
Waitress di hadapan Yandi, Arman dan Stevan mencatat pesanan mereka, yang sebenarnya memesan makanan dan minuman hanya untuk memancing Indhira agar mendekat ke meja tempat mereka berkumpul.
" Saya ulang lagi pesanannya, ya!? Dua porsi roti bakar dan dua botol air mineral. Ada tambahan lainnya?" tanya Waitress setelah mengulang pesanan yang diminta tamu cafe tempatnya bekerja.
" Sudah itu saja cukup, Mbak. Jangan lupa, Indhira saja yang suruh antar kemari ya, Mbak!" Yandi kembali berpesan kepada waitress agar pelayan cafe itu tidak lupa menyuruh Indhira untuk melayani mereka.
" Baik, Mas. Permisi." Waitress itu kemudian meninggalkan meja mereka.
" Ada rencana apa kamu, Yan?" tanya Stevan curiga jika Yandi sedang merencanakan sesuatu.
" Hanya mau menyapa, sekalian kita ajak dia party." Yandi menyeringai seraya memainkan kedua alisnya turun naik.
" Party? Maksudmu, Yan?" Arman ikut penasaran.
" Hei, kau tadi bilang kepingin mencicipi dia seperti Bagas dulu. Ya walaupun sudah tidak pera wan lagi, tapi dia masih oleh, tuh!" Yandi menjelaskan rencananya kepada kedua temannya itu.
" Memangnya Indhira mau?" tanya Stevan ragu.
" Kita tahu rahasia dia. Kalau berani dia menolak, kita ancam saja dia! Bilang kalau kita punya rahasia dia yang pernah punya scandal video pemersatu bangsa. Dia pasti tidak akan menolak." Dengan licik Yandi menjelaskan strategi yang akan dia pakai jika Indhira sampai menolak mereka.
" Lalu kita mau eksekusi dia, Yan?" Arman antusias merespon rencana Yandi.
" Yang pasti bukan di rumahku lah! Bisa-bisa aku digantung sama istriku." Yandi tergelak, dia yang sudah berumah tangga dibanding dua temannya itu takut jika sampai istri tahu dia ingin bersenang-senang dengan wanita lain.
" Lagian kau sudah punya istri, masih saja kepingin cewek lain!" sindir Stevan.
" Buat selingan saja, Van! Bosan yang di rumah terus! Hahaha ..." Yandi kembali tertawa lebar setelah mengatakan apa yang menjadi alasannya ingin bersenang-senang dengan wanita lain.
" Gi la kau, Yan!" umpat Stevan kembali ikut tertawa kecil.
" Jadi enaknya di mana, nih?" Yandi meminta pendapat sekaligus mengajak temannya itu untuk ikut berpartisipasi dalam rencananya.
" Sewa hotel saja, gimana?" Stevan memberi usul tempat di mana mereka bisa mengeksekusi Indhira.
" Jangan hotel, deh! Mending sewa apartement saja. Temanku ada yang jaga apartemen yang disewakan. Sama temen sendiri, pasti tidak akan dipersulit." Arman memberi ide lain.
" Itu juga bagus, Man! Ya sudah, nanti kalau sudah pasti si Indhira mau kita booking, baru kau hubungi temanmu itu." Yandi menyetujui usulan dari Arman seraya melakukan fist bump dengan Arman dan Stevan, tanda mereka deal ingin menyewa Indhira untuk memuaskan has rat mereka bertiga.
Sementara itu di dapur cafe, Indhira sibuk menaruh pesanan makanan yang dipesan oleh tamu cafe.
" Ra, nanti tolong antarkan pesanan ini ke meja nomer empat, ya!?" Lia, waitress yang tadi melayani Yandi dan teman-temannya meminta Indhira mengantarkan pesanan Yandi. Sesuai keinginan Yandi agar Indhira yang mengantarkan pesanan mereka itu.
" Oh iya, Mbak. Sebentar saya antar ini dulu, ya!" Indhira tidak menolak apa yang diminta rekannya itu. Indhira termasuk pegawai yang rajin dan tak pernah mengeluh diperintah apapun oleh rekan-rekannya meskipun dia sendiri sedang sibuk melayani tamu.
