
Indhira merasakan dorongan sangat kuat di perutnya yang menimbulkan rasa sakit yang terjadi berulang-ulang dalam durasi yang begitu singkat. Keringat pun mulai mengembun di keningnya.
Indhira menggigit bibirnya, guna menahan rasa sakit yang semakin menderanya.
"Mas ..." Indhira mencengkram tangan Bagas.
"Kenapa, Yank?" tanya Bagas melihat wajah sang istri yang memucat.
"Perut aku, Mas." Indhira mencoba mengatur nafas seraya mengusap perutnya.
"Kamu mau melahirkan, Yank?" Bagas khawatir jika istrinya itu mengalami kontraksi.
"Indhira kenapa, Bagas?" tanya Angel melihat anaknya itu bangkit dari kursi dan berjongkok di depan Indhira duduk.
"Perut Indhira sakit, Ma." sahut Bagas.
"Mas, kita pulang saja. Perut aku sakit sekali." Merasa tak nyaman dengan apa yang ia rasakan, Indhira mengajak sang suami untuk pulang.
"Apa kamu merasakan kontraksi, Ra?" Angel pun bangkit dan mendekat pada menantunya itu.
"Dia kenapa? Apa ingin melahirkan?" Melihat Bagas dan Angel mendekati Indhira, Adibrata pun ikut merasa khawatir, takut jika menantunya itu akan segera melahirkan.
"Perut aku sakit berulang-ulang, Pa, Ma." sahut Indhira menjawab pertanyaan kedua mertuanya.
"Sebaiknya Indhira dibawa ke rumah sakit saja, Bagas. Mama khawatir Indhira sudah mengalami kontraksi. Soalnya dia bilang sakitnya berulang-ulang." Angel bangkit mengambil tas tangan miliknya juga milik Indhira.
"Pa, kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Angel pada suaminya.
"Dia beneran ingin melahirkan, Ma?" Bola mata Adibrata membulat karena apa yang dia khawatirkan tadi saat berbincang di mobil nampaknya akan menjadi kenyataan.
"Iya, cepat suruh Agus jemput di depan!" Angel menyuruh Adibrata untuk menghubungi supirnya. Sementara Bagas membantu Indhira berdiri dari duduknya.
"Aku gendong saja, ya, Yank?" Melihat istrinya yang terlihat pucat menahan rasa sakit, Bagas menawarkan untuk menggendong Indhira. Dia tidak tega melihat sang istri harus berjalan.
"Tidak usah, Mas. Aku jalan saja." Indhira melingkarkan tangannya di lengan Bagas dan mengajak suaminya itu berjalan. Dia malu menjadi perhatian tamu undangan yang datang. Dia juga tidak ingin membuat heboh pesta pernikahan Evelyn dengan Daffa jika sampai ketahuan sedang merasakan kontraksi yang akan membuat orang panik.
__ADS_1
"Permisi, permisi ... tolong beri jalan, menantu saya ingin melahirkan." Di saat Indhira ingin menutupi karena merasa malu jadi tontonan tamu yang datang, Adibrata justru berbuat heboh dengan menyuruh orang yang berkumpul menuju arah pintu ballroom memberi jalan pada Indhira. Sontak beberapa tamu undangan pun memperhatikan Indhira dan membuka jalan agar Indhira tidak terhalangi langkahnya.
Melihat sang Papa justru berseru dan kini mereka sudah menjadi pusat perhatian beberapa tamu undangan, Bagas langsung mengangkat tubuh istrinya hingga kini berada di antara dua lengannya.
"Mas, turunkan aku! Aku malu ..." Di tengah rasa sakit yang melanda, Indhira masih sempat mengucapkan kata malu.
"Tidak perlu malu, lagipula sekarang ini saja kita sudah jadi pusat perhatian." Bagas bergegas keluar dari ballrom menuju arah lobby diikuti oleh Adibrata dan Angel tanpa berpamitan terlebih dahulu pada mempelai dan keluarga Nathael.
