
Indhira melihat Bagas yang masuk ke kamar. Sepertinya sang suami sudah selesai berdiskusi dengan Papa dan Mamanya.
Terlihat Bagas mengedar pandangan memperhatikan setiap bagian dari kamar yang akan mereka tempati ke depannya seraya melangkah ke arahnya yang duduk di tepi tempat tidur.
" Gimana, Yank? Kamu suka interior kamar ini?" Bagas merangkul pundak Indhira lalu mengecup pipi istrinya itu cukup lama.
" Mau gimana pun interiornya, selama bersama Mas, aku pasti suka-suka saja, Mas." Indhira lalu bersandar di bahu Bagas.
" Aku tidak menyangka akan kembali ke kamar ini, Mas." ucapnya kemudian.
Bagas terkekeh mendengar ucapan istrinya. Dia tahu arah pembicaraan Indhira.
" Sekarang kita bisa melakukan apa yang dulu kita lakukan di kamar ini berkali-kali, Yank." Bagas menjatuhkan punggungnya di tempat tidur diikuti oleh Indhira dengan kaki mereka menjuntai ke lantai.
" Tapi, jangan pakai direkam lagi, ya, Mas!" Indhira memberengut mengingkat peristiwa memalukan aktivitasnya berhubungan in tim dengan Bagas sampai terekam kamera cctv dan sempat beredar di masyarakat sebelum akhirnya dia take down.
Bagas tergelak mengingat kecerobohannya kala itu sampai terciptanya skandal yang akhirnya memisahkan dirinya dengan Indhira.
" Aku tidak pasang cctv lagi di kamar ini. Aku hanya pasang di depan pintu masuk sama depan pintu balkon. Jadi apa pun aktivitas kita di kamar ini aman terkendali." Bagas kini mengungkung tubuh Indhira.
" Bagaimana diskusi sama Papa Mama, Mas? Apa Mama tetap bersikukuh pisah kamar sama Papa?" tanya Indhira dengan tangan membelai kepala suaminya.
" Mama sudah aku bujuk untuk tetap di kamar bersama Papa. Tapi, mereka akan tidur di tempat terpisah. Mama di tempat tidur, Papa di sofa." Setelah dibujuk berkali-kali, akhirnya Angel mau juga menerima saran Bagas. Tentu saja dengan berada di kamar yang sama, Bagas mengharapkan agar Mamanya bisa dekat kembali dengan sang Papa. Meskipun tidak akan mudah untuk Papa meluluhkan hati Mamanya.
" Sofanya seperti sofa di kamar ini tidak, Mas?" tanya Indhira.
" Lebih besar dan lebih empuk sofa di kamar mereka lah," sahut Bagas.
" Oh, syukuran kalau begitu," ujar Indhira.
" Kenapa memangnya, Yank?" tanya Gagah mengeryitkan keningnya.
" Syukur kalau sofanya empuk, Mas. Kalau tidak empuk, kasihan Papa harus tidur di sofa." Indhira menjelaskan kalimatnya.
" Kamu masih memikirkan Papa, padahal Papa dulu jahat sekali sama kamu, Yank." Kini Bagas yang mengusap kepala Indhira. Dia sungguh merasa kagum terhadap istrinya tersebut. Hati Indhira tidak menyimpan dendam sama sekali terhadap Adibrata, padahal Adibrata telah memperlakukan buruk Indhira selama ini.
" Tidak boleh menjelekkan orang tua sendiri seperti itu, Mas. Papa tidak jahat, hanya saja Papa terlalu takut aku akan membawa pengaruh buruk terhadap Mas, makanya Papa bersikap seperti itu." Indhira menegur suaminya agar tidak berkata buruk tentang orang tuanya sendiri.
" Masya Allah banget kamu ini, Yank. Kalau Papa dengar ucapan kamu ini, Papa pasti akan menyesal dulu pernah menentang kita." Jika Adibrata bisa melihat kebaikan Indhita sejak awal, Bagas yakin, hubungan mereka sudah sejak dulu direstui oleh Papanya itu.
__ADS_1
" Jangan menyesali yang sudah berlalu, Mas. Yang penting sekarang Papa sudah dapat menerima aku." Indhira tidak mempermasalahkan perlakuan Adibrata dulu padanya. Dia hanya ingin mensyukuri kebahagiaan yang dia rasakan saat ini, Berada dalam suatu lingkungan keluarga yang menyayanginya. Mungkin saat ini baru suaminya, Mama mertuanya dan juga adik iparnya yang terlihat jelas menyayanginya, siapa tahu nanti Papa mertuanya juga akan berubah menyayanginya. Harapan itu ada jika dia mengingat bagaimana sikap Adibrata ketika membawanya ke rumah sakit beberapa Minggu lalu.
***
Indhira terbangun sebelum Shubuh. Seperti biasa dia bersiap untuk melaksanakan sholat Shubuh. Ketika waktu Shubuh tiba, dia melaksanakan ibadah dua rakaatnya terlebih dahulu. Setelah selesai dia membangunkan suaminya untuk melakukan kewajiban sang suami itu kepada Sang Khaliq nya.
