
Indhira terperanjat saat Bagas melepas pakaian di hadapannya hingga bertelan jang dada dan menampakkan tubuh kekar pria itu. Hal yang sama yang pernah Bagas lakukan sebelum peristiwa kelam dulu terjadi. Seketika itu juga kecemasan mulai merayap di hati Indhira. Dia tidak ingin peristiwa lamanya terulang kembali dengan orang yang sama.
Bagas tidak menduga jika aksinya melepas pakaiannya membuat Indhira ketakutan. Padahal dia hanya berniat membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian karena sejak semalam dia tidak berganti pakaian.
Bagas melihat wajah Indhira menegang. Mungkin Indhira masih trauma akan kejadian masa lalu mereka. Namun, dia tidak menyangka jika Indhira masih berpikiran buruk terhadapnya.
" Kau mau apa, Bagas?" Kalimat bernada ketakutan meluncur dari mulut Indhira.
Bagas menatap wajah Indhira yang memucat. Dengan mengulum senyuman tipis di sudut bibirnya, secara perlahan Bagas berjalan ke arah Indhira.
" Menurutmu, aku ingin apa?" Bagas memangkas jarak dengan Indhira hingga kini tersisa beberapa sentimeter saja.
Indhira langsung memalingkan wajah dengan memejamkan matanya, membuat Bagas akhirnya terkekeh, lalu menarik lemah cuping hidung Indhira.
" Hei, apa yang sedang kamu pikirkan? Aku ini hanya ingin mandi, Ra! Dari semalam aku tidak mandi. Apa kamu tidak mencium aroma tak sedap dari tubuhku?" Bagas mengendus badannya sendiri terutama di sekitar ketiak. Walaupun aroma maskulin yang tetap menguar dari tubuhnya.
Tentu saja Indhira tidak memikirkan soal aroma tubuh Bagas. Karena pertemuannya dengan Bagas yang sebagai tiba-tiba membuat dia tidak memikirkan hal lain selain terkejut dan tidak percaya.
" Aku semalam menginap di mobil di depan rumah Pak Raffasya untuk menunggu Pak Raffasya dan Bu Azkia memberitahu di mana keberadaanmu? Karena saat semalam aku datang ke sana, mereka tidak mau memberitahu di mana aku bisa menemui." Bagas menjelaskan kenapa dia masih memakai pakaian yang sama sejak semalam.
" Kamu bermalam di luar rumah Pak Raffa?" Indhira terkejut mengetahui Bagas semalam tidur di depan rumah Raffasya.
" Iya, karena aku ingin mencari info tentang kamu, Ra." ungkap Bagas. Dia lalu menjauh dari Indhira. " Aku mau mandi dulu, kamu tunggu saja di sini. Jangan buka pintunya! Nanti kita lanjutkan bicara."
Indhira menatap tubuh Bagas yang masuk ke dalam satu ruangan di samping meja kerja Bagas. Setelah itu matanya mengedar pandangan ke seluruh sudut ruangan kerja Bagas. Terlihat sangat mewah dengan interior yang nampak elegan.
Indhira lalu menatap nama di meja kerja Bagas. Gelar Master of Business Administration di belakang nama Bagas dan jabatannya sebagai Chief Executive Officer yang merupakan jabatan tertinggi di perusahaan itu.
Seketika hati Indhira menciut. Apa benar dia siap bersama Bagas? Sedangkan perbedaan antara Bagas dan dirinya terlihat nyata. Bagas merupakan pewaris kekayaan keluarganya. Sementara dirinya? Dia hanya anak yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang dan mendapat pekerjaan dari bekas kasihan orang lain.
__ADS_1
Indhira tidak tahu apakah keluarga Bagas akan menerimanya sebagai pendamping Bagas. Ketakutan yang tiba-tiba merayap di hatinya membuat Indhira berniat kabur dari kantor Bagas.
Indhira menatap pintu kamar di mana Bagas masuk untuk membersihkan tubuhnya. Dia lalu berdiri dan mengendap menuju pintu ruang kerja Bagas. Setelah berhasil membuka kuncinya, Indhira pun bergegas keluar dari ruangan kerja Bagas.
" Hmmm, Mbak, maaf. Kalau mau ke lobby saya harus pakai lift mana?" Indhira bertanya kepada Ester yang memperhatikannya keluar secara tergesa-gesa dari ruangan Bagas.
Melihat gelagat mencurigakan Indhira yang keluar dari ruangan Bagas dengan terburu-buru, Ester tidak langsung menjawab pertanyaan Indhira. Wanita itu justru memperhatikan Indhira dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apalagi Indhira memegang tasnya cukup erat.
