SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Orang Tua Macam Apa Adibrata Itu!?


__ADS_3

Bagas memperhatikan bangunan hotel megah di hadapannya saat ini. Dia masih ingat jika di hotel inilah dia pernah mengadakan pesta pertunangan besar-besaran dengan Evelyn.


Kening pria itu seketika mengerut. Jika paman dari Azkia yang ingin ditemui saat ini adalah pemilik hotel ini, berarti orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang dia temui di pesta pertunangannya dulu.


Ada keraguan ketika Bagas ingin melangkah masuk ke dalam hotel milik Gavin tersebut. Karena Gavin mengenali dirinya sebagai anak Adibrata Mahesa. Tentu saja dia tidak ingin lebih banyak lagi orang yang tahu jika dia adalah korban sikap arogan Papanya.


Orang pasti akan berpikir buruk jika tahu dirinya melamar bekerja di tempat lain, padahal selama ini dia dikenal sebagai direktur utama di perusahaan milik Papanya yang selama dua tahun sudah dia kelola. Tapi dia juga tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan, apalagi sebentar lagi dirinya akan segera menikah.


Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, Bagas memantapkan diri melangkah masuk ke dalam hotel untuk bertemu dengan Gavin Richard.


" Permisi, Pak. Saya ingin bertemu dengan Pak Gavin Richard. Apa beliau ada di tempat?" Ketika melewati security yang berjaga di dekat pintu lobby, Bagas menyapa security tersebut. Bagas tahu etika ketika dia bertamu ke tempat orang lain. Mau itu rumah ataupun kantor.


" Siang, Mas. Mas nya dengan siapa? Sudah buat janji sebelumnya dengan Tuan Gavin?" Security bertanya sesuai dengan prosedur yang harus dia jalankan.l sebagai petugas pengamanan di hotel milik Gavin Richard itu.


" Saya dengan Bagas, Pak. Saya diminta untuk datang menemui Pak Gavin oleh Ibu Azkia, keponakan dari Pak Gavin." Bagas menyebutkan jika kedatangannya atas rekomendasi Azkia.


" Oh, silahkan masuk, Mas. Nanti saya sampaikan ke resepsionis ..." Security mempersilahkan masuk Bagas dan membawa Bagas ke bagian resepsionis.


" Terima kasih, Pak." sahut Bagas.


" Mbak Vena, ada tamu ingin bertemu dengan Tuan Gavin." Security tadi melaporkan kedatangan Bagas kepada salah seorang petugas resepsionis hotel.


Pegawai resepsionis itu menatap ke arah Bagas dan memperhatikan pria tampan itu.


" Selamat siang, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" Vena menyapa Bagas seraya mengatupkan tangan di depan dadanya.


" Saya Bagas, Mbak. Saya disuruh oleh Ibu Azkia, keponakan dari Pak Gavin untuk bertemu dengan beliau di hotel ini." Bagas menyebut tujuannya datang ke hotel tersebut.


" Oh, sebentar, Mas. Saya sampaikan ke sekretaris Pak Gavin dulu," jawab resepsionis itu ramah.


" Baik, Mbak. Terima kasih ..." Bagas menunggu petugas resepsionis itu menelepon sekretaris dari Gavin.


Setelah kurang dari lima menit menunggu, akhirnya Bagas diperbolehkan naik ke lantai sepuluh, di mana letak ruangan General Manager, sebagai jabatan tertinggi di hotel sekaligus pemilik hotel tersebut berada.


Setelah keluar dari lift di lantai sepuluh, Bagas lalu melangkah ke arah ruangan Gavin yang ditunjukkan oleh pegawai resepsionis di bawah tadi.


" Permisi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Pak Gavin." Saat tiba di depan ruangan kerja Gavin, Bagas menyapa sekretaris Gavin.


" Oh, dengan Mas Bagas, ya?" Sekretaris Gavin bangkit dari kursinya lalu mengantar Bagas sampai masuk ke dalam ruang kerja Gavin.


" Selamat siang, Pak Gavin." Setelah dipersilahkan masuk ke dalam ruangan kerja Gavin, Bagas menyapa pemilik hotel itu yang terlihat duduk di balik meja kerjanya. Sementara sekretaris Gavin kembali keluar dan kembali ke mejanya.


