SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Keluar Dari Rumah


__ADS_3

" Kenapa orang itu bisa ada di sini, Lus?" Fariz merasa heran dengan kemunculan Adibrata di rumah mereka. Selama ini, terutama setelah dia kembali rujuk dengan Lusiana, rumah yang mereka tempati terasa damai dan tenang, dan hanya ramai jika cucu-cucu mereka berkumpul.


" Aku tidak tahu, Mas. Sepertinya orang itu mengikuti Bagas dan Indhira sampai ke rumah ini." Lusiana menduga jika Adibrata mengikuti Bagas dan Indhira.


" Aku mau membawa Indhira ke kamar dulu, Mas." Lusiana ingin mengantar Indhira ke kamar tamu. " Tolong suruh Bibi bawakan tas Indhira ke kamar, Mas." lanjutnya sebelum melangkah ke kamar tamu.


" Ra, sudah kamu jangan menangis. Mau Tante kompres pipi kamu?" Lusiana mencoba menghibur Indhira yang masih terus terisak sesampainya di kamar.


Indhira menggelengkan kepala dengan air mata terus berderai di pipinya. Entahlah, hati Indhira rasanya sangat kacau saat ini. Bukan hanya karena kedatangan orang tua Bagas yang melab rak dan menam parnya. Tapi juga soal fakta jika Bagas telah bertunangan, dan Bagas memutuskan pertunangannya itu karena ingin menikahinya.


Indhira merasa jika Bagas sudah melukai hatinya kembali. Bagas tidak jujur kepadanya soal pertunangannya dengan wanita yang dia tidak tahu siapa? Jika saja Indhira tahu jika Bagas sudah bertunangan dan meninggalkan tunangannya itu hanya untuk kembali dengannya, sudah pasti akan dia tolak. Dia tidak ingin menjadi pengganggu atau orang ketiga dalam satu hubungan. Entah itu orang yang berpacaran, bertunangan, apalagi yang sudah berumah tangga.


" Indhira, Tante tahu apa yang dituduhkan oleh Papanya Bagas itu tidak benar. Kamu jangan merasa takut dan bersedih. Kami di sini ada bersama kamu." Lusiana membelai kepala Indhira, dia tahu Indhira sangat syok dengan perlakuan Adibrata tadi. Saat Azkia menceritakan bagaimana kisah hidup Indhira, dia sudah merasa prihatin pada wanita itu, apalagi setelah mengetahui sendiri bagaimana perilaku ga nas Adibrata terhadap Indhira. Hatinya sebagai seorang wanita dan seorang Ibu sangatlah tersentuh. Apalagi dirinya tidak mempunyai anak perempuan, selain Rossa, anak Fariz bersama wanita lain setelah berpisah dengannya.


" Saya tidak tahu, kenapa Papanya Bagas membenci saya, Bu?" Indhira berkata dengan terisak.


" Dia itu orang yang tertutup mata hatinya, Ra. Dia hanya memandang orang hanya dari status ekonomi saja, tanpa bisa melihat kebaikan orang itu. Kamu harus sabar, Ra." Lusiana terus berusaha menenangkan Indhira yang tak juga berhenti menangis pilu.


" Saya tidak tahu jika Bagas sudah bertunangan, Bu. Saya tidak tahu soal itu. Saya tidak pernah merebut tunangan orang lain. Kenapa Papanya Bagas tega menuduh saya seperti itu?" Sakit hati Indhira, karena dia mengalami dua hal yang membuatnya syok. Dituduh merebut tunangan orang hingga dia terkena tam paran Adibrata, yang kedua mengetahui jika Bagas sebelumnya telah bertunangan, dan Bagas tidak pernah mengatakan hal tersebut kepadanya


***


Ddrrtt ddrrtt


Raffasya baru masuk dari kamar saat mendengar ponsel Azkia berdering. Dia lalu menghampiri nakas untuk mengambil ponsel milik istrinya itu. Raffasya melihat nama Mamanya yang menghubungi Azkia, membuatnya langsung mengangkat panggilan telepon dari Lusiana itu.


" Assalamualaikum, ada apa, Ma?" sapa Raffasya saat mengangkat panggilan masuk dari sang Mama.


" Waalaikumsalam, Raffa. Kia mana?" tanya Lusiana langsung menanyakan menantu kesayangannya itu.


" Kia sedang membantu Naufal mengerjakan peer, Ma. Kenapa, Ma?" jawab Raffasya.


" Tadi Papanya Bagas datang kemari dan melab rak Indhira sampai menam par Indhira, Raffa." Lusiana langsung mencerirakan apa yang baru saja terjadi di rumahnya.


" Apa?? Pak Adibrata datang ke rumah Mama? Bagaimana bisa? Lalu Bagas ada di sana saat kejadian itu?" Raffasya terkesiap saat mengetahui jika Adibrata sampai datang ke rumah orangnya. Hal itu sungguh di luar prediksinya.


