SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Kemarahan Tante Marta


__ADS_3

Hampir satu jam Bagas berada di ruangan kepala sekolah. Dia masih memohon agar Pak Marcel dapat membantu agar Indhira tidak sampai dikeluarkan dari sekolah. Namun, sepertinya Pak Marcel tidak dapat diandalkan untuk membantu Indhira dengan alasan yang kurang memuaskan bagi Bagas.


" Kalau tidak ada sangsi berat, maka tidak ada efek jera bagi siswa lain. Bisa saja, mereka melakukan hal yang sama dengan alasan, yang sebelumnya saja tidak ditindak tegas."


" Bapak mempertimbangkan kamu, karena Papa kamu adakah orang penting bagi yayasan sekolah ini."


Kembali Pak Marcel mempertimbangkan Bagas karena status ekonomi keluarga Bagas sebagai donatur. Pak Marcel dan mungkin pihak yayasan menerapkan standar ganda dalam kasus ini.


Setelah menghadap Pak Marcel, Bagas memang tidak berniat masuk ke dalam kelasnya. Pak Marcel pun tidak mengijinkan Bagas mengikuti pelajaran dulu sebelum masalah video viral itu selesai diurus.


Bagas kembali ke parkiran untuk mengambil motornya. Namun, dia sempat mengirim pesan pada Benny untuk menjumpai dia di cafe dekat sekolah mereka setalah pulang sekolah nanti.


Sementara di kamarnya. Indhira masih terus menangis karena dihinggapi rasa takut, malu, bingung dan rasa bersalah. Kalau seandainya bisa, dia ingin terus mengurung diri di kamar agar tidak bertemu orang lain.


" Ya Allah, kenapa Engkau memberikan cobaan kepada hamba seberat ini?" keluh Indhira dengan berurai air mata.


" Apa ini hukuman dari-Mu atas dosa yang telah hamba buat, Ya Allah. Hamba tidak sanggup menghadapinya ..." Indhira terus menangis dengan memeluk kaki dan menenggelamkan wajah di atas lututnya.


Indhira yang lemah merasa tidak akan sanggup menerima hukuman yang dia terima. Belum lagi jika kasus ini sampai diperkarakan di ranah hukum, benar-benar hancur hati Indhira.


Braakk ... braakk ... braakk


" Indhira! Buka pintunya!" Sementara di luar kamar, Tante Marta masih tetap berusaha menyuruh Indhira keluar dari kamarnya. Indhira dapat merasakan kemarahan yang sekarang ini sedang melanda Tantenya.


Indhira menatap ke arah pintu. Cepat atau lambat, Tante Marta pasti akan tahu soal kasus yang menimpanya saat ini. Jika sampai Tante Marta murka, bukan tidak mungkin dia akan disik sa oleh Tatenya. Atau mungkin dia justru akan diusir dari rumah orang tuanya ini. Namun, jika dia boleh memilih, dia mungkin akan memilih disik sa Tante Marta sampai mati agar dia tidak perlu lagi merasakan beban berat yang akan dia tanggung jika dia terus hidup di dunia ini.


Indhira bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan dengan goyah untuk membukakan pintu untuk Tante Marta.

__ADS_1


" Lama sekali buka pintunya!" Tante Marta menyambut Indhira dengan umpatan bernada tinggi. Tante Marta menatap wajah Indhira yang memerah, terlebih bola mata Indhira yang hampir tak terlihat karena sembab dan juga genangan air mata.


" Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari Tante!?" selidik Tante Marta penuh dengan kecurigaan mendapati mata Indhira sembab.


Indhira menundukkan wajahnya. Tak mampu menjawab pertanyaan Tante Marta, hanya tangis yang bisa dia lakukan.


" Indhira! Jawab pertanyaan Tante! Apa yang kamu sembunyikan dari Tante, hahh!?" Melihat Indhira justru menangis, membuat Tante Marta semakin curiga dan geram karena Indhira tidak juga menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.


" M-maafkan, aku, Tante. Aku sudah membuat kesalahan. Aku sudah membuat malu keluarga. Aku sudah mencoreng nama baik keluarga." Tubuh Indhira luruh ke bawah dan bersimpuh di kaki Tante Marta, menunjukkan jika dia merasakan penyesalan yang sangat dalam.


