SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Ketakutan Adibrata


__ADS_3

Dengan hati hancur Angel berlari meninggalkan Adibrata. Dia sendiri tidak tahu saat ini kakinya berlari ke arah mana, padahal jalan keluar untuk turun ke bawah yang dia tahu adalah dua lift yang tadi dia dan suaminya tuju.


Angel pun tidak mempedulikan jika saat ini dia berlari sambil menangis. Bahkan ada beberapa tamu hotel yang sedang berada di koridor yang dilalui oleh Angel dibuat heran dengan apa yang dilakukan oleh Angel.


" Ibu, Ibu kenapa?" tanya petugas hotel yang baru selesai mengatar tamu hotel yang ingin menginap di salah satu kamar hotel itu langsung menghampiri Angel yang menangis.


" Mbak, di mana jalan turun ke bawah?" Angel rasanya ingin segera keluar dari hotel itu dan menjauh dari suaminya.


" Angel ...!" Sementara suara Adibrata terdengar berteriak dari arah koridor samping di mana Angel saat ini berada.


" Mbak, tolong sembunyikan saya dari suami saya." Angel meminta bantuan pegawai hotel itu agar mau membantunya.


Pegawai itu bingung dengan permintaan Angel, namun saat melihat Angel yang sudah berurai air mata membuatnya bersedia membantu Angel.


" Ibu lurus saya nanti ada lorong sebelah kanan di situ ada lift. Saya akan mencoba menahan suami ibu di sini agar Ibu bisa turun ke bawah." Petugas hotel itu segera menyuruh Angel berlari ke lorong arah kanan, sementara dia melangkah cepat menuju arah di mana Adibrata berada.


" Maaf, ada apa ribut-ribut, Pak?" Saat mendengar Adibrata berteriak memanggil nama Angel, pegawai hotel itu menegur Adibrata, berusaha menahan langkah Adibrata, agar Angel bisa keluar dari lift yang dia tunjukkan tadi pada Angel.


" Apa kamu lihat istri saya?" tanya Adibrata kepada pegawai hotel itu.


" Maaf, istri Bapak yang mana, Pak? Apa Bapak menginap di hotel ini? Apa Bapak sudah cek di kamar?" Pegawai hotel memberi kesempatan Angel untuk keluar dari hotel dengan menahan Adibrata dan mengajak Adibrata berkomunikasi.


" Tidak, tidak! Kami tidak menginap di sini, tadi kami dari restoran di sini dan ingin turun ke bawah." Adibrata menjelaskan keberadaannya di sana. " Apa di sekitar sini ada akses untuk turun ke lantai bawah?" tanyanya kemudian.


" Oh, ada, Pak. Bapak silahkan ke arah kiri nanti sampai ujung ada lorong ke kanan di situ ada lift, Pak." Saat dirasa waktu yang diberikan untuk Angel keluar dari lantai itu sudah cukup, akhirnya petugas hotel itu menunjukan lift yang tadi dia tunjukkan pada Angel.


Adibrata pun segera berlari menuju arah yang ditunjuk oleh petugas hotel tadi.


Sementara Angel yang sudah berhasil turun sampai di lobby hotel langsung berlari ke luar hotel menuju arah jalan. Dia pun menghentikan taxi yang ada di sekitar hotel. Tempat yang ia tuju saat ini tak lain adalah rumah Bagas. Dia ingin mengadukan apa yang sudah dilakukan oleh Papa anak-anaknya kepada Bagas, karena dia merasa telah dikecewakan oleh Adibrata.


Di dalam mobil menuju rumah Bagas, Angel terus saja menangis dengan tersedu. Hal itu tentu membuat driver taxi merasa kebingungan. Dia ingin bertanya namun ragu, sehingga membiarkan saja penumpangnya itu menangis, yang penting di mengantar penumpang itu sampai tempat dengan selamat.


Angel mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi nomer Bagas, karena saat ini mengarahkan driver taxi ke hotel Bagas. Dia tidak ingat nama alamat tempat tinggal Bagas. Apalagi malam hari, dia tidak tahu arah jalan rumah putranya itu.


" Halo, ada apa, Ma?" Suara Bagas terdengar di telinga Angel.


