
Kartika menoleh ke arah pintu saat Angel masuk ke dalam kamarnya dengan mengendap, bahkan Mamanya itu terlihat menutup pintu dengan perlahan membuatnya mengerutkan keningnya melihat sikap aneh Mamanya saat ini.
" Ada apa, Ma?" tanya Kartika penasaran masih dengan posisi tidur telungkup memainkan laptopnya
" Kartika, coba kamu tebak siapa yang Mama temui tadi siang?" Angel tahu jika Kartika sangat dekat dan menyayangi Bagas, sehingga dia berani menceritakan rasa bahagia karena telah bertemu dengan putranya pada anak bungsunya itu.
" Memang Mama bertemu dengan siapa? Paling juga sama teman-teman hedon Mama." Kartika kembali menatap laptopnya seolah tak berminat mengetahui siapa yang baru saja ditemui oleh Mamanya.
" Iiishh, kamu ini! Kamu pasti akan kaget kalau tahu Mama ketemu dengan siapa!? Coba kamu tebak, Mama ketemu siapa?" Angel ingin memberi kejuatan pada Kartika dan meminta anaknya itu menebak orang yang dia jumpai.
" Malas mikir ah!" celetuk Kartika benar-benar tidak berminat mengetahuinya.
" Mama tadi itu habis ketemu dengan kakak kamu, Kartika. Bagas ..." Angel bersemangat saat menceritakan pertemuannya dengan putranya.
" Mama bertemu Kak Bagas? Di mana, Ma?" Kartika seketika bangkit dan terduduk saat Mamanya menyebut bertemu dengan Bagas. Berbeda dengan tadi yang terlihat malas, kali ini dia lebih bersemangat mendengar cerita tentang Mamanya yang bertemu dengan Bagas.
" Tadi di jalan waktu Mama mau ke rumah teman Mama, mobil Mama ditabrak sama mobil ojek online, dan ternyata membawa kakak kamu dengan istrinya," lanjut cerita Angel kembali.
" Hahh?? Mama ketemu Kak Indi juga?" Kartika langsung tercengang saat Angel menyebut bertemu dengan Indhira. Seketika dia cemas jika Mamanya itu akan berlaku buruk pada Indhira, seperti yang dilakukan Papanya pada Indhira.
" Iya, katanya mereka mau makan siang setelah pulang dari bank," jawab Angel menjelaskan.
" L-lalu?" Namun, Kartika tidak melihat wajah Mamanya menampakkan kemarahan, artinya sepertinya Indhira dalam keadaan aman.
" Lalu kami makan siang bersama di rumah makan Sunda," sahut Angel. " Mama senang akhirnya Mama bisa bertemu juga dengan Kakak kamu, Kartika. Mama juga tahu di mana Kakak kamu bekerja sekarang ini. Jadi, kalau Mama kangen dengan Kakakmu itu, Mama tahu di mana harus mencarinya." Angel tidak dapat menutupi suka cita hatinya karena bertemu kembali dengan Bagas, hingga setiap kalimat yang dia katakan terucap dengan nada bahagia.
" Nanti kalau Mama mau bertemu dengan kakamu lagi, kamu ikut saja, biar kamu bisa betemu dengan kakak kamu. Kamu pasti kangen dengan kakakmu, kan? Tapi, kita harus merahasiakan hal ini dari Papa. Jangan sampai Papa tahu." Angel bahkan berencana mengajak Kartika bersamanya jika hendak bertemu dengan Bagas kembali.
" Hmmm, sebenarnya aku sudah sering ketemu Kak Bagas, kok, Ma." Mengetahui Mamanya juga menyembunyikan pertemuan dengan Bagas dari sang Papa membuat Kartika pun akhirnya terbuka tentang jadwalnya yang hampir rutin satu minggu sekali bertemu dengan kakaknya itu. " Tapi, Mama jangan bilang-bilang Papa!" Kartika memohon agar Mamanya tutup mulut dan tidak membuka rahasianya ini Adibrata.
" Apa?? Kamu sudah sering bertemu dengan Bagas? Di mana? Kok, kamu tidak pernah cerita ke Mama kalau kamu sering bertemu dengan Bagas?" Angel menatap serius ke arah Kartika dengan tangan melipat di dada. Dia tidak tahu bagaimana caranya bertemu dengan Bagas, justru Kartika dengan mudah bertemu dengan Bagas secara rutin.
" Aku tidak berani ceritalah, Ma! Nanti aku malah dilarang betemu dengan Kak Bagas lagi kalau aku cerita ke Mama. Aku pikir Mama akan sama seperti Papa " Kartika menjelaskan alasannya tidak mengatakan pertemuannya dengan Bagas.