" Dia datang di belakang Bagas dan Indhira. Sepertinya kamu benar, Raffa. Orang tua sombong itu mengikuti gerak-gerik anaknya. Mama kesal sekali melihat kesombongan dia! Apa dia tidak tahu? Kalau mati, dia tidak akan membawa harta bendanya di dunia ini!" Lusiana masih emosi dengan kesombongan Adibrata, hingga dia menyampaikan keluhannya itu pada anaknya.


" Ma, Mama jangan terpancing marah-marah begitu." Raffasya menasehati Mamanya untuk bersikap tenang dan tidak terpancing oleh sikap Adibrata. Untuk sifat keras kepala, Raffasya memang menuruni sifat Lusiana, namun untuk sifat bijaknya, itu diturunkan dari Fariz, Papanya.

__ADS_1


" Gimana Mama tidak terpancing, Raffa? Omongannya itu, lho! Kayak bukan omongan laki-laki! Menyebalkan sekali pokoknya!" Lusiana masih menggerutu, mengeluhkan sikap Adibrata yang dia anggap tidak selayaknya seorang pria bersikap seperti itu, apalagi Adibrata berasal dari kalangan sosial atas, mestinya dapat menjaga tingkah lakunya.


" Lalu, apa saja yang terjadi di sana, Ma? Bagaimana sikap Bagas terhadap Papanya?" tanya Raffasya penasaran.


" Persis kayak kamu ke Mama dulu. Bagas terlihat kesal sekali terhadap Papanya," ujar Lusiana menggambarkan bagaimana sikap Bagas terhadap Adibrata.


" Aku tidak pernah membenci Mama." Raffasya menolak disamakan dengan Bagas terhadap Adibrata. " Aku hanya kecewa saat itu Papa dan Mama berpisah." Raffasya enggan dikatakan kesal terhadap Mamanya. " Lagipula, Mama dan Papa tidak seperti Pak Adibrata. Aku lebih beruntung dibandingkan Bagas, karena Papa dan Mama tidak mengekangku seperti Pak Adibrata mendikte hidup Bagas." Raffasya masih merasa beruntung dirinya tidak bernasib seperti Bagas.


" Iya, kasihan juga melihat Bagas tadi. Oh ya, Raffa. Apa Indhira sebelumnya tidak tahu jika Bagas itu sudah bertunangan?" tanya Lusiana penasaran karena Indhira terlihat kaget saat dituduh oleh Adibrata sebagai perebut tunangan orang.


" Bagas memang belum mengatakan soal pertunagannya dengan wanita pilihan orang tuanya, Ma. Karena Bagas takut Indhira akan menolaknya jika dia mengatakan hal yang sesungguhnya." Raffasya menceritakan apa yang dikatakan Bagas kepadanya.


" Kasihan, Indhira, Raffa. Dia dituduh sebagai perusak hubungan Bagas dengan mantan tunangannya. Yang Mama takutkan, dia akan menolak menikah dengan Bagas setelah kejadian ini." Lusiana merasa khawatir jika rencana pernikahan Bagas dan Indhira yang sudah dipersiapkan akan batal karena Indhira akan menolak menikah dengan Bagas.


" Mereka saling mencintai, Ma. Aku akan coba bantu mereka untuk bisa bersatu." Raffasya memang sudah bertekad dari awal untuk membantu Bagas dan Indhira, apalagi melihat sikap Adibrata yang keras kepala, membuatnya semakin tertantang untuk menaklukan sifat arogan Adibrata.


" Mama juga akan dukung kamu, Raffa. Apalagi dia berani mengancam Mama segala." Lusiana mengadukan pada Raffasya tentang ancaman Adibrata kepada dirinya.


" Pak Adibrata mengancam Mama?" Raffasya terperanjat saat mengetahui Adibrata sampai berani mengancam orang tuanya. " Dia mengancam apa, Ma?" Tentu Raffasya tidak akan tinggal diam jika sampai Adibrata menyentuh orang tuanya.


" Mama kesal lihat tingkah dia, lalu Mama usir saja dia dari rumah. Lalu dia bilang Mama akan menyesal karena berani mengusir dia." Lusiana mengatakan apa yang diucapkan Adibrata kepadanya.


" Telepon dari siapa, Pa?"


Dari arah pintu suara Azkia yang baru memasuki kamar terdengar.


" Ma, nanti kita sambung lagi obrolannya, ya!? Assalamualaikum ..." Raffasya berniat mengakhiri percakapan dengan Mamanya, karena jika Mamanya berbincang dengan Azkia, akan dapat dipastikan pasangan mertua dan menantu itu akan panjang lebar membahas soal sikap Adibrata, membuat suasana semakin memanas.


" Waalaikumsalam ..." Suara Lusiana masih sempat terdengar sebelum Raffasya mengakhiri panggilan telepon dengan Mamanya.


