
Waktu sudah menunjukkan pu kul 00.30 menit. Namun, Adibrata masih belum juga mendapatkan kabar di mana posisi Angel saat ini berada. Meskipun Hamid sudah mendapat informasi dari cctv di hotel, jika Angel keluar dari hotel itu, namun Hamid masih belum bisa menemukan mobil apa yang membawa Angel pergi.
" Kamu di mana Angel?" Adibrata mengacak rambutnya, dia begitu sangat kacau. Dia pun belum sempat mengganti pakaian yang dia pakai tadi saat makan malam bersama Angel padahal waktu sudah memasuki dini hari.
" Jangan siksa aku seperti ini, Angel! Kau boleh marah padaku, tadi jangan menghilang seperti ini! Aku takut tidak dapat bertemu denganmu lagi." Adibrata rela dijauhi oleh Bagas, putranya. Namun, pria itu tidak bisa jika harus berpisah dari sang istri.
Adibrata sungguh mengutuk perbuatannya yang menjijikkan saat di Hong Kong kemarin. Jika dia bisa mengulang waktu, dia memilih tidak ingin mengambil resiko berbahaya seperti ini.
Adibrata kembali menghubungi Hamid, untuk mendapatkan informasi terbaru, karena dia tidak bisa tenang sebelum dia mendapatkan kepastian tentang keberadaan Angel.
" Mid, apa kau sudah mendapatkan informasi seputar mobil yang membawa Angel?" Adibrata langsung bertanya saat panggilan teleponnya terangkat oleh Hamid.
" Saya baru mendapat informasi seputar kendaraan yang membawa Nyonya, Tuan. Tapi kami masih belum mendapatkan nomer polisi mobil yang membawa Nyonya pergi," lapor Hamid kemudian.
" Kenapa lama sekali mendapatkan informasinya? Apa kau tidak dapat mencari tahu dari cctv di sekitar daerah sana?" Adibrata kesal karena menganggap Hamid tidak dapat berkerja dengan gesit.
" Maaf, Tuan. Kebanyakan di sana adalah perkantoran dan toko-toko. Jika kita ingin meminta bantuan dengan mengecek rekaman cctv mereka, harus menunggu besok baru bisa menghubungi mereka, Tuan." Hamid menjelaskan.
" Lalu bagaimana soal wanita ja lang itu? Apa kau sudah mengurus dia?" tanya Adibrata menayangkan soal Kyle. Dia merasa dendam dengan wanita itu.
" Sementara ini kami fokus mencari Nyonya dulu, Tuan. Rencananya kami akan mengurus wanita itu besok," terang Hamid.
" Kau ini bekerja lambat sekali, Hamid." gerutu Adibrata langsung menutup panggilan teleponnya sepihak.
***
Bagas memperhatikan dua orang wanita yang kini terlelap dalam satu tempat tidur. Dia wanita yang sangat penting dalam hidupnya saat ini. Wanita yang melahirkannya, dan wanita yang akan sedang mengandung buah kasih mereka.
__ADS_1
Bagas lalu berjalan ke luar dari kamar hotel. Dia beranjak menuju ruang kerjanya. Apa yang menimpa kedua orang tuanya sungguh di luar dugaannya. Dan sebagai anak, tentu saja hal tersebut menjadi beban pikiran.
Bagas heran, kenapa Papanya bisa dengan mudah tergoda pada wanita lain, apalagi dengan seorang wanita penghibur. Dia kenal Papanya sangat menjaga gengsinya, bagaimana mungkin bisa sampai menyentuh wanita penghibur seperti itu.
Bagas menyandarkan tubuh di sandaran kursi kerjanya dengan mata terpejam. Sekelebat pikirannya teringat akan kata-kata Adibrata saat menghina Indhira. Bagaimana Adibrata menyebut jika Indhira bukan wanita baik-baik lantaran mau saja tidur dengannya padahal dirinya dan Indhira masih sekolah dan belum menikah. Apakah saat ini Papanya sedang menerima balasan atas perbuatan menghina Indhira selama ini? Terlalu kejam, tapi itulah yang terlintas di benaknya saat ini.
