SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Selingkuh


__ADS_3

Angel sedang serius berdebat kecil dengan Bagas soal perabotan rumah tangga yang sengaja dia belikan untuk anaknya itu. Saat datang berkunjung pertama kali ke rumah kontrakan anaknya itu hatinya terasa miris. Disaat dia menikmati kemewahan harta suaminya, bisa tinggal nyaman di dalam rumah mewah dengan segala fasilitasnya dan tidur nyenyak di spring bed yang empuk, anaknya justru tinggal di sebuah gang sempit. Hal itulah yang akhirnya membuat Angel memutuskan membeli perabotan rumah tangga berupa meubel dan juga alat elektronik yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari dalam berumah tangga, tanpa dia memikirkan jika barang yang dia beli tidak cukup tempat untuk dimasukan ke dalam rumah kontrakan anaknya itu.


" Angel, kamu bicara dengan siapa?"


Suara Adibrata yang terdengar dan berasal dari arah belakangnya membuat keasyikan Angel berkomunikasi dengan Bagas tiba-tiba terhenti dengan kemunculan Adibrata di kamarnya itu.


" Papa?" Angel terkesiap melihat sang suami saat ini ada di hadapannya setelah dia memutar tubuhnya.


" Telepon siapa?" tanya Adibrata kembali.


" Hmmm, i-ini ... ini teman Mama, Pa." Angel terpaksa berbohong, tidak berani mengatakan yang sebenarnya jika saat ini dia sedang berkomunikasi dengan putranya. Dia tidak tahu apa suaminya akan percaya atau tidak dengan pengakuannya, yang penting dia telah memberi alasan. " Len, aku tutup dulu teleponnya, suamiku sudah pulang kantor." Angel berpamitan kepada Bagas seakan memberi kode pada anaknya dengan menyebut nama temannya, seolah bukan Bagas yang saat ini dia hubungi. Setelah itu dia menghapus panggilan masuk dari nomer Bagas tadi untuk menghapus jejak panggilan masuk di ponselnya itu.


" Papa kok sudah pulang?" tanya Angel heran karena suaminya sudah tiba dari kantor lebih cepat.


" Iya, Papa kurang enak badan ..." Adibrata melonggarkan dasinya.


" Papa sakit?" Angel mendekatkan punggung tangannya ke kening sang suami. Dia merasakan hawa hangat cukup menyengat saat kulit tangannya menyentuh kening sang suami. Dia pun melihat wajah Adibrata yang terlihat lesu tak bersemangat.


" Papa demam?" Angel membantu melepaskan blazer suaminya, lalu menyuruh suaminya itu berbaring ke tempat tidur.


" Papa tiduran dulu, nanti Mama panggilkan Dokter Chris." Angel lalu mencari nomer kontak dokter keluargannya untuk segera datang ke rumah untuk memeriksa kondisi suaminya.


" Halo, Dok. Apa dokter bisa ke rumah sekarang? Suami saya sakit, Dok." Angel meminta dokter pribadi keluarganya untuk datang saat panggilan teleponnya tersambung dengan Dokter Chris.


" Pak Adibrata kenapa, Bu Angel?" Dokter Chris menanyakan keluhan apa yang dirasakan oleh Adibrata.


" Sepertinya terkena demam, sebab mengeluh tidak enak badan. Badannya juga panas, Dok." Angel menjelaskan apa yang sedang dirasakan saat ini oleh suaminya.


" Baik, Bu Angel. Saya ke sana sekarang." Dokter Chris menyanggupi datang sebelum dia menuju ke tempat prakteknya yang buka jam lima sore nanti.


" Terima kasih, Dok." ucap Angel lalu menutup panggilan teleponnya itu.


" Mama ambilkan air hangat dulu, ya, Pa." Angel menaruh ponsel di atas nakas lalu berjalan ke luar untuk meminta air hangat kepada ART nya untuk Adibrata.

__ADS_1


Sepeninggal Angel, Adibrata melirik ke arah ponsel sang istri. Dia melihat kegugupan sang istri saat menjawab pertanyaannya tadi. Dia curiga ada yang istrinya sembunyikan darinya saat ini.


Adibrata lalu meraih ponsel milik Angel untuk melihat siapa yang berkomukasi dengan Angel saat dia datang. Alis matanya seketika terangkat saat dia tidak dapat membuka ponsel Angel, karena saat ini Angel memprivasi telponnya dengan mengunci ponselnya tersebut menggunakan sandi. Adibrata terheran, tidak biasanya sang istri mengunci ponselnya itu, seolah ada yang dirahasiakan darinya saat ini.


" Kenapa Angel memprivacy ponselnya? Apa yang dia sembunyikan dariku?" Adibrata betanya-tanya heran.


Adibrata mencoba membuka kunci layar ponsel Angel menggunakan tanggal lahir Angel, namun tidak berhasil. Lalu dia mencoba memasukkan tanggal pernikahannya, tanggal lahir dirinya, tanggal lahir Kartika dan terakhir menggunakan tanggal lahir Bagas m, namun ponsel Angel tidak juga terbuka.


" Dia gunakan nomer apa untuk mengunci ponselnya ini?" Adibrata dibuat semakin penasaran.