" Maaf, Mbak. Saya harus pakai lift mana?" tanya Indhira kembali karena Ester tidak juga menjawab pertanyaannya sedangkan dia sedang diburu-buru waktu supaya Bagas tidak menyadari kepergiannya.
Wajah panik dan ketakutan Indhira semakin membuat Ester bertambah curiga. Dia lalu berjalan menghampiri Indhira.
" Mbak tidak habis berbuat kejahatan di dalam, kan?" selidik Ester curiga.
" Astaghfirullahal adzim!" Indhira tersentak saat Ester menuduhnya berbuat kejahatan. " Kenapa Mbak menuduh saya seperti itu?" Bola mata Indhira seketika digenangi air mata saat mendengar tuduhan Ester. Seumur hidupnya dia tidak pernah berbuat jahat kepada orang lain, walaupun dia sering didzolimi orang lain.
" Maaf, Mbak. Bukan saya menuduh. Tapi, Mbak keluar kayak orang buru-buru kayak ini seperti orang ketakutan. Jadi saya merasa curiga." Ester memberi alasan kenapa dia berkata seperti tadi.
" Memangnya kenapa Mbak harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan Pak Bagas?" tanya Ester heran, apalagi Indhira menyebut nama Bagas tanpa embel-embel Pak di depan nama Bagas, menunjukkan jika Indhira memang dekat dengan Bagas.
Indhira bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Ester. Tidak mungkin dia mengatakan dia ingin kabur karena dia merasa minder dengan perbedaan status dia dengan Bagas.
Sementara itu, Bagas yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian langsung keluar dari kamar untuk menemui Indhira kembali. Namun, Bagas tersentak saat dia tidak mendapati Indhira di sofa.
" Ra?" Bagas mencari Indhira di setiap sudut ruangan kerjanya. Seketika itu juga hatinya langsung dihinggapi rasa cemas karena Indhira tiba-tiba menghilang dari ruangannya.
" Indhira!" Dengan cepat Bagas keluar ruangan karena begitu panik. Dia merasa takut kehilangan Indhira kembali.
" Indhira kamu mau ke mana?" Bagas menarik nafas lega karena masih mendapati Indhira di kantornya. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan Ester seakan mengulur waktu Indhira yang berniat kabur dari kantor Bagas.
__ADS_1
Bagas lalu menghampiri Indhira dan menarik tangan Indhira untuk kembali ke ruangannya.
" Kamu mau ke mana, Ra?" tanya Bagas setelah dia berhasil membawa Indhira kembali ke ruangannya.
" Aku ... Bagas, sebaiknya kamu pikirkan lagi keinginanmu itu. Kita ini berbeda, Bagas. Aku tidak mungkin dapat mendampingimu," lirih Indhira pesimis dan merasa rendah diri, karena dia merasa tidak pantas mendampingi Bagas.
" Kenapa kamu bicara seperti itu, Ra? Kita sudah sepakat untuk bersama, kan?" Bagas duduk berlutut di hadapan Indhira dengan tangan menggenggam tangan wanita itu.
" Tapi, Bagas ... kita berbeda. Aku tidak yakin keluargamu dapat menerima aku." Indhira mengungkapkan kegelisahannya.
" Ra, aku rela kehilangan semua yang aku miliki saat ini, tapi aku tidak ingin lagi kehilanganmu!" tekad Bagas.
Seharusnya kalimat Bagas dapat membuat Indhira lebih tenang. Tapi, Indhira justru merasa was-was dengan kalimat yang diucapkan Bagas. Bagas rela kehilangan semua harta yang dimilikinya demi untuk bersamanya. Apa itu artinya akan sulit mendapatkan restu dari keluarga Bagas jika ingin bersama dengan Bagas.
" Bagas, aku tidak ingin kamu menentang keluarga kamu jika mereka tidak merestui kita." Indhira takut Bagas menjadi anak durhaka karena menentang orang tua Bagas hanya karena ingin bersamanya.
" Ra, selama ini orang tuaku sudah mengekang keinginanku. Ini saatnya aku menentukan hidupku sendiri tanpa campur tangan mereka. Karena masa depanku, aku sendiri yang akan menjalaninya bukan mereka. Dulu aku terlalu takut bertindak tegas hingga aku harus kehilanganmu. Sekarang aku harus memilih jalan hidupku, karena aku ingin meraih kebahagiaanku sendiri. Dan kebahagiaanku adalah bisa bersamamu, Ra." Bagas mencoba meyakinkan hati Indhira yang nampak goyah.
" Tapi, Bagas ...."
" Percayakan padaku, semua akan baik-baik saja."
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Maaf, kalo up nya sedikit. Mataku kayanya terlalu lelah menatap layar HP/monitor, jadi butuh istirahat dulu🙏
Happy Reading ❤️