SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Hanya Petugas Asuransi


__ADS_3

Bagas berusaha untuk meyakinkan Indhira agar Indhira tidak menyerah sebelum berjuang bersama dengannya. Bagas sampai rela melepas semua yang dia punya demi bersama dengan wanita pujaan hatinya itu.


Sedangkan Indhira merasa bingung. Dia benar-benar takut merasakan sakit hati lagi untuk yang kedua kalinya, walau dalam hati yang paling dalam, dia memang ingin bersama Bagas. Rasa cintanya pada pria itu belum padam walaupun bertahun-tahun berusaha dia lupakan.


Bahkan Indhira begitu mudah memaafkan Bagas, karena dia menyadari jika Bagas tidak sepenuhnya bersalah. Bagas tidak berniat meninggalkannya. Namun keadaan lah yang memisahkan mereka. Bagas juga tidak lari dari tanggung jawab, justru dia lah yang menghindari Bagas. Apalagi saat ini, ketika dia tahu Bagas berusaha menemukannya, dia menyadari jika Bagas pun sangat membutuhkan dirinya.


" Ra, bertahanlah denganku. Apapun rintangan yang terjadi, tetaplah bersamaku! Jangan pernah pergi lagi atau bersembunyi. Hidup aku terasa hampa tanpamu, Ra. Tidak ada artinya jabatan yang aku miliki, harta yang aku punya, tanpa adanya dirimu di sisiku, Ra." Bagas mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada wanita yang selama lebih dari delapan tahun ini membuat hatinya dilanda kegelisahan.


Indhira menatap bola mata Bagas. Dia dapat melihat ketulusan dan kesungguhan dalam ucapan pria itu. Seharusnya dia merasa beruntung dicintai begini dalam oleh seorang pria yang juga dia cintai.


" Tetaplah ada bersamaku, Ra. Jangan pernah meninggalkanku lagi!" pinta Bagas memohon secara mencium jari-jari lentik Indhira.


Melihat kesungguhan Bagas dalam meyakinkannya, Indhira menganggukkan kepalanya perlahan walaupun dengan sangat ragu.


" Terima kasih, Ra. Terima kasih ..." Bagas seketika bangkit dan memeluk Indhira.


Merasakan tubuh Bagas spontan memeluk tubuhnya membuat Indhira terkesiap. Dia langsung mendorong tubuh Bagas agar menjauh dari tubuhnya.


" Jangan seperti ini, Bagas!" Indhira memang trauma bersentuhan fisik dengan pria, apalagi dengan Bagas, orang yang pernah menyentuhnya dulu.


" Oh, maaf, Ra. Aku terbawa perasaan karena terlalu bahagia." Bagas lalu duduk di samping Indhira. Dia seakan tidak perduli dengan pekerjaan di atas mejanya. Beberapa surat yang harus ditanda tanganinya seakan tak dianggap olehnya, karena hati dan pikiran Indhira saat ini hanya tercurah pada Indhira seorang.


" Kau belum cerita padaku, Ra. Ke mana saja selama delapan tahun ini?" Bagas merasa penasaran ke mana perginya Indhira. Seolah menghilang di telan bumi dan tak terendus kabar wanita itu olehnya.


" Aku, aku bekerja di Semarang. Ikut dengan Tante nya Rissa di sana selama hampir enam tahun." Indhira akhirnya menjelaskan di mana dia sembunyi selama ini hingga tidak dapat ditemukan oleh Bagas.


" Kamu bekerja di tempat Tantenya Rissa?" Bagas terkesiap mendengar pengakuan Indhira, karena selama ini sampai terakhir kali dia mendatangi rumah Rissa, orang tua Risaa justru mengatakan tidak pernah mengetahui di mana keberadaan Indhira sejak putus sekolah.


" Jadi selama ini Rissa dan keluarganya tahu di mana kamu berada?" Bagas menyadari ternyata selama ini, dirinya telah dibohongi oleh Rissa dan keluarganya.


" Hmmm, tolong jangan marah pada mereka, Bagas!" Menyadari jika dia telah keceplosan menyebut nama Rissa, Indhira berharap Bagas tidak membenci Rissa dan keluarganya. Karena selama ini keluarga Rissa berusaha menyembunyikan dirinya dari Bagas.


