
Raffasya menyunggingkan senyuman mendengar tawaran menakjubkan yang disebutkan oleh Hamid tadi kepadanya. Harga terendah untuk paket wedding party di cafe nya saja senilai tiga puluh lima juta per seratus pax. Jika dikalikan sepuluh kali lipat berarti senilai tiga ratus lima puluh juta rupiah, uang yang ditawarkan oleh Hamid untuk membatalkan suatu kesepakatan sewa tempat untuk acara wedding party.
Benar-benar luar biasa seorang Adibrata, menurut Raffasya. Sanggup membuang uang percuma hanya untuk menegakkan keegoisannya. Padahal jika diberikan kepada orang yang tidak mampu, mungkin uang itu bisa digunakan untuk membeli rumah sederhana bagi orang yang belum mempunyai tempat tinggal, atau mungkin untuk modal usaha orang yang membutuhkan. Bukankah itu lebih bermanfaat dan lebih mendatangkan berkah, menurut cara pandangnya.
" Bagaimana, Pak Raffa? Apa Pak Raffa setuju dengan tawaran saya ini?" Melihat raffasya terlihat berpikir dengan mengulum senyuman, Hamid merasa yakin jika Raffasya akan tergoda dengan nilai yang ditawarkannya tadi. Bagaimana mungkin tidak tergoda. Tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun, Raffasya akan menerima uang penggantian.
" Begini, Pak Hamid. Untuk harga paket wedding party terendah yang kami tawarkan, jika dikalikan sepuluh kali lipat itu nominalnya sekitar tiga ratus lima puluh juta rupiah. Apa Pak Hamid tidak sayang membuang uang sebanyak itu hanya untuk menggagalkan acara wedding party di cafe saya?" tanya Raffasya memastikan jika tawaran yang diberikan oleh Hamid memang serius bukan hanya sekedar omong kosong semata.
" Tidak masalah, Pak Raffa. Kami bersedia mengganti berapa pun jumlahnya." Hamid memastikan jika dia serius dengan tawaran yang dberikan dan tidak main-main dalam melakukan penawaran.
" Terima kasih banyak atas tawaran yang Pak Hamid berikan kepada saya. Tapi, maaf sekali, Pak Hamid. Nilai yang Bapak tawarkan tidak membuat saya tertarik sama sekali. Reputasi dan nama baik cafe saya terlalu berharga untuk nominal yang Pak Hamid tawarkan tadi." Dengan tegas Raffasya menolak tawaran menggiurkan dari Hamid. Baginya, untuk apa uang sejumlah itu? Tabungan pribadi saja berlipat-lipat dari jumlah yang ditawarkan Hamid.
Raffasya adalah pribadi yang mandiri. Sejak kedua orang tuanya berpisah saat dia duduk di bangku sekolah dasar, membuatnya menjadi pribadi yang keras kepala dan sulit untuk diatur. Jangankan diatur oleh orang lain, diatur oleh orang tuanya saja dia selalu membangkang. Begitu juga dalam soal keuangan, apalagi menerima uang sogokan seperti yang ditawarkan oleh Hamid, diberi bantuan dari mertuanya ketika La Grande mengalami kebakaran saja dia menolak. Yang pasti, Raffasya bukan pria yang mudah diatur atau diintimidasi oleh siapa pun juga, termasuk oleh Adibrata Mahesa. Apalagi dalam kasus ini, dia berada di belakang Bagas dan Indhira. Tidak mungkin dia menerima tawaran dari Hamid tadi.
Hamid terkejut mendengar penolakan dari Raffasya. Penolakan dari Raffasya ini benar-benar di luar dugaannya. Jika disebutkan oleh Raffasya tadi, nilai sejumlah tiga ratus lima puluh juta rupiah adalah harga terendah, dan tidak mungkin Bagas memilih tarif yang paling rendah untuk menggandakan wedding party nya, pemikiran Hamid. Sudah bisa dipastikan jumlah yang ditawarkan bisa lebih dari jumlah itu.
Hamid terus memperhatikan Raffasya. Kalimat yang diucapkan oleh Raffasya terkesan sombong dan meremehkan kekuatan seorang Adibrata. Mungkin jika Adibrata yang saat ini berada di hadapan Bagas, pria itu pasti akan meradang dan merasa terhina, karena Raffasya seakan menantang seorang Adibrata Mahesa.