" Selamat siang. Mari silahkan duduk!" Gavin mempersilahkan Bagas untuk duduk di kursi di depan meja dan berhadapan dengannya


" Terima kasih, Pak Gavin." Bagas mengikuti apa yang diminta oleh Gavin.


" Kia bilang ke saya jika kamu berniat melamar pekerjaan di hotel saya. Apa benar?" tanya Gavin setelah Bagas duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya dan hanya terhalang meja.


" Benar, Pak Gavin. Jika saya diijinkan untuk bekerja di sini, saya berminat untuk mengisi lowongan di tempat usaha Bapak." Dengan mengesampingkan gengsinya, Bagas mengatakan jika dia bersedia bekerja di hotel milik Gavin itu.


" Kamu tinggalkan saja berkas lamarannya, nanti saya akan cek. Kia bilang kamu lulusan magister dari USA?" Gavin ingin mengecek surat lamaran dan berkas yang menunjang dalam prosedur melamar pekerjaan.


" Hmmm, maaf, Pak. Saya hanya bisa menyerahkan surat lamaran kerja pas foto dan KTP saja, karena ijasah saya tertinggal di rumah orang tua saya." Bagas mengatakan sejujurnya seraya menyodorkan map yang sejak tadi dia bawa di tangannya.


" Tidak bawa ijasah? Lalu bagaimana saya bisa mengecek jika gelar sarjana kamu itu benar atau tidak?" Gavin terheran Bagas tidak menyertakan dokumen yang menunjang dalam melamar pekerjaan. Dia lalu membuka map yang disodorkan Bagas.


* Maaf, Pak. Karena saya tidak tinggal di rumah orang tua saya, jadi saya tidak membawa ijasah saya." Bagas bingung harus menjawab apa. Dia pikir Azkia sudah mengatakan kepada Gavin tentang kondisinya, namun sepertinya Gavin tidak tahu apa-apa.


" Bagaspati Mahesa?" Kening pria paruh baya yang pernah menjadi penyelamat Indhira itu berkerut saat membaca nama lengkap Bagas. Dia lalu memperhatikan dengan lekat wajah Bagas.


" Apa kamu punya hubungan kerabat dengan keluarga Adibrata Mahesa?" Seketika Gavin teringat akan acara engagement party keluarga Adibrata Mahesa yang pernah diselenggarakan oleh orang tua Bagas beberapa waktu lalu di hotelnya ini.


" Bukankah kamu putra Tuan Adibrata Mahesa?" Gavin akhirnya mengenali siapa pria muda di hadapannya saat ini.

__ADS_1


" Hmmm, benar, Pak." Agak ragu Bagas membenarkan pertanyaan Gavin, karena dia menduga Gavin akan bertanya panjang lebar, bagaimana dirinya bisa melamar pekerjaan di hotel Gavin.


" Apa kamu yakin ingin melamar di hotel saya, Bagas?" Gavin menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya. Gavin memang tidak diberitahu oleh Azkia soal masalah yang menimpa Bagas dan orang tuanya. Azkia hanya menyebutkan jika orang yang melamar pekerjaan adalah calon suami dari Indhira dan lulusan magister luar negeri.


" Hmmm, benar, Pak Gavin. Saya memang berniat melamar pekerjaan di tempat Bapak," sahut Bagas membenarkan.


" Bukankah kamu sendiri memimpin salah satu perusahaan milik Tuan Adibrata?" Menyadari jika orang dihadapannya bukan orang sembarangan, tentu saja Gavin mulai bicara lebih serius dan formal pada Bagas. Dan tentu saja nama besar Adibrata Mahesa juga sangat mempengaruhi sikap Gavin kepada Bagas.


" Saya sudah tidak berkerja di perusahaan Papa saya lagi, Pak Gavin. Saya ingin berdiri di bawah kaki saya sendiri." Dengan kalimat lugas Bagas menegaskan jika dirinya tidak ingin dikaitkan dengan nama besar Adibrata Mahesa dalam urusan karir.


" Hmmm ..." Gavin mengusap rahangnya seraya berpikir. " Apa niat kamu bekerja di tempat saya tidak akan menjadi masalah untuk Papamu?" lanjutnya.


" Saya rasa tidak, Pak." jawab Bagas, karena Papanya sendiri yang sudah mengeluarkan dirinya dari perusahaan yang selama dua tahun belakangan dia pimpin.