" Pa, minum air hangatnya dulu ini." Angel kembali ke kamar. Dia terkesiap saat melihat sang suami sedang memegang ponsel miliknya.


" Hmmm, apa ada telepon masuk di ponsel Mama, Pa?" tanya Angel bersikap senormal mungkin agar Adibrata tidak curiga terhadapnya. Walaupun sebenarnya dia sangat khawatir jika tadi Bagas menghubunginya lagi. Padahal tadi dia sudah memberi kode kepada Bagas jika saat ini suaminya sudah berada di rumah.


" Kenapa Mama mengunci HP Mama ini?" selidik Adibrata curiga.


" Oh, itu ... Hmmm, gini, Pa. Mama sengaja kunci HP nya, takut sewaktu-waktu HP hilang. Jadi orang yang menemukan tidak bisa melihat data-data yang ada di HP Mama." Angel asal memberikan alasan. " Soalnya kemarin ada HP teman Mama yang kemalingan, data M-bankingnya bisa dijebol. Kan bahaya, Pa. Makanya Mama kunci saja ponselnya biar lebih aman," lanjutnya.


Adibrata terus menatap Angel, mencari kebenaran cerita istrinya itu.


" Kenapa Papa tanya begitu? Apa Papa menuduh Mama berbuat yang tidak-tidak? Atau, Papa curiga Mama menutupi sesuatu, menuduh Mama selingkuh misalnya!?"


Adibrata menelan salivanya mendengar ucapan Angel yang di luar dugaannya. Angel menyinggung soal selingkuh, tentu saja hal itu seakan menyindir dirinya secara tidak langsung.


" Mama ini sudah tua, Pa. Tidak mungkin selingkuh atau melirik pria lain," tegas Angel, dia tidak tahu jika ucapannya itu menhu jam tepat ke jantung suaminya tanpa dia sadari. Karena saat ini suaminya lah yang telah melakukan perselingkuhan, walau hanya semalam menghabiskan waktu dengan wanita penghibur yang disodorkan oleh rekan bisnisnya.


" Ya sudah, ini ..." Merasa tersudut dengan perkataan sang istri, Adibrata memilih mengakhiri perbincangan soal ponsel sang istri yang diprivacy.


" Papa minum air hangat ini. Mama mau ambilkan pakaian untuk Papa. Papa ganti baju dulu, mumpung Dokter Chris belum datang." Angel menarik nafas lega karena sang suami akhirnya berhenti mengitrogasinya, tanpa dia ketahui justru Adibrata saat ini lebih ketakutan dibandingkan dirinya arena kasus percintaan satu malam yang Adibrata lakukan di belakangnya.


***


Indhira memperhatikan Bagas yang termenung seraya mengetuk-ngetuk ponsel ke dagunya sendiri.

__ADS_1


" Kenapa, Mas?" tanya Indhira penasaran yang membuat sang suami terdiam setelah mengakhiri percakapannya dengan Angel.


" Tadi waktu aku telepon Mama, tiba-tiba Papa datang dan Mama buru-buru mematikan percakapan telepon denganku. Aku sempat mendengar Papa bertanya, Mama sedang menelepon siapa," ungkap Bagas, dia khawatir jika saat ini Mamanya terkena masalah karena ketahuan sedang meneleponnya oleh sang Papa.


" Papa tahu? Ya Allah, la-lalu gimana, Mas? Apa ketahuan kalau Mama sedang menelepon Mas?" Indhira jauh lebih khawatir dari Bagas.


" Aku tidak tahu, Yank. Soalnya Mama langsung memutus sambungan telepon. Tapi semoga semua baik-baik saja," jawab Bagas. "Seharusnya aku jangan menghubungi Mama sore hari di saat jam Papa pulang kerja," sesal Bagas.


" Semoga saja Mama tidak apa-apa, Mas. Aku juga khawatir kalau Mama sampai dimarahi Papa." Indhira melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, seakan menyampaikan rasa khawatirnya dengan memeluk tubuh sang suami.


" Nanti aku akan coba hubungi Kartika untuk mengetahui kondisi di sana." Bagas pun memeluk erat sang istri.


Beberapa jam kemudian, setelah jam makan malam, barulah Bagas mendapatkan kabar dari Kartika, jika kondisi di rumah orang tua mereka aman terkendali. Tidak ada pertengkaran Papa dan Mamanya. Justru Kartika membawa kabar jika Adibrata saat ini sedang sakit.


" Papa sakit apa, Dek?" tanya Bagas melalui chat kepada Kartika.


" Kata Mama sih demam, tidak enak badan." Tak lama jawaban pesan masuk dari Kartika muncul di ponsel Bagas.


" Apa sudah periksa ke dokter?" tanya Bagas kembali.


" Tadi Dokter Chris sudah kemari, Kak."


" Ya sudah, jika terjadi sesuatu pada Papa dan Mama cepat kabari kakak, ya!" pinta Bagas.


" Siap, Kak."


Setelah selesai melakukan komunikasi via chat dengan adiknya, Bagas pun menyusul Indhira yang sudah lebih dahulu masuk ke kamar.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2