" Berapa nilai yang Pak Raffa inginkan? Pak Raffa sebutkan saja, tidak usah segan." Hamid masih berusaha membujuk Raffasya agar setuju dengan tawarannya. Dia yakin, Adibrata akan sanggup memberikan nominal yang diminta oleh Raffasya, asalkan wedding party yang direncabakan oleh Bagas bisa batal digelar di cafe itu.
Raffasya mendengus mendengar Hamid masih saja bersikeras menawarkan ganti rugi. Hamid pikir dirinya akan tergoda dengan nilai uang itu.
" Maaf, Pak Hamid. Apa penjelasan saya tadi kurang dimengerti oleh Bapak? Saya lebih mementingkan nama baik cafe saya daripada saya menerima uang panas yang Pak Hamid tawarkan. Lagipula, apa yang salah dengan rencana Bagas yang akan menggelar resepsi pernikahan di cafe saya? Pernikahan adalah suatu hal yang sakral, kenapa Bapak mencoba menghalangi kebahagiaan mereka? Jika Pak Hamid merasa itu karena masalah keluarga, tolong jangan libatkan orang saya dalam urusan keluarga Bapak!" Kembali dengan tegas Raffasya menunjukkan sikapnya. Sama sekali tidak tertarik dengan tawaran Hamid yang pasti atas perintah seorang Adibrata. Ada rasa geram di hati Raffasya melihat aksi Adibrata dan anak buahnya itu.
" Jika tidak ada lagi yang ingin Pak Hamid sampaikan pada saya, Bapak bisa keluar sekarang, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan!" Raffasya bangkit dari sofa dan secara halus mengusir Hamid dari ruangannya.
Rahang tegas Hamid mengeras, sungguh malu rasanya ditolak apalagi diusir walau secara halus oleh Raffasya. Namun, dia tidak mungkin mengancam apalagi melakukan kekerasan kepada Raffasya. Yang ada dia malah dipermasalahkan karena dianggap telah berbuat onar di tempat itu.
" Baiklah, Pak Raffa. Saya harap Pak Raffa dapat mempertimbangkan tawaran saya tadi." Untuk terakhir kalinya, Hamid berusaha mempengaruhi keputusan Raffasya.
" Saya rasa jawaban yang saya putuskan sudah jelas, Pak Hamid. Selamat siang ..." Raffasya lalu membukakan pintu ruangannya untuk Hamid keluar dari tempatnya dengan cepat.
" Baiklah, saya permisi. Saya harap Anda tidak menyesal dengan keputusan Anda ini. Selamat siang, Pak Raffa." Hamid lalu keluar meninggalkan ruangan kerja Raffasya dengan sedikit memberi peringatan kepada pemilik cafe itu. Tentu saja kalimat tidak menyesal menunjukkan jika akan ada tindakan lanjutan dari pihak Adibrata.
" Jika Anda berpikir, Anda bisa mengancam saya, Anda salah besar Tuan Adibrata!" seringai tipis berlukis disudut bibir pria tampan itu seraya memperhatikan punggung Hamid yang menghilang di balik tangga.
Raffasya segera melangkah ke ruangan Adam setelah Hamid menghilang dari pandangannya.
" Ada apa, Mas?" tanya Adam saat melihat Raffasya muncul di ruangannya secara tiba-tiba.
" Dam, tolong kau cek rekaman cctv setelah jam makan siang kemarin waktu Bagas datang kemari. Coba kamu cek, apa ada orang yang mencurigakan datang ke cafe ini?" Raffasya langsung memberi perintah kepada Adam untuk mengecek hasil rekaman cctv guna mencari mata-mata yang sedang mengawasi gerak-gerik Bagas.
__ADS_1
" Baik, Mas Raffa." Adam menyahuti. Lalu melihat layar monitor yang menyambung ke seluruh cctv yang ada di ruangan cafe itu.
" Memangnya ada apa, Mas Raffa?" Adam lalu menanyakan apa yang membuat Raffasya menyuruhnya mengecek hasil rekaman cctv.
