
Setelah selesai menyantap sarapan pagi bersama keluarga orang tua Raffasya, Bagas dan Indhira kini berbincang berdua di teras rumah Lusiana. Sementara Fariz sendiri sudah pergi ke kantor, sedangkan Lusiana kembali ke kamarnya. Lusiana ini memberi kesempatan kepada kedua anak muda itu untuk berbincang, dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi saat ini.
" Ra, aku minta maaf karena sikap Papaku kemarin." Di antara banyak kesalahan, Bagas merasa sikap Papanya lah yang sangat fatal dan sulit untuk dimaafkan.
" Kenapa kamu tidak pernah mengatakan jika kamu sudah bertunangan, Bagas?" Sementara Indhira lebih mempermasalahkan Bagas yang membohonginya soal pertunangan Bagas dengan seorang wanita yang tidak dia ketahui siapa orangnya.
" Aku minta maaf soal itu, Ra. Aku tidak mengatakan soal pertunanganku, karena aku takut kamu tidak mau menerimaku kembali jika aku mengatakan aku sudah bertunangan." Bagas jujur mengakui jika sikapnya merahasiakan pertunangannya, karena dia takut Indhira menolak dirinya.
" Tentu saja aku menolak, Bagas! Aku tidak ingin merusak hubungan orang lain!" tegas Indhira dengan emosi hingga bola matanya kini mengembun. Indhira termasuk orang yang sabar dan tidak pernah terpancing emosi. Sehingga dia pasti akan mengeluarkan air mata ketika dia sedang dalam kondisi marah.
" Aku tahu aku salah soal itu. Tapi percayalah, Ra. Jika aku tidak pernah mencintai tunanganku itu." Bagas menegaskan jika rasa cintanya tidak pernah berpaling dari Indhira.
" Kamu bohong, Bagas! Kalau kamu tidak mencintainya, kenapa kalian bisa sampai bertunangan?" Indhira tidak ingin percaya kata-kata manis Bagas tadi.
" Ra, percayalah! Aku terpaksa menerima pertunangan itu karena desakan dari orang tuaku dan karena aku juga frustrasi tidak juga menemukanmu," ungkap Bagas sejujurnya. Dua faktor itulah yang membuatnya memutuskan menerima pertunangan dengan Evelyn.
Indhira memalingkan wajahnya tak ingin menatap wajah Bagas. Dia tidak ingin terpengaruh dengan bujuk rayu Bagas.
" Aku tidak pernah mengkhianati cintaku kepadamu, Ra. Aku tidak pernah mencintai tunanganku itu." Bagas berusaha meyakinkan Indhira jika dia hanya mencintai Indhira.
" Lalu bagaimana dengan tunanganmu itu? Kamu meninggalkan tunanganmu begitu saja?" Indhira menanyakan soal Evelyn.
" Saat aku ke New York, saat itu aku menemui mantan tunanganku dan keluarganya, karena aku ingin mengakhiri pertunanganku secara baik-baik," jawab Bagas menjelaskan bagaimana nasib pertunangannya dengan Evelyn.
Indhira terkesiap mendengar ucapan Bagas. Beberapa hari lalu Bagas memang mengabari jika pria itu berada di Amerika, untuk keperluan yang tidak dia ketahui. Dia tidak menyangka kepergian Bagas ke luar negeri karena ingin memutuskan pertunangan Bagas dengan Evelyn.
Indhira seketika merasa bersalah terhadap Evelyn, meskipun dia tidak pernah mengenal wanita itu. Tapi dia merasa telah merebut calon suami wanita lain. Saat Bagas masih bertunangan dengan Evelyn, justru dia berhubungan kembali dengan Bagas. Tidak dapat dibayangkan sakit hati Evelyn mengetahui tindakan Bagas yang selingkuh di belakang Evelyn.
" Kamu jahat sekali, Bagas! Kamu mempermainkan perasaan tunanganmu itu!" Indhira menyalahkan Bagas atas sikap yang diambil oleh Bagas terhadap Evelyn.