" Apa maksud kamu, Indhira!? Apa maksudnya dengan membuat malu keluarga!? Kesalahan apa yang sudah kamu perbuat, hahh!?" Tante Marta mendorong bahu Indhira hingga membuat Indhira terjungkal.


Indhira bingung harus menceritakannya dari mana? Rasanya dia tidak sanggup untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya terhadap Tante Marta. Hatinya terasa teriris jika mengingat soal kejadian itu.


" Aku ... aku sama Bagas sudah melakukan dosa, Tante. Kejadian itu terekam dan tersebar videonya, Tante. Hiks ..." Indhira mengakhiri kalimatnya dengan menangis tersedu. Dia sudah pasrah, apapun yang akan dilakukan Tante Marta kepadanya, dia sudah siap menerimanya.


" Apa!?" Mata Tante Marta terbelalak lebar mendengar pengakuan Indhira. Aura wajahnya diselimuti kemarahan. Apa yang dikatakan Indhira membuat hatinya meradang.


Plaakk


Sebuah tam paran mengenai pipi mulus Indhira yang sudah lembab dengan air mata. Membuat Indhira tersentak dan memegangi pipinya yang terkena tam par adik Papanya itu.


" Dasar anak tidak diuntung! Kau sama saja dengan Ibumu! Dasar anak pela cur! Sikapmu tidak jauh dengan Ibumu, sama-sama menjual kesuciannya demi mendapatkan uang haram!" Dipengaruhi amarah Tante Marta kini membawa-bawa Mama dari Indhira dan menyamakan kelakuan Indhira dengan Mamanya.


" Mama aku tidak seperti itu, Tante! Tante jangan menghina Mamaku!" Mendengar Tante Marta menghina Mamanya, Indhira tak terima hingga dia mencoba membantah perkataan Tante Marta tadi.


Hubungan orang tua Indhira memang tidak direstui oleh keluarga dari Papanya. Karena Mama Indhira saat itu bekerja di sebuah bar. Keluarga Papa Indhira langsung menuding Mama Indhira sebagai wanita malam dan wanita nakal. Padahal Mama Indhira di sana bekerja sebagai kasir dan saat menikah dengan Papanya, Mama Indhira memang masih suci dan belum pernah disentuh lelaki mana pun sebelumnya.

__ADS_1


Karena hal itulah, keluarga Papanya tak terkecuali Tante Marta memperlakukannya sangat buruk. Padahal bagaimanapun juga hubungan darah dirinya dengan keluarga Papanya sangat kuat.


" Tante jangan menyamakan apa yang terjadi padaku dengan Mama! Mama aku bukan pela cur!" Tak terima Mamanya dihina, Indhira mencoba membela nama baik Mamanya.


" Tidak mungkin dia tidak menjual tubuhnya di tempat dia bekerja itu! Dan kamu anaknya, sama saja menjual tubuh kamu agar diakui sebagai pacar anak orang kaya itu!"


" Sekarang juga, kamu kemasi barang-barang kamu dan secepatnya tinggalkan rumah ini!" Tante Marta mengusir Indhira dari rumah orang tua Indhira sendiri.


" Tante mengusir aku?!" Indhira menggelengkan kepala seakan tak percaya Tantenya sendiri tega mengusir dirinya dari rumah orang tuanya.


" Kamu sudah bikin malu keluarga! Rumah ini akan terkena apes kalau dihuni oleh penzi nah seperti kamu!" ketus Tante Marta, tidak memperdulikan jika Indhira juga berhak atas rumah orang tuanya.


Hatinya yang dengki dan keserakahannya ingin menguasai harta peninggalan kakak laki-lakinya, ditambah lagi kasus video viral yang dialami oleh Indhira membuatnya semakin membenci Indhira. Hingga kejadian ini menjadikannya alasan untuk mengusir Indhira dari rumahnya sendiri.


" Kenapa Tante tega sama aku, Tan?" Indhira tak kuasa menahan kesedihannya.


" Kenapa Tante tega? Kamu sendiri tega mencoreng nama baik keluarga!" hardik Tante Marta.


Indhira menghela nafasnya yang terasa sesak. Dia pun akhirnya melangkah kembali ke kamarnya dengan menangis pilu. Sungguh dia tidak menyangka akan menghadap permasalahan sesulit ini.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Sabar ya, Readers. Ini bukan sinetron burung. Tenang aja, Othornya juga ga tega² amat kok Ama Indie 😁


Happy Reading ❤️


__ADS_2