
Walau terkesan cerewet, namun Angel terlihat memperdulikan kehamilan Indhira. Dari menyuruh periksa ke dokter kandungan terbaik, melarang Indhira untuk tidak bekerja sampai menyuruh Indhira memperhatikan makanam yang dikonsumsinya..
Hal itu dapat dirasakan oleh Bagas, sehingga dia merasa bahagia dengan keperdulian Mamanya terhadap istrinya itu. Kali ini, Bagas merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama menghilang tidak dia rasakan.
" Oh ya, kamu sudah belikan su su hamil untuk istrimu belum, Bagas?" tanya Angel kembali.
" Sudah, Ma. Setelah tahu Indhira hamil, Bu Kia langsung membelikan Indhira su su hamil yang bagus seperti yang dia minum, karena bos Indhira itu juga sedang hamil." Bagas menjelaskan apa yang dilakukan Azkia terhadap istrinya itu.
" Bos kamu 'kok perhatian sekali sama kamu?" Angel heran karena perhatian mantan bos menantunya itu.
" Bu Kia itu memperlakukan Indhira seperti adiknya sendiri, Ma. Dulu Indhira pernah menolong anak Bu Kia yang hampir kecelakaan, jadi Bu Kia selalu bersikap baik pada Indhira," papar Bagas menjelaskan kenapa Azkia begitu baik kepada Indhira.
" Tuh, Ma. Orang lain saja bersikap baik sama Kak Kia, masa Mama yang mertuanya malah galak sama Kak Indi," celetuk Kartika menyindir sang Mama.
" Eh, siapa yang galak, sih? Memang ada Mama marah-marah sama istri kakak kamu itu?" Angel enggan disebut galak oleh anaknya.
" Istri kak Bagas itu 'kan menantu Mama, kenapa Mama tidak panggilnya menantu?" Kartika memprotes Mamanya yang sepertinya gengsi mengakui Indhira sebagai menantu.
" Intinya 'kan sama saja, kenapa kamu protes kayak gini, sih!?" tepis.
" Sudah-sudah, Mama sama Kartika tidak usah bertengkar. Kita makan saja, yuk! Aku sudah siapkan private room di restoran untuk kita makan." Bagas mencoba melerai Mama dan adiknya yang berdebat.
" Ayo, Kak." Kartika melingkarkan tangannya di lengan Indhira, sementara Bagas langsung melingkarkan tangannya di pundak sang Mama, lalu mereka berempat berjalan ke luar menuju arah restoran utama di hotel itu selain cafe rooftop
Sekarang ini, Bagas bersama Mamanya, adiknya dan juga istrinya sedang menikmati menu hidangan yang dipesan oleh Bagas dan keluarganya. Seperti biasa, Indhira hanya akan bersuara jika diajak bicara. Dia masih belum percaya diri berkumpul bersama keluarga dari suaminya itu.
" Mama senang kita bisa kumpul seperti ini, Bagas." Angel merasakan suasana berbeda. Kehangatan yang tidak dia rasakan saat berkumpul di meja makan di rumahnya.
" Coba kalau Papa bisa sadar seperti Mama, pasti lebih seru lagi. Makanya, Ma. Bujukin Papa jangan terus keras kepala, dong! Kalau akrab seperti ini, dilihat dan dirasanya 'kan enak." Kartika menyarankan agar sang Mama dapat memberi pengertian kepada sang Papa, supaya keluarga mereka tidak terpecah seperti saat ini.
" Kamu seperti tidak tahu watak Papamu saja, Kartika! Kita bisa bertemu dengan kakakmu ini saja sembunyi-sembunyi dari Papa karena Papa pergi ke Hong Kong." Angel menjelaskan betapa sulitnya menaklukan hati seorang Adibrata.
" Kalau Papa melarang, Mama ancam balik saja, Mama jangan kasih jatah ke Papa!"
Celetukan Kartika sontak membuat Angel, Bagas dan juga Indhira terperanjat. Mereka yang sudah mengerti dan berusia dewasa sangat paham dengan kata 'kasih jatah' untuk pasangan suami istri.
" Astaga, Kartika! Bicara apa kamu!?" tegur Angel dengan mata melotot.
" Kartika, dapat dari mana kata-kata itu?" Bagas pun ikut menegur, dia cemas mendengar perkataan adiknya tadi.
" Aku 'kan cuma meniru dialog drama yang aku lihat di televisi, Kak." Bibir Kartika seketika mengerucut saat sang Mama dan kakaknya menegur.