" Mama saja kangen ingin ketemu dengan kakakmu, gimana Mama mau mengadu pada Papa kamu!? Lalu kamu bisa ketemu kakakmu di mana?" tanya Angel kemudian.
" Tadinya Kak Bagas datang ke sekolah menemui aku, Ma. Setelah itu aku minta ketemuan sama Kak Bagas dan Kak Indi rutin satu Minggu sekali. Biasanya kita pergi makan siang bersama," ungkap Kartika." Tapi Mama jangan bilang-bilang Papa ..." Kartika meminta Mamanya tidak membuka rahasianya itu kepada Papanya.
" Kamu ini curang sekali, Kartika!" Angel mendengus kesal karena Kartika seolah menyembunyikan Bagas darinya, padahal dia juga berkeinginan. bisa sering bertemu dengan Bagas.
" Maaf, Ma." Kartika langsung memeluk Mamanya agar Mamanya itu tidak memarahinya. " Yang penting sekarang Mama juga sudah tahu di mana bisa bertemu dengan Kak Bagas, kan?" Kartika mencoba meredakan kekesalan Mamanya atas sesuatu yang dia sembunyikan selama ini.
" Ya sudah, kita harus merahasiakan hal ini dari Papa, agar Papa tidak mengetahui jika kita bertemu dengan Bagas, biar kita bisa bertemu kembali dengan kakakmu itu." Mereka saling berjanji tak membocorkan pertemuan dengan Bagas juga Indhira.
" Iya, Ma." sahut Kartika. " Oh ya, Ma. Mama berarti sudah bertemu dengan Kak Indi?" tanya Kartika penasaran ingin tahu pendapat sang Mama tentang istri dari kakaknya itu.
" Iya, kan tadi Mama bilang kalau Bagas itu sama istrinya," jawab Angel.
" Tapi, Mama tidak membenci Kak Indi, kan?" tanya Kartika ingin tahu
" Mama tidak mau mengambil resiko dibenci Kakakmu seperti Papamu." Angel mengatakan, mau tidak mau dia harus bersikap baik kepada Indhira agar Bagas tidak marah kepadanya.
" Kak Bagas tidak membenci Papa, kok, Ma! Kak Bagas hanya tidak suka Papa terlalu mengatur hidup Kak Bagas. Jangan berpikiran buruk pada Kak Bagas, Kak Bagas itu Sayang Papa dan Mama." Kartika menjelaskan jika kakaknya tidak pernah membenci kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
" Tapi, Kak Indi itu baik, kok, Ma. Aku juga tidak mengerti kenapa Papa sampai membenci Kak Indi seperti itu? Kak Bagas itu butuh pendamping seperti Kak Indi yang menyemangati dia. Aku lihat Kak Bagas begitu bahagia dengan pernikahannya dengan Kak Indi, Ma. Semoga rumah tangga mereka langgeng dan tetap bertahan sampai mereka tua nanti. Dan tidak ada rintangan yang menghadang rumah tangga mereka," harap Kartika mendoakan kebahagiaan pada rumah tangga kakaknya itu.
***
" Selamat siang, Mas Bagas. Apa kabar?" Dahlan bersalaman dengan Bagas yang baru saja tiba di lokasi rumah KPR milik Bagas. Bagas memang memutuskan langsung merenovasi rumah barunya itu agar dapat segera dia tempati bersama Indhira. Dan dia segera menghubungi Dahlan untuk mengurus soal renovasi rumahnya itu.
" Siang, Pak Dahlan. Ayo, silahkan masuk." Bagas mengambil kunci rumah dari saku blazernya yang sudah dia terima dari pihak developer. Dia kemudian membuka pintu rumah KPR nya lalu mengajak Dahlan masuk ke dalam rumah barunya itu.
" Mas Bagas ingin merenovasi rumah ini seperti apa? Apa Mas Bagas butuh jasa arsitek?" tanya Dahlan kemudian, menanyakan desain rumah yang diinginkan oleh Bagas.
" Keuangan saya ini terbatas, Pak Dahlan. Tidak memungkinkan saya untuk menggunakan jasa arsitek. Saya hanya ingin di depan rumah diberi pagar dan dibuatkan garasi, kalau bisa ruang tamu pindah ke depan sini, jadi di tengah itu bisa dibuat ruang keluarga. Lahan di belakang dibuat dapur sama minta ruang agak terbuka untuk menjemur pakaian." Bagas menjelaskan apa yang dia inginkan direnovasi dari rumah KPR nya kepada Dahlan.