" Mereka selama ini sudah menolongku sampai akhirnya aku bisa bertahan hingga sekarang. Jika tidak ada mereka, aku tidak tahu bagaimana kehidupanku saat ini." Indhira menceritakan besarnya jasa Rissa dan keluarga dalam membantunya selama ini, sampai dia bisa melewati setiap permasalahan yang dia hadapi. Dia tidak ingin Bagas menyalahkan orang-orang yang berjasa besar terhadapnya.


" Oke, oke, aku tidak akan menyalahkan mereka. Lalu bagaimana sekarang ini kamu bisa bekerja dengan Bu Azkia? Kamu juga tinggal di mana sekarang, Ra?" tanya Bagas kembali.


" Tantenya Rissa sakit dan tempat usahanya dijual. Aku juga ikut pindah ke Jakarta karena orang yang membeli tempat usaha Tantenya Rissa adalah Crystal." Indhira mulai menceritakan kenapa dia bisa kembali ke Jakarta, termasuk pertemuannya dengan Crystal.


" Oh, jadi di sana kamu bertemu dengan Crystal, lalu Crystal berbohong bilang pernah melakukan hubungan itu denganku?"


" Iya Crystal bilang kamu juga pernah melakukannya dengan dia." Saat mendengar hal itu, Indhira memang merasakan hatinya terasa teriris telah menjadi korban Bagas yang kesekian kalinya.


" Itu tidak benar, Ra. Aku tidak pernah melakukan hal itu pada wanita lain, selain denganmu." Bagas bersumpah jika apa yang dia katakan benar.


" Berarti hanya aku saja yang bernasib si al saat itu?" Indhira merasa jika dirinya yang terkena apes, karena hanya dia yang diajak melakukan hubungan yang tidak sepantasnya dilakukan anak SMA apalagi di luar pernikahan.


" Maaf, Ra." sesal Bagas kembali. " Lalu bagaimana kamu akhirnya bisa bersama Bu Azkia?" Bagas mengalihkan pembicaraan agar Indhira tidak terus bersedih jika mengingat soal peristiwa itu.


" Aku ditawari bekerja di tempat bosnya Mas Adam, suaminya Rissa. Bosnya Mas Adam itu Pak Raffa. Aku bekerja di La Grande Caffe selama dua tahun. Selama bekerja di sana semua berjalan lancar, sampai akhirnya ada beberapa teman satu sekolah SMA kita yang mengenaliku. Mereka berpikir ..." Indhira menjeda ucapannya. Hatinya terasa sesak mengingat perlakuan teman satu. sekolahnya dulu yang menganggap dirinya wanita penghibur hanya karena vidio masa lalunya itu.


" Mereka itu. siapa, Ra? Apa yang mereka lakukan kepadamu?" tanya Bagas penasaran, apalagi saat melihat bola mata Indhira seketika mengembun.


" Mereka pikir aku wanita penghibur. Mereka memintaku menemani mereka bersenang-bersenang. Dan saat aku tolak mereka mengatakan jika aku ini wanita pela cur di depan banyak tamu cafe." Dengan kalimat bergetar dan diakhiri dengan isak tangis, Indhira menceritakan apa yang terjadi padanya di La Grande belum lama ini.

__ADS_1


" Breng sek!! Siapa mereka itu, Ra?!" Seketika Bagas menjadi geram melihat perlakuan beberapa teman satu sekolahnya terhadap Indhira.


" Aku tidak tahu, Bagas. Aku takut saat itu. Aku tidak memikirkan hal lain selain rasa takut dan malu. Apalagi akhirnya Pak Raffa dan Bu Kia tahu kasus video itu." Masih dengan terisak Indhira meneruskan bercerita.


" Tapi kamu masih bekerja di tempat Pak Raffasya dan Ibu Azkia sekarang ini, kan?" Bagas heran karena Indhira masih. bersama dengan Raffasya dan Azkia setelah kejadian itu.


" Iya, karena Mas Adam menceritakan semua yang terjadi padaku sejak aku dikeluarkan dari sekolah sampai aku lolos dari rencana Om dan Tanteku yang hendak menjualku." Tangis Indhira kembali pecah jika teringat perlakuan buruk yang dia dapat dari pihak keluarganya sendiri yang hampir menjatuhkannya ke jurang kehancuran.