" Kartika, kamu tidak terlibat pergaulan bebas seperti Kakakmu dulu, kan!?" Angel justru khawatir Kartika akan tertular seperti Bagas saat muda dulu sampai melakukan hubungan yang tak sepatutnya dilakukan anak sekolah.
__ADS_1
Indhira dan Bagas saling berpandangan saat mendengar Angel menyinggung apa yang pernah mereka lakukan ketika muda dulu. Bahkan Indhira langsung menunduk karena peristiwa itu adalah aib yang sangat memalukan baginya.
" Iihh, Mama apaan, sih!? Bisa-bisa aku digantung sama Papa kalau aku sampai melakukan hal itu," tepis Kartika.
" Kalau begitu, jangan suka bicara yang tidak baik! Mama tidak ingin dengar kamu bicara seperti itu lagi! Kalau Papa mendegar kamu bicara seperti tadi, yang ada kamu bisa kena marah Papa kamu!" Angel kembali menegur keras Kartika.
" Kartika, lain kali jangan meniru apa yang tidak baik, ya, Dek! Orang pasti akan berprasangka negatif mendengar ucapan kamu tadi." Bagas ikut menegur Kartika, Namun dengan nada bicara lebih lembut, karena dia tahu, menasehati anak seusia Kartika harus dengan bahasa yang halus agar dapat diterima oleh adiknya itu.
" Iya, Kak." sahut Kartika.
" Ya sudah, kita lupakan soal obrolan tadi. Oh ya, soal rencana berlibur ke Jepang saat libur sekolah nanti, apa Mama serius?" tanya Bagas, mengganti topik pembicaraan. Dalam perbincangan sebelumnya, Angel bercerita jika dia memberi alasan kepada sang suami jika dia akan pergi ke Jepang dengan Kartika sebagai alasan agar sang suami tidak curiga.
" Iya, Bagas. Apa kamu mau ikut juga?" tanya Angel.
" Sekarang ini lebih baik mengumpulkan uang untuk keperluan lain yang bermanfaat daripada untuk pergi berlibur, Ma." jawab Bagas.
" Kamu tidak usah khawatirkan biaya, nanti Mama yang tanggung kalau memang kalian ingin ikur pergi ke sana, Bagas." Angel sanggup membiayai akomodasi jika Bagas dan Indhira bersedia ikut.
" Tidak usahlah, Ma. Indhira juga lagi hamil muda," tolak Bagas.
" Perginya tidak sekarang, Bagas! Masih sekitar empat bulanan lagi, berakhir usia kehamilan istri kamu sudah masuk lima bulan." Angel sampai menghitung usia kehamilan Indhira saat Kartika libur sekolah nanti.
" Kalau Mama sama Kartika ingin berlibur, nikmati saja liburannya, Ma. Kami senang melihat Mama mau berlibur dengan Kartika." Bagas semakin menyukai sikap Mamanya saat ini.
" Adikmu benar, Bagas. Masih ada waktu untuk mempertimbangkan," bujuk Angel.
" Nanti kita bicarakan lagi soal itu, ya, Ma. Sekarang ini aku sedang merencanakan merenovasi rumah agar bisa cepat kami tempati." Bagas menjelaskan, prioritas yang lebih penting saat ini.
" Ngomong-ngomong, rumah kontrakan kalian itu di mana? Mama ingin tahu, siapa tahu nanti Mama bisa mampir ke sana." Bagas memang belum sempat memberitahu di mana letak rumah kontrakannya pada Angel.
" Rumah kontrakan kami kecil dan masuk gang. Aku rasa Mama tidak akan betah tinggal di sana. Di banding kamar Mama saja masih luas kamar Mama di rumah." Tidak bermaksud meledek, namun Bagas mengatakan hal sebenarnya soal rumah kontrakannya.
* Astaga, kalian kok' betah tinggal di tempat sekecil itu?" Angel terkejut mendengar penjelasan Bagas soal luas kontrakan anaknya itu.
Bagas melirik ke arah istrinya yang hanya diam saja sebagai pendengar.
" Mama tanya, tuh, Yank! Kenapa kita betah tinggal di sana?" Bagas sengaja melempar pertanyaan Mamanya pada Indhira, menyuruh agar istrinya itu untuk menjawab.
Indhira terkejut saat diberi pertanyaan tadi. Dia pun bingung harus menjawab apa? Jika bukan Mama mertuanya yang bertanya,, tentu saja dia akan bisa memberi alasan karena dia terbiasa tinggal di rumah seperti itu. Mungkin berbeda dengan sang suami yang terbiasa tinggal di rumah mewah dengan fasilitas lengkap.
" Hmmm, itu karena ... karena kami harus membiasakan diri dengan kondisi ekonomi kami, Bu." Indhira memberanikan diri menjawab.
