
Jelang tidur, dengan mengusap perut Indhira yang masih datar, Bagas dan istrinya berbincang ringan tentang Adibrata dan Angel. Walaupun mendapatkan kabar dari Kartika, jika tidak ada terjadi keributan sore tadi antara kedua orang tua mereka, namun kini Bagas harus lebih waspada. Dia yakin jika sampai Papanya itu mengetahui Mamanya sering menjumpainya, dapat dipastikan Papanya akan murka. Apalagi kalau Papanya sampai tahu tempat tinggal mereka, dia khawatir Papanya akan mengusik Indhira kembali,
Bagas mengenal watak sang Papa. Bukan tidak mungkin Papanya akan menghukum Mamanya. Kalau Papanya saja sanggup mengusir dirinya, bisa jadi Papanya itu akan melakukan hal yang sama pada Mamanya. Bagi sosok Adibrata yang dia kenal, mempertahankan ego dan mengutamakan sikap arogannya itu lebih penting daripada menjaga keutuhan keluarganya.
" Untung saja Papa tidak sampai curiga kalau Mama tadi menelepon Mas, ya?" Indhira merasa lega, yang dia khawatirkan tidak sampai terjadi.
" Tidak tahu juga, Yank. Papa itu sangat cerdik. Bisa saja Papa pura-pura percaya di depan Mama, tapi di belakang? Bukan tidak mungkin Papa akan menyuruh orang suruhannya untuk mengawasi gerak-gerik Mama. Mata-mata Papa sudah sekelas CIA dan KGB kalau sedang beroperasi." Bagas berseloroh menyebut dua badan intelegen dua negeri adi kuasa Amerika Serikat dan Rusia.
" Lalu gimana sekarang, Mas?" Rasa lega yang tadi Indhira rasakan kembali berubah kecemasan.
" Mungkin sementara ini Mama jangan menemui kita dulu, karena itu sangat berbahaya, bagi Mama dan juga bagi kamu, Yank." Mama dan istrinya yang Bagas khawatirkan.
" Jadi kita tidak bisa bertemu dengan Mama lagi, Mas?" Walaupun setiap berinteraksi, Mama mertuanya itu selalu mengunakan kalimat bernada ketus dan dia sendiri merasa minder berhadapan dengan Angel, namun dia merasa senang karena sikap Angel yang bisa menerimanya sebagai menantu.
" Untuk sementara ini mungkin iya, Yank. Sampai keadaan kondusif," sahut Bagas.
Indhira menghempas nafas kasar, dia merasa kecewa dan sedih. Dia baru merasakan bahagia diperhatikan meskipun dengan cara yang berbeda oleh Angel, kini hubungannya dengan sang Mama mertua harus dibatasi.
" Kamu sedih, ya?" Bagas dapat merasakan kesedihan sang istri.
" Iya, Mas. Padahal aku baru merasakan bahagia mendapatkan sosok Mama kembali," lirih Indhira yang memang tidak dapat menutupi rasa kecewanya.
" Kamu bersabar saja, semoga semua berjalan normal dan dugaanku jika Papa akan menyelidiki Mama itu tidak benar." Bagas berharap dugaannya salah.
" Semoga saja, Mas." sahut Indhira kemudian.
" Ya sudah, sebaiknya kita istirahat. Bumil jangan tidur terlalu larut." Bagas mengajak istrinya beristirahat dan membiarkan sang istri tidur memeluk tubuhnya.
***
Saat pulang dari makan siang setelah bertemu dengan relasi bisnisnya, Adibrata sengaja mampir di toko perhiasan. Dia ingin membelikan satu set perhiasan emas berlian kepada Angel, sebagai rasa penyesalannya karena telah berbuat kesalahan yang fatal.
Sudah lama sekali dia tidak membelikan istrinya itu perhiasan sendiri. Biasanya dia hanya memberikan uang saat Angel ingin membeli perhiasan. Karena seperti istri bos-bos lainnya, Angel juga sangat senang perhiasan.
" Selamat siang, Pak. Silahkan ..." Salah satu dari dua security yang berjaga di depan toko perhiasan itu menyapa Adibrata lalu membukakan pintu untuk Adibrata. Dan Adibrata hanya menganggukkan kepala menanggapi sapaan security tadi.
" Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" Di dalam ruangan toko perhiasan pun, Adibrata kembali disambut oleh pelayan toko.