" Bagas, hiks ... hiks ..." Angel langsung menangis kencang setelah mendengar suara Bagas.


" Ma, Mama kenapa, Ma? Kenapa Mama menangis? Ada apa? Apa Papa marah sama Mama?" Nada khawatir langsung terdengar dari suara Bagas saat mendengar Mamanya menangis tersedu.


" Hiks, Bagas ...."


Bukannya menjawab pertanyaan Bagas, Angel malah terus terisak, sehingga membuat Bagas semakin cemas atas apa yang terjadi dengan Angel.

__ADS_1


" Ma, Mama tenang dulu, jangan menangis. Kalau Mama menangis seperti ini, bagaimana Bagas bisa tahu Mama kenapa?" Bagas meminta Mamanya untuk tenang dan tidak terus menangis.


" Mama sekarang ini ada di mana? Apa Papa tahu kalau Mama sering menemui aku?" tanya Bagas kembali. Bagas khawatir jika sang Papa telah mengetahui apa yang belakangan ini dilakukan sang Mama padanya.


" Mama ada di taxi, Mama sekarang sedang ke tempat kamu, Bagas. Mama tidak ingat alamat rumah kamu, temui Mama di hotel kamu saja, hiks." Dibarengi dengan tangisan Angel mengatakan posisinya saat ini.


" Mama mau ke rumahku?" Bagas kembali terkejut saat Mamanya mengatakan sedang dalam perjalanan ke arah rumahnya. Tapi, kenapa menggunakan taxi? Kenapa tidak diantar oleh Pak Zul? Kenapa juga Papannya mengijinkan Mamanya keluar malam hari sendirinya. Bagas merasa khawatir jika Mamanya pun diusir dari rumah.


" Ya sudah, aku tunggu Mama. Aku ke hotel sekarang, aku tunggu di parkiran. Mama tutup teleponnya sekarang. Aku mau meluncur ke hotel." Bagas berniat mengakhiri panggilan teleponnya, karena dia akan segera pergi ke hotel.


" Iya, Mama tutup sekarang." Angel lalu mengakhiri teleponnya, namun dia tak mengakhiri tangisannya karena dia masih syok dengan kisah perselingkuhan sang suami.


***


" Kenapa, Mas? Mama kenapa?"


Bagas sedang memijat kaki Indhira yang terasa pegal saat sang Mama meneleponnya, sehingga Indhira pun ikut mendengar apa yang dikatakan sang suami kepada Mama mertuanya.


" Mama nangis, Yank. Mama sedang menuju ke sini naik taxi." Masih terlihat cemas wajah Bagas saat menceritakan apa yang terjadi pada sang Mama.


" Astaghfirullahal adzim. Mama menangis kenapa, Mas? Apa Papa marah sama Mama?" Jika ada suatu masalah diketahui oleh Indhira, wanita itu sudah pasti akan merasa cemas dan senewen.


" Aku belum tahu, Yank. Aku rasa ini masalahnya serius." Bagas mengambil hoodie dari dalam lemari pakaian.


" Aku mau menyusul Mama ke hotel. Mama tidak hapal jalan ke sini. Jadi aku akan menjemput Mama." Bagas menjelaskan pada Indhira.


" Aku ikut, Mas." Indhira pun lalu mengambil sweater dari lemari.


" Jangan, Yank. Kamu di sini saja. Nanti kalau Mama sudah sampai, aku juga langsung kembali ke sini." Bagas melarang Indhira yang ingin mengikutinya.


" Tapi aku mau ikut, Mas. Aku takut sendirian di rumah malam-malam." Indhira merengek meminta ikut suaminya.


" Yank, kamu sedang hamil, sebaiknya tunggu di rumah saja. Aku tidak akan lama, kok." Bagas tetap tidak mengijinkan istrinya itu ikut dengannya.


" Ya sudah, tapi jangan lama-lama." Indhira pasrah, tak bisa membantah apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


Bagas lalu mengeluarkan motornya dari dalam rumah dan bergegas menuju arah hotel tempat dia bekerja.


" Selamat malam, Pak Bagas. Tumben, Pak Bagas malam-malam datang kemari?" sapa security saat melihat kedatangan Bagas memakai baju santai juga sandal. Sikap Bagas yang humble membuat securty merasa mudah akrab dengan bos barunya itu.