" Evelyn tahu masalah kita. Aku menceritakan kepada Evelyn jika aku sangat mencintaimu sebelum kami bertunangan. Namun, dia tidak mempermasalahkan itu, dia berpikir aku akan bisa berubah mencintainya seiring berjalannya waktu."
" Saat aku mengatakan ingin mengakhiri pertunangan kami karena aku menemukanmu kembali, dia memberi syarat akan menerima keputusan berpisah, asal aku sudah mendapat kepastian jika kamu bisa memaafkan aku dan menerima aku kembali." Bagas menerangkan bagaimana hubungan dia dengan Evelyn sampai bisa berakhir.
" Ra, jika aku tetap bersama dengan Evelyn, aku tidak dapat memberikan kebahagiaan kepada Evelyn. Dia hanya mencintaiku sepihak. Sedangkan dia berhak mendapatkan pria yang tulus mencintainya." Bagas beralasan jika keputusan yang dia ambil adalah untuk kebaikan bersama.
" Aku mencintaimu, Ra. Sekarang ini aku sudah keluar dari rumah dan perusahaan Papa, karena aku ingin bersama denganmu. Aku mohon kamu bisa memaafkan aku karena aku tidak jujur mengatakan soal pertunanganku kepada kamu sebelumnya." Bagas memohon agar Indhira mau memaafkannya dan tidak merubah keputusan soal rencana pernikahan mereka.
" Saat ini hanya kamu yang aku punya, Ra. Apa kamu juga tega meninggalkan aku?" Bagas memasang wajah memelas untuk mencoba mempengaruhi Indhira agar Indhira mau memaafkannya.
Indhira menatap wajah Bagas yang terlihat kacau dan sangat frustasi. Sejujurnya dia merasa kasihan melihat Bagas diusir oleh Papanya seperti yang dikatakan oleh Lusiana tadi. Bahkan saat Bagas menceritakan semalam bergadang di cafe yang buka dua puluh empat jam, hatinya merasa sedih.
" Ra, kamu mau memaafkan aku, kan?" Sekali lagi Bagas meminta Indhira memaafkannya. Dia bahkan duduk bersimpuh di depan Indhira dengan menggenggam tangan Indhira.
" Aku harap kamu mau bersama denganku, berjuang demi cinta kita. Kita sudah banyak berkorban melalui rintangan yang menghadang. Kita jangan berhenti di tengah jalan seperti ini." Bagas ingin Indhira berjuang bersamanya, untuk mewujudkan keinginan mereka untuk bisa hidup bersama dalam satu ikatan rumah tangga.
Tak terasa air mata menetes di pipi Indhira. Tekad Bagas untuk menikahinya sudah bulat. Pria itu rela kehilangan segalanya, termasuk jauh dari keluarganya demi bisa bersama dengannya. Sepertinya terlalu jahat jika dirinya juga ikut meninggalkan Bagas.
Indhira menarik nafas dalam-dalam, dia harus membuat keputusan untuk menentukan nasib hubungannya dengan Bagas, termasuk resiko yang akan terjadi jika dirinya memutuskan untuk tetap bersama Bagas.
" Baiklah, Bagas. Aku memaafkan kamu," sahut Indhira.
" Berarti kamu juga tidak akan membatalkan rencana pernikahan kita 'kan, Ra?"
Indhira merespon pertanyaan Bagas dengan menganggukkan kepalanya. Dia sudah mengambil keputusan untuk terus bersama Bagas dan menemani pria itu bangkit kembali.
" Terima kasih, Ra. Terima kasih kamu mau tetap bersamaku." Bagas langsung bangkit dan memeluk Indhira membuat Indhira terkesiap.
" Bagas! Kamu apa-apaan!?" Indhira mendorong tubuh Bagas yang memeluknya. Dia tidak ingin ditegur oleh Lusiana karena berpelukan dengan Bagas di rumah orang apalagi di tempat terbuka seperti teras.
" Hehe, sorry, Ra." Bagas menyeringai sambil menggaruk tengkuknya..
***
Indhira tidak pergi ke butik selama tinggal di rumah Lusiana, sehingga Azkia hari ini diantar oleh Raffasya, sebelum pergi ke cafenya.