Ada hal yang dikhawatirkan Bagas, soal wanita yang menjadi penyebab kekacauan dalam hubungan rumah tangga orang tuanya saat ini. Dia tidak tahu, apa yang akan dilakukan orang itu ke depannya. Apakah wanita itu akan terus merongrongnya? Apakah wanita itu akan memanfaatkan kesalahan Adibrata untuk menekan dan menyudutkan Adibrata, atau mungkin sampai membuka ke publik soal kelakuan Adibrata.
Tentu Bagas tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Meskipun dia mengutuk perbuatan sang Papa, namun dia tetap akan pasang badan jika ada orang yang berani mengusik apalagi ingin menjatuhkan nama baik sang Papa.
Bagas curiga jika wanita itu memang sengaja ingin mengganggu kenyamanan rumah tangga orang tuanya. Jika dia sebagai seorang wanita penghibur, tidak perlu wanita itu membuka privasi pelanggannya, terkecuali memang wanita itu punya maksud terselubung.
Bagas merasa perlu bertindak terhadap wanita itu. Dia tak akan membiarkan wanita itu bersenang-senang atas kekisruhan dalam rumah tangga orang tuanya.
***
Indhira terbangun jam empat dini hari. Dia mencari keberadaan suaminya yang tidak nampak di dalam kamar hotel. Dia lalu mengambil ponsel untuk mengetahui posisi suaminya saat ini ada di mana.
" Waalaikumsalam ... aku di ruangan kerjaku, Yank." jawab Bagas.
" Pagi-pagi sekali Mas sudah bekerja?" tanya Indhira mengerutkan keningnya saat tahu sang suami saat ini sedang berada di ruangan kerja.
" Tidak, Yank. Aku semalam tidur di sini." Bagas beralasan padahal semalaman dia tidak dapat terlelap karena memikirkan prahara yang melanda kedua orang tuanya.
" Mas ke sini, dong! Aku takut kalau Mama bangun." Indhira merasa nyaman jika Bagas ada di sampingnya ketika berada di dekat Angel. Apalagi dengan kondisi Angel seperti sekarang ini.
" Kenapa? Mmangnya kalau Mama bangun, Mama akan menggigit kamu?" Bagas terkekeh menggoda Indhira. " Biar kamu sama Mama makin akrab, Yank. Mama bilang akan ikut tinggal bersama kita. Jadi kamu harus terbiasa di rumah sama Mama saat aku pergi ke kantor," lanjutnya masih dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
" Tapi sekarang ini Mama masih bersedih, Mas. Kalau Mama tiba-tiba menangis lagi seperti semalam gimana?" Indhira khawatir tidak dapat menenangkan Mama mertuanya sendiri.
" Ya sudah, aku balik ke kamar sekarang. Aku tutup teleponnya. Assalamualaikum ..." Bagas mengakhiri panggilan teleponnya.
" Waalaikumsalam ..." balas Indhira, lalu menaruh ponselnya itu ke atas nakas.
" Hoek ... Hoek ..." Tiba-tiba rasa mual mengaduk-aduk perut Indhira. Padahal dia jarang sekali merasakan morning sickness seperti saat ini.
Angel yang sedang terlelap seketika terjaga saat mendengar suara Indhira. Dia pun langsung menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur saat melihat Indhira berlari ke arah toilet.
" Kamu jangan lari kayak gitu, Indhira! Hati-hati janin kamu! Kalau terpeleset bisa bahaya!" Dengan suara parau karena terlalu banyak menangis, Angel menyusul Indhira ke toilet.
" Hoek ...."
Angel lalu memijat tengkuk Indhira, membantu Indhira mendorong semua yang ingin dikeluarkan dari perutnya.
" Kamu bawa essential oil tidak?" tanya Angel saat Indhira selesai dari toilet dengan masalah morning sickness nya.
Indhira menggelengkan kepalanya, karena jarang sekali dia mengalami ini selama kehamilannya yang berjalan beberapa Minggu ini.
" Suami kamu mana?" tanya Angel baru menyadari jika Bagas tidak ada di kamar itu. Angel lalu menyeka keringat di kening Indhira. Berbeda dengan kehamilannya saat mengandung Bagas, Angel mengalami morning sickness yang cukup parah saat hamil Kartika. Karena itu dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Indhira saat ini seperti apa.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy reading ❤️