" Aku benar-benar minta maaf, Ra. Aku sempat mendengar dari Benny jika kamu dijual oleh Om kamu. Saat itu hatiku terasa hancur, Ra. Karena aku tidak dapat menolongmu, karena kamu tidak ada disaat kamu butuhkan." Bagas menyampaikan rasa penyesalannya karena tidak ada di saat Indhira membutuhkan pertolongan.


" Ada orang baik yang menolongku saat itu. Saat Om ku membawaku ke hotel, aku berhasil kabur dan ditolong oleh pasangan suami istri baik hati, lalu aku diantar ke rumah Rissa." Indhira akhirnya menceritakan bagaimana akhirnya dia berada di rumah Rissa dan dilindungi oleh Rissa beserta keluarganya.


" Aku senang mendengar kamu selalu berada di lingkungan orang-orang yang menyayangimu, Ra." Bagas dapat bernafas lega, karena Indhira ternyata berada dalam lingkungan orang-orang yang melindungi Indhira termasuk Raffasya dan Azkia.


" Sebaiknya kita makan siang dulu. Setelah itu aku antar kamu ke tempat Bu Azkia." Saat ini sudah mendekati jam dua belas. siang, sehingga Bagas ingin mengajak Indhira makan siang terlebih dahulu sebelum mengembalikan Indhira pada Azkia.


***


Adibrata baru selesai memimpin rapat di kantornya. Kini dia berjalan ke luar dari ruangan rapat seraya merogoh saku bagian dalam blazernya, karena dia sempat merasakan getaran dari ponsel miliknya saat memimpin rapat tadi.


Adibrata melihat dua kali panggilan masuk dari Dahlan. Dia pikir jika Dahlan sudah menemukan informasi seputar Bagas yang dia butuhkan.


Adibrata langsung menghubungi Dahlan untuk memastikan informasi apa yang akan disampaikan oleh anak buahnya itu.


" Bagaimana, Dahlan? Apa kau sudah mendapatkan informasi keberadaan putraku sekarang ini?" tanya Adibrata saat panggilan teleponnya terangkat oleh Dahlan.


" Selamat siang, Tuan. Menurut informasi yang kami dapat, mobil milik Mas Bagas sudah masuk ke perusahaan milik Mas Bagas sekitar setengah jam lalu. Dan Mas Bagas datang ke kantor bersama seorang wanita, Tuan." Dahlan melaporkan informasi soal Bagas.


" Bagas datang ke kantor bersama seorang wanita? Siapa wanita itu?" Adibrata tersentak saat mendengar informasi dari Dahlan yang mengatakan putranya datang ke kantor bersama seorang wanita.


" Cepat kau selediki, Dahlan! Dan laporkan segera pada saya!" Kalimat perintah langsung terucap dari bibir Adibrata.


" Baik, Tuan." jawab Dahlan.


Adibrata menutup panggilan teleponnya dengan mendengus kasar. Dia lalu menghubungi Bagas, namun nomer HP putra sulungnya itu masih saja sukar untuk dia hubungi.


" Ada apa sebenarnya dengan anak itu!? Dan siapa wanita yang bersama Bagas saat ini?" Adibrata dibuat semakin penasaran karena ponsel Bagas masih belum aktif sehingga akhirnya dia menghubungi nomer telepon PSTN di kantor Bagas.


Sementara di kantor Bagas ...


Bagas menandatangi beberapa surat yang sudah diletakkan Ester di atas mejanya sambil menunggu pesanan makanan yang dia minta kepada Ester datang, sedangkan Indhira masih duduk di sofa menunggu Bagas menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu.


Indhira menatap Bagas yang terlihat sangat mempesona dari balik meja kerjanya. Terlihat serius membaca setiap dokumen sebelum pria itu membubuhkan tanda tangannya.


Kring


Suara telepon duduk di meja Bagas berdering, membuat pria itu segera mengangkat gagang telepon PSTN di mejanya.


" Halo?"


" Maaf, Pak. Pak Adibrata menelepon di line dua." Ester memberitahukan soal telepon masuk dari Adibrata.


" Oke, Ester." Bagas lalu menyambungkan ke line yang dimaksud oleh Ester.

__ADS_1


Bagas menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab panggilan masuk dari sang Papa.


" Halo, Pa?" Bagas berusaha bersikap tenang saat mengangkat panggilan masuk dari Adibrata.