***
Bagas mengusap peluh yang mengembun di kening Indhira. Saat ini dia sedang menemani Indhira di ruang persalinan. Ngilu rasa hatinya melihat perjuangan sang istri untuk melahirkan buah cinta mereka.
Suara rintihan dan ucapan istighfar berulang-ulang keluar dari mulut Indhira menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Seandainya bisa ditransfer, Bagas rela menukar rasa sakit yang mendera istrinya saat ini. Biar dia saja yang merasakan sakit daripada istrinya harus terlihat menderita seperti saat ini.
"Ssshhh ... Astaghfirullahal adzim ... Mas, sakit ..." Bahkan kini tangis Indhira sudah pecah.
"Sabar, ya, Bu. Baby nya sebentar lagi mau keluar. Ibu sudah tidak sabar ingin melihat yang selama ini bergerak-bergerak di perut Bu Indhira itu menggemaskannya seperti apa, kan?!" Dokter yang akan membantu proses melahirkan Jndhira mencoba menenangkan Indhira dengan kalimat penyemangat.
Indhira mencengkram erat tangan Bagas. Untung saya Indhira tidak pernah memelihara kuku panjang hingga cengkramannya tidak sampai melukai tangan suaminya, padahal Bagas sendiri tidak mempermasalahkan seandainya dirinya harus terluka jika itu dapat mengurangi sakit yang diderita istrinya.
"Siap, ya, Bu. Setelah saya kasih aba-aba silahkan Ibu mengejan." Dokter menyarankan Indhira melakukan apa yang diperintahnya.
"Tahan dulu tunggu aba-aba dari saya. Satu ... dua ... dorong sekarang dengan mengejan, Bu." Dokter sudah memberi perintah pada Indhira untuk mengejan agar si bayi keluar.
"Oouuggghhh ..." Sekuat tenaga Indhira mengejan karena dorongan kuat dari sang bayi sudah tak tertahankan ingin keluar dari tempat bersarangnya selama ini.
"Oek ... oek ... oek ..." Suara tangis bayi terdengar begitu nyaring.
Indhira terkulai lemas menatap bayi merah yang ditunjukkan dokter kepadanya dengan mata berkaca-kaca, sementara Bagas hanya tertegun melihat miniaturnya itu telah lahir ke dunia ini.
"Selamat Pak Bagas, Bu Indhira. Baby boy nya terlahir dengan selamat," ucap sang dokter memberi selamat pada pasangan yang berbahagia atas kehadiran anak pertama mereka.
"Terima kasih, Dok. Alhamdulillah anak kami terlahir selamat." Bagas kini manatap sang istri yang nampak kelelahan. "Yank, anak kita sudah lahir. Terima kasih kamu sudah mau berjuang." Bagas sangat bangga terhadap Indhira hingga menghujani kecupan ke seluruh wajah kelelahan Indhira.
Sementara di luar ruangan bersalin, kedua orang tua Bagas sama cemas menantikan kehadiran cucu pertama mereka. Sebenarnya Angel ingin menemani Indhira melahirkan, Namun Bagas tidak mengijinkan karena ia takut Mamanya akan semaput melihat darah yang banyak. Mamanya itu tidak bisa melihat banyak darah, sebab akan membuat Angel pusing dan lemas. Bahkan saat masih mendapatkan haid nya, Angel pasti akan seperti orang sakit jika sedang PMS.
__ADS_1
Jari tangan Angel bertautan dengan jari tangan kekar suaminya. Pasangan suami istri yang sempat terkena prahara beberapa waktu lalu itu sama-sama dilanda ketegangan seperti Bagas yang menemani Indhira di ruang persalinan.
"Oek ... oek ... oek ..." Suara tangisan bayi yang terdengar seolah memecah ketegangan di antara orang tua Bagas.
Angel yang sedang bergenggaman tangan sontak bangkit dan melongok dari kaca pintu kamar persalianan, untuk melihat seperti apa rupa cucu pertama mereka. Namun, dia belum dapat masuk ke dalam ruangan tersebut dan masih harus sabar menunggu.