" Ma, menurut Mama, Bagas lebih baik Papa kasih pekerjaan apa, ya? Papa takut tidak sanggup membayar gaji seorang CEO." Raffasya berkelakar saat mengantar Azkia ke butik.
__ADS_1
" Bagas bilang bersedia bekerja di mana saja 'kan, Pa? Ya sudah, jangan pusing harus menyesuaikan dengan gaji yang dia dapat di perusahannya dulu." Azkia menyahuti perkataan suaminya. " Memangnya Papa ingin taruh dia di manaz sih?" tanya Azkia kemudian.
" Menurut Mama enaknya di mana? Sebenarnya aku ingin agar Bagas bekerja di kantoran dan sukses menjadi orang, biar dia dapat membuktikan ke Papanya, tanpa campur tangan Papanya. Bagas masih bisa menjadi orang sukses." Raffasya ingin Adibrata membuka matanya, jika tanpa sokongan dari Adibrata Mahesa, Bagas masih dapat bertahan hidup dan dapat berkarir dengan kemampuannya sendiri.
" Nanti aku coba tanya ke Uncle Gavin. Barangkali ada lowongan di kantor Uncle. Kalau tidak salah, sebulan lalu aku sempat dengar dari Papa Yoga kalau salah satu manager di hotel Uncle yang dekat kampus Papa Yoga ada yang resign karena pindah ke luar kota. Siapa tahu posisinya masih kosong jadi Bagas bisa melamar di sana." Azkia menyarankan agar Bagas bekerja di salah satu hotel milik Gavin.
" Boleh juga, tuh! Coba kamu hubungi Om Gavin, syukur-syukur Bagas dapat rezeki bekerja di sana." Raffasya setuju dengan saran Azkia.
" Mama juga kesal sih, sama Papanya Bagas itu!" Azkia yang mendengar cerita perilaku kasar dan arogan Adibrata saja ikut merasa kesal.
" Mama berharap dia kena batunya. Kena stroke, tidak bisa berbuat apa-apa, lalu ditinggal anak istrinya, puas banget Mama kalau itu sampai menimpa Pak Adibrata itu, Pa." Azkia sampai mengutuk perbuatan Adibrata dan berharap Adibrata mendapatkan balasan setimpal.
" Hush, jangan bicara sembarangan, Ma. Mama lagi hamil, bicara yang baik-baik saja, ya!" Raffasya menegur Azkia agar tidak kelepasan bicara yang buruk.
" Maaf, Pa. Habisnya kesal sekali lihat kesombongan orang itu." Azkia menyeringai seraya menutup mulutnya.
***
Adibrata menatap tajam ke arah Ester dan Zaenal yang berdiri dengan menurunkan pandangan ke bawah karena merasa bersalah, telah menutupi apa yang dilakukan oleh Bagas selama ini.
" Berapa lama kamu bekerja dengan saya, Ester? Kenapa kamu malah menyembunyikan kelakuan Bagas dari saya?" geram Adibrata karena selama ini, ketika dia bertanya kepada Ester tentang aktivitas Rivaldi di luar saat jam kantor, sekretaris Bagas itu selalu menjawab dengan kata tidak tahu.
" Maaf, Pak." Ester menunduk ketakutan. Sebagai karyawan dia sudah pasti serba salah. Menuruti Adibrata, dia akan kena tegur Bagas, membela Bagas, dia justru kena amuk Adibrata.
" Kau juga Zaenal, kenapa kau menutupi perbuatan Bagas? Apa kalian sudah tidak betah bekerja di sini, sehingga kalian semua betani mempermainkan saya, hahh?!" Adibrata sangat murka karena kedua orang yang bekerja dengannya lebih dahulu daripada dengan Bagas justru seakan lebih berpihak kepada Bagas.
" Bukan seperti itu, Pak. Tapi, saya sendiri memang tidak tahu apa yang dilakukan Pak Bagas. Maksud saya, saat Pak Bagas sore hari menghilang dari kantor dan meninggalkan mobilnya di sini, saya tidak tahu ke mana Pak Bagas perginya, Pak." Zaenal ingin merasa dirinya bersih dan tidak terlibat dengan rencana Bagas, karena sejujurnya dia memang tidak tahu apa saja yang dilakukan Bagas beberapa hari belakangan ini ketika di luar kantor. Zaenal merasa dia bukanlah pengasuh Bagas yang harus memantau apa saja yang Bagas lakukan selama dua puluh empat jam.