" Itu pesanan meja berapa? Biar aku saja yang antar! Nanti kamu yang antar pesanan meja nomer empat ini." Melihat Indhira repot, Lianmeminta bertukar tugas, Lia meminta baki makanan dan minuman yang ingin diantar oleh Indhira.
" Oh ya sudah, ini pesanan di meja sepuluh ya, Mbak." Indhira memberikan baki yang dia pegang kepada Lia, sedangkan dia sendiri menunggu pesanan yang dimaksud oleh Lia untuk dia antar ke meja nomer empat.
Kurang dari sepuluh menit, pesanan di meja empat sudah selesai, dan Indhira siap mengantar pesanan ke meja tamu La Grande Caffe itu. Indhira tidak menyadari jika orang-orang yang memesan makanan itu adalah teman lamanya yang akan membawa masalah untuknya.
Indhira melangkah ke meja yang dia tuju, hingga sampai di hadapan Yandi dan rekan-rekannya.
" Permisi ..." Dengan santun Indhira meminta ijin menaruh pesanan makanan dan minuman yang dipesan oleh mereka melalui Lia.
" Hai, Indhira. Apa kabar?" Yandi yang lebih dulu menyapa Indhira.
Indhira terkesiap karena tamu cafe yang menyapanya itu seolah mengenalinya. Dia pun sontak menoleh ke orang yang menyapanya dan mencoba mengingat siapa orang itu.
" Masih ingat sama kita-kita tidak, Indhira? Kita teman-teman SMA kamu dulu di SMA Satu Nusa Satu Bangsa." Kali ini Arman yang menyapa membuat Indhira kini menoleh ke arah orang itu.
Deg
Jantung Indhira seketika berdetak tak beraturan diikuti dengan wajahnya yang seketika memucat. Untung saja baki yang sedang dia pegang tidak sampai terjatuh. Indhira dapat merasakan akan ada hal tidak menyenangkan yang terjadi setelah ini.
" Oh, hai ..." Dengan suara tercekat di tenggorokan Indhira berusaha bersikap tenang dan tetap melayani mereka dengan baik lalu menaruh pesanan roti bakar mereka.
__ADS_1
" Kamu ke mana saja, Indhira? Setelah kasus video kemarin, kok kamu menghilang begitu saja!? Sama kayak si Bagas, tuh! Tidak pernah lagi muncul di sekolah." Giliran Stevan yang kini bertanya kepada Indhira.
Indhira seketika gemetaran, telapak tangannya sudah mulai dingin. Bahkan hati dan pikirannya seketika chaos saat Stevan menyinggung soal video viral.
" Saya permisi dulu ..." Tak kuat berada di hadapan teman satu SMA nya dulu. Indhira berpamitan kepada mereka bertiga. Namun, langkah Indhira terhenti saat tangan Yandi menahan lengan Indhira.
" Kok, buru-buru, sih!? Di sini dulu saja menemani kami. Nanti kami kasih uang tip besar, kok! Tenang saja ..." Yandi mulai bersikap tak sopan kepada Indhira.
" Maaf, saya sedang bekerja!" Indhira masih memohon dengan kalimat yang halus. Dia tidak ingin mengundang perhatian pengunjung lain, yang justru akan membuat mereka tahu siapa dirinya jika ketiga orang di hadapannya saat ini sampai membuka rahasianya dulu.
" Oh ... kalau begitu, gimana kalau pulang kerja saja? Kamu pulang jam berapa? Nanti kami jemput ke sini." Yandi masih menahan dengan memegang kencang lengan Indhira, Tak membiarkan wanita itu lepas darinya.
" Kalian mau apa?" Sungguh, rasa takut seketika menguat di hati Indhira kala mendengar Yandi mengatakan ingin menjemput dirinya pulang kerja nanti. Walaupun mereka mengatakan satu sekolah dengannya. Namun, Indhira sendiri tidak terlalu hapal siapa-siapa mereka itu.
" Kami ingin booking kamu untuk menemani kami party. Yaaa, melakukan apa yang pernah kamu lakukan dulu dengan Bagas. Kamu pasang tarif berapa untuk kami bertiga?" tanya Yandi lagi. Dia memang lebih banyak bicara dibandingkan kedua temannya.