Beberapa menit kemudian setelah dokter dan perawat keluar dari ruangan itu, Angel dan Adibrata pun segera masuk ke dalam karena sudah tidak sabar untuk melihat cucu pertama keluarga besar Adibrata Mahesa yang baru saja terlahir.
"Bagas, Indhira, mana cucu Mama?" Angel langsung menanyakan cucunya sampai lupa mengucapkan selamat pada anak dan menantunya itu.
"Masya Allah, cucu Nenek ganteng sekali ini." Angel menatap bayi kecil di samping Indhira yang baru saja selesai mendapatkan ASI pertamanya. Dia pun langsung mengangkat mahluk kecil yang baru saja hadir di dunia ini.
"Dia sangat mirip Bagas waktu masih kecil ya, Pa?' tanya Angel pada sang suami.
"Iya, Ma. Mirip Bagas sekali." Adibrata pun sedang terkesima dengan hadirnya generasi termuda keluarga Adibrata Mahesa yang berada dalam gendongan Angel. Dia tak menyangka jika dirinya sudah menjadi seorang kakek saat ini.
"Berapa panjang dan beratnya bayi kalian, Bagas?" tanya Angel kemudian.
"Panjang lima puluh dua sentimeter, beratnya sekitar tiga koma tujuh kilogram." Bagas menyebut secara rinci panjang dan berat bayinya seperti yang disebutkan oleh dokter yang membantu persalinan Indhira.
"Kamu beri nama siapa anak kamu, Bagas?" Kini Adibrata yang bertanya.
"Namanya Elfathan Zayyan Mahesa, Pa." jawab Bagas.
"Nama yang sangat bagus, semoga nama yang kalian berikan membawa berkah untuknya kelak," ucap Adibrata berharap.
"Aamiin, Pa." Bagas dan Indhira menjawab bersamaan.
"Mama ucapkan selamat atas kelahiran putra kalian. Sekarang ini kalian sudah menjadi orang tua. Semoga kalian bisa menjadi orang tua yang bijaksana. Jadikan apa yang terjadi dengan keluarga kita sebagai pelajaran berharga, dan kalian tidak sampai teledor seperti kami dulu." Angel menyadari kesalahannya dalam mendidik anak-anaknya. Untung saja kini sudah berjalan pada track nya.
"Iya Ma. Kami juga tidak ingin anak-anak kami merasakan apa yang kami alami dulu," jawab Bagas merangkulkan kedua tangan di pundak kedua orang tuanya.
Walau masih dalam kelelahan, Indhira dapat merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat. Bukan hanya mendapatkan seorang anak tapi juga memdapatkan keluarga yang kini sangat menyayanginya. Dan ada satu hal lagi yang membuatnya merasa lega. Sebelumnya dia sudah membujuk Bagas untuk memberikan rumah yang sedang ia bangun untuk tempat tinggal Tante Marta dan juga Dahlia. Saat ini Tante Marta sudah bercerai dengan Om Ferry. Indhira yang merasa kasihan terus membujuk Bagas agar mau memberikan rumah itu untuk Tante Marta. Bagaimanapun juga Tante Marta dan Dahlia adalah saudara yang tersisa dalam keluarganya. Jika dia tidak memperdulikan mereka, ia menganggap dia pun sama jahatnya seperti mereka dulu. Untung saja Bagas akhirnya bisa mengerti. Bagas mengijinkan rumah itu ditempati oleh Tante Mira dan anaknya. Tapi dia membatasi interaksi antara Indhira dan keluarga Tante Marta karena dia masih belum yakin seratus persen jika Tante Marta sudah berubah.
...TAMAT...
__ADS_1
Alhamdulillah akhirnya bisa menuntaskan kisah ini. Mohon maaf jika harus membuat readers menunggu dan terima kasih yang sudah setia membaca novel itu🙏🙏
Happy Reading❤️