
Karena rasa kantuk akibat semalam susah tidur kembali membuat Bagas akhirnya terbangun ketika matahari sudah meninggi. Seperti ada energi yang membuatnya terjaga tepat ketika Indhira datang ke rumah Raffasya.
Bagas tersentak kaget karena menyadari dia bangun kesiangan. Dia takut jika Raffasya atau Azkia sudah keluar dari rumah untuk beraktivitas, hingga dia mengarahkan pandangan ke arah pintu gerbang rumah Raffasya.
Bagas terkesiap saat netranya menatap seorang wanita dengan perawakan dan wajah yang tidak asing lagi di mata Bagas sedang berdiri di depan pintu gerbang menunggu pintu itu dibuka.
" Indhira?"
Bagas bergegas membuka pintu mobil dan turun dari mobil untuk menghampiri Indhira yang tiba-tiba saja sudah menghilang dari pintu gerbang.
" Indhira ...!" teriak Bagas menghampiri gerbang berharap Indhira mendengar suaranya.
" Indhira ...! Pak, tolong buka pintunya! Saya ingin bertemu dengan Indhira!" Bagas sampai memu kul-mu kul pintu gerbang berharap security mau membukakan pintu untuknya.
" Lho, Mas yang kemarin datang, kan?" tanya Pak Tono saat melihat Bagas berdiri di depan gerbang rumah majikannya.
" Pak, tolong bukakan pintu! Saya ingin bertemu dengan Indhira, Pak!" Bagas memohon agar security membiarkannya masuk ke dalam rumah Raffasya.
" Mbak Indhira? Memangnya Mas ini kenal sama Mbak Indhira?" Pak Tono bertanya heran.
" Iya, Pak! Tolong bukakan pintunya! Saya tidak bermaksud jahat, Pak! Semalam saya sudah menyerahkan identitas saya dengan security yang jaga. Saya hanya ingin bertemu dengan Indhira. Saya tadi melihat Indhira masuk ke dalam rumah ini." Bagas menerangkan tujuannya datang ke rumah itu kepada Pak Tono agar Pak Tono tidak curiga kembali padanya.
" Oh, nanti saya tanyakan dulu ya, Mas!?" Bukannya segera membukakan pintu, Pak Tono justru melangkah ke arah posnya untuk melapor kepada penghuni rumah tentang kedatangan Bagas ke rumah itu.
Bagas mendengus kasar karena menganggap Pak Tono terlalu bertele-tele mempersulit dirinya yang ingin menemui Indhira, meskipun dia sadar Pak Tono hanya menjalankan tugasnya dengan baik. Namun, hal itu seolah tidak dapat diterima oleh Bagas yang ingin segera bertemu dan bertatap muka dengan Indhira.
" Pak, tolong bukakan pintunya! Saya bukan orang jahat, Pak!" Bagas masih berteriak mengharapakan Pak Tono memberinya ijin untuk masuk ke dalam rumah.
Tin tin
Dari belakang Bagas sebuah mobil berhenti dengan membunyikan klakson. Pemilik mobil yang tak lain adalah Raffasya langsung keluar saat melihat Bagas berdiri di depan gerbang rumahnya. Raffasya sendiri baru pulang mengantar Naufal dan Alma berangkat ke sekolah.
" Ada apa ini?" tanya Raffasya saat dia keluar dari mobilnya.
" Pak Raffa, tolong ijinkan saya bertemu Indhira, Pak! Saya lihat tadi Indhira masuk ke dalam rumah Pak Raffa. Saya hanya ingin bertemu, saya tidak ingin melakukan apa-apa, Pak." Bagas mendekati Raffasya, dia memohon agar pemilik rumah itu mengijinkan dirinya masuk ke dalam rumah untuk menemui Indhira.
" Memang Indhira ada di sini?" tanya Raffasya bingung kepada Pak Tono yang segera membukakan pintu untuk Raffasya.
Raffasya memang tidak tahu jika setiap pagi Indhira harus datang terlebih dahulu ke rumahnya itu sebelum pergi ke butik bersama Azkia. Karena kemarin pagi dia pergi ke luar kota, sehingga dua tidak tahu jika sejak kemarin Indhira datang ke rumahnya. Azkia pun tidak mengatakan apa-apa kepadanya soal tugas Indhira yang harus berangkat ke butik dari rumahnya.