Hati Indhira rasanya ingin meledak. Kalimat-kalimat pele cehkan dari Yandi tak kuasa membuat cairan bening yang seketika memgembun di bola matanya jatuh tak terbendung di pipinya.
" Saya bukan wanita penghibur! Kalau kalian ingin menyewa wanita, cari wanita lain saja!" Dengan menahan emosi dan menahan isak tangis, Indhira mencoba menepis dugaan Yandi yang menganggapnya bisa disewa oleh banyak laki-laki. Indhira pun berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Yandi.
Apa yang terjadi di meja empat tentu saja mengundang perhatian para pengunjung yang ada di sekitar meja empat. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di sana.
" Alaaahh, sok jual mahal kau, Indhira! Pe rek saja sok suci kau!!" geram Yandi emosi karena menilai Indhira terlalu banyak gaya menolak tawarannya.
Kalimat yang diucapkan oleh Yandi membuat Indhira tak kuasa menahan tangis.
" Maaf, ada apa ini? Apa yang kalian lakukan pada pegawai saya? Tolong lepaskan tangan Anda!" Fero yang saat itu sedang menuruni anak tangga dan mengawasi keadaan cafe langsung mendekat ke arah meja empat saat dia melihat sesuatu yang tidak beres terjadi di sana.
" Indhira, kamu kenapa?" Melihat Indhira terisak membuat Fero sampai terkesiap. Dia tidak pernah melihat Indhira menangis seperti ini selama bekerja di cafe itu saat melayani tamu-tamu cafe.
" Mas ini manager di sini? Kok bisa sih, ada pela cur macam dia bekerja di sini!?" Bersamaan dengan Yandi melepas tangannya dari lengan Indhira, pria itu pun bertanya kepada Fero dengan kalimat yang sangat menyakitkan hati Indhira.
" Maksud kamu apa?" Fero tentu saja tersentak kaget mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh Yandi kepada Indhira.
Sementara Indhira langsung berlari sambil menangis masuk ke dalam. Dia sampai menabrak teman waiter nya yang sedang membawa baki berisi makanan dan minuman di tangannya hingga terjatuh dan menimbulkan kegaduhan.
" Sebaiknya kita bicarakan ini ruangan saya saja!" Fero meminta ketiga orang yang bermasalah dengan Indhira untuk ikut dengannya ke ruang kerjanya.
" Sebenarnya apa maksud kalimat yang Anda sampaikan tadi!?" Ada nada geram dalam pertanyaan Fero. Tentu saja apa yang dilakukan ketiga pria di hadapannya ini akan mencoreng nama baik cafe milik Raffasya yang sudah lama dia kelola jika gosip yang dihembuskan oleh mereka di dengar dan dipercaya pada pengunjung cafe yang menyaksikan huru-hara tadi.
" Kami sangat selektif dalam memilih pegawai. Dan pegawai di sini hanya bekerja melayani pesanan pengunjung cafe tidak melakukan aktivitas yang melanggar hukum dan mencoreng nama baik cafe ini. Jika sampai kami mengetahui ada salah satu pegawai kami yang melakukan pekerjaan yang ilegal yang dapat merusak nama baik cafe ini. Kami akan menindak tegas pegawai itu!" Walaupun bertanya, namun Fero belum memberikan kesempatan Yandi berbicara. Dia justru menyebutkan aturan yang diberlakukan kepada seluruh pegawai di La Grande Caffe.
" Selama bekerja di sini, Indhira adalah pegawai yang baik. Tidak mungkin dia seperti yang Anda tuduhkan tadi!" Fero berusaha membela pegawainya. Walaupun di masih belum mendapatkan kejelasan dari tuduhan Yandi, sampai menyebut Indhira seorang pela cur.
" Memangnya Mas tidak tahu siapa Indhira itu? Dia itu 'kan pernah terlibat kasus scandal video me sum bersama pacarnya saat masih sekolah dulu, sampai dia terkena DO pihak sekolah. Setelah dikeluarkan dari sekolah, dia itu menjadi simpanannya Sugar Daddy." Yandi pun menguak rahasia Indhira yang selama dua tahun bekerja di La Grande tersimpan rapih. Walaupun tidak semua yang diceritakan oleh Yandi benar.