" Kenapa kau diam saja dan tidak melaporkan kepada saya ketika mengetahui ada yang aneh dengan Bagas!?" Adibrata tak bisa menerima sanggahan apa pun dari Zaenal. Baginya kedua karyawannya itu sudah salah besar karena menyembunyikan hal yang janggal dari Bagas.
Ddrrtt ddrrtt
Adibrata melirik ponselnya yang berbunyi di atas meja. Dia melihat layar ponselnya yang memperlihatkan nama Hamid yang saat ini menghubunginya.
" Keluar kalian semua!" Adibrata mengusir Zaenal dan Ester dari ruang kerja yang pernah ditempati oleh Bagas. Sebelum dia menerima panggilan telepon dari Hamid.
" Bagaimana, Hamid? Apa yang kamu dapatkan?" Setelah kedua karyawannya keluar dari ruang kerja, Adibrata langsung mengangkat panggilan telepon dari Hamid.
" Selamat siang, Tuan. Saya baru mendapat informasi pemilik rumah yang didatangi Tuan Bagas. Rumah itu ternyata milik orang tua Raffasya, Tuan. Pak Fariz dan Bu Lusiana. Mereka pemilik perusahaan leasing ternama di negeri ini, Tuan." Hamid langsung memberikan informasi yang ditunggu oleh Adibrata.
" Orang tua Raffasya? Pemilik cafe itu??" Adibrata terkesiap dan langsung menaikan kedua alisnya ke atas memperlihatkan keterkejutannya.
" Benar, Tuan. Raffasya pemilik cafe yang beberapa hari lalu didatangi oleh Tuan Bagas," sahut Hamid membenarkan.
" Pantas saja anaknya itu sombong, ternyata orang tuanya tidak kalah sombongnya." Adibrata mencibir mengatakan jika Lusiana dan Raffasya adalah sepasang ibu dan anak yang sombong. Dia bisa menilai orang lain, tanpa memandang dirinya sendiri seperti apa.
" Jika Tuan bilang wanita yang bersama Tuan Bagas adalah pegawai dari menantu Ibu Lusiana, bisa jadi kedatangan Tuan Bagas ke cafe itu ingin menyewa tempat resepsi pernikahan mereka atas rekomendasi wanita itu, Tuan." Hamid menyampaikan dugaanya. Karena Raffasya adalah suami dari bos Indhira, bukan tidak mungkin atas bujukan bosnya, Indhira meminta Bagas untuk mengadakan resepsi di cafe itu.
" Bisa jadi, Mid. Tapi ... tidak, tidak, Mid. Saya rasa itu bukan suatu kebetulan." Adibrata teringat saat Lusiana menyinggung soal video viral. " Wanita itu, ibu dari pemilik cafe itu sempat menyinggung soal video lak nat dulu. Saya rasa, kedekatan Bagas dengan Raffasya bukan hanya karena ingin menyewa tempat untuk resepsi semata." Adibrata mulai merasa curiga, jika Bagas dan Raffasya memang punya kedekatan bukan hanya sebagai pemilik cafe dan pelanggannya.
" Hmmm, pantas saja Bagas berani menentang Papanya sendiri. Rupanya dia dilindungi orang yang cukup bermodal." Adibrata mengusap rahangnya yang lebat ditumbuhi cambang.
" Lalu, apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Hamid.
" Sepertinya mereka sengaja menabuh genderang perang dengan kita, Mid." Adibrata merasa harga dirinya telah diremehkan oleh keluarga Raffasya.
" Apa Tuan akan melawan mereka?" tanya Hamid.
" Mereka menantang kita, Mid. Kita harus melawan!" tegas Adibrata.
" Tapi orang di sekitar Raffasya bukan orang-orang sembarangan, Tuan." Hamid justru memikirkan dampak jika mereka sampai melawan Raffasya dan keluarganya.