" Iya, Pak. Sejak kemarin Mbak Indhira datang ke sini sebelum berangkat ke butik." Pak Tono menjelaskan.
" Ijinkan saya untuk bertemu dengan Indhira, Pak Raffa." Bagas kembali memohon kepada Raffasya agar diijinkan bertemu dengan Indhira.
Raffasya menatap pria yang lebih muda sembilan tahun darinya. Raffasya sempat melihat tanggal lahir Bagas di kartu tanda pengenal pria itu pagi tadi.
Raffasya seolah dejavu, dia seakan melihat dirinya sendiri saat harus berusaha mendapatkan Azkia kala itu. Penuh rintangan, dan rintangannya hanya ada pada diri Azkia, bukan orang-orang di sekeliling Azkia, berbeda dengan Bagas, yang banyak dihalangi oleh orang-orang di sekeliling Indhira dan orang-orang di sekeliling Bagas sendiri.
Raffasya menghela nafas dalam-dalam. Rasanya tidak adil jika dia terus menghalangi Bagas untuk bertemu dengan Indhira. Apalagi melihat penampilan Bagas saat ini, terlihat kelelahan di wajah pria itu.
" Baiklah, kamu boleh masuk."
Bagas menarik nafas lega saat Raffasya akhirnya memberinya ijin untuk masuk ke dalam rumah pria itu.
__ADS_1
" Tapi, jika Indhira tidak ingin bertemu denganmu, tolong jangan memaksa! Indhira sudah sangat menderita selama ini."
Belum sempat Bagas mengucapkan terima kasih karena Raffasya mengijinkannya bertemu dengan Indhira, Raffasya justru sudah mengajukan syarat yang mau tidak mau harus diterima oleh Bagas.
" Baik, Pak." Bagas terpaksa mengiyakan permintaan Raffasya, karena yang terpenting saat ini Raffasya sudah memperbolehkan dirinya masuk ke rumah pengusaha cafe itu.
Setelah berbicara dengan Bagas, Raffasya kembali ke mobilnya dan masuk ke dalam rumah diikuti Bagas di belakangnya.
" Kamu tunggulah di sini! Saya akan bicara dulu pada Indhira!" Setelah sampai di teras rumahnya, Raffasya menyuruh Bagas untuk duduk menunggu di kursi teras sementara dia sendiri masuk ke dalam rumahnya.
***
Indhira menunggu Azkia selesai berdandan di ruang keluarga yang ada di lantai atas. Karena Raffasya belum berangkat ke cafe, Azkia menyuruh Indhira menunggunya di ruangan keluarga, tidak di kamar pengusaha butik itu.
Indhira juga memahami permintaan Azkia. Dia juga merasa tidak enak jika harus berada di kamar Azkia saat Raffasya ada di rumah.
Indhira melihat kemunculan Raffasya dari arah tangga, dia pun langsung berdiri dan menyapa bosnya itu.
" Pagi, Pak Raffa."
Raffasya tak menjawab sapaan Indhira. Pria itu justru berdiri mematung menatap Indhira. Hal tersebut justru membuat Indhira salah tingkah. Mungkin jika Azkia melihat kejadian saat ini, Indhira takut bosnya itu akan salah paham melihat Raffasya menatapnya lekat seperti ini.
Untung saja hal itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian, Raffasya sudah beranjak ke arah kamarnya.
" Kenapa Pak Raffa menatapku seperti itu, ya? Kenapa Pak Raffa tidak membalas sapaanku juga? Apa Pak Raffa masih marah karena peristiwa di cafe kemarin?" Berbagai pertanyaan berkecamuk di hati dan pikiran Indhira seketika.
Sementara itu di kamar Azkia. Raffasya berbincang lebih dahulu dengan istrinya soal kedatangan Bagas.
" Mama suruh Indhira datang kemari?" tanya Raffasya saat masuk ke dalam kamarnya.
" Ada Bagas di luar, Ma. Dia melihat Indhira masuk ke rumah ini dan memaksa ingin bertemu dengan Indhira." Raffasya lalu mengatakan soal Bagas pada istrinya.
" Hahh? Dia ke sini lagi?" Azkia sampai memutar tubuhnya, padahal resleting blouse nya belum menutup sempurna.