" Saya ingin mencari perhiasan yang terbaru dan paling mahal dari koleksi di toko ini." Adibrata menyebut apa yang dicarinya.
" Maaf, Pak. Cari cincin, gelang, anting atau kalung?" tanya pegawai toko itu.
" Saya ingin yang satu set," jawab Adibrata.
" Baik, Pak. Mari ikut saya!" Pegawai toko lalu membawa Adibrata ke ruangan khusus yang melayani pemesanan perhiasan dengan nominal ratusan juta rupiah, karena Adibrata mengatakan ingin perhiasan terbaik dan yang pasti berharga ratusan juta rupiah.
" Ci Vonny, Bapak ini ingin mencari set perhiasan terbaik." Pegawai toko menjelaskan kepada pemilik toko perhiasan itu.
__ADS_1
" Oh, silahkan, Pak. Silahkan duduk ..." Vonny mempersilahkan Adibrata duduk di standing chair di depan display beberapa perhiasan mewah bertahtakan berlian.
" Perhiasan apa yang Bapak cari?" tanya Vonny kemudian.
" Saya ingin perhiasan yang paling bagus koleksi dari toko ini." Tanpa basa-basi, Adibrata menyebutkan apa yang dia cari.
" Sebentar, Pak." Vonny lalu mengambil perhiasan yang ingin dia tawarkan kepada Adibrata.
" Ini model terbaru dan terbaik di toko ini," ucapnya kemudian menyodorkan koleksi terbaiknya.
Adibrata memperhatikan set perhiasan yang ditawarkan oleh Vonny. Perhiasan itu terlihat simpel, namun terlihat elegan. Dia rasa perhiasan itu sangat cocok untuk sang istri.
" Baiklah, saya mau yang ini. Berapa yang harus saya bayar? Saya bayar menggunakan internet banking." Adibrata membuka aplikasi perbankan di ponselnya.
" Sebentar, Pak." Vonny menghitung harga satu set perhiasan berisi cincin, gelang, giwang dan kalung mewah itu.
" Totalnya sekitar delapan ratus dua puluh jutaan, Pak." Vonny menyebutkan nominal harga satu set perhiasan berlian itu.
" Ya sudah, saya ambil ini saja. Saya harus transfer ke nomer rekening mana?" tanya Adibrata, yang akan mentransfer menggunakan dua rekeningnya, karena limit pertransaksi melalui internet banking sejumlah lima ratus juta rupiah.
" Bisa transfer ke rekening bank yang tertera di kartu ini, Pak. Ada tiga pilihan bank." Vonny menyodorkan kartu nama toko perhiasan itu berserta nomer rekeningnya.
Setelah menyelesaikan pembelian perhiasan untuk Angel, Adibrata pun lalu kembali ke kantornya.
***
" Jadi Mama tidak bisa bertemu dengan Kak Bagas dan Kak Indi lagi, Ma?" tanya Kartika saat Angel dan Kartika berbicang di kamar Kartika.
" Mama saja yang tidak bisa, kalau aku 'kan masih bisa bertemu dengan Kak Bagas, Ma." Kartika masih merasa aman bertemu dengan kakaknya.
" Mama iri kalau kamu bisa bertemu Kakak kamu sementara Mama tidak." Angel mengeluh dengan wajah memberengut.
" Mama sabar saja, turuti saja apa yang diminta oleh Kak Bagas. Itu juga demi kebaikan Mama, kok." ujar Kartika berharap jika Mamanya tidak melanggar apa yang diminta oleh Bagas.
" Kalau nanti kamu ketemu sama Bagas, kamu video call Mama, ya! Mama ingin ikut mengobrol juga dengan kakak kamu." Angel berharap bisa ikut bergabung walaupun hanya lewat sambungan video call.
" Siap, Ma. Nanti aku bilang sama Kak Bagas. Mama yang sabar menghadapi Papa, ya!?" Kartika memeluk tubuh Angel, dia juga sedih jika hubungan yang mulai terjalin akrab antara Mamanya bersama kakak dan kakak iparnya kembali terputus.
Tok tok tok
" Bu, dicari sama Bapak di kamar." Mbok Nah memberitahu Angel soal kedatangan Adibrata.
" Lho, Papa sudah datang?" Angel heran karena suaminya kembali pulang cepat.
" Iya, Bu." jawab Mbok Nah.