Saat suaminya telah bangun, menjalankan sholat Shubuh dan beristirahat kembali, Indhira memberanikan diri turun ke dapur. Aktivitas yang selalu rutin dia jalani di mana pun dia berada, membuatnya tidak enak jika harus berdiam diri saja di dalam kamar.
Indhira melihat Mbok Nah, Bi Iyem dan Bi Santi terlihat sibuk dengan aktivitas di dapur dengan pekerjaan yang dipegang masing-masing.
" Selamat pagi, Bu." Indhira menyapa para ART di rumah milik mertuanya itu.
" Selamat pagi, Non." jawab ART serentak.
" Non Indi sudah bangun? Non perlu apa?" tanya Mbok Nah, mengira Indhira menghampiri dapur karena membutuhkan sesuatu.
" Saya hanya ingin bantu-bantu di dapur saja, Bu. Ada yang bisa saya kerjakan tidak, Bu?" tanya Indhira kemudian.
" Wah, tidak usah, Non. Non Indi tidak usah repot-repot." Mbok Nah menolak memberi pekerjaan kepada Indhira, karena saat ini Indhira adalah majikan mereka juga.
" Kalau ada yang bisa saya bantu, tidak apa-apa saya kasih ke saya, Bu. Tidak enak di kamar saja." Indhira tak masalah diminta membatu ART di rumah itu memasak, karena dia sudah terbiasa melakukan hal itu sejak remaja.
" Tidak usah, Non. Biar saya saja." Bi Iyem pun menolak permintaan Indhira.
Melihat Mbok Nah dan Bi Iyem tidak memberikan pekerjaan kepadanya, Indhira menoleh ke arah Bi Santi yang membawa ember berisi pakaian kotor yang ingin dicuci.
" Saya bantu cuci saja, ya, Bu!?" Indhira berjalan menghampiri Bi Santi. " Ada lagi pakaian kotornya, Bu?" tanyanya kemudian.
" Jangan, Non. Tidak usah! Biar saya saja yang mengerjakannya." Sama seperti Mbok Nah dan Bi Iyem, Bi Santi pun menolak memberi pekerjaan kepada Indhira.
Indhira mendengus, karena niatnya membantu di dapur tidak diterima oleh ART di sana.
" Apa tidak ada pekerjaan yang bisa bantu di sini, Bu?" tanya Indhira kecewa.
" Maaf, Non. Untuk pekerjaan di dapur, semua sudah kewajiban kami. Non tidak usah repot-repot. Sebaiknya Non istirahat saja di kamar." Mbok Nah, sebagai ART senior di rumah itu memberi penjelasan kepada Indhira agar Indhira mengerti.
" Ya sudah, kalau begitu saya ke kamar dulu, Bu. Permisi ..." pamit Indhira dengan kecewa.
" Iya, Non." Para ART serentak menjawab.
__ADS_1
Indhira kembali ke kamarnya. Dia lalu duduk di tepi tempat tidur memperhatikan Bagas yang sudah kembali terlelap dengan posisi telungkup.
" Mas ..." Indhira menepuk bahu Bagas agar suaminya itu bangun kembali.
" Apa, Yank? Bobo, sini!" Bagas menepuk tempat di sebelahnya yang kosong.
" Mas, aku mau memasak." Indhira mengatakan keinginannya kepada sang suami.
" Masak?" Bagas mengangkat kepalanya dengan mata setengah terbuka.
" Iya, Mas," sahut Indhira.
" Di sini sudah ada ART yang bertugas memasak di dapur, Yank." jelas Bagas.
" Tapi aku mau membantu memasak, Mas. Badanku pada pegal kalau tidak bekerja di dapur." Karena sudah terbiasa beraktivitas di dapur pagi hari, Indhira merasa tidak enak jika tidak melakukan aktivitas itu.
" Sudah, tidak usah memasak! Temani aku tidur saja." Bagas melingkarkan tangannya di pinggang Indhira masih dengan tubuh berbaring telungkup.
" Aku tidak mau tidur, Mas. Aku mau masak!" Indhira bersikeras ingin melakukan aktivitas di dapur.
" Ya sudah, sana turun ke dapur." Bagas menyuruh Indhira ke dapur.
" Aku sudah ke dapur, tapi aku tidak diperbolehkan membantu di sana," keluh Indhira.
" Siapa yang melarang?" tanya Bagas membuka kelopak matanya lebar-lebar.
" ART di rumah ini," sahut Indhira.
" Ya sudah, berarti kamu tidak usah ikut masak," jawab Bagas enteng.
" Mas bangun dulu! Mas harus antar aku ke dapur, dan suruh ART di sini kasih pekerjaan ke aku." Indhira memaksa suaminya untuk menegur ART di rumah itu yang tadi melarang Indhira memegang pekerjaan rumah.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️