" Mereka sudah lancang ikut campur dalam urusan keluarga saya, Mid! Saya tidak akan tinggal diam mereka menginjak-injak harga diri seorang Adibrata Mahesa!" Adibrata seakan tidak gentar pada lawan yang akan dihadapinya.
***
Seperti yang direncanakan sebelumnya, dengan diantar oleh Bagas menggunakan salah satu mobil milik Lusiana, Indhira bersama Ibu Lidya berbelanja untuk keperluan akad nikah. Indhira menyerahkan sepenuhnya kepada Ibu Lidya apa yang akan dibeli. Dia nanya menurut tanpa menyanggah apa yang dipilihkan oleh Ibu Lidya. Karena Ibu Lidya pernah menikahkan Rissa, Indhira menganggap Ibu Lidya sudah sangat berpengalaman.
__ADS_1
Selepas membeli semua keperluan untuk akad nikah, kini mereka menikmati makan siang di sebuah restoran, karena hampir dua jam mereka berburu perlengkapan untuk pernikahan yang akan digelar empat hari lagi.
Bagas juga sengaja mendampingi Indhira dan Ibu Lidya, karena dia takut orang suruhan Papanya akan mendekati Indhira saat Indhira tidak dalam pengawasannya.
" Bagas, uang yang tersisa masih ada. sekitar enam puluh tujuh juta. Nanti Tante transfer balik saja ke rekening kamu, ya!?" Karena uang yang tersisa dari budget yang berikan oleh Bagas masih cukup banyak, Ibu Lidya ingin mengembalikan uang itu kepada Bagas.
" Tidak usah, Tante. Uang itu biar saja dipegang Tante, untuk Tante." Bagas menolak uangnya ingin dikembalikan oleh Ibu Lidya.
" Tante tidak mau, Bagas! Sekarang ini kamu sudah tidak kerja. Kamu tidak punya penghasilan. sementara kamu akan menikah dengan Indhira. Sisa dari uang yang kamu beri kemarin bisa untuk .rnengontrak atau membayar DP membeli rumah KPR." Berita Bagas diusir dari rumah dan perusahannya memang cepat tersebar di lingkungan orang-orang terdekat Indhira, sehingga Ibu Lidya pun menyadari jika saat ini Bagas akan banyak butuh banyak dana.
" Tapi Tante menyarankan kalian ambil rumah saja. Tidak apa-apa dicicil juga, yang penting nantinya rumah itu jadi milik kalian, daripada mengontrak." Ibu Lidya memberikan saran kepada Bagas dan Indhira.
" Iya, Tante. Saya juga berpikir ke arah sana. Tapi mungkin sambil mengurus kredit KPR, sementara kami akan mengontrak dulu." Bagas pun setuju dengan saran Ibu Lidya. " Tidak apa-apa 'kan, Ra? Kita tinggal dikontrakan sementara waktu?" Bagas meminta persetujuan Indhira.
" Aku terserah kamu saja, Bagas. Bagaimana baiknya saja." Indhira bukan tipe wanita yang banyak menuntut dan menyerahkan semuanya kepada Bagas.
" Saya juga masih ada uang simpanan seratus juta, Tante. Itu uang yang saya kumpulkan dari ngeband dulu. Uang itu sempat ingin saya serahkan kepada Indhira dulu, tapi Indhira bersembunyi di rumah Tante." Bagas membuka kenangan masa lalu saat dia meminta tolong Bu Tika untuk menyerahkan kartu debitnya kepada Indhira.
" Kartu ATM dan uangnya tidak pernah saya pakai sejak saya kuliah di Amerika, Senin besok rencananya saya mau ke bank untuk ganti kartu ATM yang sudah kadaluarsa sama menanyakan apakah rekeningnya masih aktif atau pasif." Bagas menjelaskan jika dirinya masih punya uang pegangan yang bisa dia pergunakan sehari-hari sambil dia mulai bekerja kembali.