" Ya sudah, Mama temui Papa dulu, daripada nanti Papa curiga sama aku, malah aku juga ikutan tidak bisa ketemu Kak Bagas lagi." Kartika khawatir akan dicurugai seperti Mamanya.
__ADS_1
" Iya, Mama ke kamar dulu." Angel lalu keluar dari kamar Kartika menuju kamarnya untuk menemui sang suami.
" Papa kok' sudah pulang?" tanya Angel saat melihat Adibrata yang sedang melepas dasinya saat dia masuk ke dalam kamar.
" Apa Mama tidak suka kalau Papa pulang cepat?" tanya Adibrata menanggapi pertanyaan istrinya.
" Bukan begitu, Pa. Mama senang Papa pulang cepat. Cuma Mama khawatir kalau Papa sakit lagi." Angel lalu menempelkan punggung tangan ke kening suaminya. Kali ini sudah tidak dia rasa hawa panas di kening sang suami.
" Papa sudah sembuh, Ma. Papa pulang cepat, karena Papa ingin mengajak Mama dinner nanti malam." Adibrata kini melingkarkan tangannya di pinggang Angel.
" Papa mau mengajak Mama dinner? Memangnya dalam rangka apa, Pa?" tanya Angel terheran, karena sebelumnya suaminya itu tidak mengatakan akan menghadiri jamuan makan malam seperti biasanya.
" Tidak ada acara apa-apa, Papa hanya ingin mengajak Mama dinner saja berdua." Adibrata membelai kepala Angel, lalu mengusap wajah Angel yang masih terlihat cantik di usia yang hampir mendekati setengah abad.
" Tumben banget, sih, Pa?" Angel menatap heran suaminya. Walau dia merasa terheran, namun tidak dapat dipungkiri jika dia merasa senang diajak oleh sang suami dinner berdua. Biasanya dia mendampingi Adibrata dinner menghadiri acara yang diadakan oleh rekan bisnis sang suami.
" Mama mau atau tidak?" tanya Adibrata karena sang istri tak juga menjawab setuju atau tidak dengan tawarannya itu.
" Tentu saja Mama mau, Pa. Sudah lama sekali Papa tidak ajak Mama dinner seperti itu." Angel sendiri sudah lupa kapan kencan menikmati dinner berdua bersama sang suami.
" Apa Kartika tidak diajak, Pa?" Angel menanyakan apakah anaknya itu boleh ikut dengan acara mereka.
" Kita ini ingin berkencan, Ma. Kenapa Kartika harus ikut?" Adibrata merasa keberatan jika Angel ingin mengajak Kartika, karena momen ini dia persiapkan untuk menyenangkan hati sang istri sebagai bentuk penyesalannya karena telah menghianati pernikahannya yang sudah berjalan dua puluh sembilan tahun.
Angel terkekeh mendengar ucapan suaminya, membuat kening Adibrata berkerut.
" Kenapa Mama ketawa?" tanyanya heran.
" Kita ini sudah tua, Pa. Masa pakai kencan segala? Apalagi sebentar lagi kita akan punya ..." Angel menghentikan ucakannya saat dia hampir saja keceplosan mengatakan jika sebentar lagi mereka akan mempunyai cucu.
" Sebentar lagi kita akan punya apa, Ma?" tanya Adibrata serius.
" Hmmm, sebentar lagi kita akan punya ... banyak uban. Rambut Papa sebentar lagi akan putih, rambut Mama juga kemarin lihat sudah mulai tumbuh uban, lho, Pa." Angel mengusap rambutnya sendiri. Angel bingung harus berkata apa untuk menyamarkan ucakannya yang hampir kelepasan tadi.
" Biar Mama ada ubannya, Mama tetap cantik, kok." Adibrata memuji kecantikan Angel yang masih terjaga hingga di usianya saat ini.
" Kalau Mama sudah tua, sudah beruban begini, Papa tetap cinta sama Mama tidak? Apa Papa akan berpaling akan mencari wanita lain yang lebih muda dan cantik, Pa?"
Adibrata terdiam mendengar pertanyaan Angel yang menyinggung soal perselingkuhan. Sejujurnya Adibrata benar-benar merasa menyesal telah melakukan hubungan terlarang dengan wanita penghibur yang tidak dia kenal. Suatu kesalahan yang membuat dia takut jika sampai terendus oleh sang istri.
*
*
*
__ADS_1
Besambung ...
Happy Reading ❤️