingin membicarakan soal sewa tempat untuk acaranya. Namanya Pak Hamid." Pak Yanto melaporkan kepada Adam sebagai orang kepercayaan Raffasya.


" Suruh masuk saja ke atas, Pak Yanto." Adam menyahuti. Dia memang biasa dihubungi oleh security lebih dahulu jika ada tamu yang ingin bertemu dengan Raffasya.


" Baik, Mas Adam." Setelah memgakhiri percakapan dengan Adam, Yanto segera menghampiri Hamid.


" Silahkan langsung ke lantai atas saja, Pak. Menemui Pak Adam di sana." Pak Yanto segera mempersilahkan Hamid untuk masuk ke dalam cafe dan menunjukkan di mana dapat menemui Raffasya.


" Terima kasih, Pak." Setelah mendapat ijin dari Pak Yanto, Hamid berjalan masuk ke dalam cafe. Dia menarik sudut bibirnya ke atas, karena merasa tidak menemui kesulitan dalam niatnya bertemu Raffasya.


" Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya pegawai wanita di Raff Caffe saat melihat Hamid sampai di lantai atas cafe tersebut.


" Saya disuruh security di bawah untuk menemui Pak Adam," jawab Hamid mengedar pandangan.

__ADS_1


" Oh, silahkan di ruangan itu, Pak." Pegawai itu menunjuk ruangan Adam yang kebetulan pintunya seketika terbuka hingga memperlihatkan Adam yang keluar dari ruangannya. " Itu Pak Adam nya, Pak." ucap pegawai cafe.


" Oh, terima kasih." Hamid lalu menghampiri Adam setelah mengucapkan terima kasih kepada pegawai cafe.


" Dengan Pak Adam?" Hamid menyapa Adam yang juga menghampirinya. " Perkenalkan, saya Hamid, Pak." Hamid mengulurkan tangan lalu menjabat tangan Adam.


" Adam ..." Adam menyambut uluran tangan Hamid. " Mari, Pak. Saya antar ke ruangan Pak Raffa." Tanpa merasa curiga, Adam langsung membawa Hamid ke ruangan bosnya.


Tok tok tok


" Permisi, Mas Raffa. Ini Pak Hamid yang ingin mengadakan event di tempat kita, Mas." Setelah mendapat laporan dari Pak Yanto, Adam langsung memberitahu Raffasya soal tamu yang akan mengadakan event di tempat mereka.


" Selamat siang, Pak Raffa." Hamid pun menyapa Raffasya yang langsung bangkit dari kursi kerja pria itu dan berjalan menghampirinya.


" Selamat siang, Pak Hamid. Mari silahkan duduk ..." Raffasya mempersilahkan Hamid untuk duduk di sofa, sementara Adam langung keluar dan menutup pintu ruang kerja Raffasya.


" Bagiamana, Pak Hamid? Ada yang bisa saya bantu?" Raffasya menanyakan maksud dan tujuan Hamid menemuinya walaupun sebelumnya dia sudah mendapat informasi dari Adam soal rencana Hamid yang mengaku ingin menyewa tempat di cafenya untuk acara yang belum dia ketahui.


" Begini, Pak Raffa. Saya dengar jika cafe milik Pak Raffa ini sering digunakan untuk event wedding party dan sebagainya. Apa benar, Pak?" tanya Hamid kemudian.


" Iya, memang benar. Tapi kalau untuk acara wedding party biasanya saya tawarkan cafe saya yang lain. Di sana lebih cocok untuk event-event seperti itu. Apa Pak Hamid juga berniat mengadakan acara di cafe saya ini?" tanya Raffasya.


" Begini, Pak Raffa. Adik saya ingin mengadakan pernihanan. Dan sedang mencari tempat untuk menggelar wedding party nya. Tapi, sebenarnya pernikahan itu tidak direstui oleh keluarga kami." Hamid mulai bercerita, namun belum ke tujuan dia yang sebenarnya.


Raffasya masih mendengarkan cerita Hamid. Dia merasakan ada hal aneh dari kalimat yang diucapkan oleh Hamid.


" Saya ingin minta bantuan Pak Raffa. Kemarin siang ada seorang pria bernama Bagaspati, apa dia datang kemari untuk menyewa tempat untuk wedding party, Pak Raffa?" tanya Hamid mulai sedikit membuka alasannya menemui Raffasya.


Raffasya menyipitkan matanya hingga membuat dahinya berkerut ketika Hamid menyinggung nama Bagas. Raffasya memperbaiki posisi duduknya yang semula bersandar santai kini lebih serius memperhatikan pria bertubuh tinggi seperti tentara itu.


Raffasya yakin jika pria yang saat ini berada di ruang kerjanya adalah orang suruhan Adibrata. Raffasya akhirnya percaya apa yang dikatakan Bagas, jika Bagas diawasi oleh orang suruhan orang tuanya. Dan dia tidak tahu untuk apa orang suruhan Adibrata itu menemuinya? Apakah Adibrata mulai mencurigai keterlibatannya dalam membantu Bagas? Raffasya sampai menerka-nerka sendiri apa yang telah diketahui Adibrata soal kedekatannya dengan Bagas.


" Bagaspati?" Kening Bagas terus mengerut seolah mengingat apakah benar ada orang bernama Bagaspati yang menemuinya.


" Benar, Pak Raffa. Apakah kemarin Tu ... hmm, maksud saya Bagas datang menemui Pak Raffa ingin menyewa acara wedding party di tempat ini Minggu depan?" Hamid mencoba mencari informasi yang dia butuhkan untuk dilaporkan kepada Adibrata.


" Maaf, Pak Hamid. Jika boleh saya tahu. Memangnya kenapa jika Bagas datang kemari dan ingin mengadakan pesta pernikahan di tempat saya? Apa hubungannya dengan Pak Hamid ini?" selidik Raffasya curiga.


" Begini, Pak Raffa. Bagas adalah keponakan saya, dan rencana pernikahannya dengan wanita pilihannya itu tidak setuju oleh keluarga kami. Saya ingin tahu apakah benar Bagas menyewa tempat di cafe Pak Raffa. Jika memang benar, sebaiknya Pak Raffa membatalkan saja. Nanti saya akan beri penggantian dua atau tiga kali lipat dari jumlah yang disepakati oleh Pak Raffa dan Bagas untuk mengadakan wedding party itu, Pak Raffa." Hamid mejelaskan secara rinci permintaannya terhadap Bagas termasuk soal uang penggantian dengan hitungan dua sampai tiga kali lipat dari nominal yang sudah disepakati oleh Bagas dan Raffasya.


Raffasya menarik tipis satu sudah bibirnya hingga membentuk seringai. Dia merasakan sendiri ternyata Adibrata benar-benar rela bermain dengan hartanya untuk dapat menyetir orang lain agar menjalankan keinginannya.


" Bagaimana seandainya saya menolak permintaan Pak Hamid? Karena ini beresiko pada nama baik cafe saya, karena saya mengingkari kesepakatan yang sudah saya buat dengan Bagas." Raffasya seolah mengakui jika Bagas akan mengadakan pesta resepsi pernihanan di cafe miliknya. " Itu tidak baik untuk reputasi cafe saya ini, Pak Hamid," lanjutnya.


" Berapa yang Pak Raffa minta? Saya berani memberi hingga sepuluh kali lipat dari jumlah biaya pengadaan wedding party di cafe milik Pak Raffa." Hamid akhirnya menyebut nilai maksimal yang sanggup dikelurkan untuk mengganti rugi pembatalan kesepakatan menyewa tempat wedding party Bagas dan Indhira.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2