" Dia semalam menginap di luar rumah kita, Ma." Raffasya memutar pundak Azkia agar membelakanginya kembali karena dia belum menyelesaikan dengan tugasnya.
" Memangnya dia tahu kalau Indhira akan datang ke sini?" tanya Azkia.
" Papa tidak tahu, Ma." sahut Raffasya. " Sepertinya kita harus membiarkan mereka bertemu dan berbicara, Ma." lanjutnya mengambil keputusan untuk mempertemukan Bagas dan Indhira.
" Tapi, Pa ...."
" Jika kita terus melarang Bagas, dia akan terus mengejar kita untuk bertemu dengan Indhira, Ma. Lagipula, mungkin mereka harus bicara untuk menuntaskan persoalan masa lalu mereka." Raffasya menjelaskan alasannya memberikan ijin kepada Bagas untuk menjumpai Indhira.
Azkia mende sah. Sejujurnya dia merasa tidak rela membiarkan Bagas dapat dengan mudah bertemu dengan Indhira. Namun, jika suaminya sudah mengambil keputusan, dia pun tidak dapat menentangnya.
" Sebaiknya kita keluar dan memberitahu Indhira jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Tapi, jangan beritahu dia dulu jika itu Bagas." Raffasya menyuruh Azkia untuk tidak mengatakan jika Bagas lah yang ingin bertemu dengan Indhira.
Azkia mengerutkan keningnya mendengar permintaan suaminya. " Memang kenapa, Pa?" tanyanya heran.
" Kalau kita beritahu sekarang, kemungkinan dia menolak itu besar, dan Bagas akan terus berusaha untuk bertemu. Tapi, kalau Indhira bertemu langsung dengan Bagas dan Indhira lari tak ingin bertemu, Bagas harus bisa menerima, karena dia melihat sendiri apa yang jadi keputusan Indhira." Raffasya menjelaskan kenapa dia melarang istrinya memberitahu soal kedatangan Bagas pada Indhira.
" Ya sudah, sekarang Mama bilang pada Indhira ada orang yang ingin bertemu dia!" Raffasya melingkarkan tangan di pundak Azkia dan berjalan ke luar kamar untuk menemui Indhira dan menyuruh Indhira turun ke bawah untuk menemui tamunya.
__ADS_1
***
Sekitar sepuluh menit sejak Raffasya masuk ke dalam kamar, Indhira menunggu masih penuh tanda tanya dengan sikap Raffasya tadi. Untuk orang sepertinya yang memiliki sifat introvert, tentu saja dia menjadi merasa kurang percaya diri. Dia takut ada yang salah dengannya hingga membuat Raffasya bersikap dingin seperti itu.
" Indhira, ada seseorang yang mencari kamu dan ingin bertemu denganmu." Suara Azkia tiba-tiba terdengar membuat Indhira yang sedang tercenung terkesiap.
" Eh, hmmm, gimana, Bu?" Indhira seketika gugup saat dia melihat kemunculan Azkia dan Raffasya di hadapannya saat ini. Dia pun seketika bangkit dan mendekat ke arah Azkia. Sementara Raffasya langsung turun lebih dahulu ke bawah karena dia ingin menemui Bagas kembali.
" Kamu melamun, ya?" Melihat Indhira tersentak kaget membuat Azkia menebak jika Indhira tadi sedang termenung.
" Ah, t-tidak, Bu." Indhira menyangkal perkataan Azkia jika dirinya sedang melamun.
" Ya sudah, kita ke bawah, yuk! Ada yang ingin bertemu dengan kamu." Azkia mengulurkan tangannya kepada Indhira,
Indhira menatap tangan Azkia yang menyodorkan tangan ke arahnya. Walau ragu, namun Indhira pun menerima uluran tangan Azkia
" Ada siapa memangnya, Bu?" tanya Indhira bingung. Dia benar-benar tidak mempunyai gambaran orang yang akan bertemu dengannya saat ini? Rissa? Adam? Rasanya mereka tidak mungkin pagi-pagi datang untuk menemuinya di rumah Raffasya. Lalu siapa kalau bukan mereka? Indhira terus bertanya-tanya sambil melangkah menuruni anak tangga dengan hati berdebar-debar merasa penasaran dengan orang yang ingin bertemu dengannya di rumah Raffasya.
Namun, tiba-tiba terlintas sebuah nama di benak Indhira, hingga membuat senyuman terkulum di bibir wanita cantik itu.