***
Pulang mengantar Ibu Lidya, Bagas dan Indhira menyempatkan diri mampir ke makam orang tua Indhira. Seperti kebanyakan ritual orang-orang yang akan menikah, mengunjungi makam orang tua adalah hal yang biasa dilakukan oleh calon pengantin.
" Kamu tahu, Ra? Penjaga makam di sini adalah saksi cinta kita berdua." Bagas terkekeh ketika mengatakan jika penjaga makam di sana menjadi saksi kedekatan dirinya dengan Indhira.
" Maksud kamu apa, Bagas?" tanya Indhira bingung.
" Saat aku mengunjungi makam ini beberapa waktu lalu, aku sempat bertanya kepada penjaga makam. Apa kamu pernah berziarah ke makam orang tua kamu ditemani laki-laki? Dia bilang pernah, tapi itu sudah lama sekali, saat kamu masih SMA. Berarti pria yang dia maksud itu aku, kan?" Bagas menjelaskan kenapa dia bisa berpendapat seperti tadi.
" Kenapa kamu tanya ada laki-laki yang mengantar aku tidak pada Bapak itu?" tanya Indhira semakin heran.
" Karena aku ingin tahu apakah kamu sudah menikah atau belum? Seandainya setelah kamu menghilang ada pria yang mengantar kamu datang ke sini, artinya kamu sudah bertunangan atau menikah. Tapi kalau kamu selalu sendiri saat berziarah, artinya kamu belum menikah dan belum move on dari aku." Bagas terkekeh merasa senang karena pada akhirnya Indhira memang belum bisa melupakan cintanya kepada dirinya.
" Kamu ini ada-ada saja, Bagas ..." Indhira menggelengkan kepala dengan senyum terkulum di bibirnya.
Tak lama mobil milik Lusiana yang dipinjam Bagas sampai di area TPU di mana makam orang tua Indhira berada. Bagas mencari tempat parkir yang tidak jauh dari gerbang TPU.
" Siang, Mas, Mbak. Mau berziarah lagi?" Penjaga makam langsung menghampiri Bagas dan Indhira ketika mereka berdua sudah memasuki area pemakaman. Karena belum lama ini Bagas dan Indhira juga berziarah ke makam orang tua Indhira.
" Siang, Pak." sahut Bagas dan Indhira bersamaan.
" Iya, Pak. Karena kami akan menikah, jadi kami mau berziarah ke makam orang tua," sahut Bagas dengan merangkulkan tangannya ke pundak Indhira, membuat Indhira kaget karena Bagas merangkulnya di hadapan orang lain.
" Mas sama Mbak nya mau menikah? Wah, selamat ya, Mas, Mbak. Kalau jodoh memang tidak akan ke mana." Penjaga makam terlihat gembira mendengar kabar yang disampaikan oleh Bagas tadi.
" Iya, Alhamdulillah. Jodohnya saya memang ditakdirkan bersama dia, Pak. Pindah ke lain hati juga sudah." Bagas terkekeh, membuat penjaga makam itu ikut tertawa senang.
" Silahkan, Mas." Penjaga makam lalu mempersilahkan Indhira dan Bagas yang ingin ke malam kedua orang tua Indhira.
Setelah sampai di depan makam Papa dan Mamanya dan mengucapkan salam, Indhira dan Bagas duduk di pusara orang tua Indhira.
" Pa, Ma, Indi datang berziarah kemari, karena Indi ingin menyampaikan kabar bahagia kepada Papa dan Mama," ucap Indhira dengan bola mata mengembun.
" Om, Tante, kami datang kemari untuk mohon doa restu Om dan Tante, karena saya akan menikahi putri Om dan Tante. Kami akan menikah beberapa hari lagi. Om dan Tante tidak usah merasa khawatir, saya akan menjaga dan melindungi Indhira seperti janji saya kemarin, Om, Tante. Saya akan membahagiakan Indhira agar Om dan Tante bisa tenang di sana." Bagas kembali mengikrarkan janjinya, kalau dia akan menjadi pelindung bagi Indhira dan akan mengantarkan Indhira ke gerbang kebahagiaan dengan mengarungi mahligai rumah tangga yang akan mereka mulai beberapa hari ke depan.
"
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1