" Lalu posisi apa yang kamu inginkan jika bekerja di hotel saya?" Gavin tidak bisa sembarangan memberikan pekerjaan kepada Bagas mengingat pria itu adalah seorang anak pengusaha besar dan pernah menjabat sebagai CEO.


" Saya siap ditempatkan di mana saja, Pak." jawab Bagas.


" Hmmm, tunggu dulu. Bukankah calon Papa mertuamu seorang pengusaha terkenal di Amerika?" Gavin juga ingat jika calon besan Adibrata Mahesa adalah pengusaha besar di Amerika. " Tapi, Kia bilang kamu calon suami Indhira. Saya kurang paham maksud dari semua ini." Gavin dibuat bingung tentang status Bagas. Setahunya Bagas sudah mengadakan pesta pertunangan dengan seorang putri konglomerat yang bermukim di Amerika, lalu kenapa Azkia menyebut Bagas adalah calon suami Indhira? Apa ada yang salah dengan semua ini? Itu yang ada di benak Gavin.


" Saya sudah tidak bertunangan dengan putri dari Om Nathael lagi, Om. Tapi saya memang akan segera menikah dengan Indhira." Bagas menceritakan jika dia sudah memutuskan ikatan pertunanganya dengan Evelyn.


" Oh, begitu ..." Meskipun dirinya merasa penasaran dengan kisah yang terjadi dengan kandasnya pertunangan antara Bagas dan anak pengusaha kaya di Amerika, namun rasanya tidak etis harus menanyakan hal tersebut saat ini. Mungkin nanti dia bisa tanyakan kepada Azkia cerita lengkap tentang Bagas.


" Baiklah, jika kamu memang berminat bergabung dengan saya, jika tidak keberatan, saya akan tempatkan kamu sebagai manager di salah satu hotel saya di Jakarta ini. Kebetulan manager di sana pindah ke luar kota." Gavin memutuskan menerima Bagas bekerja di hotelnya. " Kapan kamu siap untuk mulai bekerja?" tanya Gavin kemudian.


" Sebenarnya Kamis ini saya dan Indhira akan menikah, Pak. Tapi jika Pak Gavin meminta saya untuk datang ke hotel itu lebih dulu saya siap, Pak." Bagas tidak ingin mengecewakan Gavin sehingga dia berkata siap diperintah berangkat kapan saja.


" Kamu dan Indhira akan menikah Kamis ini?" Gavin terkesiap, dia tidak menyangka jika waktu yang dipilih oleh Bagas dan Indhira terlalu cepat.


" Benar, Pak."


" Ya sudah, kalau begitu sebaiknya Minggu depan saja kamu mulai beraktivitas. Tapi besok kamu boleh datang ke hotel saya itu. Nanti kita ketemu di sana. Saya ingin mengenalkan kamu pada pegawai saya di sana." Gavin mengatur rencana agar rencana pernikahan Bagas dan Indhira tidak terhalang dengan rencana Bagas bekerja di hotelnya.


***


Adibrata langsung mendapat laporan dari Hamid jika Bagas datang ke hotel milik Gavin. Menurut Hamid, kemungkinan Bagas datang ke sana untuk melamar pekerjaan, karena Bagas membawa map yang diduga adalah surat lamaran.


" Keterlaluan! Anak itu sungguh memalukan! Untuk apa melamar pekerjaan di hotel milik Gavin Richard!?" geram Adibrata melihat sikap Bagas yang terpantau sedang melamar pekerjaan di hotel milik Gavin.


Adibrata ingin menghubungi nomer telepon Gavin. Dia ingin memberi pelajaran kepada putranya dengan meminta Gavin menolak Bagas jika benar Bagas berniat melamar pekerjaan di kantor Gavin.


" Selamat siang, Tuan Gavin. Bagaimana kabar, Anda?" Saat panggilan teleponnya terhubung dengan Gavin, Adibrata mulai percakapan dengan Gavin.


" Selamat siang, Tuan Adibrata. Alhamdulillah, kabar saya baik-baik saja, Tuan. Tuan Adibrata sendiri bagaimana kabarnya?" Gavin menjawab sapaan Adibrata.


" Saya juga sama seperti Anda, Tuan Gavin. Bagaimana bisnis perhotelan saat ini, Tuan Gavin?" Adibrata harus berbasa-basi terlebih dahulu sebelum dia menanyakan tujuan inti dia menghubungi Gavin.