" Siapa yang telepon, Pa? Mama? Mama Tata atau Mama Lusi?" Azkia semakin penasaran karena suaminya itu menggunakan ponsel miliknya.


" Mama Lusi." Raffasya menyerahkan ponsel istrinya itu kepada pemiliknya.


" Mama Lusi? Ada apa? Apa Indhira belum sampai rumah?" Azkia melirik ke arah jam di dinding kamarnya.


" Bukan itu! Mereka sudah sampai di rumah Mama, bersama dengan kedatangan Papanya Bagas," ujar Raffasya menceritakan apa yang dia dengar dari Mamanya.


" Hahh?? Pak Adibrata tahu posisi Indhira di rumah Mama Lusi? Kok, bisa sih, Pa?" Azkia sama saja seperti Raffasya saat mendengar kabar kedatangan Adibrata di ruang Lusiana dan Fariz.

__ADS_1


" Entahlah, yang pasti kedatangan Papanya Bagas membuat Indhira syok. Sama seperti ketika kejadian di cafe beberapa waktu lalu. Papanya Bagas menuding Indhira sebagai perusak hubungan Bagas dengan tunangannya dan juga dia menam par Indhira." Tak ada yang ditutupi oleh Raffasya tentang yang terjadi pada Indhira.


" Hahh? Papanya Bagas sampai menam par Indhira?? Ini tidak bisa dibiarkan, Pa! Lama-lama Pak Adibrata akan semena-mena terhadap Indhira." Azkia hendak menghubungi Lusiana.


" Mama mau telepon siapa?" tanya Raffasya.


" Mau telepon Mama Lusi, mau tanya bagaimana Indhira sekarang." Azkia merasa perlu menyusun strategi dengan Mama mertuanya itu untuk menghadapi Adibrata.


" Sudahlah, Ma! Jangan melibatkan Omanya anak-anak terlalu dalam. Aku tidak ingin membahayakan Mama Lusi. Pak Adibrata sudah mengancam Mama Lusi, karena Mama Lusi membela Indhira. Biar Papa saja yang bertindak. Mama jangan bertindak yang berbahaya, ingat Mama dengan hamil, Papa tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon anak kita ini." Raffasya mencegah Azkia yang ingin menghubungi Lusiana, dia pun mengingatkan Azkia agar jangan bertindak gegabah menghadapi Adibrata.


***


Dalam perjalanan menuju rumahnya, Bagas yang ikut pulang dengan mobil milik Papanya terlihat hanya diam menahan rasa kesal terhadap sikap Adibrata. Sementara Adibrata terus saja menggerutu dan mengumpat terhadap Indhira dan juga sikap Lusiana yang dia anggap menantang dirinya.


Sesampainya di rumah, Bagas keluar lebih dulu dari mobil dan masuk ke dalam rumah orang tuanya itu. Dia menunggu Adibrata di ruangan tamu, karena dia ingin berbicara dengan Papanya soal hal yang sudah dilakukan Adibrata terhadap Indhira dan orang tua Raffasya.


" Aku kecewa dengan sikap Papa! Papa sama sekali tidak menunjukkan sikap orang tua yang bijaksana!" geram Bagas dengan wajah dipenuhi amarah, saat Papanya memasuki raung tamu.


" Papa lakukan semua ini demi kebaikan kamu, Bagas! Papa tidak ingin kamu masuk dalam pergaulan yang akan menjerat kamu ke dalam kehancuran!" Adibrata masih merasa apa yang dia lakukan adalah benar.


" Papa yang sudah membuat hidupku hancur! Aku justru bahagia bersama Indhira, Pa!" Bagas menjawab dengan nada tinggi ucapan Papanya.


" Asal Papa tahu, tanpa restu Papa pun, aku bisa menikah dengan Indhira! Dan aku akan tetap menikahi dia!" tegas Bagas tak gentar dengan Papanya.


" Kalau kau berani melakukan hal itu, tinggalkan rumah ini! Papa tidak sudi mempunyai memantu seperti dia! Memalukan nama baik keluarga Adibrata Mahesa!" ancam Adibrata, sampai rela mengusir Bagas daripada harus mengalah dengan egonya.


" Baiklah, jika itu yang Papa inginkan, aku akan keluar dari rumah ini!" Bagas menerima tantangan Papanya. Dia pun melangkah ke arah tangga menuju kamarnya.


" Jangan bawa apa pun dari hasil jerih payah Papa! Termasuk ijazah yang kamu dapat selama kuliah di Amerika!" Bahkan Adibrata pun melarang Bagas membawa ijazah Magister yang Bagas dapatkan dari Universitas di Amerika yang dapat digunakan oleh Bagas untuk melamar pekerjaan di tempat lain. Adibrata seolah ingin membuktikan jika tanpa campur tangannya, Bagas tidak akan bisa berbuat apa-apa.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2