" Apa Tante Azzahra yang berkunjung ke rumah ini?" Indhira berpikir jika orang yang ingin bertemu dengannya adalah wanita baik hati yang dulu menyelamatkan dirinya dari rencana jahat Om Ferry yang ingin menjual dirinya. Karena Azzahra adalah istri dari Om nya Azkia, hingga kemungkinan tamu yang ingin bertemu dengannya adalah Azzahra sangat besar.
Sementara di teras rumah Raffasya, Bagas terlihat gelisah tak tenang. Dia berjalan mondar-mandir lalu duduk. Menoleh ke arah dalam rumah Raffasya lalu kembali berdiri dan kembali berjalan hilir mudik. Benar-benar menampakkan sikap orang yang sedang gundah gulana menunggu kabar kepastian Indhira mau menemuinya atau tidak.
" Bagas, kau boleh masuk ke dalam." Suara Raffasya yang tiba-tiba terdengar seakan menyejukkan hatinya yang dilanda kegelisahan.
" Baik, Pak! Terima kasih." Dengan cepat Bagas merespon permintaan Raffasya hingga kini dia melangkah masuk ke dalam ruangan tamu rumah Raffasya yang semalam didatanginya.
Saat masuk ke dalam rumah Raffasya dirinya mendapati dua orang wanita yang baru turun dari anak tangga. Namun netra Bagas bertumpu pada seorang wanita berambut panjang, berperawakan tinggi langsing yang menenteng tas kerja di tangannya, sementara satu tangannya memegang lengan Azkia. Wanita itu terlihat cantik dan selalu terlihat cantik di matanya. Sejak dulu hingga saat ini.
Jantung Bagas berdetak sangat kencang saat menyadari jika wanita itu benar-benar wanita yang selama ini dicarinya.
" Indhira ..." ucap Bagas dengan suara bergetar. Jika saja dia tidak malu, ingin rasanya dia menitikkan air mata haru karena akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan wanita yang sudah lama menghilang dari pandangannya.
Indhira menoleh saat seseorang memanggil namanya. Dia menatap pria yang berdiri di dekat pintu rumah Raffasya. Pria itu ... Indhira mengeryitkan keningnya mencoba untuk mengenali. Walau tubuh pria itu terlihat lebih kekar dan tinggi, juga rahangnya ditumbuhi rambut halus, namun sepertinya Indhira tidak bisa menghilangkan ingatannya pada sosok pria di hadapannya itu.
" Indhira, kamu masih ingat aku, kan?" Bagas berjalan perlahan. Dia tidak ingin membuat Indhira ketakutan dan berlari darinya.
Indhira membulatkan bola matanya, seolah tersadar jika pria yang ada di hadapannya saat ini adalah sosok pria dari masa lalunya. Sosok pria yang dulu sangat dia cintai. Sosok pria yang sudah merenggut kesuciannya. Yang sudah membuatnya tercoret dari sekolah Satu Nusa Satu Bangsa. Sosok pria yang membuat dirinya harus kabur dari rumah orang tuanya sendiri. Sosok pria yang membuat hidupnya terpuruk dan hampir terjerembab ke lembah penuh kenis taan.
" B-Bagas?" Tak beda dengan Bagas, Indhira pun menyebut nama Bagas dengan bergetar. Seketika itu juga hatinya seakan mencelos karena harus bertemu kembali dengan sosok pria yang selama ini ingin dia lupakan selama-lamanya.
Indhira seakan tidak percaya pada penglihatannya. Apakah ini benar nyata? Atau dia hanya bermimpi? Kenapa pria itu tiba-tiba bisa muncul di hadapannya? Bagaimana Bagas tahu jika dia saat ini berada di rumah Raffasya? Bagaimana Bagas bisa menemukannya keberadaannya sekarang? Bermacam pertanyaan mulai menari-nari di benak Indhira.
" Iya, Indhira. Ini aku Bagas. Kamu masih ingat aku, kan?" Melihat Indhira seolah terpaku tak tergerak, Bagas yang berhasil mendekat ke arah Indhira langsung memeluk tubuh ramping Indhira seolah ingin melepaskan kerinduan yang sudah dia pendam selama delapan tahun lebih pada seorang wanita yang sudah dia rusak masa depannya itu.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading❤️