" Orang yang datang kemari tadi bukan ingin menyewa tempat di cafe kita, Dam. Dia itu ternyata orang suruhan Adibrata yang diberi tugas ingin mengawasi Bagas. Orang itu mengira kedatangan Bagas kemarin karena Bagas akan menyewa cafe kita untuk acara wedding party nya. Dan gi lanya, menurut Hamid, orang tua Bagas itu sanggup memberi ganti rugi kepada kita sepuluh kali lipat dari tarif yang berlaku di sini untuk wedding party. Kamu bayangkan saja berapa nilai yang ditawarkan itu 'kan, Dam?" Raffasya menceritakan tujuan kedatangan Hamid tadi.
" Ternyata orang kaya selalu menganggap segala sesuatu dapat disetir dengan uang ya, Pak?" Adam menyampaikan pendapatnya.
" Tidak semua orang kaya, Dam. Tapi, memang tidak sedikit orang kaya yang selalu memanfaatkan kekayaannya untuk kelicikan mereka." Saat ini kehidupan Raffasya dikelilingi oleh orang-orang kaya. Dari orang tua, besan, ipar. Namun, semuanya itu tidak ada yang searogan Adibrata.
" Orang ini, sepertinnya mencurigakan sekali, Pak." Dari layar monitor rekaman cctv, Adam menunjuk satu orang pengunjung cafe yang duduk dekat tangga di lantai atas. Orang itu terlihat sendirian dan beberapa kali menoleh ke ruangan Bagas. Dan tak lama setelah Bagas keluar dari ruangan Raffasya, orang itu pun ikut menghilang dari cafe.
" Coba perjelas gambarnya, Dam. kasih tunjuk pada security yang berjaga, jika melihat orang itu datang kemari lagi, suruh beritahu kita secepatnya." Raffasya memberi perintah kepada Adam untuk menyebarkan wajah orang itu kepada security yang berjaga di cafenya.
" Baik, Mas." sahut Adam. Setelah memberi tugas kepada Bagas, Adam pun segera kembali ke ruangannya untuk menghubungi Bagas soal kedatangan anak buah Adibrata ke cafenya. Karena menurutnya, Bagas juga harus tahu soal apa yang sudah diperbuat Adibrata kepadanya.
***
Bagas baru saja keluar dari toilet di dalam ruang kerjanya saat ponselnya berbunyi. Bagas segera mengambil ponselnya, saat terlihat nama Raffasya yang menghubungi saat ini. Dengan cepat Bagas lalu mengangkat panggilan masuk itu.
" Selamat siang, Pak Raffa. Ada apa, Pak?" tanya Bagas saat panggilan telepon itu dia angkat.
" Hamid? Setahu saya dia kaki tangan Papa saya. Dia datang ke cafe Pak Raffa? Ada masalah apa dia ke sana, Pak Raffa?" Bagas terkejut dengan kabar yang disampaikan Raffasya kepadanya.
" Orang Papamu mengetahui kalau kemarin kamu datang ke sini untuk menemui saya. Dan mereka mengira kalau kamu datang ke cafe saya untuk menyewa tempat wedding party kamu. Papamu menawarkan uang penggantian senilai sepuluh kali lipat dari harga paket wedding party yang mereka duga sudah kamu pesan, jika saya mau membatalkan perjanjian kita yang sebenarnya tidak ada. Sungguh luar biasa sekali Papamu itu Bagas. Beliau sangat dermawan di tempat dan untuk tujuan yang salah." Raffasya sedikit menyindir kelakuan Adibrata yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
" Saya minta maaf atas perbuatan Papa saya itu, Pak." Bagas menyampaikan permohonan maafnya, karena secara tidak langsung Papanya telah menyinggung harga diri Raffasya. Selama ini Papanya itu hanya berpikir segala sesuatu dapat dikendalikan oleh uang. Namun, saat ini Papanya itu berhadapan dengan orang yang salah.
" Saya tidak mengerti kenapa kamu mempunyai orang tua seperti itu, Bagas?" Raffasya memang tidak habis pikir dengan sikap arogan Adibrata. " Untung saja semua hal negatif dalam diri Papamu tidak tertular ke kamu, Bagas." Walaupun Bagas pernah melakukan sesuatu kesalahan fatal, namun dia percaya Bagas tidak mempunyai sifat buruk dari Adibrata.