Fero tersentak hingga membulatkan bola matanya mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Yandi. Dia syok mengetahui wanita pendiam seperti Indhira bisa terlibat kasus video a susila dan sempat viral.
Namun, Fero tidak ingin menjudge Indhira begitu saja. Sedikit banyak dia tahu soal Indhira dari Adam karena Indhira adalah sahabat dekat istri Adam. Awalnya Fero sempat heran dengan sikap Indhira yang selalu menghindar dari pria yang ingin mendekatinya. Bahkan ketika ada teman Fero yang datang ke cafe itu meminta berkenalan dan ingin dekat dengan Indhira, wanita itu selalu menolak. Dari Adam, Fero mendapat jawaban jika Indhira mempunyai trauma di masa lalunya. Adam juga mengatakan jika Indhira itu wanita baik-baik. Sehingga Fero tidak bisa dengan mudah diprovokasi oleh ketiga orang di hadapannya itu.
" Jika itu memang benar, itu adalah masa lalu dia. Yang terpenting selama dia bekerja di sini, dia selalu bersikap baik, bekerja dengan baik dan tidak melakukan tindakan yang merugikan cafe ini. Indhira anak yang baik dan rajin beribadah, jadi tidak mungkin dia melakukan pekerjaan yang Anda tuduhkan tadi!" Fero mempercayai jika Indhira tidak seperti yang Yandi duga.
" Itu hanya kamuflase dia untuk menutupi kebobrokannya saja!" tuding Yandi masih menyerang untuk menjatuhkan nama baik Indhira.
" Maaf, Mas! Terlepas dari masa lalu Indhira terkait soal video itu, jika Anda tidak punya bukti akurat Indhira melakukan pekerjaan yang Anda sebutkan tadi, sebaiknya jangan menuduh sembarangan! Saya bisa memperkarakan tuduhan Anda tadi dan menempuh jalur hukum dengan melaporkan Anda karena telah melakukan pencemaran nama baik terhadap Indhira dan tindakan tidak menyenangkan yang dapat merugikan nama baik cafe ini!" Fero yang semakin kesal dengan sikap orang di hadapannya bahkan sampai mengancam akan menempuh jalur hukum dan menuntut mereka bertiga.
Fero sangat yakin jika tuduhan terhadap Indhira yang dilontarkan oleh Yandi tidak benar, Meskipun dia sendiri masih belum tahu soal berita video viral beberapa tahun lalu yang dilakukan oleh Indhira dan Bagas.
Mendengar ancaman Fero, Yandi dan kedua temannya langsung terbelalak. Mereka tidak menyangka jika tindakan yang mereka lakukan berpotensi menyeret mereka ke jalur hukum.
Sedangkan di ruangan sholat cafe. Indhira terlihat duduk menangis dengan memeluk lututnya dan kepala menelungkup di atas lututnya. Apa yang dialami Indhira saat ini dirasakan sangat menyeramkan. Karena dia merasa semua orang di cafe tempatnya bekerja akan tahu siapa dia yang sebenarnya.
Indhira tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. Dia juga tidak tahu apakah dia dapat menegakkan kepalanya menghadapi rekan-rekan kerjanya dan juga atasannya. Indhira benar-benar ketakutan. Dia terus menangis, bahkan tubuhnya berguncang karena dia tak berhenti menangis.
Beberapa rekan kerjanya berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Tak sedikit juga yang mencoba menenangkan Indhira menyuruh agar Indhira berhenti menangis.
__ADS_1
" Ra, kamu harus tenang. Jangan menangis seperti ini, Ra." Nena mengusap punggung Indhira mencoba menenangkan Indhira. Namun, semakin banyak orang yang mendekati Indhira dan mencoba menenangkan Indhira, semakin kencang pula tangis Indhira. Pikiran Indhira semakin kalut, hatinya semakin kacau. Hingga akhirnya Indhira kehilangan kesadarannya dan jatuh terkulai lemas.
" Astaghirullahal adzim, Indhira!" teriak Nena.
" Indhira kenapa, Nena?" Setelah selesai berurusan dengan ketiga teman sekolah Indhira, Fero sengaja mencari Indhira hingga dia diberitahu karyawannya jika Indhira sedang menangis di ruang sholat.