" Seperti biasa saja, Tuan Adibrata. Tapi belakangan ini ada peningkatan karena banyak turis-turis asing dari luar Indonesia yang tertarik dengan perubahan kota Jakarta. Kebanyakan mereka adalah youtuber yang ingin membuat konten dan review tentang Jakarta." Gavin mencetitakan apa yang sedang berlaku di hotelnya sekarang ini.


" Wah, itu suatu keuntungan bagi Anda yang mempunyai bisnis perhotelan, Tuan Gavin."


" Ya kami syukuri saja rejeki yang datang, Tuan Adibrata." jawab Gavin. " Oh ya, ada perihal apa tiba-tiba Anda menghubungi saya, Tuan Adibrata?" Gavin menanyakan kepentingan Adibrata menghubunginya. Karena suatu hal yang kebetulan, Bagas dan Adibrata hari ini datang dan meneleponnya.


" Hmmm, begini, Tuan Gavin. Menurut informasi anak buah saya, putra saya siang ini datang ke hotel Anda, Tuan Gavin. Apa anak saya itu ada menemui Anda?" Adibrata menanyakan kebenaran soal kedatangan Bagas ke hotel milik Gavin.


" Putra Anda? Apakah putra Anda yang beberapa waktu lalu mengadakan pesta pertunangan di hotel saya ini, Tuan Adibrata?"


" Benar, Tuan Gavin. Saya hanya punya dua orang anak, satu laki-laki dan satu anak perempuan." Adibrata menegaskan jika orang yang dia maksud memang benar Bagas.


" Oh iya, Tuan Adibrata. Itu yang ingin saya tanyakan juga kepada Anda. Putra Anda memang datang menemui saya, dan dia berniat melamar pekerjaan di hotel saya. Itu yang membuat saya heran, bukankah putra Anda itu memimpin di perusahaan milik Anda, Tuan Adibrata?" Gavin yang tidak tahu tentang permasalahan yang terjadi antara Bagas dan Adibrata justru mengatakan dengan jujur tentang kedatangan Bagas di hotelnya.


" Tuan Gavin, apa kita bisa bertemu? Saya ingin bicara tentang putra saya itu dengan Anda, tapi ... sepertinya kurang enak jika saya membicarakan hal ini di telepon." Merasa kurang nyaman ingin menceritakan soal Bagas pada Gavin, Adibrata meminta waktu untuk bertemu langsung dengan Gavin.

__ADS_1


" Oh, silahkan saja, Tuan Adibrata. Kebetulan hari ini saya agak senggang. Apa Anda akan datang ke hotel saya, Pak Adibrata?" Gavin tidak berkeberatan bertemu dengan Adibrata.


" Baiklah, kalau begitu saya akan mampir ke tempat Anda, Tuan Gavin. Saya tutup dulu teleponnya sekarang, kita ketemu di sana. Selamat siang, Tuan Gavin." Adibrata ingin segera menemui Gavin dan mempengaruhi Gavin untuk menolak lamaran pekerjaan yang diajukan Bagas di hotel milik Gavin Richard itu.


***


Azkia memilih beberapa desain terbaru gaun yang akan dipajang di display butiknya ditemani oleh Wanda, sekretarisnya. Jika saja Indhira hari ini berangkat kerja, mungkin dia akan minta bantuan Indhira. Namun karena Indhira ditahan oleh Lusiana, akhirnya pekerjaan itu kembali dikerjakan oleh Wanda.


Ddrrtt ddrrtt


Azkia menoleh ke arah ponselnya yang berbunyi di meja kerjanya.


" Mbak, tolong ambilkan HP ku!" Azkia meminta bantuan Wanda untuk mengambil alat komunikasinya itu.


" Oke Mbak." Wanda berlari kecil ke arah meja untuk mengambil ponsel itu lalu menyerahkannya pada Azkia.


" Siapa yang telepon?" tanya Azkia saat menerima ponselnya dari Wanda.


" Sepertinya Om nya Mbak Kia," sahut Wanda.


Layar ponsel Azkia memang memperlihatkan nama Uncle Gavin, membuat Azkia segera mengangkat panggilan telepon dari kakak sepupu Mamanya itu.


" Assalamualaikum, Uncle. Gimana? Uncle sudah bertemu dengan Bagas?" Saat mengangkat panggilan telepon dari Gavin, Azkia langsung menanyakan soal Bagas, karena dia yakin Uncle nya itu menghubunginya karena ingin membicarakan soal Bagas.