" Saya benar-benar minta maaf, Pak Raffa. Saya sendiri tidak mengerti kenapa Papa begitu keras kepala seperti itu." Bagas pun kadang menyesalkan kenapa mempunyai darah Adibrata yang sangat arogan itu. " Lalu bagaimana dengan Pak Hamid tadi, Pak Raffa?" Bagas penasaran dengan respon Raffasya terhadap tawaran Papanya itu.
" Saya tidak tertarik dengan tawaran Papamu, Bagas. Saya sengaja menolak tawarannya. Saya justu ingin lihat, bagaimana reaksi Papamu saat tawarannya saya tolak!?" Raffasya memang sengaja menantang Adibrata. Dia yakin Adibrata akan merasa tersinggung dengan penolakannya itu.
Bagas menghela nafas panjang, entah mengapa dia berharap agar Papanya itu akan kena batunya oleh Raffasya. Bukan dia berdoa buruk untuk Papanya, namun dia berharap Papanya itu cepat sadar jika apa yang dilakukannya selama ini adalah salah.
Jika dapat terdeteksi, mungkin isi kepala Bagas saat ini sangat penuh sesak dengan beban pikiran. Serangan yang dilakukan oleh Papanya dari berbagai macam arah. Dan dia tidak menyangka jika musuh terbesar dalam hidupnya adalah orang tuanya sendiri.
Sementara di kantornya, Adibrata yang baru mendapat laporan dari Hamid soal penolakan Raffasya atas tawaran menggiurkan darinya langsung terbakar emosi. Bagi Adibrata, penolakan itu sama seperti suatu penghinaan.
" Berani sekali dia menolak tawaran saya, Hamid!? Dia tidak tahu siapa Adibrata Mahesa!?" geram Adibrata saat berbicara dengan Hamid.
__ADS_1
" Saya tidak menyebut nama Tuan Adibrata, mungkin karena itu dia berani menolak Tuan." Hamid mengira karena Raffasya tidak tahu yang memintanya adalah Adibrata sehingga Raffasya menolak menerima tawaran itu. Namun, semua itu atas perintah dari Adibrata sendiri untuk merahasiakan identitas Adibrata.
" Cari tahu soal pemilik cafe itu lebih lanjut, Hamid! Saya ingin tahu seberapa berani dia menantang saya!?" Adibrata sepertinya terpancing dengan tantangan yang ditebarkan oleh Raffasya
" Kita harus memberi pelajaran kepada orang itu agar jangan meremehkan Adibrata!" Adibrata kembali memberi tugas kepada Hamid untuk mengusik ketenangan seorang Raffasya.
" Baik, Tuan." Hamid dengan cepat merespon perintah Adibrata kepadanya.
" Kau ingin main-main denganku, Anak muda? Kita lihat, seberapa sanggup kamu bertahan dengan kesombonganmu itu!?" desis Adibrata setelah dia mengakhiri obrolannya dengan Hamid di telepon.
***
" Ester, apa kamu punya aplikasi ojek online?" tanya Bagas saat keluar dari ruangan kerjanya.
" Aplikasi ojol? Punya, Pak. Memangnya kenapa, Pak?" Ester heran, bosnya itu menanyakan soal aplikasi ojek online.
" Tolong pesankan mobil untuk saya." Bagas menyuruh Ester memesankan ojek online untuknya.
" Baik, Pak." Walau dia bingung kenapa bosnya itu memintanya memesankan driver ojol, namun dia tetap melakukan perintah bosnya itu.
" Bapak mau ke mana tujuannya?" Ester menanyakan tujuan Bagas memesankan mobil.
" Pesankan saja ke Klinik Sehat Selalu." Bagas menyebut klinik yang letaknya sekitar lima puluh meter dari butik Azkia. Dia berencana menjemput Indhira dengan ojek online.
" Baik, Pak." sahut Ester.
" Kabari saya jika mobilnya sudah sampai, Ester." ujar Bagas sebelum kembali ke ruangannya.
" Baik, Pak." sahut Ester.
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil yang dipesan oleh Ester sudah sampai di basement. Bagas pun segera ke luar dari ruangannya, tanpa membawa tas kerja dan blazernya karena dia akan kembali ke kantor untuk mengambil mobilnya dulu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1