" Indhira pingsan, Pak Fero. Sejak tadi dia menangis terus tidak mau bercerita apa-apa." Nena menjelaskan apa yang dilakukan Indhira sejak insiden di meja empat tadi.
" Sebaiknya dibawa ke ruangan saya saja!" Fero langsung mengangkat tubuh Indhira yang terkulai lemas dengan kedua lengannya.
" Suruh yang lain carikan cajuput oil. Kamu ikut ke ruangan saya, Na!" Fero menyuruh Nena mengikutinya dan menyuruh pagawai yang lain mengambilkan apa yang dibutuhkan untuk membuat Indhira tersadar.
Fero meletakkan tubuh ramping Indhira di sofa kerjanya. Dia menyuruh Nena juga Hanna yang datang mengantar cajuput oil untuk menanggani Indhira. Sementara dia sendiri langsung mengambil ponsel di mejanya untuk menghubungi seseorang.
***
Raffasya sedang mengelus perut Azkia yang belum membuncit karena kehamilan Azkia baru memasuki Minggu ke enam. Kehamilan Azkia yang dia ketahui saat perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang kesepuluh membuatnya senang.
" Baby ini kira-kira baby boy atau baby girl ya, Ma?" Raffasya menebak-nebak jenis kela min anak keempat mereka.
" Mama sih maunya baby girl, Pa. Biar Alma ada temannya," sahut Azkia karena dia baru mempunyai satu anak perempuan.
" Papa juga setuju sih, Ma. Kalau anak kita baby boy lagi, nanti Alma bisa tomboy kayak Mamanya karena saudaranya laki-laki semua." Raffasya terkekeh seraya menyebut jenis kela min yang diinginkannya itu.
" Tomboy juga cantik 'kan, Pa!? Bisa bikin banyak anak lagi!" Azkia tertawa lebar, membuat Raffasya tertular ikut tertawa.
" Tapi, kalau ternyata anaknya baby boy tidak apa-apa 'kan, Pa?" tanya Azkia kemudian.
" Ya tidak apa-apa, dong! Nanti kita bisa coba diproduksi yang kelima, Ma." Raffasya mengakhiri kalimatnya dengan tawa.
" Iisshhh, Papa ini ..." Azkia memutar bola matanya.
Ddrrtt ddrrtt
Perbincangan Raffasya dan Azkia terjeda saat ponsel Raffasya di atas nakas berbunyi. Sehingga pria yang kini sudah memasuki usia tiga puluh enam tahun itu bergerak dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya.
" Halo, ada apa, Fer?" Ternyata Fero yang menghubungi Raffasya.
" Raf, kau bisa ke La Grande sebentar tidak? Ada masalah soal Indhira." Fero merasa perlu menghubungi Raffasya karena yang membawa Indhira sampai bekerja di La Grande adalah Azkia, istri dari bosnya itu.
" Ada masalah soal Indhira?" Raffasya spontan melirik ke arah Azkia yang juga langsung menoleh ke arahnya dengan kening berkerut.
" Memangnya ada masalah apa, Fer?" tanya Raffasya dengan nada serius.
" Sebaiknya kau kemari saja, kita mengobrol di sini. Ini penting soalnya!" Fero meminta Raffasya sebagai bos besar La Grande datang ke cafe.
" Oke, oke, aku ke sana sekarang." Setelah menyetujui permintaan Fero, Raffasya pun mengakhiri sambungan telepon itu.
" Ada apa, Pa? Ada apa dengan Indhira?" Azkia ikut penasaran.
" Katanya ada masalah di La Grande. Aku harus ke sana." Raffasya kemudian melangkah ke arah lemari untuk mengambil jeans dan Hoodie nya.
" Aku ikut, Pa!" Azkia pun turun dari tempat tidur berniat ikut dengan suaminya ke La Grande.
" Jangan, Ma! Mama 'kan sedang hamil." Raffasya melarang Azkia mengikutinya.
" Pa, ini soal Indhira, kan? Jadi Mama harus ikut ke sana juga! Mama ingin tahu ada masalah apa dengan Indhira." Azkia bersikeras ikut bersama suaminya ke La Grande Caffe. Dia pun segera mengambil jaketnya dan mendouble piyamanya dengan celana panjang berbahan kaos.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️