" Waalaikumsalam ... sepertinya kamu hutang penjelasan pada Uncle, Kia." Selepas menutup telepon dengan Adibrata, sepertinya Gavin butuh pencerahan seputar Bagas dari Azkia hingga dia menghubungi Azkia saat ini.


" Penjelasan apa, Uncle?" tanya Azkia.


" Apa kamu tahu siapa Bagas yang sebenarnya? Dia itu anak dari pengusaha kaya raya bernama Adibrata Mahesa. Bagas itu pernah menyelenggarakan acara pertunangan di hotel Uncle ini dengan putri konglomerat yang tinggal di Amerika, Kia. Lalu kenapa kamu bilang jika Bagas adalah calon suami dari Indhira? Dan Bagas sendiri bilang akan menikah Kamis ini. Mereka itu adalah satu orang yang sama, tapi kenapa ada dua kisah berbeda?" Gavin benar-benar dibuat bingung dengan sosok Bagas, pria yang direkomendasikan Azkia untuk mengisi lowongan pekerjaan di hotel miliknya.


" Kia tahu kalau Bagas itu anak dari Tuan Adibrata Mahesa yang sombong nya setengah mati itu Uncle." Azkia yang terlanjur membenci Adibrata bahkan tidak segan menyebut Adibrata itu sosok orang yang sombong di hadapan Gavin.


" Sombong?" Gavin terkejut dengan umpatan Azkia terhadap Adibrata. " Maksud kamu bagaimana, Kia?" Gavin meminta Azkia menceritakan apa yang terjadi, karena dia semakin dibuat penasaran, kenapa keponakannya itu sampah mengumpat seorang Adibarata Mahesa.


" Iya, Uncle. Adibrata Mahesa itu orang kaya paling norak yang pernah Kia tahu." Tak henti-hentinya Azkia mencer ca Adibrata.


" Kia, jangan bicara seperti itu kepada orang yang lebih tua!" Gavin menegur Azkia agar tidak bicara kasar terhadap orang yang lebih tua.


" Kia jengkel sama Papanya Bagas itu, Uncle." Azkia beralasan jika dia pantas menca ci Adibrata.


" Kamu ceritakan semua pada Uncle, apa yang sebenarnya terjadi?" Gavin semakin tidak sabar ingin tahu masalah yang membuat Azkia membenci salah seorang pengusaha kondang di negeri ini.


" Jadi begini Uncle ..." Azkia akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada Bagas dan Indhira dari awal, saat sepasang kekasih itu masih duduk di bangku SMA. Kisah dari vidio viral, Indhira dikeluarkan dari sekolah atas permintaan Adibrata, hingga Adibrata melab rak dan menampar Indhira di rumah Mama mertuanya. Tak ketinggalan soal aksi suap yang ditawarkan oleh orang suruhan Adibrata pada Raffasya, asalkan Raffasya bersedia bekerja sama dengan Adibrata untuk menbatalkan resepsi pernikahan Bagas dan Indhira. Dan yang terbaru adalah pengusiran Bagas dari rumah dan kantornya oleh orang tuanya sendiri.


" Menurut Uncle, orang tua macam apa Adibrata itu!?" Azkia mengakhiri ceritanya dengan melontarkan pertanyaan kepada Gavin.


" Apa benar Pak Adibrata seperti orang itu, Kia? Kok, seperti sinetron sekali watak Pak Adibrata itu? Sampai tega mengusir anak sendiri dan memperlakukan Indhira seperti itu?" Dengan nada kurang percaya, Gavin menyampaikan keterkejutannya setelah mendengar cerita tentang Adibrata dari Azkia.


" Memangnya Uncle pikir Kia berbohong?" Apa yang Kia katakan itu benar, Uncle. Kalau Uncle tidak percaya, Uncle bisa tanyakan suamiku. Pak Adibrata berani menawarkan kerja sama untuk menggagalkan resepsi pernikahan Bagas yang dia pikir akan diadakan di cafe suamiku, karena orang suruhannya melihat Bagas ke Raff Caffe sebelumnya, Uncle." Azkia nampak bersemangat menyebutkan keburukan-keburukan Adibrata di depan Gavin.


" Licik sekali dia itu ternyata," sahut Gavin.


" Orang tua super tega dia itu! Tidak mementingkan kebahagiaan anak, tapi lebih mengutamakan sikap egonya."


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2