" Untuk kamar, saya ingin dua kamar ini dijadikan satu saja, Pak Dahlan. Karena hanya saya dan istri saya yang menempati, jadi agak luas kamarnya. Mungkin jika saya ada rejeki di tahun-tahun berikutnya, saya bisa tambah bangunan ke atas untuk kamar lagi." Bagas hanya membutuhkan satu kamar di rumahnya itu, karena dia berpikir jika Indhira tidak punya saudara yang mungkin akan datang berkunjung dan menginap di rumah mereka. Sedangkan dari pihak dia sendiri, tidak mungkin keluarganya menginap di rumah kecil itu.
" Apa Pak Dahlan bisa bantu carikan tukang yang dapat dipercaya dan bekerja cukup baik untuk merenovasi rumah saya ini?" tanya Bagas meminta bantuan Dahlan untuk mencari orang yang akan menggarap rumahnya.
" Baik, Mas Bagas. Saya punya tukang bangunan langganan yang kerjanya bagus." Dahlan merekomendasikan tenaga kuli bangunan yang bisa mengerjakan pekerjaan membangun dan merenovasi rumah.
" Oke, Pak Dahlan. Saya serahkan pada Pak Dahlan untuk urusan renovasi rumah ini." Bagas setuju dengan rekomendasi yang diberikan oleh Dahlan kepadanya. Bagas percaya pada Dahlan karena dia tahu Dahlan akan memberikan orang-orang terbaik untuk mengerjakan rumahnya.
Sementara di Alexa Boutique
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Indhira berbunyi, sebuah pesan masuk dari Wanda terlihat di ponselnya.
" Ra, jadi mau makan bakso tidak?" Itu isi pesan dari Wanda.
" Iya, Mbak. Sebentar saya mau sholat dulu, Mbak." Indhira langsung membalas pesan dari sekretaris Indhira itu. Lalu bangkit dari kursi kerjanya.
" Kamu tidak keluar malam siang dengan suamimu, Ra?" tanya Azkia saat mendengar Indhira berpamitan ingin makan siang bersama Wanda.
" Tidak, Bu. Mas Bagas sedang ke rumah baru, mau ketemu dengan orang yang akan menghandle urusan renovasi rumah baru kami." Indhira menjelaskan pada Azkia kenapa dia tidak pergi makan siang bersama sang suami seperti biasanya.
" Kalian mau renovasi rumah, kalau butuh biaya tambahan kamu bilang saja, Ra." Azkia menawarkan jika memang Bagas kekurangan dana dalam merenovasi rumah barunya.
" Terima kasih, Bu. Tapi, kami masih punya dana simpanan, uang sisa waktu biaya pernikahan kemarin," ujar Indhira menolak halus tawaran dari bosnya itu.
" Ya sudah, nanti kalau sudah makan ikut aku periksa ke dokter, yuk, Ra." Azkia ingin mengajak Indhira untuk menemaninya cek rutin kehamilannya.
" Periksa kandungan, Bu?" tebak Indhira.
" Iya," jawab Azkia. " Kamu sendiri, apa belum ada tanda-tanda kehamilan, Ra?" tanya Azkia karena usia pernikahan Bagas dan Indhira memasuki usia dua bulan.
" Saya belum tahu, Bu. Tapi saya memang belum dapat menstruasi bukan inu. Biasanya jadwal haid saya maju dari tanggal sebelumnya, tapi ini sudah lewat tanggal menstruasi saya bulan kemarin masih belum datang bulan juga." Indhira menjelaskan jadwal datang bukannya yang tidak teratur bulan ini.
" Wah, bisa jadi kamu sedang isi, Ra. Coba nanti kamu sekalian periksa juga, siapa tahu kamu juga positif hamil, lho, Ra!" Azkia mengajak Indhira untuk ikut cek kehamilan di dokter langganannya.
" Iya, Bu. Seketika wajah Indhira menghangat saat Azkia menyebutkan kemungkinan dirinya hamil. Jika itu memang benar, sudah pasti itu adalah suatu berita bahagia untuknya dan juga suaminya.
" Saya mau sholat dulu, Bu." Indhira kembali berpamitan, lalu segera meninggalkan ruangan Azkia.
***
__ADS_1
Indhira merasakan berdebar saat melakukan pemeriksaan kehamilan. Dia takut jika dia terlalu banyak berharap namun ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya.
" Bagaimana, Dok? Apa Indhira hamil?" Azkia yang justru terlihat bersemangat untuk mengetahui apakah Indhira hamil atau tidak.