" Iya, Pak Slamet. Mau menjemput Mama saya, katanya sedang meluncur kemari," jawab Bagas yang memilih menunggu di dekat security yang berjaga.


" Menunggu di dalam, Pak Bagas?" Security menawarkan Bagas untuk menunggu di dalam lobby.

__ADS_1


" Tidak usah, Pak Slamet. Saya tunggu di sini saja," tolak Bagas memilih menunggu di teras hotel, sementara matanya selalu memperhatikan setiap mobil yang masuk ke dalam halaman parkir hotel itu.


" Baik, Pak." sahut Pak Slamet.


Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya taxi yang membawa Angel terlihat masuk ke dalam gebang hotel. Bagas pun lalu bersiap menyambut sang Mama. Saat taxi itu berhenti di depan lobby hotel, Bagas langsung membuka pintu mobil untuk Mamanya. Bagas melihat wajah sedih Angel dengan matanya yang sembab.


" Bagas, hiks ..." Angel menangis melihat Bagas, namun tidak turun dari mobil. Membuat Bagas yang memutuskan masuk ke dalam mobil lalu memeluk Mamanya.


" Hiks ..." Tangis Angel pecah saat dalam pelukan putra sulungnya itu.


" Mama tenang dulu, ada apa sebenarnya?" tanya Bagas dengan mengusap punggung sang Mama. " Kita langsung ke rumahku saja, ya?" Bagas memutuskan untuk membawa Angel ke rumah kontrakannya.


" Pak, tolong putar arah ke luar dari sini. Nanti saya arahkan jalannya. Nanti saya kasih uang tip untuk Bapak." Bagas memberi perintah kepada driver taxi yang membawa Mamanya.


" Baik, Mas." sahut driver taxi.


" Pak Slamet, saya titip motor saya dulu!" Bagas pun sempat menurunkan kaca jendela dan bicara kepada Pak Slamet sebelum meninggalkan hotel.


" Siap, Pak Bagas!" jawab Pak Slamet seraya melakukan gerakan hormat pada Bagas sebagai tanda dia siap menjalankan apa yang diperintah oleh sang bos.


Dalam perjalanan ke rumah Bagas, Angel masih terus saja menangis dalam pelukan Bagas, tanpa mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Hal tersebut membuat Bagas semakin bingung dan penasaran.


Sementara itu Adibrata masih kelimpungan karena dia masih belum menemukan Angel. Berkali-kali dia menghubungi Angel, tapi istrinya selalu mereject panggilan teleponnya, bahkan saat ini nomer istrinya itu tidak bisa dia hubungi.


Adibrata pun memutuskan kembali ke rumah, karena dia yakin jika sang istri pasti akan menuju ke rumah.


Sungguh Adibrata merasa takut jika angel sampai marah atau bahkan meminta cerai darinya. Dia sungguh mencintai Angel dan dia sangat menyesal telah tergoda dengan tawaran yang diberikan oleh relasi bisnisnya itu.


Selama ini, Adibrata memang tidak pernah tergoda oleh wanita. Dia adalah pria yang setia pada istrinya, meskipun tidak sedikit juga wanita yang mencoba menarik perhatiannya, tentu saja karena dia adalah seorang bos kaya raya. Tapi, tidak ada satu wanita pun yang sanggup meluluhkan Adibrata.


Saat di Hong Kong itulah, dia seolah goyah, seandainya saja saat itu Angel ikut bersamanya, mungkin dia bisa selamat dari tindakan perselingkuhan itu. Dia yakin juga, jika saat itu Angel ada bersamanya, dirinya tidak akan mempunyai kesempatan menghabiskan waktu bersama Kyle yang menyebabkan perselingkuhan itu tercipta.


Adibrata juga mengutuk Kyle yang secara terang-terangan mengatakan pada Angel, apa yang sudah dilakukan oleh mereka, hingga akhirnya sang istri tahu aib yang sudah dia lakukan di belakang Angel. Padahal seharusnya sebagai wanita penghibur dan sudah dibayar dengan harga yang cukup mahal, Kyle seharusnya menjaga privacy orang yang sudah menyewa jasanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2