" Bagas, Mama tidak setuju kamu tetap tinggal di sana. Calon bayi kamu itu harus tinggal di tempat dan lingkungan yang sehat. Sebaiknya kamu cari tempat lain saja." Angel nampak keberatan dengan tempat tinggal Bagas dan Indhira saat ini, padahal dia sendiri belum pernah berkunjung ke sana.
__ADS_1
" Kami sedang merenovasi rumah baru kami, Ma. Mungkin sekitar dua atau tiga bulan akan selesai. Setelah itu kami akan pindah ke sana," terang Bagas.
" Apa rumah baru kalian itu lebih luas ukurannya?" tanya Angel membandingkan.
" Sedikit lebih luas tiga meteran," jawab Bagas.
" Cuma segitu? Sebaiknya kamu beli rumah yang besar saja, Bagas. Kamu jual perhiasan Mama saja. Mama nanti kasih tiga set perhiasan lagi, kalian bisa jual, harganya hampir dua milyar, bisa untuk kamu beli rumah yang layak untuk kalian." Angel berniat memberi perhiasan miliknya agar anaknya itu dapat hunian yang layak.
" Ma, rumah itu tidak harus besar, luas dan mewah. Tapi yang penting adalah perasaan hati kita, kehangatan yang kita dapatkan dan rasa nyaman bersama orang yang kita cintai." Bagas menggengam tangan Indhira hingga membuat Indhira melepaskan sendok di tangannya.
Indhira menatap Bagas, dia tidak menyangka suaminya itu bisa bicara begitu tenang dan bersahaja. Setiap kalimat yang keluar dari mulut pria itu terdengar sangat bijak mengandung arti yang sangat bermakna.
" Tidak usah jauh-jauh contohnya. Selama ini aku di rumah Papa yang besar dan megah, aku justru merasakan tekanan, berbeda saat aku tinggal bersama Indhira di rumah kecil kontrakan kami, rasa bahagia itu tidak pernah berhenti datang setiap harinya." Bagas ingin Mamanya menyadari, jika standar kebahagiaan bukan hanya dinilai dari rumah yang besar dan layak huni, tapi dari sikap para penghuni
dalam memperlakukan penghuni keluarga yang lain, saling mengasihi dan saling menghormati antar sesama penghuni rumah itu.
" Mama hanya ingin kalian mendapatkan tempat tinggal yang layak, Bagas." Angel sedih karena Bagas menolak pemberiannya.
" Ma, Mama doakan saja karir Bagas di hotel ini lancarm Jika suatua saataku punya rejeki lagi, bisa buat beli rumah seperti yang Mama inginkan." Bagas mencoba memberi pengertian sang Mama.
" Aku hargai tawaran bantuan dari Mama. Bagi aku pribadi, aku senang Mama mau menerima Indhira sebagai istri aku. Aku juga berterima kasih, karena Mama sudah memilih bersama kami, aku, Indhira dan juga Kartika daripada Mama pergi mengikuti Papa." Bagas lalu bangkit dan berjalan mendekat ke arah Angel. Pria itu lalu merangkulkan tangan merengkuh tubuh sang Mama yang masih terduduk dan memberikan kecupan di pucuk kepala dan pipi Angel.
Apa yang dilakukan Bagas kepada dirinya membuat Angel seketika menitikkan air mata. Sesungguhnya dia pun sangat merindukan kehangatan seperti saat ini.
" .Mama sama Kak Bagas so sweet banget. Aku juga ikutan ..." Kartika bangkit dan mendekat ke arah Mama dan kakaknya lalu ikut memeluk mereka.
Sedangkan Indhira hanya terpaku, tak tahu apa yang akan dia lakukan. Namun, dia merasa bahagia melihat Angel, Bagas saling berpelukan penuh kasih sayang.
" Kak Indi kenapa diam saja? Ayo sini! Kak Indi itu sudah jadi anggota keluarga kami." Melihat Indhira bergeming, Kartika mengajak kakak iparnya itu ikut bergabung dengan mereka.
Akhirnya Indhira ikut bangkit dan memilih berada di samping suaminya, hingga kini mereka saling berpelukan.
" Mestinya ada yang fotoin kita lagi pelukan kayak gini, terus kirim ke Papa. Dijamin Papa langsung syok, baru sampai bandara di Hong Kong langsung balik lagi ke Jakarta. Hahaha ...."
Suasana haru bahagia saat mereka berpelukan tadi seketika menyurut saat Kartika kembali menyinggung soal Adibrata, Papanya dan juga Bagas.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️