" Dari mana saja kau, Bagas? Kenapa kau pergi meninggalkan kantor seenaknya dan tidak pulang ke rumah!? Dan siapa wanita yang kamu bawa ke kantor? Kamu jangan macam-macam, Bagas! Kau harus ingat jika kau ini sudah bertunangan dengan Evelyn!" Bagas langsung diberondong pertanyaan bernada menyelidik dan penuh curigaan dari Adibrata.


Bagas melirik ke arah Indhira yang langsung memutuskan pandangan darinya.


" Maaf, Pa. Aku sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan!" Bagas langsung mematikan sambungan telepon dari Papanya secara sepihak, karena dia tidak ingin berdebat dengan Papanya di depan Indhira.


Tok tok tok


" Maaf, Pak. Ini makanannya sudah datang." Ester muncul dari balik pintu dengan membawa baki berisi dua buah piring berserta sendok garpu, juga dua buah gelas kosong beserta tutupnya, juga air mineral dan dua bungkus nasi Padang yang dia pesan melalui Ester.


" Taruh saja di meja, Ester!" Bagas menyuruh Ester menaruh makanan itu di meja makan yang ada di sudut ruangannya.


" Baik, Pak." Ester segera melakukan apa yang diperintahkan Bagas kepadanya.


" Oh ya, Ester. Apa kamu memberitahu Papa saya soal kedatangan saya ke kantor tadi?" Bagas mencurigai sekretarisnya yang memberitahu Adibrata soal kedatangannya. a


Apalagi sampai Adibrata tahu jika dia bersama seorang wanita datang ke kantor.


" Tidak, Pak. Saya tidak memberitahu Pak Adibrata soal kedatangan Pak Bagas." Ester menampik pertanyaan Bagas yang mengira jika dirinya yang memberitahu Adibrata soal kedatangan Bagas bersama Indhira.


" Ya sudah, kamu bisa kembali ke tempatmu, Ester!" Bagas menyuruh Ester meninggalkan ruangannya.


" Baik, Pak. Permisi." Sebelum meninggalkan ruangan Bagas, Ester masih sempat melirik ke arah Indhira yang langsung tertunduk saat dia melihatnya. Ester sangat penasaran dengan sosok Indhira dan hubungan yang terjalin antara Indhira dengan bosnya itu.


" Kita makan sekarang, Ra!" Bagas meminta Indhira untuk mendekat ke arahnya dan menikmati makan siang bersama.


***


Setelah selesai menyantap menu makan siang yang disiapkan oleh Ester, Bagas mengajak Indhira ke tempat Azkia sesuai permintaan Raffasya, namun Bagas mengantar ke butik Azkia sesuai permintaan wanita itu.


" Nanti pulang dari butik jam berapa? Aku jemput kamu pulang, ya?" Bagas berniat menjemput Indhira sepulang Indhira menyelesaikan pekerjaannya di butik milik Azkia. Karena dia juga ingin bicara dengan keluarga Rissa, soal niatnya untuk menikah dengan Indhira. Indhira sebelumnya memberitahu Bagas di mana dia tinggal saat ini.


" Tidak usah, Bagas! Kamu pasti sibuk dengan pekerjaan kamu. Tadi waktu bicara sama orang di telepon kamu bilang banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan." Indhira teringat ucapan Bagas pada seseorang di telepon, walaupun Indhira tidak tahu yang sedang berbicara dengan Bagas adalah Papa dari Bagas.


" Aku sengaja bilang seperti itu agar orang yang meneleponku tadi tidak menggangguku terus, jadi aku bilang saja banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan." Bagas beralasan, dan memang Bagas malas harus berdebat dengan Papanya itu.


" Memangnya siapa yang menelepon tadi?" tanya Indhira. Jika dilihat dari jawaban Bagas, sepertinya Bagas memang terlihat enggan berbicara dengan penelepon itu.


" Itu ... itu hanya petugas asuransi yang menawarkan produk asuransinya." Bagas menjawab sekenanya. Dan Indhira yang tidak mengerti percaya begitu saja dengan alasan yang diberikan oleh Bagas, padahal biasanya petugas asuransi menawarkan produk melalui nomer ponsel bukan ke nomer PSTN perusahaan langsung.


Bagas tidak ingin Papanya tahu soal Indhira dalam waktu dekat ini. Karena dia yakin Papanya akan mengusik Indhira jika tahu saat ini dia sudah menemukan kembali kekasih hatinya itu.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2