" Wah, ini kenapa Mbak Kia yang bersemangat daripada Bumil yang satu ini, ya?" Dokter Elis, melihat Azkia yang nampak excited untuk mengetahui hasil pemeriksaannya daripada Indhira sendiri.
" Jadi benar Indhira hamil, Dok?" Dari kalimat daripada bumil yang satu ini yang diucapkan oleh Dokter Elis, Azkia dapat menebak jika Indhira memang benar positif hamil.
" Menurut hasil pemeriksaan memang Mbak Indhira ini memang sedang hamil dan usia kehamilannya baru masuk usia tiga minggu." Dokter Elis membenarkan tebakan Azkia tadi.
" Alhamdulilah, selamat, Ra." Azkia langsung memeluk tubuh Indhira yang seakan mematung mendengar kabar yang disampaikan oleh Dokter Elis.
Tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata apa yang baru saja Indhira dengar dari Dokter Elis yang menyebutkan jika dirinya kini telah berbadan dua. Dirinya hanya dapat tertegun dengan bola mata yang mulai mengembun dengan cairan yang membasahi bola matanya. Dan cairan itu akhirnya tumpah di pipi Indhira saat Azkia memeluknya.
" Selamat atas kehamilannya, Mbak Indhira. Usia kehamilan masih muda harus dijaga dengan baik. Jangan terlalu lelah dalam bekerja. Perbanyak makan-makanan yang bernutrisi dan kurangi minuman bersoda. Nanti saya beri vitaminnya, ya?" Dokter Elis lalu menuliskan resep untuk Indhira.
" Terima kasih, Dok." ucap Indhira.
Setelah selesai periksa dan mengambil vitamin yang diberi dari Dokter Elis, Indhira dan Azkia pun kembali ke butik.
" Kamu sudah kasih kabar Bagas soal kehamilan kamu ini, Ra?" tanya Azkia pada Indhira.
" Belum, Bu. Saya rencananya ingin kasih tahu langsung kalau bertemu dengan Mas Bagas," sahut Indhira yang ingin langsung memberikan kabar bahagia itu saat mereka berhadapan.
" Iya, memang lebih bagus kalau berhadapan langsung kalau memberi kabar soal kehamilan, Ra. Apalagi anak pertama. Bagas pasti senang banget mendengar kabar kehamilan kamu." Azkia setuju dengan rencana Indhira yang akan membagikan kabar bahagia itu kepada Bagas nanti setelah mereka bertemu.
" Iya, Bu."
" Aku merasa senang dan sedih tahu kamu hamil, Ra."
Indhira menoleh ke arah Azkia saat mendengar bosnya bicara tentang senang dan sedih mendegar dirinya hamil.
" Kenapa memangnya, Bu?" tanya Indhira penasaran.
" Aku senang karena kamu sekarang akan mempunyai anak tapi aku sedih, karena aku yakin kalau Bagas tidak akan mengijinkan kamu bekerja lagi di sini." Azkia menjelaskan apa yang membuatnya sedih. Dia sudah menganggap Indhira seperti adik sendiri. Pasti dia akan merasa kehilangan saat Indhira tidak lagi bekerja bersamanya.
" Kalau Ibu masih membutuhkan tenaga saya, saya masih bersedia, Bu." Tentu saja kebaikan Azkia selama ini kepadanya membuat dirinya bersedia tetap bekerja jika Azkia memang menginginkannya.
" Jangan memaksakan diri, Ra. Yang ada di perut kamu itu lebih penting. Dia itu pewaris dinasti Adibrata Mahesa, lho!" Azkia berseloroh meledek Indhira.
Indhira hanya tersenyum tipis menanggapi Azkia yang meledeknya. Meskipun apa yang dikatakan bosnya itu benar soal calon anaknya yang merupakan keturunan keluarga Adibrata Mahesa, namun dia tidak pernah memikirkan soal materi yang dimiliki keluarga suaminya itu. Baginya, Papa mertuanya dapat menerimanya dengan sebagai menantu sudah lebih dari cukup.
" Aku harap dengan kehamilan kamu ini, Pak Adibrata dapat terketuk pintu hatinya, Ra. Dan dia dapat menyadari jika kamu saat ini adalah anggota keluarganya." Azkia tentu berharap Indhira mendapatkan apa yang pantas didapat oleh Indhira suatu saat nanti.
" Aamiin, Bu. Saya juga berharap seperti itu." Indhira menyahuti dan meng-aamiin-kan harapan yang diucapkan oleh Azkia tadi.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️
.